Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 12 Memberi Kesempatan



Cerahnya sinar mentari pagi, yang merayap naik di akhir pekan musim semi yang indah, nampaknya berbanding terbalik dengan suasana hati Shawn yang suram. Rencananya yang sudah tersusun rapi untuk mengajak Shanaya berpiknik, gagal total karena kedatangan Bradley yang datang menjemput Shanaya untuk berjalan-jalan hari ini. Shanaya sudah meminta izin pada Shawn, dan tentu saja Shawn tidak mempunyai alasan untuk tidak mengizinkan Shanaya pergi bersama Bradley.


Dari balkon kamar di lantai dua mansion, tatapan nanar dari netra Shawn mengarah pada mobil sport hitam, yang baru saja melaju meninggalkan halaman mansion yang sangat luas. Apalagi hati Shawn serasa teremas kuat melihat pemandangan sebelumnya, dimana Shanaya terlihat berbinar senang, saat Bradley membukakan pintu untuk Shanaya masuk ke dalam mobilnya.


Mungkin Shanaya dan Bradley hendak menghabiskan akhir pekan dengan berjalan-jalan ke tempat yang indah seperti ke Pantai West Wittering sebelumnya. Shawn tetap meminta beberapa anak buah untuk selalu mengawasi Shanaya, tapi Shawn sudah bertekad untuk tidak terlalu ikut campur dengan urusan adiknya itu.


Shawn menghela nafas panjang, begitu mobil sport itu sudah tidak terlihat karena terhalang pohon pinus yang membentang di sepanjang taman mansionnya. Shawn mengedarkan pandangannya berusaha mengusir sesak yang semakin memenuhi rongga hatinya. Hingga mata tajamnya menangkap sosok Marisha yang baru saja berjalan keluar dari mansion, menyusuri halaman hendak menuju pintu gerbang yang jaraknya cukup jauh. Marisha harus melewati area halaman mansion, taman bunga dan juga jajaran pohon pinus yang luas untuk sampai ke pintu gerbang.


'Mau kemana perempuan itu? Cukup lelah jika dia berjalan menuju pintu gerbang mansion. Tapi sudahlah, buat apa aku peduli.' Ujar Shawn dalam hati.


Shawn memang bertahan dengan sikap tidak pedulinya, namun rasa ingin tahu rupanya cukup kuat mengusik pikirannya. Hingga Shawn memutuskan bersiap dengan secepat kilat, lalu turun menuju garasi dan melajukan mobil sport biru metallic-nya dengan perlahan cukup jauh dari Marisha.


Netra Shawn sesekali memandangi deretan rekaman CCTV di tab miliknya, yang menampakkan sosok Marisha yang saat ini sudah masuk ke dalam taksi online yang sebelumnya terparkir tepat di depan pintu gerbang mansion. Shawn bergegas melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbang setelah mengangguk pelan, membalas sapaan 4 orang pengawal yang sedang berjaga.


Shawn membuntuti taksi online yang ditumpangi Marisha, namun tetap menjaga jarak agar Marisha dan sopir taksi tidak menyadarinya. Hingga setelah beberapa belas menit, taksi online itu tampak menurunkan Marisha di sebuah cafe yang terlihat tidak terlalu ramai, lalu Marisha segera masuk ke dalam cafe.


Setelah memarkirkan mobilnya di bagian pinggir halaman parkir cafe, Shawn segera memasuki cafe. Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Marisha, namun tidak menemukan sosok yang dicarinya. Akhirnya Shawn memutuskan duduk di salah satu sudut cafe yang sepi, setelah memesan secangkir americano dan sepiring chocolate cake.


'Kemana perginya perempuan itu? Apa ini tempat kerjanya atau dia mau menemui seseorang disini?' Tanya Shawn dalam hati.


