Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 21 Shawn VS Seira, Shanaya VS Sheran



Angin malam yang masuk melalui celah jendela, mengusik tidur Shanaya yang baru saja menutup matanya. Shanaya mengeratkan kedua tangannya di depan dada, dengan posisi meringkuk, berusaha mengusir hawa dingin yang menusuk kulitnya. Namun tidak lama kemudian, udara disekitarnya terasa hangat, membuat Shanaya tidak sadar mengulas senyum disela-sela rasa kantuknya.


Tidak disadari Shanaya, kalau saat ini ada sepasang mata berwarna hazel yang memandangnya begitu lembut, seolah tidak tega melihat tubuh Shanaya yang terlihat rapuh dengan posisi seperti itu.


Sheran awalnya hanya berniat memeriksa Shanaya apakah sudah tertidur atau belum, setelah begitu lama memaksakan matanya yang terlihat merah untuk tetap terbuka. Namun ternyata jendela balkon masih belum ditutup, sehingga membuat Shanaya kedinginan. Akhirnya Sheran segera menutup jendela kamar dan menghidupkan penghangat ruangan, agar Shanaya bisa merasa nyaman.


Jujur Sheran merasa khawatir saat menerima laporan dari para pelayannya, kalau Shanaya menolak memakan hidangan makan malamnya dan malah terjaga sampai dini hari. Tapi Sheran dan juga Seira tidak berniat menghampiri Shanaya, karena mereka paham hal itu bisa membuat Shanaya semakin keras menolak permintaan mereka.


Perlahan dan sangat hati-hati, Sheran menyelimuti tubuh Shanaya hingga sebatas dada. Bukannya keluar dan pergi ke kamarnya, Sheran malah duduk di atas sofa seraya melipat kedua tangan di depan dada.


Ditatapnya wajah damai Shanaya yang tertidur dengan posisi menyamping, menghadap ke arahnya. Wajah cantik dan polos Shanaya memang benar-benar menggelitik hatinya. Selalu ada perasaan tidak biasa setiap kali melihat wajah Shanaya, apalagi kali ini Sheran bisa melihatnya secara langsung, bukan hanya melalui photo atau video.


'Cantiiikk..'


Sheran menyelidiki kehidupan Sanchia dan Sall selama bertahun-tahun, bahkan sejak dirinya masih belum genap berusia 10 tahun. Awalnya Sheran begitu penasaran pada Sanchia, perempuan yang digilai oleh Papanya. Namun seiring berjalannya waktu, fokus penyelidikan Sheran bukan hanya Sanchia, melainkan juga Shanaya yang mulai menarik perhatiannya.


Meskipun sejak kecil Sheran tinggal bersama Seira dan Alrico di Perancis, tapi hari-harinya selalu diisi dengan mencari tahu keseharian Shanaya di London. Beruntung Sheran memiliki otak yang jenius dan juga tim IT handal yang mengajarinya, sehingga di umurnya yang masih anak-anak, dia bahkan sudah menjadi hacker yang hebat.


'Andai saja kamu bukan anak dari Sall Sherwyn Knight..' Lirih Sheran dalam hati.


*************************


Shawn baru saja menginjakkan kakinya di International Airport Copenhagen, setelah mengudara dengan private jet-nya bersama Drake dan 10 orang anak buah terbaiknya. Shawn sengaja tidak membawa banyak pasukan dari Inggris, karena tahu kalau saat ini klan musuh masih mengintai pergerakan dirinya dan klannya. Sehingga Shawn memilih mengelabui mereka, seolah-olah Shawn belum tahu sama sekali mengenai keberadaan Shanaya.


Namun Shawn sudah meminta ratusan anggota Klan Toddestern yang berada di Markas Cabang Denmark, Norwegia dan Swedia untuk membantunya dalam misi penyelamatan Shanaya kali ini. Mereka bahkan sudah tiba dan bersiap lebih dulu sebelum Shawn tiba di Denmark. Setelah Shawn tiba, barulah mereka berkumpul di Markas Rahasia untuk mematangkan misi mereka agar bisa berhasil menyelamatkan Shanaya.


