Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 22 Kakak Angkat?



MARKAS CABANG TODDESTERN - COPENHAGEN, DENMARK


Shawn menatap tajam monitor CCTV yang menunjukkan Marisha alias Seira di ruang tahanan markas. Seira masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, akibat pengaruh obat bius yang disuntikkan oleh Shawn 1 jam yang lalu.


Drake tampak menghampiri Shawn, setelah melakukan penyelidikan terhadap anak buah Sheran dan Seira yang berhasil mereka tangkap di ruang investigasi.


"Shawn, bagaimana luka tembak di punggungmu?" Shawn melirik Drake sekilas, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke monitor CCTV.


"Sudah diobati oleh Dokter." Drake hanya berdehem menanggapi perkataan. Terlebih keadaan Shawn terlihat baik-baik saja, sehingga tidak ada yang harus Drake khawatirkan.


"Drake, informasi apa yang sudah kamu dapat?" Tanya Shawn to the point, sudah tidak sabar mendengar penjelasan Drake.


"Nama asli Marisha adalah Seira M. Laurent, pria yang kamu tembak sebelumnya adalah saudara kembar Seira yang bernama Sheran M. Laurent. Mereka berdua adalah anak dari Ketua klan besar Perancis Ange DeLaMort, yang bernama Allard Laurent. Motif mereka melakukan penyerangan besar-besaran terhadap klan kita adalah untuk meruntuhkan kekuatan Klan Toddestern dan merebut semua daerah kekuasaan Toddestern." Shawn tampak tidak mengubah ekspresi datar di wajahnya, meskipun sebenarnya dia cukup terkejut dengan apa yang didengarnya.


"Apa Ketua Klan itu mempunyai dendam di masa lalu terhadap Toddestern atau orangtuaku? Mungkinkan dia salah satu orang yang pernah Daddy hancurkan dulu?" Tanya Shawn lebih lanjut.


"Aku masih menyelidikinya, tapi menurut orang-orang yang aku tanyai, motifnya murni karena kekuasaan." Jawab Drake yang langsung diangguki Shawn.


"Hmm, besar juga nyali Ketua klan itu, dia sampai berani mengirim Putrinya untuk masuk ke dalam lingkungan kita Shawn. Seira, aku akui dia sangat pintar mengelabui kita. Bahkan saat kita menguji kejujurannya menggunakan mesin lie detector atau tes psikologi, dia lolos dari semua ujian itu dengan mudah. Aku yakin dia sangat manipulatif, jangan sampai kita tertipu lagi Shawn." Perkataan Drake membuat pandangan Shawn semakin tajam, bahkan seringaiannya muncul.


"Aku akan membuat dia membayar apa yang sudah dia lakukan pada kita semua. Aku akan tetap membiarkannya hidup sampai Shanaya kembali. Setelah itu aku akan menyiksa dan membunuhnya dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan." Ucap Shawn penuh tekad.


*************************


PRIVATE ISLAND - DENMARK


Di sebuah mansion yang terletak di tengah pulau pribadi yang dikelilingi laut biru serta perkebunan yang luas, Sheran terbaring di atas tempat tidur mewah berukuran besar. Sheran meringis menahan rasa sakit akibat luka tembak di dada dan perutnya. Matthew dan dua anak buah Sheran yang bernama Jhordy dan Ben, hanya bisa menatap Sheran dengan tatapan khawatir tanpa bisa berbuat apa-apa. Berkali-kali Matthew menghubungi Dokter Jay, dokter pribadi Sheran yang sedang berada di Odense, namun nomor dokter itu sama sekali tidak bisa dihubungi.


"Aaargh.. Jhordy, Ben, bagaimana ini? Aku tidak berani mengeluarkan peluru dari dada dan perut Boss, meskipun disini ada perlengkapan medis yang cukup lengkap. Harusnya aku meminta Lupin (Pilot) untuk menjemput Dokter Jay dulu, bukannya langsung mencari tahu keberadaan Nona Muda dan anggota klan yang lain." Matthew meluapkan rasa kesal sekaligus kekhawatirannya, namun Jhordy dan Ben yang berdiri di belakang Matthew tidak berani mengeluarkan suara sepatah katapun. Mereka juga tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong Boss mereka saat ini.


Hingga beberapa saat kemudian, Shanaya yang sudah sadar dari pingsannya di kamar sebelah, melangkah masuk ke dalam kamar dimana Sheran, Matthew, Jhordy dan Ben berada.


"Biarkan aku yang mengeluarkan peluru dari dada dan perut Sheran." Perkataan Shanaya berhasil membuat Matthew, Jhordy dan Ben membelalakan matanya. Di satu sisi, mereka merasa curiga pada Shanaya, takut Shanaya melakukan hal berbahaya pada Boss mereka. Namun di sisi lain, ada sedikit harapan di hati mereka, agar Shanaya bisa mengobati Boss mereka, Sheran.


