Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 44 Cepatlah Kembali



WARNING..!!


Ada sedikit adegan dewasa, mohon bijak dalam memilih bacaan. Bocil harap menyingkir ya..


*************************


Cuaca dingin dini hari mengusik Shanaya dari tidurnya, meskipun matanya masih enggan terbuka. Terlebih gulingnya terasa begitu nyaman dan hangat, membuat Shanaya semakin mendekap erat apa yang dipeluknya saat ini.


'Rasanya nyaman sekali.. Sejak pulang ke rumah ini, sepertinya ini pertama kalinya aku menikmati tidur yang nyaman seperti ini.' Ujar Shanaya dalam hati, berniat meneruskan tidurnya kembali.


Hingga sebuah hembusan nafas yang terasa hangat dan halus, memaksa Shanaya untuk membuka matanya. Alangkah terkejutnya Shanaya, saat mendapati wajah tampan Shawn yang tampak memejamkan mata dihadapannya. Shanaya refleks melepaskan pelukannya lalu memperhatikan wajah Shawn yang damai, sebelum memperhatikan dirinya yang masih mengenakan gaun pengantin seperti kemarin.


'Untunglah, tidak terjadi apa-apa, aku bahkan masih memakai gaun pengantinku. Tapi kenapa aku bisa tidur dengan memeluknya seperti itu? Sebaiknya aku segera mengganti pakaian dan tidur di sofa saja, sebelum Shawn bangun.' Ucap Shanaya dalam hati.


Sebetulnya Shawn pun sudah terbangun dari tidurnya yang singkat, saat menyadari gerakan Shanaya yang kasar melepas pelukannya. Namun Shawn berpura-pura masih tertidur, agar Shanaya tidak merasa canggung dan malu.


Dengan sangat perlahan, Shanaya menuruni tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi, setelah mengambil pakaian ganti di ruang walk in closet milik Shawn. Beruntung sebagian baju-bajunya memang sudah dipindahkan pelayan ke ruangan itu, sehingga Shanaya tidak kesulitan menemukan baju gantinya.


Namun belum satu menit berlalu, Shanaya sudah keluar dari kamar mandi dengan ekspresi bingung.


"Aduh bagaimana ya, apa aku minta tolong pelayan saja? Hmm, tapi ini masih dini hari. Pasti mereka masih tertidur sekarang." Lirih Shanaya namun masih bisa terdengar oleh Shawn.


Shawn menggeliatkan tubuhnya, seolah-olah baru terbangun dari tidurnya. Lalu diarahkan pandangannya pada Shanaya yang tampak terkejut saat melihat Shawn bergerak turun dari tempat tidur.


"Ada apa Sayang?" Tanya Shawn lembut.


"Hmm, aku kesulitan membuka gaun-ku Shawn. Aku bermaksud membangunkan pelayan, tapi.." Belum habis kalimat Shanaya, Shawn segera memotong dengan nada protes namun terdengar begitu manis.


"Sayang, kamu memiliki suami yang akan selalu siap membantumu, kenapa harus meminta bantuan pelayan? Sini aku bantu.."


Meskipun ragu, Shanaya segera membalik tubuhnya dan membelakangi Shawn yang mulai membuka satu persatu kancing mutiara yang banyak jumlahnya itu.


Sesungguhnya jantung Shawn berdetak kencang dengan tangan gemetar saat membuka satu persatu kancing gaun Shanaya. Shawn bahkan tidak berhenti menelan saliva saat melihat punggung indah Shanaya kini mulai terpampang memanjakan matanya.


Dulu saat Shawn belum tahu kalau Shanaya bukanlah saudara kandungnya, dia akan menghindar sebisa mungkin setiap kali pemandangan tubuh Shanaya mulai menggoda imannya. Namun kini setelah tahu kalau Shanaya bukanlah adik kandungnya, apalagi setelah mereka resmi menikah, Shawn merasa bukanlah sebuah dosa, jika dia menatap keindahan tubuh istrinya itu.