Saat Shawn sedang menikmati suapan cake dan americano-nya, terdengar suara ribut-ribut di salah satu ruangan bertuliskan "Manager Room". Beberapa pengunjung memilih tidak ambil peduli dengan suara-suara yang lebih mirip adu mulut itu. Shawn pun awalnya bersikap sama, namun pikirannya berubah saat indera pendengarannya seperti mengenali suara salah seorang diantaranya. Sampai akhirnya Shawn memutuskan sedikit mengintip dan menguping dari dinding samping, dekat dengan para pelayan cafe yang juga melakukan hal yang sama.


"Sepertinya Marisha tidak tahu, kalau Mr. Dominic sudah memecatnya karena tidak masuk selama lebih dari 2 minggu ini." Ujar salah satu pelayan.


"Tapi kan Marisha sudah meminta izin pada Mr. Dominic untuk tidak masuk karena sakit, dia juga meminta Calisa menyampaikan keadaannya pada Mr. Dominic. Marisha juga menggunakan sisa jatah cuti tahunannya setelah dia sembuh. Dia selama ini selalu rajin dan tidak pernah sakit dan mengambil cuti. Apa salahnya jika kali ini dia mengambil haknya." Timpal pelayan lainnya.


"Marisha terlalu bodoh karena selalu mempercayai Calisa dan menganggapnya sahabat. Padahal aku tahu pasti, kalau Calisa selalu menjelek-jelekan Marisha di depan Mr. Dominic. Saat Marisha tidak masuk pun, Calisa terus saja mengatakan kalau Marisha berbohong mengatakan dirinya sedang sakit. Hingga akhirnya Mr. Dominic memutuskan untuk memecat Marisha." Pelayan yang terlihat lebih senior juga ikut menimpali.


"Benarkah? Tapi Calisa memang selalu mencari perhatian Mr. Dominic dengan menjatuhkan orang lain." Pelayan lain membenarkan.


"Kasihan sekali Marisha, dia begitu baik. Setelah ini bagaimana dia akan membiayai hidup dan juga kuliahnya."


Shawn terlihat menyimak serius obrolan beberapa pelayan itu, hingga beberapa saat kemudian Marisha terlihat keluar dari ruangan Manager itu, dengan wajah yang lesu dan merah. Shawn menyembunyikan dirinya agar Marisha tidak menyadari keberadaannya. Terlebih Marisha berpamitan pada teman-teman pelayan cafe, sebelum melangkahkan kakinya keluar dari cafe.


*************************


Di pinggir sebuah danau yang terletak di taman kota, Marisha tampak duduk menyandarkan punggungnya pada bangku taman. Pandangannya menerawang seolah memikirkan apa yang baru saja terjadi padanya. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Shawn memperhatikan Marisha yang larut dalam pikirannya. Ada perasaan kasihan yang terselip di dalam hati Shawn, meskipun rasa sebal pada Marisha juga masih enggan pergi sepenuhnya.


"Shawn?" Marisha tampak sangat terkejut, saat tiba-tiba Shawn duduk tepat disebelahnya. Sedangkan pandangan Shawn mengarah lurus ke arah danau, tanpa menjawab sepatah katapun.


Marisha kembali mengarahkan pandangannya ke arah danau, enggan memulai obrolan dengan Shawn disaat suasana hatinya masih begitu buruk.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Shawn dengan ekspresi datarnya.


"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu." Ujar Marisha enggan.


"Oh.." Marisha hanya menanggapi singkat, karena sekalipun dia bertanya pada Shawn apakah dia mengikutinya, Shawn tentu saja tidak akan mengakuinya.


"Sepertinya sudah cukup lama kamu tidak masuk kuliah. Apa kamu berniat drop out?" Pertanyaan Shawn tentu saja cukup menohok hati Marisha. Sebenarnya untuk biaya kuliah dia tidak perlu memikirkannya, karena Marisha bisa mengandalkan beasiswanya. Namun uang tabungannya sudah sangat menipis, dia harus mencari pekerjaan lain untuk membiayai hidup dan mencari tempat tinggal.


