Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 25 Rindu



PENTHOUSE KNIGHT - COPENHAGEN, DENMARK


Sudah berjam-jam Shawn ditemani Drake di ruang kerja, untuk mencari informasi tentang sahabat baik Mommy-nya dulu, yang juga Papa dari Seira. Shawn memutuskan untuk tidak bertanya pada Mommy dan Daddy-nya, karena tidak yakin mereka akan memberikan jawaban yang cukup memuaskannya. Akhirnya Shawn memilih meretas data-data milik Sanchia juga klan Ble Asteri di Indonesia, klan pertama yang dipimpin oleh Sanchia dulu.


"Nama pemberian orangtuanya adalah Alrico Benicio, namun Alrico beberapa kali mengganti nama belakangnya setelah menjadi yatim piatu juga untuk mempermudah beberapa misinya. Dia baru mengganti namanya menjadi Allard Laurent saat pindah ke Perancis dan mendirikan klan disana.."


Shawn mendengarkan informasi yang dibacakan Drake tentang Alrico. Semakin banyak informasi yang Shawn dengar, semakin berkerut juga keningnya. Terutama tentang perasaan Alrico yang sudah mencintai Sanchia, sejak mereka masih anak-anak di Spanyol dulu. Meskipun Alrico adalah anak yatim piatu sejak kecil, tapi Alrico tumbuh menjadi sosok yang berprestasi, jenius dan mempunyai banyak kemampuan yang luar biasa. Meskipun Alrico sengaja menutupinya dari dunia luar.  (Kalau mau tahu kisah lengkap tentang persahabatan dan betapa gilanya perasaan Alrico terhadap Sanchia, bisa mampir ke The Killer Knight VS The Mafia Queen).


"Sepertinya Alrico adalah saingan Daddy yang cukup kuat, meskipun Mommy tidak pernah mencintai orang ini." Ujar Shawn yang diangguki Drake.


"Drake cari tahu juga tentang asal-usul Seira dan Sheran, aku ingin informasi sedetail-detailnya."


"Ok Shawn.." Jawab Drake tegas.


Selang beberapa belas menit kemudian, Shawn keluar dari ruang kerjanya, hendak menemui kedua orangtuanya untuk menanyakan lebih lanjut tentang langkah mereka selanjutnya. Tapi niatnya urung, saat seorang pelayan nampak keluar dari kamar yang ditempati Seira dengan membawa kotak P3K.


"Ada apa?" Tanya Shawn tanpa basa-basi.


"Saya diminta Nyonya Sanchia untuk memberikan obat, mengobati luka dan bekas memar Nona Seira dengan salep penghilang bekas luka." Penjelasan pelayan itu sedikit menohok hati Shawn. Karena dirinyalah yang sudah membuat semua luka dan memar di tubuh Seira, saat bertarung sebelumnya.


Ada sedikit perasaan bersalah di hati Shawn, tapi segera ditepisnya, karena menganggap Seira memang layak mendapatkan pelajaran darinya.


Shawn memutuskan untuk melihat keadaan Seira, meskipun pelayan itu mengatakan kalau Seira baru saja beristirahat setelah meminum obat untuk mempercepat penyembuhan lukanya. Dan benar saja, pemandangan Seira meringkuk dengan mata terpejam adalah pemandangan pertama yang dilihat Shawn begitu masuk ke dalam kamar Seira. Shawn menghela nafas panjang, saat matanya terfokus pada beberapa bekas luka dan memar di lengan dan tangan Seira yang tidak tertutupi kaos pendek yang dikenakannya. Shawn menduga, bagian-bagian tubuh Seira yang tertutupi pun pasti memiliki bekas luka dan memar yang sama seperti itu, karena serangannya pada Seira sangatlah keras.


Shawn perlahan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. Dipandanginya sosok perempuan yang sempat dia anggap perempuan baik bernama Marisha itu. Sesungguhnya hati Shawn begitu kecewa saat mengetahui kalau Marisha adalah sosok musuh berbahaya yang siap memporak-porandakan keluarga dan klannya. Bahkan Marisha tega menculik Shanaya yang begitu percaya dan menyayanginya seperti saudara kandungnya sendiri.


'Aku sungguh kecewa dan marah padamu Marisha. Aku tidak akan memaafkanmu begitu saja.' Ucap Shawn dalam hati.


Shawn berdiri dan hendak keluar dari kamar itu, namun tiba-tiba Seira menangis dan mengigau dalam tidurnya.


"Papa, bangunlah.. Seira sangat merindukan Papa.." Shawn tertegun, apalagi saat melihat rembesan air mata yang keluar dari sudut mata Seira yang terpejam.


*************************


Shanaya terlihat sibuk mencari sesuatu di seluruh penjuru kamar yang ditempatinya. Raut wajahnya tampak sudah putus asa, karena baru menyadari kalung yang selalu melingkar di lehernya ternyata sudah tidak ada.


"Apa kamu mencari ini?" Kemunculan Sheran yang tiba-tiba sangat mengejutkan Shanaya, terlebih Sheran memegang kalung yang dicari Shanaya sejak tadi.


Secepat kilat Shanaya segera merebut kalung yang dipegang Sheran dengan kasar, lalu memasukannya ke dalam saku celananya.


"Tapi maaf, chip didalamnya sudah aku buang sebelum kita berangkat kesini." Perkataan Sheran yang terdengar enteng itu, memancing emosi Shanaya.


'Brengseeekk.. Kalau begini caranya, bagaimana Kak Shawn bisa menemukanku.' Rutuk Shanaya dalam hati.


