Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 57 Kecewa



Taman Bunga Gemintir atau Marigold, kesinilah Drake membawa Keiva, setelah seharian ini menemani Keiva meninjau proyek renovasi Hotel Knight. Keduanya berjalan bersisian menelusuri sepanjang taman bunga, seraya menikmati hembusan angin yang menenangkan.


Senyum manis di wajah Keiva tidak henti terulas, disertai binar bahagia di kedua matanya yang indah. Tangannya menyentuh lembut bunga-bunga berwarna kuning itu, mengagumi pemandangan dihadapannya. Tanpa tahu kalau laki-laki disebelahnya justru tidak henti mengagumi wajah Keiva yang dianggap lebih indah dari bunga-bunga berwarna kuning itu.


Sesekali Drake merapihkan rambut panjang Keiva yang bergerak tidak beraturan, seolah tidak rela helaian rambut Keiva menghalangi Drake untuk memandang wajah cantik gadis pujaannya. Keiva sebenarnya merasa canggung dengan apa yang dilakukan Drake, tapi entah kenapa hatinya pun merasa senang dengan sikap manis Drake yang tidak biasa itu.


"Apa mendiang Papa dan Mamamu bertemu disini untuk pertama kalinya?" Tanya Keiva, saat Drake menghentikan langkahnya dan memandang ke arah bunga-bunga marigold dihadapannya.


"Iya, disinilah mereka bertemu dan disini pula Papaku mengungkapkan perasaannya beberapa hari kemudian, pada gadis Indonesia yang sudah memikat hatinya." Jelas Drake seraya menatap dalam netra Keiva yang berbinar.


"Ah romantisnya.. Pasti Mamamu langsung menerima cinta Papamu ya?" Tebak Keiva, yang langsung diangguki Drake.


"Iya, untungnya Mama pun memiliki perasaan yang sama pada Papa, meskipun baru saling mengenal dalam hitungan hari. Mereka akhirnya berpacaran, lalu menikah.." Mata Drake tampak menerawang, namun senyum tampannya terukir jelas di wajahnya. Membuat Keiva sesaat terpesona pada wajah yang terbiasa dingin dan datar itu.


'Ternyata pria dingin ini begitu tampan saat tersenyum lebar seperti itu' Puji Keiva dalam hati.


Keiva tersentak dari lamunannya saat dua tangan Drake tiba-tiba menggenggam erat kedua tangannya. Terlebih mata elang Drake kini menatapnya dalam, membuat Keiva merasa salah tingkah.


"Lihatlah Drake.. Matahari senjanya sangat indah, cahayanya membuat bunga-bunga ini menjadi semakin cantik." Keiva berusaha mengalihkan atensi Drake dari dirinya. Namun rupanya Drake sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dikatakan Keiva.


"Kamu jauh lebih indah dari matahari senja, dan lebih cantik dari bunga marigold." Suara Drake yang terdengar tenang saat memujinya, sukses membuat Keiva kesulitan menelan saliva. Apalagi netra Drake masih setia menatapnya.


"Keiva.. Sebenarnya sudah lama aku memiliki perasaan lebih padamu. Tapi aku tahu kalau di hatimu ada satu nama yang sudah lama kamu sukai. Tapi kali ini, aku tidak ingin kamu terluka lagi, karena mencintai pria yang selalu menorehkan luka di hatimu. Jadi tolong izinkan aku untuk menemani hari-harimu, dan menunjukkan perasaan cintaku padamu." Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Keiva. Bukan hanya kesulitan menelan saliva, bahkan Keiva seperti kesulitan bernafas karena terlalu terkejut dengan ungkapan perasaan Drake padanya.


'Bagaimana bisa? Sejak kapan Drake memiliki perasaan lebih terhadapku? Sejak kecil sampai dewasa, sikapnya selalu ketus dan acuh tak acuh. Tidak pernah terpikirkan sama sekali, kalau dia menyukaiku.' Batin Keiva.


"Keiva.. Maukah kamu menjadi kekasihku?" Belum habis rasa terkejutnya karena ungkapan perasaan Drake, kini mata sipit Keiva berubah membola mendengar permintaan Drake.


"A.. Aku.. Aku.." Drake semakin menatap dalam netra Keiva yang saat ini sedang kesulitan menyusun kata.


"Apa kamu sama sekali tidak memiliki perasaan sedikitpun terhadapku?" Pandangan Drake berubah sendu, membuat Keiva tidak tega melihatnya.


"Aku sama sekali tidak tahu, kalau kamu memiliki perasaan lebih padaku. Aku begitu terkejut mendengar semua pengakuan kamu tadi." Bukannya menjawab pertanyaan Drake sebelumnya, Keiva justru mengungkapkan rasa terkejutnya.


"Apa kamu memerlukan waktu untuk memikirkan semuanya?" Keiva menganggukkan kepalanya dengan yakin.


