
Shanaya menatap heran wajah Shawn yang sama sekali tidak terlihat terkejut mendengar penuturannya, bahkan raut wajah Shawn terlihat begitu datar.
"Lalu?" Pertanyaan Shawn berhasil membuat Shanaya semakin mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu tidak terkejut dengan kenyataan ini?" Pertanyaan Shawn justru dibalas dengan sebuah pertanyaan dari Shanaya.
"Aku sudah tahu." Kali ini netra Shanaya membola karena tidak menyangka dengan jawaban Shawn.
"Jadi kamu sudah tahu kalau Seira memiliki perasaan lebih terhadapmu? Sejak kapan kamu mengetahuinya Honey?" Melihat ekspresi Shanaya yang terlihat penasaran, Shawn menghela nafas sebelum memberi jawaban pada istrinya.
"Sudah sejak lama. Awalnya aku mengira semua perhatiannya adalah bentuk perhatian dari seorang sahabat saja. Tapi pernah suatu kali, disaat ulang tahunku, dia memberiku kejutan dengan datang ke apartemenku tepat di jam 12 malam. Di tangannya ada sebuah kue dan juga kado berukuran besar. Aku sungguh terkejut dengan kedatangannya di waktu yang sudah sangat larut, tapi aku tidak mungkin menyuruhnya pulang saat itu, meskipun aku ingin melakukannya." Shawn menghentikan ceritanya, karena Shanaya mulai terlihat menekuk wajahnya karena kesal.
"Jadi kamu membiarkannya masuk ke dalam apartemenmu? Lalu apa saja yang kalian lakukan?" Pertanyaan Shanaya terdengar sangat menyudutkan, terlebih tatapan menuduh dari istrinya itu membuat Shawn sangat tidak nyaman.
"Aku terpaksa membiarkannya masuk, aku tidak mungkin mengusirnya saat itu. Aku hanya meniup lilin, memotong kue dan memakan kue darinya. Lalu membuka kado yang diberikannya. Setelah itu aku menyuruhnya tidur di kamar tamu, dan aku pun tidur di kamarku sendiri. Sejak saat itulah, aku menyadari semua perhatiannya adalah sesuatu yang tidak biasa. Tapi itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa bagiku." Jawab Shawn berharap tidak ada lagi pikiran macam-macam di otak Shanaya saat ini.
"Wah Seira romantis sekali ya. Apa kamu yakin kalau kamu tidak memiliki perasaan apapun terhadap Seira?" Seketika Shawn menggeleng cepat.
"Tidak ada sama sekali Sweetheart. Tidak ada sedikitpun perasaan special di hatiku terhadapnya. Aku hanya mencintaimu.." Jawaban tegas Shawn yang berubah lirih di kalimat terakhir, membuat Shanaya terharu. Terlihat jelas ketulusan di wajah suaminya, namun rasa cemburu masih saja menguasai hati Shanaya.
"Tapi sepertinya kamu memberinya harapan dengan menerima kejutan darinya, bahkan mengizinkannya menginap di apartemenmu." Raut kesal yang belum menghilang dari wajah Shanaya, menyadarkan Shawn kalau bahaya masih mengintai. Shawn sungguh tidak mau kalau Shanaya marah padanya.
"Pagi harinya, aku langsung mengatakan pada Seira untuk tidak pernah melakukan hal seperti itu lagi. Aku secara jujur mengatakan, kalau aku terganggu dengan apa yang dilakukannya." Ucap Shawn tanpa keraguan.
"Lalu bagaimana reaksi Seira? Apa yang dia katakan?" Shanaya terlihat sangat penasaran dengan cerita Shawn selanjutnya.
"Dia sempat terkejut, lalu bertanya kenapa dia tidak boleh melakukannya.. Lalu aku katakan, kalau aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai.." Tanpa sadar, Shanaya mengulas senyum manisnya mendengar jawaban Shawn.
"Lalu, apa lagi yang dia katakan?" Shanaya masih saja memberi Shawn pertanyaan lanjutan, membuat Shawn menghela nafas panjang.
"Tidak ada, dia langsung pergi meninggalkan apartemenku saat itu juga." Bukannya puas dengan cerita penutup dari Shawn, Shanaya justru melayangkan tatapan sangsinya atas jawaban Shawn.
"Benarkah dia tidak mengatakan apapun lagi?" Shawn mengangguk malas menanggapi pertanyaan Shanaya.
