Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 32 Luapan Perasaan



Sebelum lanjut baca kisah Shawn & Shanaya, aku mau mengucapkan banyak terima kasih buat semua yang udah kasih hadiah, like, rate bintang 5, favorit dan comment-nya ya..


Terima kasih juga buat yang udah baca, meskipun tidak meninggalkan jejak. Kalau lihat di statistik, yang baca lumayan banyak, tapi like tiap episode-nya bahkan tidak lebih banyak dari hitungan jari tangan 😄


Tapi aku tetap sayang kalian semua 🥰 Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️


*************************


Wajah perempuan cantik yang tidak henti mengulas senyuman indah, menjadi pemandangan yang tidak jemu Shawn pandangi sejak berjam-jam yang lalu. Sehrish tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya, sejak dia dan Shawn berjalan-jalan santai, makan siang bahkan menonton film di Dubai Mall.


Senyum itu tetap bertahan hingga saat ini mereka berada di Miracle Garden, sebuah taman bunga paling terkenal di Dubai yang indah dan berwarna-warni. Terlebih matahari sore, menambah indah pemandangan menakjubkan di hadapan mereka.


"Aku merasa tidak asing dengan taman bunga ini, tapi aku benar-benar tidak bisa mengingat kenangan apapun." Keluh Sehrish yang duduk bersebelahan dengan Shawn di salah satu kursi taman.


'Daddy dan Mommy beberapa kali mengajak kita berlibur ke Dubai. Taman ini selalu jadi tujuan wajib yang ingin kamu kunjungi. Saat kamu lelah berjalan, kamu akan memintaku untuk menggendongmu. Bagiku, kenangan itu adalah salah satu kenangan paling indah.' Ucap Shawn dalam hati dengan mata tidak lepas memandangi wajah Sehrish.


"Hmm, pegal sekali ya. Taman ini terlalu luas untuk bisa kita telusuri seluruhnya, kakiku benar-benar pegal." Ujar Sehrish sambil memijat kakinya.


"Aku bisa menggendongmu, jika kamu tidak kuat berjalan."


"Hah, jangan gila.. Aku bukan anak kecil.." Tiba-tiba sekelebat ingatan buram, terlintas begitu saja di pikiran Sehrish. Raut wajah Sehrish yang terlihat serius berpikir, rupanya disadari oleh Shawn.


"Kenapa?" Shawn menyentuh lembut bahu Sehrish, sedikit khawatir dengan perubahan ekspresi Sehrish.


"Tiba-tiba terlintas sesuatu di pikiranku, saat kamu menawari untuk menggendongku. Mungkin sebuah kenangan yang sempat aku lupakan." Jawab Sehrish masih berusaha mengingat lebih jelas kenangannya itu.


"Kalau boleh tahu, kenangan seperti apa?" Shawn terlihat sangat penasaran.


"Sepertinya aku masih berusia awal belasan saat itu, aku meminta seorang anak laki-laki untuk menggendongku. Sementara dua orang dewasa di sebelahku hanya tersenyum ke arahku. Sayang sekali wajah anak laki-laki itu tidak jelas terlihat. Tapi aku yakin perempuan di sebelahku adalah Mamaku, tapi anehnya aku tidak mengenal laki-laki disebelahnya yang juga tersenyum kepadaku." Sehrish beberapa kali menggelengkan kepala karena gagal mengingat kenangannya lebih jelas lagi. Sementara Shawn bergeming, ada perasaan haru karena mungkin ingatan Shanaya perlahan akan kembali.


Sesungguhnya Shawn ingin mengetahui kenapa Shanaya bisa kehilangan ingatannya. Apakah memang benar karena sebuah kecelakaan, ataukah Mr. Ali memang sengaja menghilangkan ingatan Shanaya untuk mencapai tujuannya yang masih belum Shawn tahu.


