Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 11 Aneh



Pemandangan sore hari di musim semi, masih tampak masih sangat cerah dan terik karena matahari yang bersinar lebih lama dari biasanya. Netra Shawn mengedar ke luar jendela ruang kerjanya, memandang jejeran gedung pencakar langit yang kebanyakan diantaranya adalah milik Knight Group Company.


Ada perasaan hampa yang terselip di ruang hatinya, saat Shawn menyadari kalau kekayaan dan kekuasaan yang hampir sepenuhnya digenggamnya, sama sekali tidak bisa membeli kedamaian di dalam hatinya. Relung hatinya justru terus-menerus merasa bimbang dan tersiksa oleh perasaan bersalah, karena sesuatu yang menurutnya terlarang untuk dia rasakan.


Drtt..Drtt..Drtt..


Pandangan Shawn mengarah pada ponselnya yang terlihat bergetar di atas meja, dilangkahkan kakinya untuk segera mengambil ponsel itu, khawatir pesan yang masuk adalah pesan yang penting.


Sebuah lengkungan indah di wajah tampan Shawn tiba-tiba terulas, setelah netranya melihat pesan Shanaya yang membuatnya berbunga-bunga.


Shanaya


Kak Shawn, pulanglah lebih cepat. Hari ini aku memasak banyak makanan Indonesia, kita makan malam bersama ya.


Shawn meletakkan kembali ponselnya di atas meja, sebelum mendudukkan dirinya di atas kursi kerjanya yang nyaman, tanpa berniat membalas pesan dari adiknya itu.


Sudah hampir dua minggu ini, Shawn tinggal di mansion kedua orangtuanya. Hal ini disebabkan Sall dan Sanchia tidak dapat pulang sesuai rencana, karena urusan bisnis yang banyak dan mendadak. Bahkan saat ini kedua orangtua Shawn sudah meneruskan perjalanan bisnisnya ke Jepang. Ada kemungkinan mereka akan melanjutkan perjalanan bisnis mereka ke negara Asia lainnya, termasuk Indonesia.


Shawn paham sekali, meskipun kedua orangtuanya sudah menyerahkan urusan perusahaan dan klan padanya, tapi kedua orangtuanya itu tidak berhenti membangun hubungan baik dengan perusahaan lain bahkan pemerintah di banyak negara untuk mengembangkan jaringan bisnis perusahaannya. Tidak heran jika Knight Group Company semakin berkembang sebagai perusahaan gurita yang merambah ke berbagai aspek bisnis di berbagai negara.


Bukan hanya lini bisnis di industri konstruksi dan properti seperti project pembangunan perusahaan, perhotelan, resort, apartment, pemukiman mahal sampai termurah yang dikuasai Knight Group Company, melainkan juga industri otomotif, industri elektronik, industri manufaktur, sampai industri pertambangan. Tentunya semua industri itu membutuhkan banyak factory pengelola yang tersebar di banyak negara lain termasuk Indonesia.


Tapi meskipun Sall dan Sanchia begitu sibuk, ternyata Daddy dan Mommy Shawn itu memantau semua kegiatan Shawn dan Shanaya dari kejauhan, bahkan mereka sudah mengetahui keberadaan Marisha di mansion mereka. Sall dan Shawn sama-sama tidak menemukan kejanggalan dari informasi yang Arthur dan Drake dapatkan tentang Marisha dan kehidupan pribadinya. Namun mereka tentu tidak akan lengah begitu saja.


Marisha sudah tinggal di Panti Asuhan sejak usianya baru menginjak 4 tahun, sebenarnya dia mempunyai saudara kembar bernama Marco. Namun keduanya terpisah sejak berusia 7 tahun, karena Marco diadopsi oleh sebuah keluarga kaya dan dibawa pergi ke Perancis.


Marisha tumbuh menjadi anak yang kuat, ceria dan pekerja keras. Setelah dia keluar dari Panti Asuhan di usia 16 tahun, Marisha mulai tinggal sendiri di sebuah boarding house di pinggiran kota London dari hasil tabungannya berjualan segala macam kerajinan tangan dan makanan sejak kecil. Marisha pun mulai bekerja part time setelah sekolah.


Otak Marisha pun cukup encer, dibuktikan dengan beasiswa-beasiswa yang berhasil dia dapatkan sejak di Elementary School sampai kuliah. Mendapatkan beasiswa di salah satu Yayasan milik keluarga Knight pun, didapatnya karena otak cerdas dan jajaran prestasinya yang cemerlang sejak kecil.


Meskipun tidak ada fakta sedikitpun yang membuat Sall dan Shawn harus memasukkan Marisha ke dalam "Daftar Orang Berbahaya", namun mereka tetap memantau semua gerak-gerik Marisha. Semua orang di mansion pun sudah di ultimatum oleh Shawn dan Drake untuk tidak mengatakan informasi apapun tentang keluarga Knight secara mendalam, terutama keterkaitan mereka dengan klan Toddestern.


Tentu Shanaya adalah orang pertama yang menyetujui hal ini, dia menyadari kalau keputusannya membawa Marisha ke mansion, adalah sebuah keputusan impulsif yang tidak dipikirkan secara panjang. Namun Shanaya berharap Marisha bukanlah orang jahat dan bisa menjadi sahabatnya untuk selamanya.


*************************


Shawn menatap satu persatu hidangan yang tersaji di atas meja makan dengan tatapan takjub. Cukup lama Shawn tidak melihat jenis makanan khas Indonesia yang selalu menggugah seleranya. Memang sesekali Mommy-nya membuatkan beberapa jenis masakan atau cemilan khas Indonesia terutama sunda saat Shawn berkunjung ke mansion orangtuanya, tapi tidak sampai selengkap dan sebanyak yang dilihatnya saat ini.


