
Pagi ini terasa suram bagi hati Shawn yang semalam dihantam kecewa, tapi otaknya tidak berhenti berpikir untuk memuluskan niatnya. Karena perjuangan memang barulah dimulai. Upayanya semalam untuk melamar Sehrish di depan Mr. Ali berakhir gagal total, karena Sehrish sama sekali tidak datang, bahkan setelah makan malam bersama Mr. Ali berlangsung selama 2 jam.
Shawn pun telah mengutarakan niatnya dengan gamblang pada Mr. Ali, tapi tanggapannya hanya senyum meragukan dan jawaban menohok karena ternyata Putrinya memang tidak berniat menerima lamaran dirinya.
"Putri saya tentu tidak akan menerima lamaran pria yang belum dikenalnya. Saya pun sebagai orangtua tidak akan memaksanya untuk menerima anda, sekalipun anda seorang Ketua Klan besar yang sangat kuat. Saya harap hubungan persahabatan diantara klan kita tidak berubah, meskipun saya tidak bisa memenuhi harapan anda."
Perkataan Mr. Ali semalam masih saja terngiang di otaknya, tidak sedikitpun niatnya untuk memaksa Sehrish menerima lamarannya. Tapi Shawn akui dirinya cukup kecewa, karena ternyata Sehrish tidak bisa melihat ketulusan dan juga niat baiknya. Shawn baru mengetahui pagi ini, kalau semalam Sehrish sudah meninggalkan hotel 1 jam sebelum waktu makan malam Shawn dan Mr. Ali.
Sedangkan reaksi Mr. Ali, tentu sudah Shawn duga sebelumnya. Seseorang yang belum Shawn tahu siapa dan apa motifnya menculik dan mengubah seorang Shanaya, tentu tidak akan pernah menyerahkan Shanaya dengan cara apapun.
Shawn sudah begitu yakin, kalau Sehrish dan Shanaya adalah orang yang sama. Namun dirinya tidak bisa gegabah dengan membawa Shanaya begitu saja. Terlebih saat ini, ingatan Shanaya sedang bermasalah. Bisa-bisa Shanaya justru membenci dan menganggapnya jahat, jika nekad membawa kabur Shanaya dari Mr. Ali yang dia anggap Ayah kandungnya. Shawn harus mempunyai cara yang tepat untuk bisa mensukseskan misi sekaligus niat baiknya.
Menjelang siang hari, Shawn meminta anak buahnya untuk melajukan mobilnya ke daerah Bastakia Quarter, yaitu sebuah kawasan yang dipenuhi bangunan dan gedung tua yang mempunyai arsitektur kuno yang unik. Drake memberinya informasi, kalau Sehrish terlihat sedang menikmati waktunya di sebuah cafe yang sangat sepi. Tentu saja Shawn tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, meskipun merasa tidak nyaman karena Sehrish selalu diawasi banyak pengawal dari kejauhan.
Shawn memasuki cafe dengan langkah yang lebar, senyumnya pun terulas lebar dibalik maskernya. Berbeda dengan Sehrish yang terlihat begitu terkejut dengan kehadiran Shawn yang sama sekali tidak diduganya.
"Hai.." Shawn mendudukkan dirinya tepat didepan Sehrish, tidak peduli Sehrish menunjukkan raut canggung dan terganggu yang begitu jelas.
"Tuan Steve.. Saya benar-benar sedang tidak ingin diganggu. Bisakah anda pergi dari sini?" Usir Sehrish tanpa ragu. Namun Shawn justru tersenyum menanggapi reaksi Sehrish.
"Maafkan aku, tapi aku sungguh tidak ingin pergi dari sini." Jawab Shawn terdengar begitu enteng.
"Baiklah, sepertinya saya yang harus pergi." Sehrish hendak berdiri dari duduknya, tapi tangan Shawn yang memegang tangannya lembut, menahan pergerakan Sehrish.
