
MANSION SHERAN - PRIVATE ISLAND, DENMARK
Sheran tidak henti memandangi Shanaya yang begitu cekatan mengganti pembalut luka di dada dan perut Sheran, lebih tepatnya memandangi wajah Shanaya yang terlihat begitu kesal sejak beberapa saat yang lalu.
Luka Sheran kembali mengeluarkan darah setelah Shanaya mendorong keras tubuh Sheran hingga jatuh dan lukanya membentur lantai dengan keras. Sehingga Shanaya yang cukup merasa bersalah, mau tidak mau harus mengobati luka Sheran dan mengganti pembalut lukanya dengan yang baru.
"Shanaya, aku kan sudah bilang kalau semalam tubuhmu panas sekali. Mungkin kamu demam karena terlalu lama terkena angin malam. Kamu bisa lihat kan, kalau aku mengompresmu. Aku berbaring di atas tempat tidur hanya berniat mengusap tubuhmu agar lebih hangat, kamu sendiri yang.."
"Stooopp.. Kenapa kamu terus mengulang-ulang kalimat yang sama." Potong Shanaya canggung, setelah Sheran berkali-kali menjelaskan kronologi insiden dirinya dan Shanaya bisa tidur di atas tempat tidur yang sama dalam keadaan saling memeluk.
Semalam memang Shanaya pun mengalami demam tinggi seperti Sheran, sehingga Sheran mengompres Shanaya dengan air hangat karena tidak bisa membangunkan Shanaya untuk meminum obat. Tubuh Shanaya begitu panas, namun Shanaya terus saja menggigil dan mengigau kedinginan. Tentu saja hal ini membuat Sheran panik, meskipun sebenarnya Sheran pun merasa tubuhnya masih menggigil seperti Shanaya.
Perlahan Sheran merebahkan tubuhnya disamping Shanaya dengan mengusap-usap lengan dan punggung Shanaya yang dibungkus selimut, agar tubuh Shanaya merasa lebih hangat. Shanaya yang mulai merasakan kehangatan, malah merangsek masuk ke dalam dekapan dada Sheran yang bidang. Kelakuan Shanaya ini membuat jantung Sheran berdegup tidak beraturan. Namun tidak bisa dipungkiri, kalau Sheran begitu bahagia dan merasakan kenyamanan, karena tubuhnya pun ikut menghangat. Sehingga tanpa Sheran sadari, dia pun akhirnya ikut tertidur dengan memeluk tubuh Shanaya yang juga memeluknya erat.
"Sudah aku tidak mau mendengar apapun lagi, kamu laki-laki yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Aku benar-benar membencimu." Ketus Shanaya setelah selesai mengganti pembalut luka Sheran. Sementara Sheran hanya diam, karena berpikir penjelasan apapun tidak akan membuat kemarahan Shanaya reda saat ini.
Tanpa Sheran ketahui, sebenarnya Shanaya sedang menahan malu dan rasa canggungnya saat ini. Shanaya sudah mulai mengingat kecerobohannya semalam, tapi dia menutupi rasa malunya dengan menunjukkan rasa marahnya pada Sheran. Namun jauh di dalam hatinya, dia terus saja merutuki kebodohan yang sudah dilakukannya semalam.
*'Shanaya, kamu benar-benar bodoh.. Bagaimana bisa kamu memeluk laki-laki brengsee*k yang sudah menculikmu ini? Rasanya aku tidak mau mengingat kejadian semalam, sungguh sangat memalukan..'
*************************
MARKAS CABANG TODDESTERN - COPENHAGEN, DENMARK
Shawn duduk di atas kursi kayu seraya menatap tajam Seira yang duduk di atas tempat tidur dengan memasang wajah datarnya. Ruang tahanan yang sempit itu terasa semakin sesak bagi Seira yang selama beberapa jam mendapat perlakuan dingin dari Shawn. Meskipun Shawn masih menahan dirinya dengan tidak meluapkan emosinya yang sudah memenuhi hati dan pikirannya karena menghilangnya Shanaya.
