
Di salah satu ballroom yang terdapat di Resort Knight, raut serius sekaligus kebencian menghiasi wajah-wajah yang saling berhadapan dengan jarak tidak lebih dari 20 meter. Shawn merasa muak melihat seringai yang terukir jelas di wajah musuh besarnya yaitu Alrico dan Sheran yang ditemani ratusan anak buahnya, berbeda dengan anak buah Shawn yang jumlahnya tidak sebanyak itu. Begitupun dengan Shanaya, dirinya pun begitu jengah, meskipun dia berusaha menunjukkan raut tenangnya dihadapan Papa dan tunangan gadungannya.
Kedatangan mereka yang sangat menonjol dengan pakaian serba hitam dan senjata lengkap, menimbulkan kegaduhan dan ketakutan luar biasa bagi semua pengunjung Resort Knight. Namun Shawn tidak mungkin meminta pihak Resort untuk mengevakuasi mereka. Selain karena waktu yang tidak memungkinkan, Shawn juga khawatir keselamatan mereka justru terancam oleh anak buah Alrico dan Sheran. Belum lagi jika pihak luar mengetahui kejadian ini, hingga akhirnya membongkar pertempuran antar klan mafia itu.
Karena alasan-alasan itulah, akhirnya Shawn memberi instruksi pada Keiva dan pihak Resort untuk meminta semua pengunjung Resort Knight untuk tinggal dalam kamarnya masing-masing atau berkumpul di rooftop yang dijaga ketat oleh puluhan anggota klan Toddestern. Tentu saja atas ketidaknyamanan ini, semua pengunjung Resort Knight dijanjikan kompensasi yang sangat besar dari Shawn. Sekaligus agar mereka tidak membuka mulut tentang kejadian luar biasa yang mereka anggap perampokan besar-besaran ini.
Kembali ke ruang ballroom yang diliputi ketegangan dari dua kubu yang saling bermusuhan, Drake, Ivone beserta anggota Klan Toddestern juga Ebgelschatten sudah begitu bersemangat menunjukkan kemampuan mereka. Shawn membuka mulut seraya menghunuskan tatapan tajam pada Alrico dan Sheran.
"Tidak usah berbasa-basi, katakan apa maksud kalian menyerang dan mengepung tempat ini?"
"Kami pun tidak mau berbasa-basi, seharusnya kamu sudah tahu maksud kami kesini. Serahkan Shanaya pada kami, maka setelah itu kami akan pergi." Jawab Sheran tanpa malu, dan langsung dibalas Shawn dengan senyum sinis dan tatapan setajam elang.
"Kamu sungguh tidak tahu malu Sheran, Shanaya sudah sah menjadi istriku. Tapi kamu masih saja berniat merebutnya dariku." Ucap Shawn dengan tatapan meremehkan.
"Aku tidak peduli dengan statusnya, yang penting aku bisa bersama dengan orang yang aku cintai." Jawaban tidak tahu malu dari Sheran membuat Shawn menggeleng-gelengkan kepalanya, Shanaya pun tampak terkejut, begitu pula dengan semua orang yang mendengar perkataan Sheran.
Pernyataan Sheran tentang perasaannya terdengar bagaikan drama bodoh bagi kebanyakan orang di ruangan itu, tidak terkecuali anak buahnya. Namun semua orang memilih menjadi penonton dibanding mengomentari kebodohannya yang mencintai perempuan yang sudah bersuami.
"Sheran, tapi aku tidak mencintaimu. Kamu tidak bisa memaksakan perasaanmu padaku. Karena aku tidak akan pernah bisa mencintaimu." Perkataan Shanaya menarik atensi Sheran, tapi seolah masuk kuping kanan keluar kuping kiri, Sheran memilih tidak peduli dengan apa yang diucapkan Shanaya.
"Aku tidak peduli Shanaya.." Jawab Sheran tegas, membuat Shanaya menghela nafas kasarnya.
'Setidaknya dengan adanya kamu disampingku, hidupku tidak akan tersiksa. Aku tidak ingin bernasib sama seperti Papa yang menderita di sepanjang hidupnya karena tidak bisa memiliki seseorang yang dicintainya.' Lirih Sheran dalam hati.
"Jika itu yang kamu mau, baiklah.. Maka aku akan menyingkirkanmu." Shawn mengambil pistol yang dia sembunyikan di balik kemejanya, lalu mengarahkannya tepat di depan Sheran. Hal ini diikuti juga oleh Shanaya, anggota klan Toddestern dan anggota klan Engelschatten. Tentu saja anak buah Sheran dan Alrico pun melakukan hal yang sama untuk melindungi Tuannya yang terancam keselamatannya.
Namun sikap santai justru ditunjukkan Sheran dan juga Alrico, keduanya malah terkekeh pelan, seolah merasa lucu dengan tindakan Shawn, Shanaya dan anggota klan Toddestern juga Engelschatten.
"Baiklah.. Kalian jelas kalah jumlah, jika memang pertumpahan darah yang kalian inginkan, akan kami ladeni." Ujar Alrico lalu mengangkat pistolnya, yang langsung diikuti Sheran.
