
Shawn, Shanaya bersama seluruh keluarga Knight dan rombongan klan Toddestern, Engelschatten juga Ble Asteri sudah kembali ke Bandung. Mereka juga membawa Alrico untuk ditahan di Markas Besar Ble Asteri yang ada di Bandung.
Sementara si kembar Seira dan Sheran sudah kembali ke Perancis bersama seluruh anak buahnya. Mereka akhirnya menyerah, setelah gagal meyakinkan keluarga Knight untuk membawa serta Alrico bersama mereka ke Perancis. Namun perasaan mereka sedikit tenang, karena Sanchia meyakinkan mereka, kalau Alrico akan diperlakukan dengan baik meskipun berada dalam tahanan Ble Asteri.
Cuaca Kota Bandung terasa dingin karena hujan yang turun sejak dini hari tadi. Setelah membahas pekerjaan dengan Drake, Shawn terlihat berbicara serius dengan Sall mengenai rencananya untuk mengumumkan statusnya pada publik. Sall mendukung penuh keinginan putranya itu, Sall merasa tidak masalah jika publik akhirnya mengetahui kalau Shawn bukanlah anak kandung darinya dan Sanchia, toh Shawn sudah menjadi menantu mereka saat ini. Bahkan status Shawn sebagai pewaris kerajaan bisnis keluarga Knight pun tidak akan berubah.
"Dad.. Apa Daddy tidak khawatir kalau pengumuman statusku akan mempengaruhi saham perusahaan dan sentimen publik?" Sall menggeleng cepat menanggapi kekhawatiran putranya itu.
"Tidak akan, justru hal ini akan berpengaruh sangat baik bagi perusahaan. Mereka akan mengetahui kalau kamu bukanlah anak kandung keluarga Knight, tapi publik juga akan dikejutkan dengan fakta bahwa kamu sudah menikah dengan Shanaya. Kamu juga adalah Pewaris tunggal dari salah satu group perusahaan terbesar di Indonesia. Bahkan Om-mu, Jonathan sudah berhasil mengembangkan perusahaanmu hingga bisa membuka banyak perusahaan cabang di beberapa kota besar di Indonesia juga negara-negara di Asia dan Eropa." Mendengar penjelasan Sall, Shawn bukannya senang, tapi justru terlihat menahan beban. Terlebih Jonathan yang merupakan adik kandung dari Papa kandung Shawn, sudah begitu berjasa memajukan perusahaan yang ditinggalkan oleh mendiang orangtuanya.
"Aku merasa tidak layak mengambil alih perusahaan dari Om Jonathan. Dulu perusahaan itu hanya perusahaan biasa bukan group perusahaan besar, hingga akhirnya Om Jonathan berhasil mengembangkannya. Meskipun aku tahu pasti, kalau Daddy-lah yang sudah membantu Om Jonathan untuk mengembangkan perusahaan sampai semaju sekarang. Tapi tetap saja aku seperti tidak layak merebutnya. Apalagi ada dua anak Om Jonathan, Jeffran dan Jordan yang saat ini ikut mengelola perusahaan." Sall menepuk bahu Shawn yang tampak tidak bersemangat itu.
"Son, aku sudah membicarakan hal ini dengan Jonathan. Aku tentu sudah paham dengan jalan pikiranmu ini, kamu tidak akan mudah menerima perusahaan yang bertahun-tahun dikelola Jonathan begitu saja. Jonathan sudah memberikan beberapa cabang perusahaan yang ada di Indonesia dan beberapa negara Asia kepada kedua anaknya. Khusus untuk perusahaan yang ditinggalkan mendiang orangtuamu dan beberapa cabang perusahaan yang ada di Eropa, bisa kamu ambil alih Son." Shawn menatap kagum pada Sall, tidak menyangka Daddy-nya sudah memutuskan hal yang tepat.
"Tidak aku sangka, Daddy sudah memikirkan hal ini dengan sangat matang. Terima kasih Dad.." Ucap Shawn seraya merangkul Daddy-nya.
"Sama-sama Son, sekarang kamu tidak usah khawatir lagi. Umumkanlah statusmu dan juga status pernikahanmu dengan Shanaya." Shawn mengangguk cepat menanggapi perkataan Sall.
"Aku akan segera mengumumkannya Dad.. Karena aku ingin semua orang tahu, kalau saat ini aku sudah resmi menjadi suami dari Shanaya Zarine Knight dan juga menantu kesayangan dari Sall Sherwyn Knight dan Sanchia Arelia Knight." Sall tertawa kecil mendengar perkataan menggebu-gebu dari Shawn.