"Jangan berpikir kamu bisa kabur dari sini Shanaya, tidak akan ada yang bisa menemukanmu disini." Ucap Sheran penuh penekanan.


'Aku harus bisa berpura-pura menurut padanya, sambil aku mencari cara untuk memberi kabar pada Kak Shawn dimana aku berada.' Batin Shanaya.


"Aku tentu tidak akan melakukan hal bodoh yang membahayakan nyawaku untuk kabur dari sini. Tapi setidaknya berikan aku kesempatan untuk berjalan-jalan di pinggir pantai. Rasanya aku sudah bosan, terkurung di dalam kamar yang sempit ini." Shanaya memasang raut memelas untuk membujuk Sheran, dan nampaknya cara Shanaya ini cukup berhasil.


"Baiklah, kamu boleh berjalan-jalan di pinggir pantai.." Putus Sheran.


"Tapi harus bersamaku." Mendengar perkataan Sheran, raut wajah Shanaya berubah kecewa seketika. Tapi Sheran tidak peduli, dia justru tersenyum jahil seraya menggenggam tangan Shanaya, lalu menariknya agar mengikuti langkahnya keluar dari kamar. Shanaya hanya berusaha menurut, meskipun langkah gontainya tentu disadari Sheran sebagai bentuk protes Shanaya atas syaratnya.


Setibanya di tepi pantai, Shanaya melepas paksa genggaman tangan Sheran dari tangannya. Dia memilih mendudukkan dirinya di atas pasir pantai tepat di bawah pohon kelapa. Sheran ikut duduk tepat di sebelah Shanaya, dia bahkan tidak memberi jarak sama sekali dengan Shanaya. Hal ini membuat Shanaya risih, tapi kali ini Shanaya bertekad untuk "berpura-pura menurut" pada Sheran, agar Sheran tidak terlalu curiga dengan niatnya untuk melarikan diri.


"Kamu suka?" Tanya Sheran seraya memiringkan wajahnya, menatap Shanaya yang mengerutkan keningnya.


"Suka apa?" Shanaya malah balik bertanya pada Sheran.


"Tentu saja pantainya yang indah.." Jelas Sheran.


"Tidak.. Aku tidak suka pantai yang terlalu sepi." Jawab Shanaya jujur, membuat Sheran cukup kecewa.


"Lalu Pantai apa yang kamu sukai?" Tanya Sheran sedikit penasaran.


"Aku menyukai semua jenis pantai yang indah, namun bisa aku kunjungi dengan semua keluargaku." Sheran menganggukkan kepalanya, lalu menatap laut biru yang terbentang dihadapannya.


"Keluarga.. Sudah lama rasanya aku tidak mendengar kata itu." Ucapan Sheran yang terdengar lirih dan diakhiri senyuman miris, membuat Shanaya memandang Sheran penuh tanya.


Tiba-tiba tampak sebuah helikopter mendekat ke arah mansion, Sheran berdiri dari duduknya dan menatap ke arah helipad yang berada di atas rooftop mansion, dimana helikopter itu mendarat.


"Penjaga mansion ini sudah datang, dia pasti membawa banyak bahan makanan dan keperluan untuk kita. Ayo kita masuk, mungkin kamu akan menyukai apa yang dia bawa." Ujar Sheran.


"Hmm, bolehkah aku tetap disini? Aku masih ingin menikmati pemandangan disini."


Sheran tampak ragu untuk meninggalkan Shanaya sendirian di tepi pantai, tapi saat ini dia pun ingin menemui beberapa anak buahnya yang baru datang. Karena bukan hanya penjaga mansion yang membawa bahan makanan yang sedang dia tunggu, melainkan juga informasi penting tentang adik dan anak buahnya yang mungkin dibawa oleh Lupin dan orang-orang kepercayaannya itu.


"Baiklah.. Ingat, aku dan anak buahku akan mengawasimu dari kejauhan. Jangan mencoba melakukan hal bodoh yang akan kamu sesali nantinya."


Shanaya hanya mendengus pelan mendengar ancaman Sheran, dia malah mengalihkan pandangannya ke arah laut dan tidak menghiraukan Sheran yang masih memandanginya dengan tatapan serius. Sheran lalu melangkah pergi menuju mansion, setelah diabaikan beberapa saat oleh Shanaya.


'Kak Shawn, apakah saat ini kamu sedang mencariku? Mom.. Dad.. Apa kalian sudah tahu kalau aku diculik? Aku benar-benar merindukan kalian.' Air mata Shanaya menetes tanpa bisa ditahannya.


Selama beberapa saat, Shanaya larut dalam pikirannya. Angin pantai yang sejuk bahkan berhasil menina-bobokannya hingga tertidur sambil bersandar pada pohon kelapa dibelakangnya.


Sheran yang baru saja kembali, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Shanaya yang bisa tertidur di sembarang tempat seperti itu. Namun pandangan Sheran berubah sendu, melihat sisa air mata di sudut mata dan kedua pipi Shanaya yang mulus.


'Sepertinya dia habis menangis.. Dia pasti ingin pulang karena merindukan keluarganya. Tapi aku tidak akan melepaskannya, apalagi sebelum aku bisa mendapatkan Seira kembali.' Ujar Sheran dalam hati.


Sheran perlahan menggendong Shanaya yang begitu nyenyak tertidur, bahkan tidak menyadari kalau saat ini tubuh mungilnya berada dalam dekapan tubuh kekar Sheran. Shanaya justru semakin membenamkan kepalanya di dada Sheran, tentu saja hal ini memancing senyuman di wajah Sheran yang tampan.


'Andai saja aku bisa memilikinya..' Lirih Sheran dalam hati.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️