
Wajah Shanaya masih tertekuk sempurna saat Shawn merangkulnya masuk ke dalam kamar mereka yang berbeda beberapa lantai dari kamar Keiva. Bahkan Shanaya langsung masuk ke dalam kamar mandi, setelah lebih dahulu membawa baju piyamanya.
Shawn sebenarnya cukup peka dengan sikap Shanaya yang tiba-tiba kesal dan menghindarinya, meskipun tidak sepenuhnya benar. Shawn hanya mengira kalau Shanaya cemburu pada partner bisnisnya yang bernama Anna. Tanpa tahu, kalau Shanaya juga merasa kecewa karena dirinya yang berstatus istri Shawn, tidak diakui Shawn di depan Anna.
Tanpa memandang ke arah Shawn, Shanaya yang keluar dari kamar mandi dan sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, langsung menaiki tempat tidurnya. Tidak mempedulikan Shawn yang tidak lepas menatapnya.
Shawn pun memilih membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, sebelum akhirnya menyusul Shanaya dengan merebahkan dirinya di samping sang istri yang membelakangi dirinya.
"Sweetheart.. Bisakah kamu menghadap ke arahku? Aku tidak bisa kalau tidak memandang wajah cantikmu sebelum tidur." Suara Shawn yang sedikit memelas, tidak membuat Shanaya luluh. Shanaya justru berpura-pura sudah tertidur, dengan tidak menanggapi perkataan Shawn.
"Sweetheart, apa kamu cemburu pada partner bisnisku tadi?" Tanya Shawn hati-hati.
Merasa tidak terima dengan pertanyaan Shawn yang terdengar seperti tuduhan baginya, Shanaya seketika membalik tubuhnya ke arah Shawn.
"Cemburu? Aku tidak cemburu.." Perkataan Shanaya yang terdengar sewot, justru membuat Shawn tersenyum.
"Baiklah.. Aku percaya." Timpal Shawn kembali mengulas senyumnya.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Jangan meledekku, aku sedang kesal." Tatapan tajam Shanaya membuat Shawn menghapus senyum dan mengatupkan mulutnya, karena tidak ingin membuat Shanaya semakin marah.
Melihat suaminya yang terdiam, ternyata malah membuat Shanaya bertambah kesal.
"Honey, kenapa kamu tidak menolak tawaran perempuan itu saat dia memintamu berkunjung ke villa-nya? Apa kamu memang berniat untuk menerima tawarannya itu?" Akhirnya Shawn mulai mengerti alasan kekesalan Shanaya, setelah istrinya itu mengeluarkan keluh kesah yang sejak tadi mengganjal di dalam hatinya.
"Sweetheart.. Tawarannya itu pasti hanyalah sekedar basa-basi, aku juga tidak mungkin langsung menolaknya kan? Kalaupun benar dia meminta kita untuk datang berkunjung, akupun akan memberi alasan untuk menolak tawarannya." Jawaban Shawn yang sama persis seperti dugaan Keiva, hanya ditanggap Shanaya dengan diam.
"Lalu kenapa kamu tidak menjelaskan status kita, saat perempuan itu mengatakan aku adikmu?" Pertanyaan Shanaya kali ini berhasil mengejutkan Shawn. Tidak diduganya sama sekali, kalau hal itu menjadi salah satu alasan kekesalan istrinya.
"Sweetheart, tentu kamu tahu kalau statusku yang bukan merupakan Putra kandung Mommy dan Daddy belum diumumkan ke public. Bagaimana bisa aku mengenalkanmu sebagai istriku, padahal orang-orang tahu kalau kita adalah saudara kandung. Tentu hal itu akan menjadi skandal besar, Sweetheart." Jawaban Shawn lagi-lagi sama dengan perkataan Keiva. Shanaya hanya bisa tertunduk lesu kali ini, perasaan kecewa itu masih saja bertahta, meskipun jawaban Shawn sudah begitu jelas masuk ke dalam otaknya.
"Sweetheart.. Sesungguhnya aku begitu ingin mengumumkan pada dunia kalau kamu adalah istri sahku. Agar semua orang tahu, kalau kamu sudah menjadi milikku seutuhnya." Shanaya menatap dalam netra Shawn yang terlihat jujur dan tulus.
"Jika waktunya sudah tepat, aku sendiri yang akan mengumumkan status kita pada semua orang, Sweetheart.." Ucap Shawn lagi yang diangguki Shanaya.
"Maafkan aku yang tidak mengerti akan keadaan kita, aku terlalu kekanak-kanakan." Lirih Shanaya, dibalas senyum tipis Shawn.