"Hmm, apa kamu memiliki photo Mamamu? Aku sungguh penasaran dengan wajahnya, pasti dia memiliki wajah yang sangat cantik sepertimu. Mungkin saja aku bisa membantumu menemukan keberadaan Mamamu." Perkataan Shawn ternyata memancing binar semangat di wajah Sehrish.


"Benarkah kamu akan membantuku mencari keberadaan Mamaku? Papa selalu tidak suka saat aku berkata ingin bertemu dengan Mama." Ucap Sehrish dengan nada kecewa.


"Aku akan membantumu menemukannya, jadi berikan photo Mamamu padaku." Ujar Shawn mulai tidak sabar.


Sehrish segera mengeluarkan ponselnya dan mengklik gallery photonya yang menyimpan banyak sekali photo Mamanya. Sesuai kecurigaan Shawn, dirinya dibuat terperangah saat melihat photo-photo yang disebut Sehrish sebagai Mamanya itu.


Photo-photo Sanchia sejak muda menjadi deretan photo yang ditunjukkan Sehrish pada Shawn. Semua moment penting Sanchia sebelum dan sesudah menikah terekam jelas melalui photo-photo itu. Bahkan photo Sanchia dan Shanaya yang masih bayi, balita, hingga remaja pun ada disana.


'Apa-apaan ini? Kenapa Mr. Ali mengakui Mommy sebagai mantan istrinya? Siapa sebenarnya laki-laki itu, dan apa tujuannya melakukan semua ini?' Shawn memijat pelipisnya, tiba-tiba kepalanya terasa dipusingkan oleh fakta yang baru diketahuinya itu.


"Kenapa?" Tanya Sehrish sedikit khawatir dengan gelagat Shawn.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedang berusaha mengingat-ingat wajah Mama kamu, mungkin saja aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Baiklah, tolong kirimkan photo-photo Mamamu ke nomor ponselku. Kamu tidak keberatan kan memberikan nomor ponselmu padaku? Karena besok aku akan kembali ke Inggris." Raut wajah Sehrish yang berubah sendu setelah mendengar perkataan Shawn jelas disadari Shawn. Tapi Shawn tidak berani menyimpulkan, kalau Sehrish sedih dengan rencana kepulangannya besok. Meskipun sebenarnya dugaan Shawn itu memang benar adanya.


Setelah bertukar nomor ponsel, Sehrish segera mengirimkan beberapa photo Mamanya kepada Shawn. Shawn segera mengirim pesan pada Drake untuk menyelidiki lebih dalam, siapa sebenarnya Mr. Ali itu. Meskipun di otaknya sudah muncul sebuah nama yang mungkin menjadi dalang dari semua skenario gila ini.


"Nona Sehrish.."


"Panggil saja aku Sehrish." Shawn tersenyum, menyadari Sehrish sudah tidak terlalu menjaga jarak dengannya, karena mengizinkannya hanya memanggil dengan nama.


"Baiklah Sehrish.. Kamu juga bisa memanggilku Steve." Ujar Shawn yang langsung diangguki Sehrish.


"Hmm, langit sudah mulai menggelap. Kamu mau kemana lagi? Aku akan mengantarmu kemanapun kamu mau." Ucapan Shawn kembali membuat Sehrish bersemangat. Setelah sejenak berpikir, Sehrish menarik tangan Shawn agar berdiri dari duduknya.


'Aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi.. Aku tidak peduli kemanapun kamu mengajakku. Tapi selama denganmu, semuanya akan terasa indah.' Ungkap Shawn dalam hatinya.


*************************


Pikiran Shawn beberapa belas menit yang lalu rupanya sudah berubah, melihat tempat yang menjulang tinggi dihadapannya saat ini. Sebuah hotel mewah yang memang terkenal dengan fasilitasnya yang bisa memanjakan semua tamunya, sama seperti hotel yang dia tempati selama di Dubai. Namun bukan hotelnya yang menjadi masalah, tapi tujuan Sehrish mengajak Shawn kemari yang membuat Shawn keberatan.