"Apa kamu masih sangat mencintai Briley?" Tanpa sadar, Keiva kembali menganggukkan kepalanya. Drake pun seketika melepas genggaman tangannya, membuat Keiva terkejut dan menutup mulutnya.


"Baiklah Keiva.. Mungkin aku terlalu cepat mengungkapkan perasaanku. Aku tahu di hatimu masih ada Briley, aku tidak bisa memintamu melupakannya. Aku hanya berharap, kalau kamu akan berhenti mengharapkan laki-laki yang tidak mencintaimu." Mendengar perkataan Drake, hati Keiva tiba-tiba merasa sesak. Teringat kebodohannya yang sudah mencintai Briley dalam waktu yang sangat lama, dan juga sedih karena sudah membuat Drake kecewa saat ini.


"Maafkan aku Drake.." Lirih Keiva, yang dibalas senyum tipis Drake.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan.. Hmm, sebaiknya kita pulang sekarang. Langit sudah mulai gelap." Drake segera membalikkan badannya, tidak ingin Keiva terus menerus menangkap raut kecewanya. Keiva mengikuti Drake yang sengaja memelankan langkahnya, karena tidak ingin Keiva tertinggal. Kali ini Drake menahan dirinya untuk tidak lagi menggenggam tangan Keiva, meskipun begitu ingin.


Sepanjang perjalanan menuju Resort Knight, Drake tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya fokus menyetir dengan pandangan mengarah ke depan. Sejujurnya, Drake memang berusaha menahan dirinya untuk menatap wajah gadis disebelahnya. Tapi senyum tipisnya sesekali terulas, setiap kali Keiva menatapnya dengan tatapan khawatir dan rasa bersalah.


"Berhentilah menatapku seperti itu, aku tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah apalagi kasihan karena tidak bisa menerima perasaanku. Perasaan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan." Ucap Drake tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan dihadapannya.


"Maaf.." Lirih Keiva, namun Drake memilih tidak menanggapi perkataan Keiva itu. Keduanya sama-sama menutup mulut mereka, hingga akhirnya mobil sport yang membawa mereka berdua tiba di depan lobby Resort Knight.


*************************


Langit malam yang bertabur bintang, menambah cerah suasana di Rooftop Resort Knight malam ini. Shawn dan Shanaya yang sedang menikmati dinner romantis ditemani lampu-lampu dan lilin hias, lengkap dengan dekorasi penuh bunga mawar merah dan mawar putih, terlihat tidak henti mengulas senyum mereka. Keduanya saling menatap penuh cinta, disela-sela kegiatan mereka menyantap hidangan makan malam yang lezat dan mewah itu.


Pujian sesekali terucap dari mulut Shawn dan Shanaya, karena rupa dan penampilan mereka yang sangat istimewa. Penampilan keduanya pun sempat menjadi pusat perhatian para tamu Resort yang mereka lewati saat menuju Rooftop. Shawn yang mengenakan tuxedo berwarna hitam dan Shanaya yang juga membalut tubuh seksinya dengan gaun malam berwarna senada, memancing decak kagum dari banyak orang.


"Apa kamu suka Sweetheart?" Tanya Shawn menatap dalam netra indah Shanaya.


"Aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia Sweetheart." Ucapan tulus Shawn membuat Shanaya semakin melebarkan senyuman manisnya.


Pujian, ucapan terima kasih, hingga gombalan receh tidak henti terucap dari mulut pasangan yang sedang kasmaran itu. Mereka memutuskan untuk kembali ke kamar, saat waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sebenarnya masih belum terlalu malam untuk mereka menghabiskan waktu di tempat romantis itu, namun Shawn khawatir istrinya bisa jatuh sakit, jika terlalu lama terkena angin malam.


Di koridor hotel menuju kamar mereka, Shawn dan Shanaya tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran seorang perempuan cantik keturunan Perancis-Indonesia.


"Hallo Mr. Shawn.. I didn't expect to see you here.. Apa kabar?" Shawn menerima uluran tangan perempuan itu dan menyalaminya.


"Hallo Ms. Anna, kabar saya baik. Saya juga tidak menyangka akan bertemu anda di Resort ini." Ucap Shawn tenang disertai senyum tipis yang nyaris tidak terlihat. Tapi sikap kurang ramah Shawn ini tidak membuat perempuan bernama Anna itu tersinggung. Karena Anna yang seringkali mewakili perusahaan Ayahnya untuk bekerjasama dengan Knight Group Company, sudah terbiasa dengan sikap dingin dan tanpa basa-basi dari Shawn.


"Iya saya baru saja menghadiri resepsi pernikahan saudara saya yang diadakan di resort ini. Ternyata anda juga bersama adik anda, Hallo Ms. Shanaya.." Anna mengulurkan tangannya dan langsung disambut Shanaya, meskipun ekspresi Shanaya terlihat sedikit kesal.


"Hallo Ms. Anna.."


