Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 39 Mendapat Restu



Udara pagi musim panas di Kota Birmingham terasa cerah dengan matahari bersinar terik.  Shawn dan semua rombongan yang baru tiba di Birmingham International Airport tampak menghela nafas lega, karena misi mereka menyelamatkan Shanaya sudah berhasil dan sebentar lagi mereka akan menuju mansion keluarga Knight di Birmingham yang sebelumnya jarang ditempati.


Shawn memang sengaja meminta orangtua dan seluruh penghuni mansion di London untuk segera pindah ke mansion di Birmingham, dan Sall pun langsung menyetujuinya meskipun masih belum mengetahui alasannya. Tapi Sall yakin, kalau tujuan Shawn adalah demi keamanan dan keselamatan seluruh keluarga dan penghuni mansionnya.


Dalam perjalanan menuju mansion, Shanaya dan Shawn duduk di kursi penumpang ditemani sopir dan Drake yang duduk di sebelahnya. Shanaya tidak banyak bicara, pikirannya masih berkecamuk antara ingin bertemu dengan ibu kandungnya dan juga ingin kembali ke Dubai. Tapi mungkin saat ini, dia tidak memiliki pilihan lain. Shanaya memilih mengikuti permainan Shawn sambil memikirkan cara untuk bisa melarikan diri dari Shawn, tentunya dengan membawa Sanchia.


"Sayang.. Apa kamu tidak mengantuk? Selama sisa penerbangan kita tadi, kamu tidak tidur. Bahkan kamu makan hanya sedikit. Apa kamu mau sesuatu?" Tanya Shawn lembut.


"Tidak.. Aku tidak mengantuk dan tidak lapar." Jawab Shanaya berbohong. Sebenarnya saat ini dia sangat mengantuk dan juga lapar, tapi setelah moment menangis di pelukan Shawn, dirinya menjadi canggung pada laki-laki itu.


'Aku masih sangat malu, karena menangis di pelukannya. Aku akui, setiap kali dipeluknya aku merasa sangat nyaman. Tapi aku tidak boleh goyah, aku harus bisa menghilangkan semua perasaanku padanya.' Tekad Shanaya dalam hati.


"Tidurlah Sayang, perjalanan ke mansion masih agak lama. Kamu pasti sangat lelah."


Perjalanan panjang dari Dubai International Airport menuju Birmingham International Airport yang menghabiskan waktu hampir 8 jam, dilanjutkan dengan perjalanan dari Airport menuju mansion yang bisa memakan waktu hampir 2 jam, tentunya cukup menyita tenaga.


"Tidak, aku tidak mau." Jawaban Shanaya membuat Shawn begitu khawatir, pasalnya mata Shanaya terlihat sudah merah menahan kantuk, apalagi saat dalam pesawat tadi, Shanaya sempat meminum obat pereda sakit yang membuatnya sangat mengantuk. Shawn juga tahu, kalau Shanaya sudah sangat lapar tapi gengsi memaksanya untuk tidak makan apapun yang ditawarkan oleh Shawn.


Shanaya memilih melihat pemandangan melalui jendela mobil, menghindari pembicaraan dengan Shawn yang terus membuat detak jantungnya tidak beraturan. Hingga beberapa belas menit kemudian, Shanaya tidak bisa menahan kantuknya, dan akhirnya memejamkan mata yang sudah ditahannya sekuat tenaga.


Senyum lega terulas di wajah Shawn, dengan hati-hati Shawn menyandarkan kepala Shanaya di dadanya. Tidak lupa sebelah tangan Shawn menahan bahu Shanaya agar tetap nyaman meskipun ada guncangan.


Seolah sangat nyaman dengan posisi tidurnya, Shanaya terus menelusupkan kepalanya di dada Shawn. Tentu saja tingkah Shanaya ini semakin menarik lengkungan indah di kedua sudut bibir Shawn. Meskipun Shanaya terus saja membangun dinding pertahanan untuk menjaga jarak darinya, tapi Shawn selalu bersyukur setiap kali ada moment yang justru mendekatkan mereka lagi. Bagaimanapun caranya, Shawn sudah bertekad untuk meyakinkan dan meluluhkan hati Shanaya.


Tidak terasa mobil Shawn dan semua rombongan sudah sampai di mansion. Shawn menghela nafas panjang, karena merasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya dia masih ingin dipeluk manja oleh Shanaya yang saat ini masih tertidur pulas.


Awalnya Shawn berniat membangunkan Shanaya, tapi suara dan usapan lembut Shawn di pipi Shanaya justru semakin membuat Shanaya lelap. Akhirnya Shawn memutuskan untuk menggendong Shanaya menuju kamarnya.


Sall dan seluruh penghuni mansion yang mengetahui kedatangan Shawn dan semua rombongan, segera menyambut mereka di aula mansion. Namun alangkah terkejutnya mereka terutama Sall, saat melihat Shawn menggendong Shanaya yang mereka kira sudah tiada.


"Son.. Benarkah dia.. Shanaya?" Sall mulai berkaca-kaca dengan tatapan mengarah pada putrinya yang begitu dia rindukan.


"Iya Dad.. Nanti aku akan jelaskan semuanya, sekarang biarkan Shanaya istirahat dulu ya."


Sall mengangguk singkat mendengar jawaban Shawn. Yang pasti hati Sall terasa sangat lega dan bersyukur, perempuan yang digendong Shawn adalah putrinya yang selama ini hilang.


"Dimana kamar Shanaya, Dad?" Tanya Shawn pada Sall.


"Maaf Son, Daddy tidak tahu kamu akan membawa Shanaya pulang, jadi belum ada kamar khusus untuk Shanaya. Daddy akan meminta pelayan untuk menyiapkannya. Untuk sementara, bawa dia ke kamarmu saja di lantai 2." Ucap Sall lalu mengantar Shawn menuju kamarnya. Sementara beberapa pelayan langsung bergerak menyiapkan kamar khusus untuk Shanaya.


