Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 72 Aku Bukan Pilihan



Hampir jam 8 pagi, Drake baru membuka mata setelah tertidur di atas sofa kamar hotel yang disewakannya untuk Letta. Memang obrolan serius diantara Letta dan Drake berlanjut menjadi obrolan ringan sampai dini hari. Sehingga Drake memutuskan menerima tawaran Letta untuk menginap di kamarnya itu, tentunya tidak dalam satu tempat tidur yang sama.


Drake mengedarkan pandangannya ke arah tempat tidur, namun Letta tidak ada disana. Dia hanya melihat sepiring nasi goreng dan secangkir jasmine tea tersaji di atas meja dihadapannya.


'Hmm, apa Letta memesankan menu sarapan dari layanan kamar? Tapi kemana dia sekarang?' Drake masih bertanya-tanya.


Ceklek..


Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Letta yang sudah segar dengan celana jeans panjang berpadu atasan kemeja berwarna biru laut. Untungnya Letta sempat membawa beberapa baju yang sudah dipesan Drake sebelumnya pada salah satu staff Hotel Knight.


'Aku baru menyadari ternyata Letta sangatlah cantik. Wajahnya yang asli Indonesia sangat menarik. Apalagi tubuhnya bagus dan.. Ah Drake apa yang kamu pikirkan?' Tanpa sadar Drake menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan isi pikirannya. Hal ini membuat Letta mengerutkan keningnya.


"Kak Drake kenapa? Apa Kak Drake pusing?" Letta bertanya dengan raut polosnya.


"Iya, kepalaku benar-benar pusing.." Jawab Drake yang langsung dipercayai Letta begitu saja.


"Maaf Kak Drake, tadi aku memesan makanan untuk sarapan tanpa izinmu."


"Tidak apa-apa. Apa kamu sudah sarapan?"


"Sudah Kak, aku tadi sudah sarapan lebih dulu, karena perutku sudah sangat lapar." Drake tertawa kecil melihat ekspresi Letta yang menggemaskan seperti anak kecil saat mengatakannya.


"Ya sudah, aku mau membersihkan diri dulu, baru sarapan." Ujar Drake.


Drrtt..Drrtt..Drrtt..


Ponsel Drake yang disimpannya di atas meja berbunyi, terpaksa mengurungkan niatnya untuk beranjak menuju kamar mandi.


"Keiva.." Lirih Drake saat menatap layar ponselnya, yang masih terdengar oleh Letta.


Drake mengangkat panggilan masuk dari Keiva dengan ragu, sambil menatap Letta yang juga sedang memandangnya.


"Ada apa Keiva?" Drake langsung bertanya tanpa basa-basi.


"Drake, bisakah kita bertemu hari ini? Kita perlu bicara.."


"Dimana?"


"Kita bertemu di Restaurant X ya, saat jam makan siang nanti."


"Ok.."


Drake langsung memutus panggilan telepon Keiva begitu saja, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa seraya menutup matanya.


"Inilah saatnya Letta.. Dia pasti akan mengakhiri hubungan kami." Lirih Drake. Letta bergegas duduk tepat di sebelah Drake.


"Apa Kak Drake akan menerima keputusannya jika dia memilih mengakhiri hubungan kalian? Tapi jika dia memilih Kak Drake dan bukannya laki-laki yang sudah dia cintai sejak kecil, apa Kak Drake bisa menjalani hubungan kalian tanpa ada keraguan?" Drake membuka matanya dan menatap dalam netra Letta yang memandangnya penuh tanya.


*************************


Drake dan Keiva duduk saling berhadapan di salah satu private room restaurant X. Sejak masuk ke dalam ruangan itu, Drake belum mengeluarkan satu patah katapun. Dia benar-benar menunggu Keiva yang memang sudah datang lebih dulu untuk bicara. Tidak ada hal yang ingin Drake bicarakan saat ini, dirinya hanya ingin mendengar keputusan akhir dari Keiva mengenai hubungan mereka.


"Drake, aku sudah memesankan makanan untuk kita berdua. Mungkin sebentar lagi juga datang." Tidak ada tanggapan dari Drake, dia hanya memandang Keiva tanpa ekspresi, membuat Keiva tidak nyaman.


Beberapa saat kemudian, pesanan makanan Keiva sudah diantarkan semuanya. Hidangan makan siang yang cukup banyak itu, tidak lantas membuat Drake tertarik. Dirinya justru sudah sangat tidak sabar mendengar apa yang akan dikatakan Keiva padanya.


"Apa benar kamu akan kembali ke London besok? Apa bersama Shanaya dan Shawn juga?" Pertanyaan Keiva hanya ditanggapi Drake dengan anggukan.


