
Akhirnya setelah beberapa kali pertemuan dengan Jonathan yang merupakan adik dari Ayah kandungnya, Shawn bisa menyelesaikan urusan pengalihan kepemilikan beberapa perusahaan Smith Group Company menjadi atas namanya. Ternyata kedua anak dari Jonathan yang juga merupakan sepupunya, tidak merasa keberatan dengan keputusan Papa mereka. Mereka justru bersyukur, karena perusahaan cabang yang ada di Indonesia juga di beberapa negara Asia tidak ikut diambil alih oleh Shawn.
Shawn berterima kasih pada Jonathan, Jeffran dan Jordan karena sudah mengembangkan perusahaan yang ditinggalkan mendiang orangtuanya hingga berkembang sangat maju. Tapi tentu saja ungkapan terima kasih itu dibalas ucapan yang sama, karena Jonathan, Jeffran & Jordan juga sangat berterima kasih, karena majunya perusahaan mereka tidak lepas dari bantuan dan campur tangan Sall melalui Knight Group Company.
Sesuai rencana, besok Shawn dan Shanaya akan segera bertolak kembali ke London Inggris bersama dengan Sall, Sanchia juga anggota klan Toddestern dan Engelschatten yang berada di Indonesia. Tentunya hal ini membuat sedih seluruh anggota keluarga yang berada di Indonesia, tapi tentu saja hal ini tidak dapat dicegah oleh mereka. Apalagi Shawn dan Shanaya memiliki agenda penting yang harus disegerakan, yaitu mengumumkan status mereka dihadapan publik.
Sore hari yang cerah, dihabiskan Shanaya dan Shawn dengan berkumpul bersama keluarganya yaitu Daddy Sall, Mommy Sanchia, Grandpa Leonard dan Grandma Annesya, Aunty Nieva dan Om Kevin di gazebo yang terletak di halaman belakang mansion Knight. Tawa sesekali terdengar disela-sela obrolan mereka yang ringan. Hingga Keiva muncul dan ikut bergabung bersama mereka.
"Keiva.. Kenapa wajahmu kusut begitu? Apa ada masalah di hotel?" Pertanyaan Nieva pada putrinya ikut mengalihkan atensi semua orang yang berada disana. Namun Keiva hanya menggeleng pelan, sebelum mengulas senyumnya untuk menenangkan hati sang Mama.
"Tidak kok Ma.. Aku hanya sedikit lelah saja." Jawab Keiva yang akhirnya membuat Nieva dan yang lainnya lega.
"Sini sama Papa sayang." Pinta Kevin yang langsung dituruti Keiva, dengan duduk disebelah Papanya.
Obrolan dan canda tawa mereka pun kembali berlanjut, namun Keiva justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada perasaan aneh yang sedang dia rasakan saat ini, hatinya kembali merasa sesak saat di ruang keluarga tadi, netranya tidak sengaja menangkap interaksi antara Drake dan juga Ivone. Hatinya bahkan merasa teriris melihat Drake membelai puncak kepala Ivone dengan sangat lembut.
'Ah kenapa aku begitu kesal melihat Drake selalu bersama Ivone, apalagi sikap Drake begitu lembut terhadap Ivone. Apa benar mereka sudah berpacaran? Sungguh kebersamaan mereka membuatku kecewa. Berarti ungkapan cinta Drake padaku palsu, dia bisa begitu mudah berpaling setelah aku menolaknya. Seharusnya dia pantang menyerah dan berjuang lebih keras lagi untuk meluluhkan hatiku. Bukannya langsung beralih pada gadis lain.. Eh, kenapa aku berharap dia mengejarku? Apa benar aku sudah jatuh cinta pada Drake?' Ucap Keiva dalam hati.
Tanpa sadar, Keiva menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha mengusir isi pikirannya yang terus saja diisi nama Drake. Hal ini disadari Shanaya yang merasa aneh dengan tingkah sepupunya itu.
"Keiva, kamu kenapa?" Pertanyaan Shanaya seketika menyadarkan Keiva. Keiva hanya tersenyum canggung, apalagi tatapan aneh bukan hanya dilayangkan oleh Shanaya, tetapi juga semua yang berada disana.
"Tidak.. Aku hanya merasa gerah saja setelah bekerja. Aku mau mandi dulu ya." Keiva segera melesat pergi tanpa menunggu tanggapan dari keluarganya. Tujuannya adalah salah satu kamar tamu yang biasa dia gunakan jika menginap di mansion Knight.
Keiva baru saja akan membuka kamar tamu, saat tiba-tiba Drake memanggil namanya hingga Keiva sedikit terkejut.
"Maaf aku mengejutkanmu Keiva.." Mendengar perkataan Drake, Keiva yang terlihat sangat canggung hanya tersenyum malas.
"Besok aku sudah harus kembali ke London, dan aku ingin memberikan ini untukmu. Anggap saja sebagai kenang-kenangan dariku." Ujar Drake sambil menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang pada Keiva. Dengan ragu, Keiva menerima kotak itu dan memegangnya dengan kedua tangan.