"Tapi ingatlah.. Kamu tetap Putra Kebanggaan keluarga Knight, tidak ada yang berubah." Ucapan Sall sukses membuat Shawn haru, lagi-lagi dirangkulnya Sall dengan penuh kasih sayang.
Rupanya interaksi ayah dan anak itu, tidak luput dari pandangan Sanchia dan Shanaya yang baru saja selesai membuat cheese cake di pantry lantai 1. Ibu dan putrinya itu saling berpandangan dengan wajah dihiasi senyum manis, sebelum keduanya melangkahkan kaki ke dalam ruang keluarga.
"Dad..Honey.. Aku dan Mommy sengaja membuat cheese cake blueberry yang enak. Mengobrolnya diteruskan nanti ya." Ujar Shanaya lalu meletakkan nampan berisi empat piring berisi cheese cake di atas meja. Shawn menarik pelan tangan Shanaya lalu mendudukkannya disebelahnya. Begitupun Sanchia yang menyusul duduk di sebelah Sall, setelah menerima uluran tangan Sall.
"Wah terlihat sangat menggugah selera." Ujar Sall.
"Pastinya enak Dad, ayo kita habiskan." Timpal Shawn.
**************************
Shanaya berjalan menyusuri ruang bawah tanah Markas Besar Ble Asteri yang minim penerangan. Langkahnya berhenti tepat di depan sebuah ruangan isolasi dengan pintu besi dilengkapi pengamanan ketat. Dua orang penjaga menganggukkan kepalanya pada Shanaya, lalu mengikuti perintah Shanaya untuk membuka pintu itu dengan menekan beberapa kode rahasia terlebih dahulu.
Pemandangan yang sangat memilukan, tersaji saat Shanaya bergerak masuk ke dalam ruangan. Alrico terlihat memeluk kedua kakinya dengan kepala tertunduk, namun kepalanya seketika terangkat saat menyadari langkah Shanaya yang mendekat ke arahnya.
"Shanaya.." Ucap Alrico lirih, bahkan nyaris tidak terdengar.
Tatapan Alrico terlihat sendu, Shanaya jelas menangkap raut sesal dan rindu di wajah Papa gadungannya itu. Tapi Shanaya berusaha terlihat biasa dan tidak terpengaruh oleh ekspresi Alrico itu.
"Aku datang kesini untuk mengabarkan pada anda, kalau kedua anak anda sudah tiba di Perancis dengan selamat. Daddy pun merekomendasikan Dokter terbaik untuk merawat Seira disana, anda tidak usah khawatir." Mendengar penuturan Shanaya, Alrico tiba-tiba menangis. Sungguh dia masih sangat merasa bersalah karena tidak sengaja melukai Seira, anak kandungnya sendiri. Dia bahkan tidak diberi kesempatan untuk bertemu dan meminta maaf pada Seira dan juga Sheran.
"Terima kasih sudah melepaskan Seira dan Sheran. Mereka tidak bersalah, akulah yang bersalah." Lirih Alrico kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku tahu.. Karena itulah kami hanya menahan anda, tidak dengan anak-anak anda juga anak buah anda. Semoga anda bisa merenungi dan menyesali kesalahan-kesalahan anda, karena mungkin anda akan menghabiskan sisa umur anda disini." Ucapan Shanaya tidak membuat Alrico terkejut. Dirinya sudah menduga, kalau sisa umurnya memang akan dihabiskan disana, untuk menebus semua perbuatan-perbuatan buruknya.
"Baiklah, aku sudah harus pergi. Semoga anda selalu sehat dan bisa berubah menjadi lebih baik." Ujar Shanaya, lalu berbalik hendak keluar dari ruangan itu. Namun perkataan Alrico mengurungkan langkahnya.
"Terima kasih Nak, Papa sungguh menyayangimu. Tidak ada kepalsuan di dalam perasaan Papa terhadapmu. Papa sudah menganggapmu sebagai anak kandung Papa, meskipun kamu pasti tidak mempercayai apa yang Papa katakan ini. Tolong maafkan kesalahan Papa ya.." Air mata Shanaya jatuh seketika saat mendengar ungkapan perasaan Alrico. Sejujurnya Shanaya pun terlanjur menyayangi Alrico yang sempat dikira ayah kandungnya itu. Namun perasaan sayang itu berubah kecewa, setelah Shanaya mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Shanaya memilih melanjutkan langkahnya untuk keluar dari ruangan itu, tanpa mengatakan apapun lagi. Shanaya tidak mau Alrico melihat air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya, meskipun Shanaya tidak dapat membohongi hatinya, kalau diapun merasa sangat sedih saat ini.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️