"Ayo kita masuk, kita akan makan malam dan bersantai dulu di restaurant atau cafe hotel ini. Lalu setelah itu kita akan mencari pakaian yang cocok di butik hotel ini, sebelum bersenang-senang di club." Ujar Sehrish dengan raut bahagia, menarik tangan Shawn memasuki lobby hotel.


Shawn diam tidak mengiyakan perkataan Sehrish, namun otaknya berpikir untuk menggagalkan rencana Sehrish untuk pergi ke club.


Tapi rupanya niat Shawn tidak membuahkan hasil, rengekan manja dan ekspresi memelas Sehrish berhasil meruntuhkan prinsipnya untuk tidak mengunjungi club malam, yang menurutnya bukan tempat yang memiliki manfaat itu. Bahkan Shawn tidak bisa menolak saat Sehrish memintanya membelikan sebuah gaun seksi yang menampakkan punggung mulus dan kaki jenjang Sehrish, untuk bisa dia kenakan ke club.


Baru saja memasuki pintu club malam, banyak pasang mata laki-laki tampak memandang liar ke arah Sehrish yang mengenakan pakaian terbilang seksi dan menggoda. Shawn melepas blazer casual yang dikenakannya, lalu menyampirkannya di bahu Sehrish yang terbuka. Sehrish memandang Shawn bersiap melontarkan protesnya yang sudah di ujung lidah. Tapi Shawn justru menempelkan telunjuknya di bibir Sehrish.


"Lihatlah banyak laki-laki memandangimu seolah bersiap memangsamu. Kali ini menurutlah padaku." Perkataan Shawn yang terdengar lembut namun tegas itu, segera diangguki Sehrish.


Sebenarnya bukan hanya banyak laki-laki yang memandangi Sehrish, tapi banyak juga perempuan yang memandang Shawn dengan tatapan mendamba. Wajah tampan dan tubuh Shawn yang atletis dan gagah, berhasil menghipnotis mereka. Terlebih penampilan Shawn yang berbalut kemeja casual, celana dan sepatu branded super mahal, tidak dapat menyembunyikan kelasnya.


Shawn memilih memesan private room untuk dirinya dan Sehrish menikmati waktu, terlalu berbahaya membiarkan Sehrish menjadi objek tatapan dan pikiran liar banyak laki-laki hidung belang di luar sana.


"Steve, bolehkah aku turun? Rasanya aku ingin menikmati musik dan dance dengan banyak orang di luar sana."


"No Sehrish.." Sehrish memberengut kesal mendengar penolakan Shawn yang tanpa basa-basi.


"Lalu buat apa kita ke club, kalau hanya duduk-duduk mengobrol disini." Protes Sehrish memanyunkan bibirnya yang merah menyala.


"Disini saja, kita bisa berdansa berdua.. Musiknya jelas terdengar kesini." Ucap Shawn santai, yang ditanggapi Sehrish dengan lirikan mautnya.


"Hmm, baiklah.. Tapi jangan jauh-jauh dariku. Aku tidak akan memberi kesempatan bagi pria manapun untuk mendekatimu." Ucapan Shawn membuat Sehrish tersenyum sumringah. Sesaat kemudian, Sehrish langsung menarik tangan Shawn untuk keluar menuju dance floor.


Baru saja tiba diantara kerumunan orang yang berjoget menikmati musik dan hingar bingar suasana club, Shawn segera memeluk tubuh Sehrish dari belakang, sama sekali tidak memberi jarak bagi tubuh mereka. Bahkan banyak laki-laki mengurungkan niat mereka untuk mendekati Sehrish, karena menyadari keposesifan Shawn yang mereka kira kekasih dari mangsa mereka.