*************************


Sinar matahari pagi yang bersinar cerah dan cukup terik, menggelitik Shanaya untuk berjalan ke arah jendela balkon untuk menghangatkan tubuhnya yang masih saja lemas. Pintu balkon jelas terkunci, sehingga Shanaya harus cukup puas memandang kolam air mancur dan hamparan taman bunga yang dibawah sana melalui jendela kamar.


Shanaya sesungguhnya sedang mencari jalan keluar untuk bisa melarikan diri dari mansion itu. Tapi mengingat kondisi tubuhnya yang masih belum sehat, juga mansion yang dilengkapi penjagaan dan sistem pengamanan yang sangat ketat, membuat Shanaya berpikir kalau pilihan kabur bukanlah pilihan terbaik untuk saat ini. Setidaknya tidak sampai tubuhnya benar-benar sehat dan kuat untuk melakukan aksinya.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka tanpa didahului ketukan atau panggilan apapun. Shanaya membalikkan tubuhnya, untuk melihat siapa yang datang untuk melihatnya. Wajahnya langsung berubah muram dan kesal, saat netranya menangkap sosok Seira yang masuk membawa nampan berisi beberapa makanan, minuman dan juga obat-obatan.


"Shanaya, aku membawakan menu sarapan favoritmu juga obat untukmu." Ujar Seira seraya mengulas senyum manisnya pada Shanaya. Lalu meletakkan nampan itu diatas nakas.


"Tidak usah berpura-pura baik padaku." Ketus Shanaya, namun Seira sama sekali tidak mengubah ekspresi wajahnya, meskipun Shanaya tampak sangat terganggu dengan kehadirannya.


"Baiklah, aku akan pergi, tapi kamu harus sarapan dan meminum obatmu ya." Bujuk Seira dengan suara lembutnya.


"Berhentilah bersikap sok baik padaku, aku tahu semuanya palsu." Teriak Shanaya hingga membuat Seira cukup terkejut. Bahkan Sheran yang baru saja masuk ke dalam kamar pun, tampak menghentikan sejenak langkahnya.


"Apa yang kalian inginkan? Kalau kalian memang berniat membunuhku, silahkan bunuh aku sekarang. Tidak perlu terlalu banyak beracting dan mengarang banyak cerita tentang keluargaku, aku benar-benar muak pada kalian." Shanaya tampak terengah-engah setelah meluapkan emosi dari lubuk hatinya.


"Terserah apapun yang kamu pikirkan, yang jelas kami tidak pernah berniat membunuhmu. Sasaran kami hanyalah Daddy-mu. Cukup serahkan dia pada kami, maka kami akan mengirimmu pulang." Ucap Seira penuh penekanan.


"Jangan bermimpi, sekalipun aku harus mati, aku tidak akan pernah menyerahkan Daddy-ku pada kalian." Tegas Shanaya.


"Apa lagi yang ingin kamu katakan? Kalau kamu ingin mengatakan hal yang sama seperti saudara kembarmu itu, pergi saja." Sheran hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Shanaya yang sangat ketus itu, lalu Sheran mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Cara yang paling mudah memang menukar Daddy kesayanganmu dengan kamu, karena memang tujuanku adalah Sall Sherwyn Knight dan Klan Toddestern. Tapi selama kamu menolak, maka kamu selamanya akan berada dalam kuasaku. Selama aku belum bisa menghancurkan Daddy-mu itu, maka selama itu pula kamu akan tetap bersamaku." Ucapan dingin Sheran sedikit membuat nyali Shanaya ciut.


'Tatapan dinginnya lebih menakutkan daripada Kak Shawn.' Lirih Shanaya dalam hati.


