Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 53 Perasaan yang Menghangat



Sebuah pil berwarna hitam disuapkan Shawn langsung ke mulut Shanaya, selang beberapa saat kemudian Shawn pun menyuntikkan cairan khusus di lengan istrinya itu. Direbahkannya tubuh Shanaya, karena obat yang dibuat khusus oleh Shawn untuk memulihkan ingatan Shanaya, memang memberikan efek kantuk yang cukup kuat.


"Semoga ingatanku cepat pulih ya Sayang." Harap Shanaya yang langsung diangguki Shawn.


"Akupun berharap seperti itu Sayang." Balas Shawn seraya menatap Shanaya penuh cinta.


"Kenapa kamu tidak memberikan obat ini begitu kamu datang ke Indonesia Sayang? Supaya proses pemulihan ingatanku bisa lebih cepat." Pertanyaan Shanaya dibalas ekspresi ragu yang jelas. Membuat Shanaya semakin bertanya-tanya dengan alasan Shawn menunda memberikannya obat, padahal Shanaya tahu kalau Shawn begitu bekerja keras menyelesaikan penelitian juga proses pembuatan obat itu.


"Aku sempat berpikir, kalau kamu tidak mencintaiku, sehingga tidak mau mengingat kenanganmu bersamaku." Shanaya terhenyak kaget mendengar jawaban Shawn yang tidak diduganya.


"Aku sangat mencintaimu Sayang.. Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?" Nada suara Shanaya terdengar penuh penekanan.


"Iya Sayang.. Maafkan aku karena sempat salah memahami sikap dan perasaanmu. Saat itu aku terlalu cemburu, sehingga rasa cemburu itu membutakan hatiku. Tapi sekarang aku benar-benar yakin kalau kamu memang mencintaiku, untuk itulah aku yakin memberimu obat ini agar ingatanmu segera kembali." Senyum manis Shanaya seketika terbit, perasaannya menghangat mengetahui Shawn sudah mempercayai perasaan cintanya.


"Mulai sekarang tolong jangan pernah ragukan perasaanku lagi ya Sayang.." Ucap Shanaya yang langsung dihadiahi kecupan lembut di keningnya.


"Tidak akan.." Jawab Shawn disertai senyum tampannya.


*************************


Drake membaca deretan pesan dari Shawn yang memintanya untuk segera kembali ke mansion keluarga Knight. Namun Drake begitu enggan memenuhi permintaan boss sekaligus sahabatnya itu, pasalnya hati Drake masih khawatir pada keadaan Keiva yang baru patah hati. Netra hijaunya tidak henti memantau pergerakan Keiva melalui rekaman camera tersembunyi, baik saat bekerja ataupun seperti saat ini, ketika Keiva meratapi nasibnya di kamar pribadi yang ada di Hotel Knight. Memang Keiva jarang pulang ke mansion orangtuanya, karena pekerjaan seringkali menuntutnya menghabiskan lebih banyak waktu di Hotel.


'Apa Keiva tidak lelah menangis terus? Rasanya aku ingin sekali menghiburnya, tapi aku tidak mungkin muncul begitu saja dihadapannya.' Batin Drake.


Keiva sudah lama memendam perasaan terhadap Briley, saudara kembar Bradley. Boleh dibilang Briley adalah sahabat terdekat Keiva yang selalu ada untuknya. Keiva bahkan menyadari perasaannya sudah tumbuh sejak mereka masih kecil, Keiva selalu bersemangat setiap kali bertemu Briley. Namun sayangnya, segala bentuk perhatian dan kasih sayang Keiva, tidak lantas membuat Briley menaruh perasaan yang sama terhadap Keiva. Bahkan Briley berulang kali berganti-ganti kekasih sejak remaja, hingga selalu membuat Keiva cemburu dan terluka dalam diamnya. Lebih parahnya, Briley yang tidak mengetahui perasaan Keiva terhadapnya, seringkali menceritakan kisahnya bersama kekasihnya kepada Keiva.


Kali ini, Briley bercerita kalau dia ingin menikahi kekasih yang sudah bersamanya selama 2 tahun ini. Tentu saja Keiva begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Briley, namun Sebisa mungkin Keiva selalu menutupi perasaan dan rasa cemburunya dihadapan Briley, tapi jauh di lubuk hatinya, Keiva benar-benar sedih dan terluka karena Briley benar-benar tidak mungkin menjadi miliknya. Sungguh Keiva ingin menghapus perasaannya terhadap Briley, namun nyatanya hal itu sangatlah sulit.


'Ah kenapa Keiva begitu bodoh, mencintai Briley yang bahkan tidak memiliki sedikitpun perasaan terhadapnya. Hmm, tapi akupun sama bodohnya seperti dia, mencintai Keiva dalam diam. Meskipun aku dan dia terpisah jarak negara, tapi aku selalu mengawasi keadaannya, meskipun kabar yang aku dapat tidak pernah menyenangkan.' Rutuk Drake dalam hati.


Tiba-tiba Keiva terlihat melangkahkan kakinya keluar dari kamar, tanpa mengganti kaos hitam santai dan celana pendeknya. Tidak ingin membuang waktu, Drake segera menyusul Keiva dan mengikutinya diam-diam.


