Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 28 Pengakuan Shawn



1 tahun berlalu...


Pagi hari yang cerah dengan udara yang berhembus hangat melewati jendela kamar, nampaknya tidak selaras dengan raut wajah Shawn yang selalu dingin dan suram semenjak Shanaya menghilang dari kehidupannya.


Tangannya menggenggam lembut tangan indah Sanchia, yang sudah lama tidak menyentuh kepalanya penuh kasih. Segala macam alat penunjang kehidupan masih setia melekat di tubuh Sang Mommy, membuat kamar pribadi Sall dan Sanchia itu menjadi lebih mirip kamar Rumah Sakit dibanding kamar pribadi. Tapi hal ini memang keinginan Sall sendiri, dia lebih memilih untuk melengkapi kamar pribadi mereka dengan perlengkapan medis, daripada menyediakan kamar khusus untuk Sanchia.


"Mom.. Apa Mommy tidak bosan hanya tertidur seperti ini? Aku sangat rindu perhatian dan kecerewetan Mommy.. Meskipun aku sudah tahu kalau Mommy dan Daddy bukanlah orangtua kandungku, tapi hal itu sama sekali tidak mengubah apapun. Aku tetap sangat mencintai, mengagumi dan menghormati Mommy dan Daddy. Aku benar-benar berterima kasih pada Mommy dan Daddy, karena sudah menyayangi dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Aku sungguh tidak akan bisa membalas semua kebaikan dan kasih sayang dari Mommy dan Daddy." Mata Shawn sudah mulai berkaca-kaca, namun sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Mom.. Ada suatu rahasia yang ingin aku ceritakan pada Mommy.. Mungkin Mommy akan terkejut mendengar pengakuanku ini, tapi sekarang aku merasa kalau apa yang aku rasakan ini bukanlah sebuah dosa.." Shawn menarik nafas panjang, sebelum melanjutkan perkataannya.


"Mom, sudah lama aku mempunyai perasaan yang tak biasa terhadap Shanaya. Awalnya aku merasa kalau aku sudah gila karena mencintai adik kandungku sendiri. Tapi setelah Daddy mengatakan yang sebenarnya, aku baru menyadari kalau selama ini perasaanku tidaklah salah. Apa Mommy akan mengizinkanku untuk mencintai Shanaya? Aku adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab kan Mom? Aku juga tidak kalah keren dari Daddy.. Aku harap Mommy akan merestui aku untuk bersama Shanaya, tentunya jika Shanaya pun mencintai putramu yang gagah ini." Shawn tersenyum miris, menyadari harapannya yang mungkin saja tidak akan pernah terwujud.


Lebih dari setahun, Shawn berjuang keras mencari keberadaan Shanaya. Namun upayanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Tidak ada satupun petunjuk yang bisa membawa Shawn pada siapa sesungguhnya yang menjadi dalang dari semua tragedi ini.


Banyak bukti yang menunjukkan kalau skenario kematian Shanaya itu bukanlah ulah dari Sheran dan klannya. Ada klan lain yang memang sengaja memperkeruh keadaan dan mengambil keuntungan saat Sheran menculik Shanaya lebih dari setahun yang lalu.


Shawn juga sempat melakukan pencarian terhadap Sheran dan Seira untuk menuntut balas, namun Sall melarangnya membalas dendam terhadap dua saudara kembar itu. Dengan dalih kalau Sanchia tidak akan suka, jika Shawn melukai apalagi membunuh kedua anak dari sahabatnya dulu. Akhirnya Shawn menghentikan pencariannya, meskipun dirinya sempat mendapat informasi kalau Sheran dan sebagian anggota klannya bersembunyi di Afrika Selatan. Sedangkan keberadaan Seira masih belum diketahui, setelah dibebaskan oleh komplotan yang tidak diketahui identitasnya itu.


Lamunan Shawn terusik, saat tiba-tiba pintu kamar orangtuanya terbuka, menampakkan wajah Sall yang sendu namun tetap berusaha mengulas senyum tampannya. Di tangan Sall terdapat sebuket mawar merah dan juga boneka teddy bear berukuran cukup besar.