Sebenarnya Shawn sama sekali tidak gentar meskipun mereka kalah jumlah bahkan senjata, karena Shawn percaya diri dengan skill beladiri yang dimilikinya juga orang-orangnya. Tapi tetap saja Shawn merasa khawatir akan keselamatan orang-orangnya, terutama istrinya.
Braaaakk..
Tiba-tiba pintu ballroom terbuka dengan keras, hingga muncullah Sall, Sanchia, Kevin beserta ratusan anggota Klan Toddestern dan Klan Ble Asteri yang merangsek masuk ke dalam ballroom.
Kemunculan mereka bukan hanya mengejutkan Alrico, Sheran dan anak buahnya. Tapi juga Shawn, Shanaya dan anak buah mereka. Karena mereka pikir, bala bantuan baru akan datang beberapa jam kemudian. Tanpa mereka tahu, kalau Sall dan Sanchia memang sudah mengikuti pergerakan Alrico, Sheran dan anak buahnya sejak para pengacau itu meninggalkan Kota Bandung.
"Thanks Dad, Mom, Om.." Lirih Shanaya menatap Sall, Sanchia serta Kevin yang kemudian tersenyum tipis padanya. Sementara Shawn hanya menundukkan sedikit kepalanya, menyambut kedua orangtua dan Om-nya itu.
"Menyerahlah.. Kami bukan tidak bisa membunuh kalian semua, tapi untuk apa kalian mengorbankan banyak nyawa, hanya untuk hal yang sia-sia." Sall berkata seraya mengukir senyum sinisnya.
"Alrico, Sheran, hentikan semua ini. Kami sama sekali tidak menginginkan pertumpahan darah. Berhentilah memaksakan kehendak kalian. Shanaya tidak akan pernah bisa kalian bawa dari kami." Timpal Sanchia tegas.
"Justru dengan kedatanganmu, aku bisa sekalian membawamu pergi Chia." Alrico menjawab dengan wajah dihiasi seringai menakutkannya.
"Jangan mimpi, kamu akan aku bunuh lebih dulu sebelum bisa menyentuh istriku." Bukannya takut dengan ucapan Sall, Alrico justru tertawa kencang.
"Hahaha..Baiklah, jika aku tidak bisa memilikinya, maka kamu pun tidak bisa." Ujar Alrico lalu melesatkan dua buah peluru dari pistol di tangannya ke arah Sanchia.
"Aaaaaaa.." Mata semua orang terbelalak, saat tubuh seorang perempuan tiba-tiba roboh karena tembakan dari Alrico.
"Seiraaaa.." Sanchia berteriak histeris dengan tangan bergetar memeluk tubuh Seira yang jatuh di lantai. Shanaya ikut duduk di sebelah Sanchia, memandang sedih seseorang yang pernah menjadi sahabatnya. Sementara Shawn berjongkok, melihat separah apa luka tembak yang ada di perut Seira itu.
Pistol yang dipegang Alrico jatuh, seiring dengan deraian air mata yang keluar dari kedua sudut matanya. Sheran yang sempat terpaku melihat saudara kembarnya bersimbah darah, kini mendekat dan bersimpuh tepat di depan tubuh Seira.
"Seira, apa yang kamu lakukan? Ayo kita ke Rumah Sakit." Sheran mati-matian menahan air mata yang hendak jatuh.
"Tidak perlu.. Cukup hentikan.. permusuhan ini.. Ka.. Kamu.. tahu. Kalau aku.. menyayangi Aunty.. Sanchia.. Aku tidak.. mau Aunty Sanchia.. meninggal." Ucap Seira terbata-bata, namun Sheran hanya terdiam seraya menggenggam tangan dingin saudara kembarnya.
"Cepat bawa Seira ke klinik Resort." Mendengar perkataan Shawn, Sheran segera menggendong tubuh Seira dan mengikuti langkah Shawn dan Shanaya yang berjalan di depannya. Sheran sudah tidak peduli dengan tujuan awalnya atau Papanya yang masih tampak terpukul. Yang terpenting baginya saat ini, adalah menyelamatkan nyawa Seira.
Kejadian tidak terduga yang menimpa Seira, menghentikan ketegangan diantara anggota Klan Toddestern, Engelschatten, Ble Asteri dengan anak buah Alrico dan Sheran. Akhir yang benar-benar tidak mereka sangka, apalagi Alrico saat ini terlihat meremas rambutnya dengan kasar dengan posisi duduk di atas lantai. Penyesalan tampak jelas di wajahnya, air mata pun masih setia membasahi pipinya.
"Seira Sayaaaang.. Kenapa kamu melakukannya?" Lirih Alrico.
Sanchia hendak mendekati Alrico, namun Sall menghentikan niat istrinya itu.
"Biarkan Kevin dan Drake yang mengurusnya, Sweetheart. Lebih baik kita melihat keadaan Seira." Sanchia mengangguk, lalu mengikuti langkah Sall yang menggenggam erat tangannya.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️