Mobil sport navy yang dikendarai Drake mengikuti mobil sport kuning yang melaju kencang didepannya. Raut wajah Drake tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya akan keselamatan Keiva. Apalagi cuaca buruk karena tiba-tiba turun hujan deras dan angin kencang.


'Sebenarnya Keiva mau kemana? Dia bahkan mengendarai mobilnya dengan sangat kencang.' Rutuk Drake, sesekali memukul setirnya.


Pertanyaan Drake akhirnya menemukan jawabannya, saat mobil Keiva memasuki area parkir sebuah restaurant Korea. Drake gegas menyusul Keiva yang keluar dari mobil dengan menerjang hujan, lalu memasuki restaurant dengan langkah terburu-buru.


Drake yang menyadari arah pandang Keiva yang tertuju pada sepasang kekasih yang sedang menikmati makan malam, hanya bisa menghela nafas kasar. Briley dan kekasihnya berjarak cukup jauh dari posisi Keiva duduk, namun interaksi keduanya begitu terlihat jelas dari pandangan Keiva dan juga Drake.


'Lagi-lagi Keiva menyakiiti dirinya sendiri..' Keluh Drake yang memilih duduk tidak jauh dari meja Keiva, namun dengan posisi sedikit dibelakang Keiva, agar keberadaannya tidak disadari oleh gadis yang mulai meneteskan air mata itu.


Seorang pelayan hendak mendekati Drake dan Keiva, namun Drake berkata pelan kalau dia dan gadis yang ditunjuknya yaitu Keiva, akan memesan makanan sebentar lagi. Drake tidak ingin membuat Keiva yang sedang larut dalam perasaan sedihnya menjadi tidak nyaman. Hingga pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan Drake dan juga Keiva.


Terlihat jelas kemesraan yang ditunjukkan Briley bersama kekasihnya, tentunya hal itu seperti menabur garam di atas luka Keiva yang menganga. Tapi itu pilihan Keiva, yang justru menjemput lukanya sendiri dengan datang ke restaurant itu.


Setelah melihat postingan Briley yang berisi photonya dan sang kekasih yang sedang makan malam di sebuah restaurant yang diketahuinya, lengkap dengan pemandangan buket bunga mawar dan sebuah kotak perhiasan yang Keiva yakini berisi cincin, Keiva segera meluncur ke restaurant itu untuk memastikan kecurigaannya. Meskipun hatinya harus siap menanggung kecewa dan rasa sakit hati yang sangat dalam.


Di sela-sela makan malam mereka, Briley tampak menciumi punggung tangan kekasihnya, tepat dimana melingkar sebuah cincin berlian indah. Hal itu membuat Keiva merasa sesak dan memegang dadanya yang semakin sakit.


Tidak kuat menahan rasa sakit, Keiva berdiri dari duduknya hendak meninggalkan restaurant itu. Keiva sempat terkejut melihat keberadaan Drake yang sedang memandangnya lekat, tapi karena merasa malu dengan keadaannya yang terlihat kacau, Keiva memilih berjalan cepat melewati Drake begitu saja. Drake tentu segera menyusul Keiva yang berjalan menuju area parkir yang masih diguyur hujan deras, hingga Drake menahan pergelangan tangan Keiva saat sudah berada di samping mobil sport kuningnya.


"Keiva, aku akan mengantarmu.." Ucap Drake seraya menatap dalam netra Keiva yang semakin menyipit karena air hujan yang mendesak masuk ke dalam matanya.


Keiva mencoba menghempas tangan kekar yang melingkar di pergelangan tangannya saat ini, tapi ternyata Drake sama sekali tidak berniat melepasnya. Tubuh keduanya mulai basah, tapi Drake dan Keiva sama sekali tidak peduli.


"Drake, aku mau sendiri.. Tolong jangan ganggu aku!" Suara lirih Keiva di sela tangisnya yang tersamarkan air hujan, seolah tanpa tenaga. Drake membalas dengan gelengan kepala, menyipratkan air hujan yang membasahi wajah tegasnya.


"Masuklah, aku akan tetap mengantarmu." Jawaban dingin namun tersirat perhatian itu membuat Keiva jengah, Keiva tetap menolak tawaran Drake. Sungguh dirinya ingin sekali menyendiri dan kembali meratapi nasib cintanya yang tidak beruntung, tapi laki-laki dihadapannya tidak akan bisa melepasnya begitu saja.


Tangis Keiva yang sempat berhenti, kini kembali mengalirkan sungai kecil dari kedua sudut matanya. Meskipun air hujan bisa menyamarkan air mata Keiva, tapi Drake melihat rasa sakit itu dengan jelas. Keiva kembali terbayang dengan pemandangan menyakitkan di dalam restaurant tadi. Drake meraup tubuh mungil Keiva ke dalam dekapan tubuh kekarnya, sungguh dirinya begitu tidak tega melihat betapa rapuhnya gadis yang dia cintai selama ini.


"Menangislah.. Jika itu bisa membuatmu lega." Lirih Drake seraya mengelus punggung Keiva, berusaha memberinya ketenangan.


Air mata Keiva mengalir semakin deras, bahkan kedua tangannya pun sudah memeluk erat pinggang laki-laki yang seringkali beradu argumen dengannya itu. Meskipun tubuh keduanya sudah basah kuyup, tapi entah kenapa, Keiva merasakan kenyamanan yang luar biasa.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️