'Kenapa lama sekali membuka kancing gaunnya? Rasanya aku ingin segera lari ke kamar mandi. Biarpun Shawn sudah resmi menjadi suamiku, tapi aku malu sekali membiarkannya melihat punggungku.' Rupanya bukan hanya Shawn yang jantungnya berdetak kencang, melainkan juga Shanaya yang merasa sangat malu pada Shawn.


Hingga akhirnya semua kancing gaun itu berhasil dibuka Shawn dalam waktu yang terasa begitu lama bagi Shanaya.


"Sudah?" Tanya Shanaya saat merasakan tangan Shawn tidak lagi menyentuh kancing gaunnya. Namun bukannya menjawab, Shawn malah memeluk tubuh Shanaya dari belakang, seraya melabuhkan bibirnya di bahu Shanaya yang terbuka.


Lidah Shanaya terasa kelu, bahkan tubuhnya membeku mendapat perlakuan yang tidak terduga dari Shawn. Apalagi kini ciuman lembut Shawn bukan hanya mendarat di bahu Shanaya, melainkan juga mulai menyusuri tengkuk hingga punggung indah Shanaya.


"Shawn.. Geliii.." Shawn tersenyum mendengar perkataan Shanaya yang lebih mirip rajukan. Namun Shawn seperti enggan menghentikan kegiatan yang mendadak disukainya itu.


Jemari Shawn pun tidak tinggal diam, dengan menjelajahi leher dan dada Shanaya, membuat Shanaya tanpa sadar mengeluarkan suara manisnya. Bahkan kedua tangan Shawn kini perlahan menurunkan gaun Shanaya, hingga akhirnya jatuh ke lantai, menampakkan bagian belakang tubuh Shanaya yang hanya berbalut pakaian dalam berwarna putih.


Shawn masih terpukau menatap pemandangan indah dihadapannya, saat tiba-tiba Shanaya berlari masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Shawn dengan raut terkejutnya.


"Oh shiiitt.. Kenapa aku bisa lepas kendali? Pasti Shanaya marah padaku.." Rutuk Shawn seraya mengusap kasar wajahnya.


Ditatapnya bagian bawah tubuhnya yang sudah terlanjur berdiri tegak. Dengan langkah lunglai, Shawn terpaksa berjalan menuju kamar mandi di kamar Shanaya untuk menenangkan senjatanya yang harus batal bertempur.


"Sabar.. Sabar.. Belum waktunya.." Lirih Shawn menghibur dirinya sendiri.


*************************


Shanaya memandang Shawn yang lebih banyak diam saat sarapan bersama dengan Sall dan juga Sanchia. Shanaya berpikir kalau Shawn marah karena sikapnya yang memilih kabur saat Shawn menyentuhnya dini hari tadi. Shawn pun berpikir hal yang sama, jika Shanaya marah padanya karena sudah menyentuhnya tanpa izin. Padahal Shawn sudah berjanji tidak akan memaksa Shanaya melakukan hubungan suami istri, selama Shanaya belum mengizinkannya.


Rupanya sikap diam Shanaya dan Shawn ini disadari oleh Sall yang memilih tidak ikut campur. Sall paham, kalau Shanaya masih perlu waktu untuk menerima pernikahan mendadak ini. Sall begitu percaya, kalau Shawn pasti mampu meyakinkan dan menaklukan hati Shanaya, meskipun memerlukan waktu.


"Bagaimana malam pertama kalian, apakah indah dan menyenangkan?"


"Tentu saja indah dan sangat berkesan Mom, tidak perlu Mommy tanyakan lagi." Jawab Shawn disertai senyum jahilnya, membuat Sanchia tertawa lepas. Shanaya mendelik ke arah Shawn yang menanggapinya santai.


"Tiga hari lagi kita akan ke Indonesia untuk mengadakan resepsi disana. Kalian berdua jaga kesehatan ya, jangan terlalu lelah, Mommy tidak mau kalian sakit." Ucap Sanchia menatap Shanaya dan Shawn bergantian.