"Jadi katakan apa yang ingin kamu katakan!" Suara tegas Drake cukup membuat nyali Keiva ciut. Apalagi apa yang akan dia katakan mungkin dapat menyakiti hati pria yang begitu mencintainya itu.


"Drake.. Aku sungguh minta maaf, karena sudah menyakiti hatimu. Kamu pasti sangat kecewa padaku." Keiva menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata elang Drake yang seolah sedang mengulitinya.


"Aku sangat bersalah padamu. Sejujurnya aku sudah mulai mencintaimu, tapi perasaanku pada Briley sangatlah sulit untuk aku hapus. Maafkan aku Drake." Kali ini Keiva memberanikan dirinya untuk menatap Drake, meskipun hatinya berdegup kencang karena takut.


"Jadi apa keputusanmu? Siapa yang akan kamu pilih? Hanya itu yang ingin aku tahu." Sesaat tubuh Keiva membeku mendengar perkataan Drake. Laki-laki itu sungguh tidak ingin mendengar penjelasan Keiva yang panjang lebar, dia hanya ingin mendengar keputusan akhir dari Keiva agar semuanya menjadi jelas.


"Aku.. Aku.." Drake jelas melihat keraguan di wajah Keiva.


"Sebenarnya aku tidak suka menjadi pilihan, Keiva. Aku ingin menjadi satu-satunya.. Tapi aku tahu, kalau bersamamu, hal itu tidaklah mungkin." Ucapan Drake yang terdengar tenang itu berhasil menohok perasaan Keiva. Keiva mulai berkaca-kaca menyadari sikapnya sudah benar-benar menyakiti hati Drake.


"Sebaiknya kita akhiri hubungan kita. Aku doakan kamu bahagia dengan laki-laki yang sudah lama kamu cintai itu." Rasa sesak seketika memenuhi hati Keiva, sungguh dirinya tidak menyangka kalau kalimat yang pantas dia terima itu, bisa sangat menyakitkan saat keluar dari mulut Drake.


"Aku pergi.." Drake berdiri lalu keluar dari private room itu, meninggalkan Keiva yang mulai menangis sesenggukan. Dirinya sungguh merasa sangat menyesal dan bersalah karena sudah menyakiti laki-laki sebaik Drake.


'Mungkin inilah yang terbaik. Tidak adil jika aku terus menahannya bersamaku. Sementara hatiku masih mencintai laki-laki lain.' Batin Keiva.


Sementara itu Drake yang sudah sampai di area parkir restaurant, langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Bagaimana hasilnya Kak Drake?" Drake menolehkan kepalanya ke arah Letta yang memang menunggu di dalam mobil.


"Hubungan kami sudah berakhir.." Seketika raut sendu terulas di wajah Letta. Sungguh dirinya sangat tidak tega melihat Drake yang berusaha kuat dan terlihat baik-baik saja.


Tiba-tiba Drake tertawa kecil membuat Letta mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan sikap Drake ini.


"Kak Drake kenapa?"


"Aku sedang menertawai kebodohanku karena sudah mencintai perempuan dalam waktu yang lama, tapi akhirnya harus kecewa seperti ini. Sia-sia aku setia dan menjaga perasaanku padanya selama ini. Dasar bodoh, haha.." Letta justru merasa sedih melihat tawa Drake yang terkesan dipaksakan.


Entah dorongan keberanian dari mana, hingga tiba-tiba Letta menangkup wajah tampan Drake dengan kedua tangannya. Netra Drake pun membola, cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Letta padanya.


"Kak Drake tidak bodoh, justru perempuan itu yang sangat bodoh karena menyia-nyiakan Kak Drake yang begitu tulus dan setia padanya."


Cup..


Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir kissable Drake. Tanpa sadar Drake mengerjap berkali-kali, tidak menyangka kalau Letta akan melakukan hal seberani itu. Sementara Letta sudah terlihat salah tingkah setelah melepas kedua tangannya dari wajah Drake.


'Ah gila.. Kenapa kamu malah menciumnya, Letta..' Letta menyesali apa yang sudah dilakukannya.


Namun tiba-tiba Drake menangkup wajah Letta dengan kedua tangannya, menatap kedua netra Letta begitu dalam seraya mengulas senyumnya yang begitu tampan.


Cup..


Kini giliran Drake yang melabuhkan ciumannya di bibir ranum Letta. Menyesap dan mulai melum**tnya, sampai akhirnya Letta membalas ciuman Drake yang ternyata sangat memabukkan itu.


************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️