"Wow.. Ada apa ini Shanaya? Kenapa kamu memasak banyak makanan khas Indonesia? Apa ada sesuatu yang special?" Tanya Shawn seraya mengambil sepotong ayam bakar, perkedel jagung, sate ayam, karedok dan sambal ke atas sepiring nasi yang sebelumnya diambilkan Shanaya.


Shanaya yang duduk tepat dihadapan Shawn, mengulas senyum manisnya seraya menopang pipinya dengan kedua tangan.


"Marisha mengajariku memasak semua makanan-makanan ini. Dia ternyata sangat pintar memasak seperti Mommy."


Shawn menghentikan gerakannya yang hampir memasukan sendok berisi ayam bakar dan nasi ke dalam mulutnya, membuat Shanaya menurunkan kedua tangan dari pipinya seraya mengerutkan kening karena heran.


"Jadi yang memasak kamu atau Marisha?" Tanya Shawn serius.


"Ya aku, tapi dengan panduan Marisha." Jawab Shanaya jujur.


"Ya aku dan Marisha, aku tidak mungkin menyiapkan dan memasak semua makanan ini sendirian Kak." Wajah Shanaya yang tadinya berseri sudah berubah masam karena reaksi dan pertanyaan Shawn.


"Jadi makanan yang mana yang benar-benar kamu siapkan dan masak, dan hanya dipandu oleh Marisha?" Shawn kembali bertanya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Ini.. Ini.. Ini.. Ini.."


Shawn memperhatikan tempe goreng, perkedel jagung, nasi tutug oncom, dan lalapan yang ditunjuk Shanaya. Tanpa ragu, Shawn segera mengganti piringnya dan mengambil nasi tutug oncom dengan tempe goreng, perkedel jagung dan lalapan tanpa sambal, lalu melahapnya dengan semangat.


Shanaya membulatkan matanya dengan mulut menganga melihat tingkah Shawn yang menurutnya sedikit berlebihan. Meskipun sejujurnya Shanaya merasa sangat terharu dengan sikap sang Kakak yang lebih memilih memakan masakannya yang sederhana dibanding masakan Marisha.


"Kak, kenapa kamu sangat tidak menyukai Marisha? Padahal dia begitu baik. Kata Mommy, awas jangan terlalu membenci seseorang, bisa-bisa nanti kamu malah menyukai orang itu." Ujar Shanaya sambil mengulum senyum jahilnya. Sementara Shawn seketika langsung tersedak dan menyemburkan makanan yang sedang dikunyahnya.


"Aduh Kakak, hati-hati dong makannya. Ini minum dulu." Shawn langsung menyambar dan meminum segelas air yang disodorkan Shanaya.


Setelah membaik, Shawn langsung menatap kesal ke arah Shanaya yang kembali mengulas senyum jahilnya.


"Jangan berkata sesuatu yang tidak masuk akal Shanaya, jangan membuat nafsu makanku hilang." Ujar Shawn, lalu kembali memakan makanan dihadapannya.


"Tidak ada yang tidak mungkin Kak, Marisha baik, cantik, pintar, apalagi jago memasak." Lanjut Shanaya membuat Shawn kesal.


Sebetulnya Shawn ingin segera pergi dari ruang makan itu dan menghindari obrolan Shanaya yang menurutnya tidak berfaedah itu. Namun Shawn tidak ingin membuat Shanaya kecewa, karena tidak menghabiskan makanan yang dibuat oleh adiknya itu.


Akhirnya Shawn memakan makanannya tanpa berkata apapun, meskipun Shanaya tidak berhenti mengoceh tentang betapa enaknya semua masakan Marisha.


"Aku sudah selesai makan Shanaya, semuanya enak. Terima kasih ya." Ucap Shawn setelah menghabiskan semua makanan di atas piringnya dan meminum habis air minumnya.


"Terima kasih ya Kak Shawn, sudah mencicipi masakanku." Balas Shanaya dengan wajah berbinar senang.


"Sama2 Shanaya.. Kakak langsung ke ruang kerja ya, masih ada yang harus Kakak kerjakan." Perkataan Shawn ditanggapi Shanaya dengan anggukan.


Namun sebelum Shawn melangkah keluar dari ruang makan, Shanaya mendaratkan sebuah ciuman di pipi sang Kakak.


Cup..


"Terima kasih karena sudah menjadi Kakak yang baik untukku. Aku senang sekali Kakak tinggal lagi di mansion." Ungkap Shanaya tulus, yang langsung dibalas Shawn dengan senyuman canggung, karena dirinya sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Shanaya.


Shawn segera bergegas pergi dari ruang makan, sebelum luapan perasaannya meledak tepat di depan Shanaya. Wajahnya tampak memerah dengan gesture yang terlihat salah tingkah.


Rupanya kejadian itu dan semua yang terjadi selama kurang lebih 1 jam terakhir itu, tidak luput dari penglihatan dan pendengaran Marisha yang berada di ruang pantry sebelah ruang makan.


'Kenapa aku merasa ada yang aneh dari sikap laki-laki menyebalkan itu terhadap Shanaya? Tatapannya terlihat tidak biasa, apalagi perasaan sayang dan posesifnya benar-benar luar biasa. Jika saja aku tidak tahu kalau laki-laki menyebalkan itu adalah Kakak dari Shanaya, aku pasti sudah mengira kalau laki-laki itu mencintai Shanaya sebagai seorang pria terhadap wanita.' Batin Marisha.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️