Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 65 Aneh bin Ajaib



Keiva mengelilingi mansion Knight untuk mencari keberadaan Drake yang tidak ada di kamarnya. Bahkan Keiva sempat mencari Drake di kamar Ivone, karena mengira kalau pria itu sedang menghabiskan malam bersama gadis yang Keiva anggap sebagai kekasih Drake itu. Tapi Drake juga tidak ada disana.


Helaan nafas lega terdengar dari mulut Keiva, saat netranya menangkap sosok yang dicarinya sejak tadi. Drake tampak duduk di balkon ruang keluarga lantai 2, ditemani secangkir americano dan sepiring chocolate cake.


"Boleh aku duduk?" Kemunculan dan perkataan Keiva rupanya mengejutkan Drake yang tampak sedang melamun. Sedetik kemudian, Drake menganggukkan kepalanya, yang dibalas Keiva dengan senyuman seraya mendudukkan dirinya tepat di seberang Drake.


"Mau? Belum aku makan?" Tawar Drake menyodorkan sepiring chocolate cake ke hadapan Keiva. Namun Keiva malah mendorong balik chocolate cake itu ke tempatnya semula.


"Aku sudah kenyang.. Lagipula aku sedang diet." Jawaban Keiva menarik senyuman tipis di kedua sudut bibir Drake. Dia memang tahu, kalau Keiva sedang berusaha menghindari makan malam. Tapi biasanya chocolate cake yang merupakan salah satu makanan favorit Keiva, seringkali menggoyahkan usaha dietnya.


"Hmm, ada apa Keiva? Sekarang sudah larut malam, seharusnya kamu tidur." Drake melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan hampir tengah malam.


"Aku tidak bisa tidur.." Jujur Keiva, lalu menarik nafas panjang dengan otak menyusun untaian kata yang akan diucapkannya pada Drake.


"Lalu.. Kenapa kamu kesini?" Drake menyesap americano-nya, lalu menyuapkan chocolate cake-nya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu.." Drake memandang datar wajah Keiva yang terlihat sedikit tegang.


"Katakanlah.." Drake kembali menyesap americano-nya perlahan.


"Sepertinya.. Aku menyukaimu Drake." Ucapan Keiva membuat Drake mengerutkan keningnya. Disandarkan tubuhnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Sepertinya? Apa maksudmu?" Pertanyaan dan tatapan Drake yang terkesan mengintimidasi itu, membuat Keiva semakin tegang.


"Maksudku, aku menyukaimu Drake. Aku baru menyadari perasaanku terhadapmu. Aku terus menerus memikirkanmu, bahkan aku sudah tidak pernah memikirkan laki-laki lain selain kamu. Tapi aku tahu, kalau sekarang aku sudah terlambat. Kamu sudah bersama orang lain, dan aku pasti sudah tidak memiliki kesempatan untuk bersamamu." Ungkapan perasaan Keiva yang cukup panjang itu, tidak mendapat balasan sepatah katapun dari Drake. Drake masih setia dengan tatapan dalamnya di netra Keiva.


"Hmm, baiklah.. Aku hanya ingin mengatakan hal itu. Aku tidak ingin menyesal karena tidak mengatakannya sebelum kamu kembali ke London besok." Keiva hendak berdiri dari duduknya, namun Drake menahan tangan Keiva hingga kembali duduk di kursinya.


"Apa kamu yakin dengan perasaanmu? Apa kamu sudah jatuh cinta padaku?" Drake terlihat ragu dan ingin memastikan perasaan Keiva kepadanya.


"Iya, aku yakin.. Aku.. sudah jatuh cinta padamu. Tapi semua sudah tidak ada gunanya kan? Kamu sudah menjadi milik orang lain." Keiva berdiri dari duduknya, berbalik hendak kembali ke kamarnya. Namun lagi-lagi tangan Drake menahan tangannya, hingga Keiva urung melangkahkan kakinya.


Sedetik kemudian, Drake memeluk tubuh Keiva dari belakang, dengan menumpukan wajahnya di ceruk leher Keiva.


"Tahukah kamu, rasanya aku ingin berteriak saat ini karena terlalu bahagia. Meskipun hatiku masih belum sepenuhnya percaya dengan perasaanmu terhadapku." Hembusan nafas dan suara lembut Drake membuat Keiva membeku, bahkan dirinya tidak bisa sekedar memalingkan wajah untuk menatap mata Drake.


