
Shawn berjalan mondar-mandir di ruang tamu mansion, berulang kali menghubungi Drake, untuk menanyakan apakah Drake dan anak buahnya sudah menemukan penjual rujak tumbuk seperti yang Shanaya minta atau belum. Tentu jawabannya "belum". Kalau hanya restaurant Indonesia yang menjual rujak biasa atau rujak tumbuk, pastinya tidak sulit menemukannya. Tapi kalau penjual rujak tumbuk lengkap dengan gerobak dorong atau kotak tanggungan di kota London, tentunya seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Drake muncul di ruang tamu, menghampiri Shawn dengan menenteng sekotak makanan yang dibelinya dari restaurant Indonesia.
"Ini coba lagi, pemilik restaurannya sengaja membuatkan rujak tumbuk special yang rasanya sangat otentik dengan di Indonesia. Tulisannya saja rujak bebeg Bandung" Kata Drake menyodorkan rujak di tangannya.
"Drake ini sudah bungkusan yang kesekian, percuma kamu membelinya. Shanaya ingin penjualnya dibawa kesini lengkap dengan gerobak dorong atau kotak yang ditanggungnya."
"Shawn mau mencarinya di seluruh pelosok Inggris pun, kita tidak mungkin menemukannya. Begini saja, aku akan mencari design gerobak dorong yang biasa digunakan penjual rujak tumbuk di Bandung, dan meminta toko furniture untuk membuatnya. Nanti tinggal suruh saja pemilik restaurant ini untuk datang kesini dan membuat rujak tumbuknya disini." Usul Drake.
"Wah ide bagus Drake. Segera lakukan, bayar mahal agar mereka bisa menyelesaikannya secepat mungkin." Titah Shawn yang langsung diangguki Drake.
Sanchia dan Sall yang baru menyelesaikan makan siang mereka yang terlambat, menghampiri Shawn dan Drake.
"Ada apa Shawn? Kenapa Daddy lihat Drake dan yang lainnya berkali-kali membawa bungkusan makanan? Sebenarnya apa yang kamu pesan?" Tanya Sall begitu penasaran.
"Ini Dad, Shanaya mau makan rujak tumbuk tapi harus yang dijual oleh pedagang yang menggunakan gerobak atau kotak tanggungan. Tentu saja penjual seperti itu tidak ada disini." Mata Sall dan Sanchia membulat sempurna mendengar penjelasan Shawn.
"Hah, Shanaya aneh-aneh saja. Bagaimana mungkin kalian bisa menemukannya disini." Ujar Sall sambil menggelengkan kepalanya.
"Shawn, apa Shanaya sedang mengidam? Sudah di cek belum?" Shawn begitu terkejut mendengar perkataan Mommy-nya, sama sekali tidak terpikirkan kalau apa yang diminta istrinya itu karena efek mengidam. Tapi kalau benar istrinya sedang hamil, tentu Shawn akan sangat bahagia sekali.
Melihat Shawn yang hanya diam mematung, Sanchia jelas tahu kalau putranya itu belum memeriksa apakah Shanaya sedang hamil atau tidak. Sanchia segera menuju ke ruang medis yang terletak di lantai 1 dan mengambil sesuatu yang dibutuhkan Shawn saat ini.
"Ini ambillah, periksa apakah benar Shanaya sedang hamil atau tidak."
"Baik Mom.." Shawn segera berlari menuju kamarnya yang terletak di lantai 2 untuk menemui istrinya.
*************************
Shawn lagi-lagi berjalan mondar-mandir, namun kali ini dia melakukannya tepat di depan kamar mandi, menunggu istrinya yang sedang menggunakan testpack yang tadi diberikan Mommy-nya.
"Sweetheart.. Cepatlah, kenapa lama sekali?" Tanya Shawn begitu tidak sabar. Namun tidak ada jawaban apapun dari Shanaya.
"Sweetheart, kalau kamu tidak membuka pintunya, aku dobrak ya.." Ujar Shawn mulai khawatir karena istrinya tidak kunjung keluar, bahkan tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Baiklah..1, 2.."
Ceklek..
Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Shanaya yang terlihat sembab seperti habis menangis.
"Sweetheart, kamu kenapa? Hasilnya negatif? Sudah tidak apa-apa.." Ucap Shawn seraya memeluk dan mengelus punggung Shanaya, berusaha menenangkan istrinya itu.