"Sekali lagi aku tanya, kemana saudara kembarmu membawa Shanaya? Jika kali ini kamu masih bersikeras menutup mulutmu, aku tidak akan segan melakukan hal yang akan kamu sesali seumur hidupmu." Ucap Shawn dingin.
Seira jelas tahu, Shawn sedang tidak bermain-main dengan perkataannya. Namun Seira hanya berusaha terlihat tenang dengan menyembunyikan rasa takutnya. Bagaimanapun juga, Seira tidak mau kalau Shawn menangkap Sheran dan melukainya. Sebisa mungkin Seira akan tetap menutup mulutnya, sekalipun Shawn melakukan cara-cara kasar untuk membuatnya membuka mulut.
"Jadi kamu memilih cara yang sulit?" Shawn mendekati Seira, lalu meremas rambut panjang Seira dari belakang dan menariknya dengan kasar.
"Cara ini yang kamu mau, hah?" Ancam Shawn menatap tajam netra Seira yang jernih. Mata yang sesungguhnya menyiratkan luka dan kecewa, terhadap laki-laki yang tanpa disadarinya sudah mengisi ruang khusus di hatinya.
Seira terlihat meringis, namun Shawn yang sudah terlalu emosi karena Seira yang masih saja keras kepala menutup mulutnya, enggan melepas cengkeramannya. Hingga pintu ruangan itu terbuka, dan menampakkan wajah Sall dan Sanchia, kedua orangtua Shawn dan Shanaya.
"Mom.. Dad..?" Shawn tampak terkejut, sehingga refleks melepas tangannya dari rambut Seira.
Raut wajah Sall terlihat dingin dan penuh amarah saat memandang Seira, berbeda dengan Sanchia yang terlihat tenang.
"Shawn pindahkan Seira ke penthouse kita." Shawn masih terkejut dengan kedatangan kedua orangtuanya yang tiba-tiba setelah lama menghilang. Kini dirinya dibuat terkejut lagi, karena Mommy-nya justru menyuruhnya memindahkan Seira ke penthouse mereka yang berada tidak jauh dari markas cabang itu.
*************************
Di sebuah kamar yang begitu luas dan indah, Seira mendudukkan dirinya di atas sofa setelah mandi dan mengganti bajunya dengan pakaian santai yang disediakan oleh Sanchia. Raut wajahnya terlihat khawatir, karena menyadari nasibnya tidak akan baik-baik saja. Karena disaat dia bilang tidak tahu kemana Sheran membawa Shanaya, Shawn dan kedua orangtuanya tetap tidak percaya. Tapi Shanaya tidak akan mungkin bisa mengkhianati saudara kembarnya, sekalipun nyawanya harus terancam.
Sebuah ketukan menyadarkan Seira dari lamunannya, hingga kemunculan Sanchia membuat Seira begitu canggung. Jauh di lubuk hati Seira, dia sudah sangat mengagumi juga menyayangi Sanchia. Sejak kecil, Seira hidup dalam kebencian pada sosok Sanchia perempuan yang selalu dicintai Papanya. Tapi setelah bertemu dengan Sanchia secara langsung, Seira menyadari alasan kenapa Papanya tidak pernah bisa berhenti mencintai Sanchia. Karena memang Sanchia merupakan sosok yang istimewa dan sangat layak untuk dicintai.
"Seira, Aunty bawakan makanan untukmu. Selain makanan berat, Aunty juga bawakan dessert kesukaan kamu, blueberry cheese cake." Sanchia mendudukkan dirinya di sebelah Seira. Sementara Seira terlihat benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan Sanchia. Sama sekali tidak diduganya bahwa Sanchia mengetahui dessert favoritnya. Padahal selama tinggal dengan Sanchia, Seira tidak pernah mengatakan dan menunjukkan kesukaannya secara berlebihan pada Blueberry cheese cake.
"Jadi kamu mau makan nasi rendang, polser (sejenis hot dog khas Denmark), steak atau blueberry cheese cake ini?" Tawar Sanchia yang langsung ditanggapi Seira dengan melirik isi nampan yang Sanchia simpan di atas meja.