"Tolong jangan pergi.. Tidak bisakah kita menghabiskan waktu berdua, sebelum aku kembali ke Inggris?" Suara Shawn yang terdengar sedikit lirih dan niatnya yang akan segera kembali ke Inggris, berhasil mengurungkan niat Sehrish. Entah kenapa, ada perasaan sedih dan tidak rela, mengetahui kalau Shawn akan segera kembali ke Inggris. Padahal dirinya sendiri yang sudah menolak lamaran Shawn sebelumnya.
"Hmm, saya ingin mengembalikan ini." Sehrish mengeluarkan kotak perhiasan yang diberikan Shawn sebelumnya dari dalam tas kecilnya. Shawn hanya tersenyum, lalu mendorong kotak perhiasan itu ke arah Sehrish.
"Simpanlah, anggap saja itu hadiah kecil dariku. Tidak perlu merasa terbebani, meskipun kamu harus tahu, kalau cincin itu adalah bentuk dari ketulusan hati dan niat baikku kepadamu. Tapi jika aku tidak bisa menikah denganmu, tentu aku masih boleh menjadi temanmu kan?" Shawn mengulurkan jari kelingkingnya di depan Sehrish, sementara Sehrish hanya menatap ragu tanpa berkata dan berbuat apapun.
"Hmm, ternyata untuk menjadi temanmu pun begitu sulit." Shawn kembali menarik jari kelingkingnya, namun tidak menghilangkan binar di matanya.
Shawn memesan secangkir americano dan sepiring Shawarma, berbeda dengan Sehrish yang lebih dulu menikmati secangkir cappucino dan sepotong cheese cake strawberry. Terpaksa Shawn harus melepas maskernya, namun beralih memasang kacamata hitamnya meskipun sedang berada di dalam ruangan. Shawn pun sengaja membelakangi jendela dan pintu, tidak ingin wajahnya terlalu jelas terlihat oleh orang-orang yang mengawasi Sehrish dari luar.
"Kenapa kamu berjalan-jalan sendirian Nona Sehrish? Tidak adakah teman dekat yang bisa menemanimu makan dan mengobrol seru?" Sehrish menggeleng pelan, menanggapi pertanyaan dari Shawn.
"Jadi bolehkah aku menemanimu seharian ini?" Tawar Shawn dengan pandangan cukup memelas, meskipun rautnya sedikit samar dibalik maskernya.
"Jika aku menolak, apa kamu akan pergi dari sini?"
"Tentu saja tidak.." Pertanyaan Sehrish langsung dijawab lantang oleh Shawn. Sehrish hanya mendengus kesal, apalagi Shawn mengakhiri perkataannya dengan kekehan kecil dan senyum jahil.
Shawn menyuapkan Shawarma dengan suapan besar, sehingga memenuhi mulutnya. Shawn tampak berantakan karena saus yang menempel di kedua sudut bibirnya.
"Ada saus di sudut bibirmu." Sehrish menyodorkan tissue didepan Shawn. Namun Shawn yang sedang memegang Shawarma dengan kedua tangannya tampak tidak berniat mengambil tissue yang dipegang Sehrish.
"Disebelah mana? Tolong usapkan." Minta Shawn dengan lembut.
Perasaan canggung memang sangat terlihat dari sikap Sehrish, namun dia berusaha mengusap kedua bibir Shawn dengan cepat. Shawn tersenyum senang dengan perlakuan Sehrish, bahkan matanya enggan beralih dari wajah cantik dihadapannya.
"Aku hanya senang.. Seperti sedang berkencan dengan kekasih. Biasanya yang membersihkan sudut bibirku adalah Mommy dan adikku, tapi sekarang ada kamu. Rasanya begitu berbeda, aku akui hatiku begitu berbunga-bunga." Kejujuran Shawn membuat pipi Sehrish merona karena malu.
"Hmm, kamu mempunyai adik?" Shawn menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Sehrish.
"Adik perempuan?" Raut wajah Sehrish semakin penasaran.
"Iya.. Namanya Shanaya.." Lirih Shawn.