"Ayolah Sweetheart, berhentilah curiga pada suamimu ini. Aku sungguh hanya mencintaimu. Tidak ada sedikitpun perasaan untuk perempuan lain di hatiku, semuanya hanya untukmu Sweetheart." Ungkapan cinta dari Shawn membuat mata Shanaya terlihat berbinar bahagia. Hingga akhirnya sebuah ciuman gemas mendarat sempurna di bibir Shawn. Bahkan tubuh Shanaya sudah berada di atas tubuh Shawn yang terlentang sempurna.
"Aku mencintaimu Shawn Sherwyn Knight.." Lirih Shanaya memancing senyum di wajah Shawn. Sebelum akhirnya Shanaya kembali melabuhkan ciuman-ciuman liarnya, dan menggoda tubuh suaminya dengan sentuhan-sentuhan nakal yang memantik hasrat.
'Aku tidak akan memberikan kesempatan bagi perempuan manapun untuk menggodamu Honey. Aku akan membuatmu semakin tergila-gila padaku.' Tekad Shanaya, seraya melakukan aksinya yang semakin membuat jiwa Shawn terbang ke puncak nirwana.
*************************
Keiva berniat pergi dari restaurant, namun urung saat tiba-tiba Manager Resort menyapanya dengan ramah.
"Selamat pagi Nona Keiva, apa anda berniat untuk sarapan? Biar saya minta pelayan untuk menyiapkan menu special untuk anda."
"Oh tidak terima kasih, saya hanya sedang berjalan-jalan saja. Nanti saya sarapan di kamar saja." Jawab Keiva sedikit canggung.
"Baiklah Nona, kalau perlu sesuatu, anda bisa hubungi saya. Mohon maaf Nona Keiva, saya tinggal dulu ya." Ucap Manager Resort, lalu diangguki Keiva, sebelum akhirnya meninggalkan Keiva.
Rupanya interaksi Keiva dan Manager Resort itu disadari oleh Drake, namun Drake bersikap seolah-olah tidak melihatnya. Memang Drake sedang berusaha keras untuk menata hatinya yang sudah hancur karena ditolak Keiva. Sungguh Drake tidak ingin terjatuh lagi ke dalam pesona Keiva yang membuatnya jatuh cinta, hingga akhirnya Drake memilih menghindar untuk sementara waktu.
Drake menghela nafas panjang, saat melihat Keiva berjalan keluar dari dalam restaurant. Ternyata apa yang dilakukan Drake ini, disadari oleh Ivone yang baru selesai dengan sarapannya.
"Kenapa Kak Drake tidak berjuang lebih keras untuk mendapatkannya?" Drake mengernyit heran mendengar pertanyaan Ivone yang tiba-tiba.
"Mendapatkan siapa?" Tanya Drake masih belum yakin dengan arah pertanyaan Ivone.
"Nona Keiva, sepupu Shanaya. Aku memperhatikan kalian beberapa hari ini. Kalian selalu tampak sedih setiap memandang satu sama lain, meskipun diam-diam. Bahkan kalian terkesan saling menghindar jika tidak sengaja bertemu. Aku tahu kalian sama-sama memiliki perasaan special, tapi kenapa kalian seolah berusaha saling menutupi?" Ucapan Ivone langsung ditanggapi gelengan tegas dari Drake.
"Tidak.. Keiva tidak memiliki perasaan special terhadapku. Dia menolakku, saat aku mengungkapkan perasaanku padanya." Jawaban Drake membuat Ivone membelalakan matanya.
"Jadi Kak Drake sudah mengungkapkan perasaan cinta Kak Drake pada Nona Keiva, tapi ditolak?" Drake mengangguk malas menanggapi pertanyaan Ivone.
"Tapi aku yakin kalau Nona Keiva memiliki perasaan lebih terhadapmu Kak. Dia juga merasa cemburu setiap kali melihat kebersamaan kita." Ucap Ivone, namun dibalas tatapan sangsi oleh Drake.
"Tidak mungkin.. Jangan memberiku harapan kosong, Ivone. Keiva jelas-jelas menolakku, karena di hatinya masih ada nama pria lain, yang sudah dia cintai sejak kecil." Drake jelas tidak mempercayai asumsi Ivone yang dianggapnya sesuatu yang tidak mungkin. Sementara Ivone hanya menghela nafas seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Ya sudah kalau tidak percaya. Tapi seperti itulah yang aku lihat.."
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️