"Aku.. Hamil, Honey..hiks..hiks" Jawab Shanaya disela isak tangisnya.
Shawn melerai pelukannya dan menatap dalam netra Shanaya yang memerah.
"Iya, aku hamil Honey. Akhirnya kita akan menjadi orangtua..hiks..hiks.." Tangis haru Shanaya semakin keras, sedangkan Shawn justru tersenyum senang, disertai rasa haru dan syukur yang membuncah dari dalam hatinya. Shawn kembali memeluk Shanaya dengan erat.
Selang beberapa detik, Shawn melonggarkan pelukannya lalu menatap dalam netra Shanaya yang masih saja mengeluarkan air mata.
"Terima kasih Sweetheart, karena sudah mencintaiku, menikah denganku, mengandung anakku dan menjadi sumber kebahagiaanku. Aku janji, akan menjagamu dan bayi kita dengan baik." Dikecupnya kening Shanaya dengan lembut, lalu beralih mengecup bibir ranum Shanaya dengan sama lembutnya. Shanaya semakin terisak, merasa terharu dengan ucapan dan sikap manis suaminya.
"Sudah jangan menangis lagi Sweetheart, tidak baik untuk janin dalam kandunganmu." Shanaya hanya mengangguk mendengar perkataan suaminya.
"Jadi mana pedagang rujak tumbuknya?" Seketika kepala Shawn mendadak kembali pusing mendengar pertanyaan Shanaya padanya.
"Aku mau pulang ke Bandung Honey, dan membeli rujak tumbuknya disana." Raut terkejut tergambar jelas di wajah Shawn saat ini.
"Tidak boleh Sweetheart.. Di awal kehamilan, biasanya ibu hamil tidak boleh melakukan perjalanan dengan pesawat." Jelas Shawn memberi pengertian pada Shanaya.
"Tidak apa-apa Honey.. Aku pernah membaca di beberapa artikel, hal itu tidak berbahaya selama ibu hamil tidak memiliki keluhan atau riwayat penyakit yang berbahaya." Shawn menggeleng cepat mendengar penjelasan Shanaya.
"Please Sweetheart, aku tidak mau mengambil resiko. Aku khawatir terjadi sesuatu denganmu dan kandunganmu. Tenang saja, aku pasti bisa menemukan pedagang rujak tumbuk seperti yang kamu mau, Sweetheart." Shawn masih berusaha membujuk Shanaya agar berubah pikiran. Namun ternyata ibu hamil itu berubah sangat keras kepala.
"Pokoknya aku mau makan rujak tumbuk di Bandung. Titik." Tegas Shanaya, lalu berjalan menuju ruang walk in closet untuk membereskan pakaian yang akan dibawanya ke Indonesia.
Shawn menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menghubungi Drake melalui ponselnya.
"Drake minta Tim Dokter Kandungan Knight Hospital untuk memeriksa keadaan Shanaya saat ini. Beritahu juga, kalau beberapa dari mereka harus ada yang ikut dengan kita untuk melakukan perjalanan ke Indonesia nanti malam."
"Hah, kenapa mendadak sekali? Aku harus memeriksa dokumen mereka terlebih dahulu. Semoga saja dari mereka ada yang bisa ikut dengan kita. Memangnya ada apa kita tiba-tiba harus berangkat ke Indonesia Shawn?" Nada suara Drake terdengar sangat penasaran.
"Shanaya ingin makan rujak tumbuk di Bandung, Drake."
"Oh My God.. Istrimu memang luar biasa. Hmm, baiklah, aku akan segera mengurus semuanya."
"Ok.. Thanks Drake."
"You're welcome Shawn.."
Shawn memutus panggilan teleponnya lalu menyusul Shanaya ke ruang walk in closet. Sementara di seberang sana, Drake tersenyum dan sangat bersemangat mengurus apa yang diminta Shawn padanya. Dalam hatinya, Drake bersyukur dan berterima kasih pada Shanaya. Karena mengidamnya Shanaya, membuat Drake bisa kembali ke Bandung dan bertemu lagi dengan pujaan hatinya, Keiva, setelah seminggu menahan rindu.
'Keiva.. Tunggu aku ya. I miss you, Babe..' Lirih Drake dalam hati.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️