"Sepertinya Aunty tahu apa yang kamu mau." Sanchia langsung mengambil sepiring blueberry cheese cake, karena menyadari Seira terus melihat makanan itu.
"Aaaaa.." Sanchia menyodorkan sesendok cheese cake dengan sebutir buah blueberry di atasnya. Seira nampak canggung dan enggan menerimanya, namun Sanchia tidak mau menurunkan tangannya hingga akhirnya Seira menerima suapan Sanchia dengan ekspresi segan.
Suapan demi suapan terus Sanchia berikan pada Seira, dan Seira pun tampak menikmati makanan itu, karena perutnya pun sudah sangat lapar. Sejak ditangkap oleh Shawn dua hari ini, Seira sama sekali tidak mau memakan apapun yang disediakan untuknya. Meskipun makanan itu sangat layak untuk dia makan.
"Habiiiis.. Apa kamu mau lagi?" Seira menggeleng cepat, menjawab pertanyaan Sanchia yang terdengar begitu lembut.
"Seira.. Jadi itu nama aslimu?" Sanchia nampak tersenyum manis, sekalipun Seira tidak menjawab pertanyaannya.
"Sejak bertemu denganmu, Aunty sudah merasa begitu familiar dengan wajahmu. Kamu terlihat sangat mirip dengan sahabat Aunty dulu. Bahkan makanan favorit kalian sama, blueberry cheese cake."
Deg.. Seira merasa jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, karena menyadari arah pembicaraan Sanchia.
"Allard Laurent.. Itu nama Papamu kan? Aunty sangat yakin, kalau nama itu bukanlah nama asli Papamu." Ucap Sanchia tenang, namun membuat perasaan Seira berubah tidak tenang. Seira mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menghindari tatapan Sanchia yang lembut namun cukup mengintimidasinya.
"Apa alasanmu mendekati keluarga kami dan melakukan semua ini adalah karena.. Papamu?" Pertanyaan Sanchia berhasil mengalihkan kembali pandangan Seira pada Sanchia.
"Tidak penting alasanku apa, Aunty tidak perlu repot-repot mencari tahu hal itu. Jika Aunty mau membunuhku, silahkan. Karena apapun yang Aunty lakukan bersama suami dan anak Aunty untuk mengancamku, aku tetap tidak akan mengatakan apapun. Karena aku pun tidak tahu kemana Shanaya dibawa pergi." Seira masih berusaha mengelak, meskipun tentu saja Sanchia tidak lantas percaya begitu saja.
"Baiklah Seira, jika kamu memang masih enggan untuk bercerita pada Aunty. Aunty, Uncle Sall dan Shawn akan menunggumu berbicara. Kami tidak akan melakukan apapun padamu, karena kamu adalah anak sahabat baik Aunty. Meskipun sebelum mengetahui hal itu, Aunty sudah sangat menyayangimu seperti anak Aunty sendiri." Sanchia mengelus pelipis Seira dan merapihkan anak rambut yang jatuh di dahi Seira, membuat hati Seira berdesir hangat.
"Aunty keluar dulu ya. Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa mengatakannya pada penjaga yang ada di luar kamarmu. Istirahatlah Sayang."
Sanchia mengelus pipi Seira sebelum keluar dari kamar itu. Meninggalkan Seira yang sudah tidak mampu menahan air matanya sejak tadi. Seira menangis dengan menahan suara isakannya agar tidak terdengar keluar. Sesekali Seira memukul pelan dadanya yang terasa sakit dan sesak karena mengingat Papanya.
"Papa.. Aunty Sanchia mengenaliku sebagai putrimu Pa.." Lirih Seira.
Tanpa Seira sadari, ada sepasang mata yang mengawasinya sejak tadi, melalui monitor di tab-nya. Karena di kamar Seira sudah terpasang beberapa camera micro yang diletakkan pada beberapa pajangan disana. Sama sekali tidak Seira ketahui, kalau jam dinding, lampu, hiasan meja dan banyak benda di kamarnya sudah dipasangi camera micro yang bukan saja bisa merekam semua yang Seira lakukan, namun juga mendengar semua yang Seira katakan.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️