"Kalian bisa mengawasiku, aku sungguh hanya ingin menolongnya." Matthew menatap Sheran yang terkulai lemas dengan masih menahan ringisannya. Setelah melihat anggukan lemah dari Sheran, Matthew akhirnya mengizinkan Shanaya untuk menolong Sheran.


"Baiklah.. Segera obati Boss sekarang juga, dan jangan berpikir untuk berbuat macam-macam. Karena kamu akan menyesal jika berani melakukannya." Ancam Matthew, namun Shanaya tampak tidak peduli.


Shanaya segera mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, setelah mengambil 2 kotak medis berukuran besar dari atas meja. Benar saja, isi kotak itu cukup lengkap untuk mengeluarkan peluru dari dada dan perut Sheran dan juga menjahit lukanya.


"Tolong bantu aku mensterilkan peralatan ini." Jhordy dan Ben segera mendekat untuk membantu Shanaya, berbeda dengan Matthew yang hanya mengawasi Shanaya dengan mata elangnya.


"Tidak ada obat anestesi, Sheran akan sangat kesakitan jika.." Ujar Shanaya yang langsung dipotong oleh Sheran.


"Lakukan.. Saja.." Lirih Sheran.


*************************


Shanaya memandang wajah Sheran yang sudah terlelap selama beberapa jam, setelah Shanaya berhasil mengeluarkan peluru dan menjahit luka Sheran sebelumnya. Entah kenapa, Shanaya merasa khawatir dengan keadaan Sheran saat ini, meskipun Sheran sudah melakukan kesalahan besar dengan menculik dan mengancam keselamatan Shanaya juga keluarganya.


"Aaahh.." Tiba-tiba terdengar suara rintihan dari mulut Sheran. Shanaya segera mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, khawatir Sheran membutuhkan bantuannya.


"Dimana.. Matthew?" Shanaya menyipitkan kedua matanya mendengar pertanyaan Sheran.


"Apa yang kamu maksud adalah temanmu yang bertato di leher itu?" Sheran mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Shanaya.


"Sekitar 10 menit yang lalu dia keluar untuk menerima telepon. Apa perlu aku panggilkan?" Tanya Shanaya yang langsung ditanggapi gelengan kepala dari Sheran.


"Kenapa kamu menyelamatkanku?" Tanya Sheran lirih.


"Karena rasa kemanusiaan." Jawaban singkat Shanaya hanya diangguki Sheran. Namun seketika senyum tipisnya terulas.


"Aneh sekali, Shawn yang menembakku, tapi kamu malah menyelamatkanku. Shawn pasti sangat kecewa padamu." Perkataan Sheran yang diakhiri kekehan kecil, begitu mengejutkan Shanaya.


"Apa Kak Shawn yang menembakmu?" Sheran mengangguk singkat tanpa mengeluarkan jawaban. Mulut Shanaya seolah kelu, tidak menyangka kalau Sheran terluka karena Shawn, dan Shanaya justru menyelamatkan Sheran.


"Aku menembak punggung Shawn lebih dulu." Ucapan santai Sheran seketika memancing emosi Shanaya.


"Beraninya kamu menembak kakakku!!" Sheran bukannya merasa bersalah, dia justru kembali mengulas senyum tipisnya.


"Aku yakin dia tidak mengalami luka parah, setidaknya tidak lebih parah daripada aku." Emosi Shanaya kembali terpancing dengan perkataan Sheran yang terdengar sangat menyebalkan itu.


"Shawn sudah menangkap Seira, dan aku tidak akan mengampuninya jika berani menyakiti Seira. Akan aku pastikan dia menyesal, jika berani melakukan hal bodoh dengan mengancam keselamatan Seira. Karena kamu ada dalam kuasaku." Sheran memamerkan seringainya dengan tatapan berkilat tajam pada Shanaya. Namun Shanaya tidak terlihat takut sedikitpun, Shanaya justru mendekatkan wajahnya ke wajah Sheran, lalu menunjukkan senyum sinis di wajah cantiknya.


"Justru kamulah yang akan menyesal, kakakku pasti akan menghancurkanmu." Ancam Shanaya, yang langsung memancing emosi Sheran.


Sheran mencekik leher jenjang Shanaya dengan tangan kekarnya. Netra Sheran yang tajam tampak menghunus tepat di mata jernih Shanaya.


"Jangan pernah mengancamku. Aku yang akan menghancurkan kakak angkatmu lebih dulu." Perkataan Sheran membuat tenggorokan Shanaya semakin tercekat, bukan ancaman Sheran yang membuatnya begitu terkejut, tapi kata "kakak angkat" yang diucapkan Sheran sebelumnya.


'Kakak angkat? Apa maksud perkataannya itu?' Tanya Shanaya dalam hati.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️