
Wajah dengan netra sendu tidak henti menatap langit yang sudah berubah gelap, serta bulan yang mulai menampakkan cahayanya melalui jendela kamar yang terbuka lebar. Angin dingin yang berhembus kencang pun seolah tidak berarti, bagi tubuh yang hanya berbalut kaos santai dan celana pendek berbahan tidak terlalu tebal itu.
Sudah dua hari ini Shanaya merasa khawatir akan keadaan Shawn yang tidak memberinya kabar sama sekali. Bahkan ponsel Shawn pun tidak aktif, membuat Shanaya semakin uring-uringan karena tidak bisa menghubungi suaminya itu. Apalagi besok dirinya beserta kedua orangtua juga orang-orang kepercayaan orangtuanya akan bertolak ke Indonesia untuk melangsungkan resepsi pernikahan dirinya dengan Shawn.
Tok..Tok..Tok..
Ketukan di pintu kamar seketika mengalihkan atensi Shanaya, yang segera berlari kecil untuk membuka pintu kamarnya, karena berharap suaminya-lah yang datang. Namun Shanaya harus menghela nafas kecewa, karena ternyata seorang pelayan-lah yang tampak berdiri di depan pintu kamarnya.
"Nona Shanaya, Nyonya Sanchia dan Tuan Sall memanggil anda untuk makan malam bersama." Ucap sang pelayan yang langsung diangguki oleh Shanaya.
"Baiklah, tolong sampaikan aku akan turun setelah mengganti baju. Terima kasih ya." Jawab Shanaya.
Beberapa saat kemudian, Shanaya bergabung dengan kedua orangtuanya yang sedang menikmati makan malam mereka.
"Malam Mom..Dad.." Sapa Shanaya pada Sall dan Sanchia.
"Hai Sayang.." Jawab keduanya bersamaan.
"Kamu mau makan apa Sayang?" Tanya Sanchia, yang ditanggapi Shanaya dengan mengedarkan pandangannya pada berbagai hidangan yang ada di atas meja makan.
"Sepertinya couqilles saint jacques saja Mom.." Mendengar jawaban Shanaya, Sanchia segera mengambilkan menu yang diinginkan Shanaya itu dalam porsi yang lumayan banyak.
(Couqilles saint jacques adalah scallop atau sejenis kerang yang dibumbui dengan berbagai jenis rempah).
"Terlalu banyak Mom.." Protes Shanaya seraya memandang piring dihadapannya.
"Tidak apa-apa Sayang, biar badan kamu lebih berisi." Ucap Sanchia disertai senyum lembutnya. Bahkan Sall pun ikut tersenyum hangat memandang putri dan istrinya bergantian.
"Hmm, baiklah.. Aku akan mencoba menghabiskannya Mom." Ujar Shanaya lalu mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan malas.
"Kenapa Sayang, kamu tampak tidak bersemangat? Apa Shawn akan pulang malam ini? Besok sore kita akan berangkat ke Indonesia lho.." Perkataan Sanchia langsung dijawab helaan nafas panjang Shanaya. Bahkan Shanaya meletakkan sendoknya dan menghentikan kunyahannya.
"Sudah dua hari ini Shawn tidak menghubungiku Mom, bahkan ponselnya tidak aktif." Jawaban Shanaya membuat Sall dan Sanchia mengerutkan keningnya.
"Tapi tadi malam Shawn menelepon Daddy kok, saat dia sedang di markas besar." Rasa khawatir Shanaya pada Shawn, mendadak berubah kesal mendengar apa yang dikatakan Daddy-nya. Sungguh Shanaya tidak habis pikir, kenapa Shawn bisa menghubungi Daddy-nya, tapi sama sekali tidak berniat menghubunginya.
"Tidak perlu khawatir Sayang, sepertinya Shawn sedang fokus dengan urusan klan dan perusahaan, agar acara resepsi dan bulan madu kalian nanti tidak terganggu." Ucap Sanchia mencoba menenangkan, dan diangguki samar oleh Shanaya yang melanjutkan makan malamnya.
Selesai makan malam, Shanaya memilih langsung beristirahat di kamarnya, meskipun Mommy dan Daddy-nya masih mengobrol santai di ruang keluarga. Hati Shanaya masih merasa tidak nyaman dengan sikap Shawn yang seperti sengaja mengabaikannya. Sebetulnya bukan tanpa alasan Shawn bersikap seperti itu, ada sesuatu yang terjadi sebelum Shawn pergi ke London 2 hari yang lalu.
Saat Shawn dan Shanaya saling memeluk dan berciuman mesra pagi itu, tiba-tiba terlintas beberapa potong ingatan di pikiran Shanaya, hingga Shanaya tersentak melepas pelukan erat dan pagutan bibirnya dari bibir Shawn.
"Sheran.." Lirih Shanaya, namun suara pelan Shanaya berhasil mengejutkan Shawn dan membuat raut wajahnya berubah suram dan marah.
"Apa yang kamu ingat?" Suara datar namun mengeluarkan aura dingin itu sedikit menakutkan Shanaya.
"A..Aku.. Mengingat beberapa potongan ingatan.." Shanaya ragu mengatakan apa yang terlintas dalam pikirannya, namun tatapan tajam dan suara dingin Shawn kembali mengintimidasinya.
"Jujur dan jangan coba menutupi apapun dariku." Ucapan Shawn menyiutkan nyali Shanaya, hingga akhirnya dia memilih jujur pada suaminya.
"Aku.. Aku ingat saat aku.. mengobati luka Sheran.. Dan.. Dan saat dia.. memelukku karena aku demam semalaman.." Mendengar penuturan Shanaya, darah Shawn terasa mendidih. Tanpa banyak bicara, Shawn segera pergi meninggalkan Shanaya, bahkan dia membanting pintu kamar hingga Shanaya yang masih berada di dalam kamar tersentak kaget.
Hingga beberapa saat kemudian, Shanaya yang baru sadar dari kebodohannya langsung menyusul Shawn ke halaman mansion. Namun Shanaya tidak menemukan keberadaan Shawn disana.
"Anda mencari siapa Nona Shanaya?" Tanya seorang pengawal yang berjaga di halaman mansion.
"Aku mencari suamiku, apa mobilnya sudah keluar dari area mansion?" Jawab Shanaya sedikit panik.
"Itu Nona, Tuan Shawn menggunakan helicopter." Ujar pengawal tersebut, seraya menunjuk helicopter super senyap yang mulai mengudara dari arah rooftop mansion.
Shanaya hanya bisa menatap nanar bayangan suaminya yang terlihat melalui jendela helicopter yang berwarna gelap. Lagi-lagi Shanaya merutuki kebodohan dan kecerobohannya, karena Shawn pergi dalam keadaan marah.
'Kenapa aku harus jujur padanya? Seharusnya aku berbohong dan tidak membuat keadaan menjadi kacau seperti ini? Tapi kenapa tiba-tiba ingatan tentang Sheran muncul, disaat aku sedang bersama Shawn?' Rutuk Shanaya dalam hati.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️