"Baiklah, saya harus segera pulang, karena sepupu saya sudah menunggu di lobby. Tapi jika Mr. Shawn masih lama berlibur di Bali,  saya akan sangat senang sekali, jika Mr. Shawn bisa meluangkan waktu untuk mampir ke villa keluarga saya. Saya akan mengirimkan alamatnya nanti." Mendengar tawaran Anna, Shawn hanya mengangguk samar. Menurutnya tawaran Anna hanyalah sebuah basa-basi saja, dirinya pun tentu tidak akan menganggap serius tawaran itu. Namun ternyata respon Shawn itu ditanggapi lain oleh sang istri. Saat ini Shanaya sudah terlihat menekuk wajah, seraya melangkahkan kakinya dengan kesal.


"Ms. Anna, maafkan saya.. Saya harus segera menyusul Shanaya." Ucap Shawn sedikit panik.


"Iya Mr. Shawn, saya pun harus segera pulang. Nanti saya akan mengabari anda." Shawn hanya mengangguk, lalu bergegas menyusul istrinya yang baru saja masuk ke dalam lift.


'Sweetheart, kamu sebenarnya mau kemana? Kamar kita kan di lantai ini.' Tanya Shawn dalam hati.


*************************


Tujuan Shanaya ternyata adalah kamar Keiva, yang dia ketahui memang sedang berada di resort ini juga. Sebenarnya Shanaya berniat menemui Keiva besok pagi, tapi kejadian beberapa saat yang lalu membuatnya berubah pikiran.


Saat ini Shanaya sedang begitu kesal pada Shawn, sehingga dia memutuskan untuk mengabaikan suaminya itu sampai batas waktu yang belum dia tentukan.


"Kenapa kamu malah kesini? Bukannya langsung masuk kamar." Tanya Keiva seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Aku kesal.. Biarkan saja dia tidur sendirian." Jawab Shanaya ketus, lalu ikut merebahkan dirinya di samping Keiva.


"Sebenarnya kamu kenapa sih? Kok uring-uringan begini?" Mendengar pertanyaan Keiva, Shanaya mendudukkan dirinya dan langsung bercerita dengan penuh semangat.


"Tadi di koridor menuju kamar, aku dan Shawn bertemu dengan partner bisnis Shawn. Sepertinya perempuan itu menyukai Shawn, dia bahkan mengundang Shawn untuk datang ke villa keluarganya. Dan kamu tahu reaksi Shawn? Dia mengangguk. Berarti dia berniat datang ke villa perempuan itu kan? Oh iya, perempuan itu tahunya kalau aku adalah adik Shawn, tapi Shawn hanya diam saja dan tidak mengatakan kalau aku adalah istrinya. Sepertinya Shawn ingin terlihat masih lajang di depan perempuan itu." Ujar Shanaya panjang lebar, diakhiri melipat kedua tangan di depan dada.


Keiva mendudukkan dirinya menghadap Shanaya, lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Shan.. Anggukan Shawn hanyalah bentuk sopan santun saja. Pastilah Shawn juga hanya mengira kalau perempuan itu hanya sedang berbasa-basi. Bagaimanapun juga mereka adalah partner bisnis, Shawn tidak mungkin langsung menolak tawaran perempuan itu meskipun enggan. Dan kamu harus ingat, belum ada pengumuman resmi tentang status Shawn yang bukan anak kandung kedua orangtuamu. Pernikahan kalian pun belum dipublikasikan. Jadi Shawn tidak mungkin mengatakan kalau kamu adalah istrinya." Shanaya membenarkan semua perkataan Keiva, tapi hatinya masih saja merasa kesal pada suaminya itu.


"Mungkin perasaan tidak diakui itu yang membuatku masih merasa kesal pada Shawn. Aku merasa dia tidak menghargaiku sebagai istrinya. Mungkin pikiranku yang kurang logis, tapi aku merasa dia lebih mementingkan image-nya dibandingkan perasaanku. Bahkan dia tidak merasa bersalah sama sekali, aku benar-benar kecewa Kei.." Mendengar kekecewaan Shanaya, Keiva segera mengelus pundak sepupunya itu. Berusaha menenangkan Shanaya agar tidak lagi emosi.


Sejujurnya hatinya sedikit tercubit oleh perkataan Shanaya. Sesampainya di resort tadi, Keiva hanya mengurung diri di kamarnya. Bahkan Keiva sampai melupakan jam makan malamnya. Dirinya sungguh merasa bersalah karena sudah membuat Drake kecewa. Tapi Keiva pun tidak bisa memberikan harapan palsu pada Drake, karena dirinya sama sekali tidak memiliki perasaan istimewa terhadap Drake.


Tiba-tiba bel pintu kamar Keiva berbunyi. Shanaya dan Keiva pun mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu. Tapi sebelum Keiva turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya, Shanaya sudah memberi Keiva ultimatum.


"Jika Shawn, katakan aku tidak ada."


"Heh.. Kamu pikir suamimu bodoh. Jika dia datang, berarti dia sudah tahu kalau kamu ada disini." Jawab Keiva lalu segera turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamarnya.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️