"Aku sudah mengatakan yang sejujurnya tentang perasaanku. Tapi aku juga tidak mau menjadi pelakor Drake." Cicit Keiva di akhir kalimatnya.


"Pelakor?" Drake membalik tubuh Keiva hingga menghadap ke arahnya. Digenggamnya kedua tangan Keiva, lalu ditatapnya wajah Keiva dengan pandangan penuh tanya.


"Maksudnya pelakor?"


"Ya aku tidak mau menjadi Perebut Laki Orang, aku tidak mau merusak hubunganmu dengan Ivone." Ucap Keiva lalu menundukkan kepalanya menghindari tatapan Drake. Tanpa Keiva sadari, kalau saat ini Drake sedang menahan tawanya agar tidak lepas.


'Rupanya benar apa yang Ivone katakan, kalau Keiva benar-benar cemburu melihatku bersama Ivone. Tidak sia-sia aku beracting mesra bersama Ivone, akhirnya Keiva bisa jujur tentang perasaannya padaku.' Ujar Drake dalam hati.


"Tapi aku tidak ada hubungan apapun dengan Ivone, jadi kamu tidak merebutku dari siapapun." Seketika Keiva mendongakkan wajahnya dan menelisik raut wajah Drake untuk mencari kejujuran disana.


"Apa kamu serius? Apa benar kamu tidak berpacaran dengan Ivone?" Keiva masih saja terlihat ragu meskipun Drake sudah mengangguk yakin.


"Aku serius Keiva. Aku tidak berpacaran dengan Ivone, kami hanya berteman saja." Drake melepas genggaman tangannya, lalu beralih memeluk pinggang ramping Keiva.


"Apa kamu cemburu melihatku bersama Ivone?" Keiva memilih memalingkan wajahnya dibanding menjawab pertanyaan Drake. Apalagi saat ini Keiva merasa wajahnya sedikit panas, dan pastinya mulai memerah karena malu.


Cup..


Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Keiva, membuat Keiva terkejut dan memandang wajah Drake yang mengulas senyum tampannya.


"Aku suka kalau kamu memang cemburu. Itu tandanya kamu benar-benar menyukaiku." Wajah Keiva semakin merona merah, terlebih saat kalimat selanjutnya meluncur dari mulut Drake.


"Keiva.. Apa kamu mau menjadi kekasihku?" Tanya Drake penuh harap.


"Iya, aku mau menjadi kekasihmu Drake." Jawab Keiva lirih namun dengan raut penuh keyakinan.


"Aku mencintaimu Keiva.."


"Aku juga mencintaimu Drake.."


Cup..


Kali ini bibir Drake mendarat sempurna di bibir ranum Keiva, mengejutkan Keiva yang tidak siap dengan apa yang dilakukan Drake. Terkesan buru-buru mungkin, tapi Drake tidak mau lagi menahan dirinya. Dia memilih meluapkan perasaan yang selama ini tertahan di dalam hati. Apalagi Drake tidak ingin menyia-nyiakan waktu, dimana esok dirinya dan Keiva terpaksa harus terpisah jarak yang sangat jauh dalam waktu yang mungkin cukup lama.


*************************


Seminggu berlalu sejak kembalinya Shawn dan Shanaya ke London, Inggris. Konferensi Pers 3 hari lalu, yang mengumumkan status Shawn dan Shanaya ternyata justru menimbulkan tanggapan positif dari khalayak ramai dan membawa pengaruh yang baik bagi perusahaan.


Mereka menganggap Shawn dan Shanaya sangat cocok sebagai suami istri, apalagi Shawn ternyata bukan orang sembarangan, meskipun bukan anak kandung dari Sall Sherwyn Knight dan Sanchia Arelia Knight. Justru point plus semakin bertambah untuk Shawn karena jaringan bisnisnya yang ternyata lebih banyak dari yang diketahui publik sebelumnya.


Di sofa kamar, Shawn dan Shanaya membaca komentar-komentar di video konferensi pers mereka melalui tab milik Shawn. Senyum mereka tidak henti merekah, karena sebagian besar merupakan komentar positif berisi pujian untuk kemesraan mereka, kekaguman pada kesuksesan Shawn, juga harmonisnya keluarga Knight meskipun Shawn bukanlah anak kandung mereka.


Meskipun ada beberapa komentar yang membuat Shawn dan Shanaya melepas tawanya, diantaranya yang berisi komentar kekecewaan, karena mereka sudah tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Shawn dan Shanaya yang sudah menikah.