"Hmm, aku tidak bisa terus-terusan tinggal di mansion-mu, meskipun Shanaya memintanya. Tapi aku juga tidak punya cukup uang untuk mencari tempat tinggal dan membiayai hidupku. Bolehkah aku bekerja sebagai pelayan di mansion-mu?" Shawn mengerutkan keningnya seraya menatap ke arah Marisha, karena terkejut  dengan perkataan Marisha.


"Sebenarnya aku sudah mengatakan hal ini pada Shanaya, tapi dia menolaknya. Shanaya menyuruhku tinggal di mansion seterusnya, tapi aku tidak bisa melakukannya tanpa bekerja. Tolong izinkan aku bekerja sebagai pelayan." Shawn memandang Marisha yang terlihat begitu memelas saat memohon padanya.


Shawn berpikir dan mempertimbangkan keputusan apa yang harus dibuatnya. Selama ini Shawn tidak menemukan kejanggalan tentang latar belakang Marisha bahkan kedua orang tuanya yang sudah meninggal.


Ayah Marisha adalah seorang pengusaha menengah yang merupakan pria keturunan Inggris-Indonesia. Dia menikah dengan sahabatnya semasa kuliah yang merupakan orang asli Indonesia. Namun keduanya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Karena itulah Marisha memutuskan belajar bahasa Indonesia dan belajar memasak masakan Indonesia, meskipun sudah kehilangan kedua orangtuanya sejak kecil.


Namun insting Shawn yang terlalu kuat, seolah menolak semua fakta yang diperolehnya. Kini keadaan Marisha sedikit mengusik hati nuraninya, dan hal itu berhasil mengubah pemikirannya.


"Baiklah.. Aku akan meminta Uncle Barry untuk mengatur jadwal pekerjaan untukmu. Mulai besok masuklah kuliah, kamu akan ketinggalan banyak mata kuliah jika terus membolos." Ujar Shawn kembali memasang wajah datarnya.


"Benarkah Shawn?" Pertanyaan Marisha dijawab Shawn dengan anggukan.


"Terima kasih Shawn, aku benar-benar berhutang budi padamu." Ungkap Marisha dengan mata berbinar seraya memeluk Shawn tanpa aba-aba. Selama beberapa detik Shawn bergeming, tidak menyangka Marisha akan memeluknya denga erat. Namun setelah kesadarannya kembali, Shawn segera mendorong tubuh Marisha.


"Eh maafkan aku Shawn, aku hanya terlalu bahagia." Ujar Marisha sedikit canggung.


"Jangan berani memelukku lagi." Marisha menganggukkan kepalanya menatap netra Shawn yang tajam menghujam matanya.


"Maaf, aku sungguh tidak bermaksud melakukannya." Marisha kembali mengungkapkan penyesalannya.


"Ayo pulang.. Nampaknya aku punya tugas pertama untukmu." Shawn berdiri dari duduknya, disusul oleh Marisha yang kini memasang ekspresi ingin tahu.


"Tugas apa?" Marisha mengikuti langkah Shawn yang lebar.


"Buatkan aku sop buah ala Indonesia, sepertinya segar meminumnya siang-siang begini." Sesaat Marisha tertegun mendengar perkataan Shawn. Namun beberapa detik kemudian, dia berjalan lebih cepat untuk mendahului langkah Shawn menuju tempat parkir taman.


"Aku akan membuatkan sop buah ala Indonesia terenak untukmu." Semangat dan binar bahagia jelas terulas di wajah Marisha.


Tanpa sadar, senyum tipis Shawn terulas di wajah dinginnya karena melihat semangat Marisha. Namun hal itu sama sekali tidak disadari Marisha, yang berjalan cepat di depan Shawn.


'Kenapa hari ini aku begitu baik pada perempuan menyebalkan itu? Aku merasa tidak tega melihat keadaannya. Ah sudahlah, kenapa aku jadi memikirkan hal ini..' Ujar Shawn dalam hati.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️