"Tidak.. Apa yang kamu rasakan sangat wajar. Tapi maafkan aku, jika saat ini belum bisa mengumumkan pernikahan kita. Ada banyak hal yang harus aku urus sebelum melakukannya. Satu hal yang harus kamu tahu, kalau aku benar-benar mencintaimu.." Shanaya tersenyum mendengar perkataan manis suaminya. Sesaat kemudian dirinya merangsek masuk ke dalam dekapan Shawn, hingga bunyi notifikasi pesan masuk milik Shawn mengusik kemesraan mereka.
Shanaya memberi jarak dengan menarik mundur tubuhnya, agar Shawn bisa mengambil posnselnya yang berada di atas nakas. Namun beberapa saat kemudian, ekspresi Shanaya terlihat keruh setelah ikut mengintip isi pesan di ponsel suaminya.
"Tuh kan, ternyata perempuan itu benar-benar mengundangmu dan memberikan alamat villa-nya." Wajah Shanaya memberengut kesal.
Shawn yang mulai menyadari adanya mode bahaya dari istrinya, langsung menyusun kalimat penolakan atas tawaran Anna padanya. Hingga senyum Shanaya kembali terbit, setelah pesan Shawn itu berhasil terkirim pada partner bisnisnya itu.
*************************
Drake terlihat meneguk minuman langsung dari botolnya, di club yang ada di Resort Knight. Dirinya yang sengaja duduk sendirian di salah satu sudut club, sama sekali tidak terpengaruh dengan hingar bingar suara musik atau keriuhan dari orang-orang yang mencari hiburan di tengah dance floor.
Drake sebenarnya bukan orang yang menyukai minuman beralkohol, dirinya justru tipe laki-laki yang menerapkan pola hidup sehat, meskipun tatto menghiasi hampir seluruh bagian tubuhnya. Tapi entah kenapa, kali ini dia merasa kalau minuman akan membuatnya lupa sejenak dengan kejadian tadi sore juga perasaan yang sangat menyiksanya.
Tiba-tiba seorang perempuan berpakaian super seksi menghampiri dan mulai menggoda Drake dengan menyentuh wajah dan rahang Drake tanpa ragu. Tentu saja tindakan ini membuat Drake menatap tajam pada perempuan yang sudah berlaku lancang itu.
"How dare you!" Bentak Drake.
Tapi seolah tidak ada rasa takut, perempuan itu malah semakin menuntun jemarinya untuk menelusuri dada Drake diiringi rayuan suara manjanya.
"Ayolah.. Aku akan membuatmu puas malam ini. Aku sungguh beruntung bertemu pria gagah dan seksi sepertimu. Sepertinya akan sangat seru bisa berpetualang di atas ranjang bersamamu." Perempuan kesepian itu tidak henti menggoda Drake yang sudah sangat mabuk, hingga akhirnya seorang gadis cantik berwajah khas Eropa dan berpakaian serba hitam datang menghempas tangan jahil perempuan itu.
"Enyahlah.. Jauhkan tangan nakalmu dari pria ini." Ucap gadis itu membuat si perempuan seksi merasa marah.
"Siapa kamu, tiba-tiba menyuruhku pergi. Dia adalah pacarku, aku akan pergi bersamanya." Mendengar perkataan perempuan dihadapannya, gadis itu menyeringai tipis.
"Jika kamu tidak mau pergi, maka aku akan mematahkan tanganmu." Timpal sang gadis seraya memelintir sebelah tangan perempuan itu hingga meringis kesakitan.
"Aaaaa.. Lepaskan.. aku. Baiklah, aku akan pergi." Gadis itu melepaskan cengkeraman tangannya lalu menghempas kuat badan perempuan dihadapannya, sampai perempuan itu enyah dengan langkah terpaksa.
"Hmm.. Siapa kamu?" Drake mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, mencoba mengenali gadis yang sedari tadi mencuri perhatiannya itu.
"Ayo Kak Drake, aku antar ke kamarmu." Tanpa menunggu jawaban dari Drake, gadis itu segera memapah Drake keluar dari club menuju kamar Drake yang berbeda lantai dari club itu.
'Tubuhmu berat sekali..' Keluh gadis itu di sepanjang koridor menuju kamar Drake. Namun akhirnya gadis itu berhasil mengantar Drake sampai masuk ke dalam kamarnya.
Hal itu ternyata tidak luput dari penglihatan Keiva yang memang berniat melihat keadaan Drake yang sudah membuatnya khawatir.
'Siapa gadis cantik itu? Kenapa dia bisa masuk ke dalam kamar Drake? Sepertinya Drake sedang mabuk.. Apa yang akan mereka lakukan di dalam sana? Apa mereka akan melewatkan malam panjang berdua?' Berbagai pertanyaan berkelebatan di otak Keiva, dan hal itu sangat mengganggu perasaannya.
*************************
Maaf ya, aku baru bisa up lagi setelah sibuk dengan dunia nyata. Semoga masih ada yang berkenan membaca novel ini, hehe..
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️