Perasaan Sehrish seketika berubah aneh saat mendengar nama Shanaya, nama yang terdengar sangat familiar.
"Hmm, apa itu nama yang kamu sebut saat kita pertama kali bertemu?" Seperti menemukan sebuah puzzle, Sehrish kembali bertanya pada Shawn.
"Iya.. Rupanya kamu masih ingat. Wajah kamu memang mengingatkanku pada adikku. Tapi kamu bukanlah adikku, tapi seseorang yang berhasil meluluhlantakkan hatiku." Shawn tersenyum miris namun berusaha menutupinya dengan kekehan kecil, tapi hal ini jelas disadari Sehrish.
Sejenak suasananya begitu canggung, keduanya sesekali menikmati hidangan mereka masing-masing. Sebelum akhirnya Shawn mengungkapkan ketidaknyamanannya.
"Nona Sehrish, aku memiliki sebuah harapan sebelum kembali ke Inggris. Bisakah kita pergi ke tempat yang lebih nyaman? Karena pengawalmu begitu banyak, membuatku merasa begitu diawasi." Mendengar perkataan Shawn, Sehrish segera mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Apa benar aku diawasi banyak pengawal? Memangnya dimana mereka?" Tanya Sehrish polos.
"Lho, memangnya anda tidak tahu kalau anda diawasi banyak pengawal dari kejauhan?" Sehrish hanya mendengus kesal mendengar perkataan Shawn.
"Selalu saja seperti ini. Aku bosan tidak mempunyai teman, tapi selalu dijaga banyak pengawal. Hal itu seringkali membuat orang segan untuk mendekat." Keluh Sehrish seolah berbicara pada dirinya sendiri.
"Tapi hal itu tidak berlaku bagiku. Aku tetap mendekat meskipun tahu kamu dijaga banyak pengawal." Sehrish mencebik sebal yang justru dijawab kekehan kecil oleh Shawn.
"Kamu kan Ketua Mafia, tentu sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Aku yakin seluruh keluargamu pun dijaga oleh pengawal " Shawn tersenyum disertai anggukan, membenarkan perkataan Sehrish.
"Jadi bagaimana, apa kamu bersedia kabur bersamaku dari pengawasan para pengawalmu? Jika kamu punya keinginan untuk mengunjungi suatu tempat, maka aku akan membawamu kesana." Sehrish tampak berpikir, sedikit tergiur oleh tawaran Shawn yang sangat langka. Entah kenapa, kali ini Sehrish begitu percaya pada perkataan laki-laki dihadapannya.
"Okay.. Aku terima tawaranmu." Jawaban Sehrish memancing senyum sumringah di wajah Shawn. Sedetik kemudian, Shawn segera menghubungi Drake untuk melaksanakan rencananya.
Tidak sampai 5 menit kemudian, Drake dan beberapa anak buahnya terlihat sibuk di depan cafe. Mereka berakting menjadi pekerja bangunan yang hendak memperbaiki halaman dan dinding cafe, menghalangi pandangan para pengawal Sehrish yang berada tidak jauh dari sana.
"Kamu sungguh gila ternyata." Sehrish mengomentari ide Shawn yang aneh menurutnya. Sementara Shawn hanya memamerkan senyum jahilnya.
"Ayo kita pergi, Tuan Putri." Shawn mengulurkan tangan yang langsung disambut uluran tangan Sehrish.
Keduanya menyelinap melalui pintu belakang, setelah mengatakan pada Manager Cafe kalau ada orang diluar sana yang sedang mengincar mereka yang merupakan pasangan kekasih. Akhirnya, mereka berdua bisa terbebas dari pengawasan para pengawal Sehrish. Yang membuat Shawn begitu bahagia, Sehrish sama sekali tidak melepas genggaman tangannya yang erat.
'Aku tidak ingin melepaskan tangan ini selamanya. Maka tetaplah bersamaku, Shanaya..' Harap Shawn dalam hati.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️