"Ah aku lega, Honey.. Akhirnya semua orang tahu kalau kita sudah menikah. Tidak akan ada lagi yang berani menggodamu, karena mereka tahu akan berhadapan dengan siapa." Shawn tertawa kecil mendengar ucapan Shanaya yang begitu jujur.


"Aku juga bersyukur, akhirnya aku bisa menunjukkan pada dunia bahwa aku adalah milikmu, dan kamu adalah milikku. Aku harap, tidak ada lagi gangguan yang akan mengancam pernikahan kita ya Sweetheart." Shawn mencium lembut punggung tangan Shanaya.


"Aamiin.. Tapi meskipun gangguan-gangguan datang menguji pernikahan kita, aku harap cinta kita akan selalu kuat ya Honey." Ucap Shanaya seraya menatap dalam netra Shawn yang jernih.


"Iya Sweetheart, aku yakin kita berdua bisa melewati segala macam hambatan, selama kita bisa menjaga cinta kita. Jangan pernah membohongi dan mengkhianatiku ya Sweetheart. Aku benar-benar tidak mau kehilanganmu." Lirih Shawn di akhir kalimatnya.


"Aku tidak akan pernah membohongi dan mengkhianatimu Honey. Tapi kalau kamu sampai melakukannya padaku, terima pembalasanku." Tatapan tajam dan kepalan tangan Shanaya yang mengarah ke wajah Shawn, sontak membuat Shawn tertawa.


"Aduh galaknya istriku.." Ujar Shawn lalu menghujani wajah Shanaya dengan ciuman, hingga membuat Shanaya kegelian.


"Uweekk..Uweekk.." Tiba-tiba Shanaya berlari ke dalam kamar mandi, lalu disusul Shawn yang terlihat diliputi kekhawatiran.


Shawn mengurut pelan tengkuk Shanaya, agar istrinya itu lebih mudah memuntahkan isi perutnya ke wastafel. Shawn sama sekali tidak terlihat jijik melihat Shanaya mengeluarkan isi perutnya. Shawn justru terlihat semakin khawatir melihat keadaan istrinya.


Setelah merasa lega, Shawn memapah Shanaya keluar dari kamar mandi, dan merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Shawn mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur, dengan kedua tangan menggenggam erat tangan Shanaya yang dingin.


"Sweetheart, aku panggil Dokter ya.." Shanaya menggeleng pelan mendengar perkataan Shawn.


"Mungkin aku hanya terlalu lelah, karena kegiatan kita beberapa hari ini cukup menguras tenaga." Jawab Shanaya seraya mengulas senyum tipisnya.


"Apa maksudmu kegiatan panas kita?" Tanya Shawn disertai senyum jahilnya, yang langsung dibalas Shanaya dengan pukulan di lengan Shawn.


"Kegiatan itu terus yang ada di otakmu Honey.." Protes Shanaya namun dengan senyum terulas.


"Kan menurutku kegiatan itu adalah kegiatan yang paling berkesan, jadi wajar kalau kegiatan itu mendominasi isi otakku Sweetheart." Shanaya terkekeh pelan menyaksikan kelakuan absurd suaminya itu.


"Hmm, Honey.. Rasanya aku ingin makan rujak tumbuk. Sepertinya segar dan enak sekali kalau memakannya siang-siang begini. Tapi entah kenapa, aku maunya dibeli dari pedagang yang dagangannya itu didorong atau ditanggung itu lho.. Seperti yang ada di Bandung, Honey."


Seketika mata Shawn membola dengan mulut menganga, mendengar perkataan Shanaya yang tidak biasa.


"Hah, di London mana mungkin ada penjual rujak tumbuk yang didorong atau ditanggung seperti di Bandung. Lebih baik minta pelayan saja membeli buah-buahannya, lalu minta chef untuk mengolahnya. Pasti rasanya tidak akan jauh beda Sweetheart." Tawar Shawn, namun langsung dibalas gelengan kepala dari Shanaya.


"Pokoknya aku mau makan rujak tumbuk dari abang-abang yang jualannya didorong atau ditanggung. Tidak mau tahu, harus ada." Tegas Shanaya, lalu membalik tubuhnya membelakangi Shawn yang masih melongo menyaksikan sikap istrinya yang mendadak aneh bin ajaib itu.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️