Tiba-tiba seorang pria mabuk, mendekat dan menyentuh dagu Sehrish seraya menggodanya. Shawn melepas pelukannya dari tubuh Sehrish, dan tanpa banyak kata langsung mendorong tubuh pria itu hingga terhuyung dan jatuh di atas lantai. Beberapa teman dari pria itu tampak marah pada Shawn dan mengintimidasi Shawn secara bersamaan. Shawn tentu saja tidak gentar, apalagi didepannya hanyalah segelintir anak muda sok jagoan, yang pastinya tidak sebanding dengan Shawn. Shawn sudah terbiasa menghadapi klan mafia paling berbahaya di dunia sekalipun.


Tapi Sehrish yang menyadari apa yang akan terjadi, memilih menyudahi ketegangan diantara Shawn dan orang-orang itu. Sehrish menarik Shawn untuk pergi dari sana, namun tubuh Shawn tidak sedikitpun bergerak dari tempatnya. Shawn masih saja menghunuskan tatapan tajam seraya menggulung kemejanya sebelum bersiap menghajar orang-orang dihadapannya.


"Steve aku mohon, kita pergi dari sini ya. Aku benar-benar tidak mau kamu terluka." Lirih Sehrish. Namun Shawn seakan tidak peduli pada perkataan Sehrish yang begitu mengkhawatirkannya.


"Please Steve.. Ayo kita pergi dari sini." Sehrish tiba-tiba mendaratkan ciuman sekilas di bibir Shawn, membuat Shawn sesaat merasa sedang bermimpi. Orang-orang yang berniat menghajar Shawn sedikit terkejut dengan perbuatan Sehrish pada Shawn.


Sehrish menarik kencang tangan Shawn agar segera keluar dari club malam itu, dan Shawn pun hanya menurut dengan tangan memegang bibirnya. Shawn bahkan seolah tuli, saat orang-orang itu mengatainya pecundang yang lari begitu saja.


Shawn seperti seorang anak kecil yang bahagia karena mendapatkan kejutan yang tidak disangkanya. Bahkan saat mereka keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobil Shawn di area parkir, tangan kanan Shawn masih saja menyentuh bibirnya yang tidak henti mengulas senyum.


Shawn melajukan mobilnya keluar dari area hotel. Setelah berkendara beberapa menit tanpa tujuan yang jelas, Shawn memarkirkan mobilnya di halaman sebuah taman kota yang cukup sepi. Keduanya sama-sama tidak berbicara sedikitpun, merasa canggung dengan apa yang terjadi sebelumnya. Sehrish pun merutuki kebodohannya karena sudah mencium Shawn secara impulsif.


"Maaf, tadi aku begitu khawatir kamu akan terluka karena dikeroyok oleh semua orang itu. Aku bingung harus berbuat apa, agar kamu mau menuruti permintaanku. Akhirnya aku melakukannya tanpa pikir panjang. Aku.." Shawn tiba-tiba memotong penjelasan Sehrish, membungkam mulut Sehrish dengan bibirnya. Sebelah tangan Shawn memeluk tubuh Sehrish agar menghadap ke arahnya, sementara tangan lainnya menahan tengkuk Sehrish untuk memperdalam ciuman mereka.


Sehrish yang semula tidak siap dengan serangan mendadak dari Shawn, kini mulai membalas lum*tan bibir Shawn yang sangat menuntut. Bahkan tangan Sehrish kini mulai menyusuri leher dan dada Shawn yang sedikit terbuka.


Tentu saja perlakuan Sehrish ini membuat beberapa bagian sensitif Shawn bereaksi, bahkan blazer milik Shawn yang dikenakan Sehrish sudah turun dari bahunya, hingga Shawn bebas menyentuh punggung mulus Sehrish tanpa penghalang.


Ciuman liar Shawn kini sudah beralih ke leher dan dada Sehrish, membuat Sehrish mengeluarkan suara-suara manis yang membuat Shawn semakin bersemangat. Tangan Sehrish pun bergerak meremas rambut Shawn seraya menutup matanya. Perasaan dan hasrat yang sebelumnya mati-matian mereka tahan, seolah sudah kehilangan kendalinya malam ini.


*************************