"Hai Son.. Ternyata ada kamu. Pasti Mommy kamu tidak kesepian selama Daddy tinggal ke Markas Besar. Terima kasih Son.." Ujar Sall seraya mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur Sanchia.


"Sepertinya hari ini Daddy berniat merayu Mommy agar cepat bangun.. Romantis sekali Dad." Puji Shawn yang ditanggapi senyum lebar Daddy-nya.


"Hari ini adalah Wedding Anniversary Daddy dan Mommy. Untuk pertama kalinya, Daddy ingin merayakannya bersama Mommy-mu.. Daddy berharap Mommy kamu dapat merasakan cinta Daddy yang teramat besar terhadapnya." Sall menyimpan buket bunga mawar dan boneka teddy bear tepat di sebelah Sanchia.


"Maaf Dad.. Gara-gara aku, Daddy dan Mommy tidak pernah merayakan Wedding Anniversary kalian."


"Tidak Son.. Jangan berkata seperti itu. Daddy dan Mommy sama sekali tidak merasa keberatan, karena menurut kami setiap hari adalah hari yang special." Ujar Sall, yang dibalas senyuman oleh Shawn.


"Oh iya Son.. 4 hari lagi ada undangan pesta persahabatan dari sebuah klan besar dari Uni Emirat Arab, acaranya diadakan di Hotel BAA di Dubai. Banyak klan besar yang diundang kesana, Toddestern tentunya wajib hadir, karena klan itu sangat berpengaruh di negara-negara Asia. Berhubungan baik dengan klan itu, mungkin akan menguntungkan klan kita suatu saat nanti. Kamu bisa berangkat kan?" Tanya Sall.


*************************


Shawn ditemani Drake dan beberapa anak buahnya terlihat memasuki aula Hotel BAA yang mewah dan megah. Ruangan bernuansa emas itu sudah dipenuhi banyak manusia berpakaian mahal dan berpenampilan elegan. Layaknya pesta topeng, tidak ada seorangpun yang menampakkan wajahnya secara terbuka. Karena biar bagaimanapun, semua orang itu berasal dari klan-klan mafia besar yang harus menutupi identitas asli mereka.



Setelah menyapa sang tuan rumah yang merupakan laki-laki paruh baya bernama Mr. Ali, Shawn memilih menikmati hiburan seraya menikmati minumannya di meja yang sudah disediakan. Shawn sama sekali tidak tertarik berinteraksi dengan tamu undangan lain, meskipun beberapa diantaranya terlihat jelas berusaha mengambil kesempatan untuk bisa mengobrol dengannya. Bagaimana tidak, bertemu seorang Ketua Klan Mafia terbesar di Inggris dan bahkan sangat berpengaruh di negara-negara Eropa, adalah kesempatan besar yang harus dimanfaatkan.


"Drake.. Aku ke toilet dulu ya." Ujar Shawn.


"Aku dan beberapa pengawal akan mengawalmu." Jawab Drake, yang langsung dibalas gelengan kepala Shawn.


"Jangan membuat orang-orang disini tertawa Drake. Aku bukan anak kecil atau orang lemah." Perkataan Shawn jelas tidak bisa ditentang oleh Drake. Hingga akhirnya Drake membiarkan Shawn menuju toilet seorang diri.


Shawn berjalan menuju toilet dengan mata terfokus pada gadget di tangannya. Dirinya tidak menyadari ada gadis yang berjalan terburu-buru ke arahnya, seraya melihat jam di pergelangan tangannya. Hingga akhirnya Shawn dan gadis itu bertabrakan, karena sama-sama tidak fokus dengan langkah mereka.


"Aaaaww.." Teriakan kecil gadis itu membuat Shawn bergeming.


Gadis bertopeng itu tampak mengusap-usap lengannya yang sakit karena bertabrakan dengan Shawn. Sementara Shawn tidak berkedip memandangi mata hazel dan juga bibir berpoles lipstick merah menyala dihadapannya. Terlebih rambut cokelat bergelombangnya begitu selaras dengan gaun hitam panjangnya yang bertabur mutiara di bagian dadanya.


Bukan karena gadis itu terlihat cantik dan seksi di mata Shawn, tapi gadis itu berhasil mengingatkannya pada seseorang yang sangat dirindukannya.


"Shanaya?"


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️