Perlahan Shawn membaringkan tubuh Shanaya di atas tempat tidurnya. Beruntung Shanaya masih lelap seraya mencari posisi nyaman dengan memeluk guling disebelahnya. Shawn dan Sall tersenyum melihatnya, namun Sall tidak bisa menahan dirinya untuk tidak meneteskan air mata yang sudah ditahannya sejak tadi.


"Ceritakan semuanya Son.." Sall sudah tidak sabar mendengar cerita Shawn hingga bisa menemukan Shanaya.


Di kursi kebesarannya, Sall tampak mengepalkan tangan dengan rahang mengeras, bahkan beberapa kali meja kerjanya menjadi sasaran kemarahan Sall yang emosi mendengar penuturan Shawn.


"Alrico brengsk.. Bisa-bisanya dia membuat skenario seperti ini. Dia memang berniat menghancurkan keluarga kita Shawn."


"Iya Dad.. Makanya aku langsung membawa Shanaya pulang, karena terlalu sulit untuk meyakinkan Shanaya. Alrico sudah mencuci otak Shanaya hingga percaya pada semua yang dikatakannya." Ujar Shawn.


"Keputusan kamu sudah tepat, meskipun Daddy sepertinya akan menjadi sasaran kemarahan Shanaya karena skenario yang dibuat si brengsk itu."


"Iya Dad.. Shanaya berpikir, kalau Daddy adalah orang yang menghancurkan pernikahan Mommy dan Alrico. Sungguh sangat menggelikan." Ucapan Shawn membuat Sall semakin emosi pada Alrico.


"Kenapa dulu tidak Daddy bunuh saja orang itu. Daddy kira dia akan berubah dan menyadari kesalahannya, ternyata tidak. Hmm, Son.. Apa niatmu untuk menikahi Shanaya adalah benar atau hanya bagian dari rencanamu untuk menyelamatkan Shanaya saja?" Pertanyaan Sall seketika membuat Shawn membeku. Hingga beberapa detik kemudian, Shawn menghela nafas panjang sebelum dirinya mulai menjelaskan.


"Dad, aku ingin menceritakan sebuah rahasia yang sudah lama aku pendam." Shawn kembali menghela nafas, sedangkan Sall hanya menunggu tidak ingin menginterupsi cerita Shawn saat ini.


"Sebenarnya sudah lama aku merasakan perasaan yang berbeda pada Shanaya, bahkan sejak aku belum mengetahui kalau kami bukanlah saudara kandung. Karena itulah, aku seringkali menghindarinya dan berusaha menghilangkan perasaan yang aku kira terlarang itu. Saat Daddy mengatakan kalau kami bukanlah saudara kandung, aku begitu sangat bersyukur. Meskipun aku pun kecewa karena semuanya sudah terlambat, Shanaya sudah tidak ada. Saat aku menemukan Shanaya di Dubai, aku sungguh tidak ingin menahan perasaanku lagi, aku melakukan segala cara untuk mengungkapkan perasaanku. Namun saat ini, dia bukanlah Shanaya yang kita kenal, sehingga perlu banyak bukti untuk meyakinkan dan meluluhkan hatinya. Tapi Dad.. Apa Daddy setuju.. jika aku menikah dengan Shanaya?" Shawn terlihat cemas karena Sall sama sekali tidak menunjukkan reaksinya selain raut datarnya.


Beberapa detik kemudian, Sall merangkul Shawn seraya menepuk punggung Shawn berkali-kali. Lalu melepasnya seraya mengulas senyuman di wajah tampan berwibawanya.


"Akhirnya kamu mengakuinya Son.. Sebenarnya Mommy dan Daddy sudah curiga kalau kamu memiliki perasaan yang berbeda pada Shanaya. Tapi kami belum bisa memastikannya sehingga kami juga takut salah langkah dan takut menyakiti perasaanmu jika kami mengatakan kalau kamu bukanlah anak kandung kami. Maaf jika sikap diam kami, justru membuat kamu tersiksa. Daddy dan Mommy-mu memberikan restu, jika kamu ingin menikahi Shanaya. Karena kami sangat yakin, kalau kamu adalah pria terbaik yang bisa menjaga, melindungi dan mencintai Shanaya." Mendengar penuturan Sall, Shawn seketika memeluk Daddy-nya itu.


"Terima kasih Dad, sudah merestui dan mengizinkanku untuk menikahi Shanaya.." Ucap Shawn tulus.


"Sekarang yang harus kamu lakukan adalah berjuang meyakinkan Shanaya. Kita juga akan berusaha mengembalikan ingatan Shanaya." Shawn melepas pelukannya lalu mengiyakan perkataan Sall.


"Aku membawa beberapa botol obat yang diberikan Alrico pada Shanaya, aku sudah meminta Drake untuk membawa obat itu ke lab markas besar. Mungkin kita akan mendapat hasilnya dalam waktu dekat."


"Baguslah kalau begitu. Daddy tidak akan biarkan keluarga kita hancur karena si brengsk itu." Tekad Sall.


"Iya Dad.. Aku pun akan berusaha membuat keluarga kita kembali bahagia seperti dulu." Sall tersenyum mendengar ucapan Shawn.


"Dad.. Ayo kita ke kamar Daddy, aku sudah rindu dengan Mommy.. Aku juga ingin menyampaikan niatku untuk menikahi Shanaya."


"Ayo.. Mommy-mu pasti bahagia mendengar kabar bahagia ini." Ujar Sall lalu merangkul Shawn keluar dari ruang kerja menuju kamarnya.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️