"Apa ini?" Tanya Keiva dengan tatapan mengarah pada kotak di tangannya.
"Bukan apa-apa.. Bukanya nanti saja saat kamu sedang sendiri. Aku pergi ya." Drake berbalik pergi tanpa menunggu jawaban Keiva. Tinggallah Keiva yang memandang punggung Drake yang berjalan pergi meninggalkannya.
*************************
Shanaya memandang langit malam yang bertabur bintang di malam terakhirnya di Kota Bandung. Sungguh suasana yang tenang dan nyaman ini akan dia rindukan nantinya. Hingga dua tangan kekar Shawn melingkari pinggangnya dan memeluknya dengan erat. Shawn melabuhkan kecupan di bahu Shanaya yang terbuka, karena kimono tidur yang menutupi lingerie-nya sedikit turun.
"Apa yang kamu pikirkan Sweetheart?" Tanya Shawn seraya menyandarkan kepalanya di bahu Shanaya.
"Aku hanya sedang menikmati suasana, sebelum besok kita kembali ke London." Jujur Shanaya.
"Benarkah malam ini kamu akan membiarkanku tidur cepat?" Tanya Shanaya disertai senyuman nakalnya. Shawn terkekeh mendengar pertanyaan Shanaya yang meragukannya, tapi kali ini Shawn mengangguk mantap.
"Aku serius Sweetheart.. Tidurlah, agar besok tubuhmu segar dan tidak mengantuk." Ujar Shawn serius.
"Baiklah, ayo kita tidur Honey.." Ucap Shanaya lalu berbalik menghadap Shawn. Namun bukannya mengajak Shawn masuk ke dalam kamar, Shanaya justru mendaratkan ciuman di bibir Shawn seraya menuntun jemarinya untuk membelai dada Shawn.
Tentu saja apa yang dilakukan Shanaya ini memantik ga*rah Shawn. Shawn membalas ciuman Shanaya dengan lebih bersemangat. Apalagi jemari Shanaya kini bergerak semakin liar. Shawn menutup matanya berusaha menahan hasrat yang sebenarnya sudah tidak mungkin dia bendung.
Shanaya tiba-tiba melepas tautan bibirnya dari bibir Shawn, lalu berjalan pergi menuju kamarnya.
"Ayo Honey kita tidur.. Aku sudah mengantuk." Bibir Shawn menganga mendengar perkataan Shanaya yang tanpa beban itu. Hingga akhirnya Shawn menyusul Shanaya, dan menggendong tubuh istrinya menuju tempat tidur.
"Kamu harus bertanggung jawab Sweetheart, karena kamu sudah membangunkan singa yang sedang tidur." Shanaya tertawa kecil mendengar protes suaminya. Tentunya malam ini dia tidak mungkin bisa tidur cepat seperti yang diminta suaminya tadi. Karena akibat kejahilannya, Shawn akhirnya berubah pikiran dan memintanya untuk bertanggung jawab.
"Baiklah.. Aku akan bertanggung jawab Honey, dan memuaskan singa yang sudah aku bangunkan.." Jawab Shanaya dengan tatapan menggoda, saat Shawn merebahkannya di atas tempat tidur.
*************************
Sementara itu di kamar Keiva, tempat tidur Keiva terlihat dipenuhi puluhan photo Keiva dari sejak dia kecil hingga dewasa. Keiva sungguh tidak menyangka, kalau isi kotak yang Drake berikan adalah photo-photonya yang diambil secara candid oleh Drake.
Perasaan yang besar jelas tertangkap di setiap photo yang diambil Drake, terlebih selalu ada kata-kata manis di belakang semua photonya. Rasa haru Keiva muncul, membaca ungkapan hati Drake yang tertuang di dalam semua tulisannya.
'Tetaplah tersenyum Keiva, karena akupun bahagia melihat senyummu..'
'Kamu menyebalkan Keiva.. Karena selalu membuatku rindu, sedangkan aku tidak mungkin bisa memelukmu dan meluapkan kerinduanku.'
'Berhentilah menjadi gadis bodoh yang mengharapkan cinta dari pria yang tidak mencintaimu. Lihatlah aku, aku yang selalu ingin membuatmu bahagia.'
Keiva menghela nafas, dan menyeka air mata yang menetes dari kedua sudut matanya.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku merasa sudah jatuh cinta pada Drake. Tapi sepertinya semuanya sudah terlambat, Drake sudah bersama Ivone. Pasti tujuan Drake memberikan ini padaku adalah karena dia sudah tidak mau menyimpannya, dan berniat mengisi lembaran baru bersama Ivone. Aku benar-benar bodoh, karena baru menyadari perasaanku sekarang. Disaat dia sudah bersama dengan gadis lain.' Lirih Keiva dalam hati.
'Tapi besok dia akan kembali ke London, malam ini adalah kesempatan terakhirku untuk berbicara dengannya. Aku akan mengakui perasaanku terhadapnya, tidak peduli bagaimanapun tanggapannya.' Tekad Keiva, lalu menuruni tempat tidur dan berlari keluar dari kamarnya.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️