"Tentu Mom.. Aku tidak akan membuat putri kesayangan Mommy terlalu lelah, aku justru akan memanjakannya Mom." Mendengar perkataan Shawn, lagi-lagi Sanchia tertawa kecil.


"Dasar anak nakal.. Apa kamu bisa Mommy percaya Shawn?" Tanya Sanchia dengan memicingkan mata, yang justru disambut tawa lepas Shawn.


"Aku adalah putramu yang paling bisa Mommy percaya.." Sall dan Sanchia tertawa dan menggelengkan kepalanya, berbeda dengan Shanaya yang menghela nafas pelan mendengar candaan Shawn dan kedua orangtua mereka.


*************************


Shanaya mengedarkan pandangannya ke semua sudut kamar, namun Shawn tidak terlihat. Shanaya berniat meminta maaf pada Shawn karena sudah menolaknya dini hari tadi, meskipun Shanaya tetap akan meminta pengertian Shawn untuk memberinya waktu sampai dia siap.


Dari arah ruang walk in closet, Shawn yang mengenakan kemeja navy dipadukan celana berwarna senada, tampak berjalan gagah seraya menenteng jas-nya.


"Kamu mau kemana Shawn?" Shanaya menatap heran suaminya yang terlihat tampan dan gagah itu.


"Aku harus berangkat ke London Sayang, hanya dua hari saja. Pasti kamu juga masih lelah dan tidak mau ikut kan?" Ucapan Shawn hanya ditanggapi helaan nafas pelan dari Shanaya.


'Dasar sok tahu, bilang saja kalau tidak mau aku ganggu selama di London. Baru sehari menikah, sudah ditinggal begini, menyebalkan..' Gerutu Shanaya dalam hati.


"Baiklah, baik-baik ya Sayang.. Aku pergi dulu." Shawn mengecup lembut kening Shanaya yang hanya diam tanpa memberikan tanggapan apapun.


Hingga sebelum Shawn melangkahkan kakinya keluar, Shanaya tiba-tiba memanggil Shawn lirih.


"Shawn.."


"Ya?" Jawab Shawn lalu membalikkan tubuhnya menghadap Shanaya.


"Cepatlah kembali.." Mendengar ucapan Shanaya, Shawn mengulas senyum tampannya.


"Memangnya kenapa aku harus cepat kembali Sayang? Bukankah kamu lebih nyaman jika tidak ada aku?" Sindir Shawn dengan senyum jahilnya.


"Ya sudah tidak usah cepat kembali.." Ujar Shanaya seraya memanyunkan bibirnya, membuat tawa kecil Shawn lepas.


Cup..


Shawn seketika mencium hidung mancung Shanaya dengan gemas, bahkan sampai pipi Shanaya merona karena malu.


"Baiklah, aku akan berusaha menyelesaikan urusan perusahaan dan klan secepatnya. Agar kamu tidak kesepian karena jauh dari aku." Ucap Shawn sambil mengerlingkan sebelah matanya, yang langsung disambut dengusan oleh Shanaya.


"Ya sudah pergilah, jaga dirimu.."


"Itu saja?" Tanya Shawn dengan nada protes.


"Memangnya apa lagi?" Jawab Shanaya dengan nada penuh tanya.


Shawn menunjuk bibirnya, yang langsung membuat Shanaya memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Hmm, ya sudah.. Aku tidak akan memaksa." Lirih Shawn, lalu berjalan menuju pintu hendak meninggalkan Shanaya. Namun tiba-tiba Shanaya menarik tangan Shawn, hingga kembali berbalik menghadapnya.


Cup..


Sebuah kecupan lembut dari bibir ranum Shanaya, akhirnya mendarat sempurna di bibir Shawn. Tentu saja Shawn tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dengan memeluk erat tubuh Shanaya seraya menyesap dan ****** bibir Shanaya yang sudah menjadi candu baginya. Shanaya pun mengimbangi permainan lidah Shawn yang mulai memanjakannya, bahkan kedua tangannya pun ikut memeluk erat tubuh Shawn yang begitu erat mendekapnya.


************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️