Dalam waktu yang sangat singkat, Shanaya sudah bisa menilai kalau laki-laki dihadapannya itu memang terlihat tenang dan santai. Tapi saat emosinya menguasai dirinya, seketika aura dingin melingkupi dirinya dan menebar rasa takut yang cukup kuat.


Tiba-tiba seorang laki-laki yang merupakan asisten pribadi Sheran, menerobos masuk dengan langkah tergesa-gesa.


"Boss, Toddestern berhasil menerobos masuk ke dalam mansion. Mereka sudah menguasai lantai 1." laki-laki yang bernama Matthew itu berkata dengan nafas terengah-engah, membuat Sheran tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya.


Berbeda dengan Matthew dan Sheran yang terlihat panik, ekspresi Shanaya justru terlihat senang dan sedikit lega. Hal itu disadari Sheran yang langsung memandang Shanaya dengan netra berkilat tajam, sebelum kembali fokus pada Matthew.


"Dimana Seira?" Wajah Sheran terlihat marah.


"Nona ikut bertarung di lantai 1 Boss."


"Shiiitt.. Matthew, bawa Shanaya ke pulau rahasia, aku akan membawa Seira juga kesana." Ucap Sheran seraya memegang erat lengan Shanaya.


"Tapi Boss.." Matthew terlihat enggan dan akan menolak.


"Lakukan saja.." Tegas Sheran. Lalu tanpa aba-aba, Sheran mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menyuntikkannya ke leher Shanaya, hingga Shanaya tidak sadarkan diri dan jatuh dalam pelukan Sheran.


"Bawa dia.. Aku akan menahan mereka dan menyusulmu dengan Seira." Tegas Sheran, menyerahkan Shanaya pada Matthew dan keluar dari kamar menuju lantai 1.


Aula lantai 1 mansion sudah terlihat seperti arena pertarungan bebas, dimana Shawn dan anggota Klan Toddestern yang semuanya menggunakan topeng, terlihat agresif menyerang semua anak buah Sheran. Namun skill beladiri dan persenjataan anak buah Sheran ternyata tidak dapat diremehkan, mereka justru sangat tidak mudah dikalahkan.


Di salah satu sudut mansion, terlihat Shawn mengalahkan berpuluh-puluh orang sekaligus dengan kemampuan beladiri dan senjata kerambit yang digunakannya. Namun tiba-tiba sebuah belati yang berasal dari gerakan gesit perempuan bertopeng, berhasil melukai punggungnya.


Seira-lah perempuan bertopeng yang begitu semangat menyerang Shawn, dan meluapkan kemarahannya. Shawn menyerang balik Seira tanpa ampun, bahkan Seira dibuat tidak bisa bernafas karena gerakan tangan dan kaki Shawn yang menghantam beberapa bagian tubuhnya sekaligus. Hingga akhirnya Seira roboh dan meringis kesakitan.


"Aaargh.." Ringisan lirih yang keluar dari mulut Seira masih bisa ditangkap jelas oleh pendengaran Shawn. Perlahan Shawn bergerak menghampiri Seira, namun sebuah tembakan di punggungnya menghentikan langkahnya. Shawn berbalik, melesatkan pelurunya ke arah si penembak di lantai 2, yang ternyata Sheran itu. Dua tembakan kini bersarang di dada dan perut Sheran, membuat Sheran sedikit limbung mempertahankan dirinya. Hingga dua orang anak buahnya, segera membawa Sheran pergi dari sana.


Shawn hendak mengejar Sheran, namun Seira menahan kaki Shawn dengan kedua tangannya. Shawn yang terlanjur murka, berusaha menghentakan kakinya agar terlepas dari cengkeraman kedua tangan Seira. Tapi Seira tetap tidak mau melepaskan Shawn, menahan kedua tangan dengan sisa-sisa tenaganya.


"Shiiitt.. Kamu membuat kesabaranku habis." Shawn membungkukkan tubuhnya, lalu melepas paksa topeng yang dipakai oleh Seira, hingga tampaklah wajah yang sangat tidak disangkanya.


"Marishaaa..."


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️