Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 47 Akhirnya Kamu Datang



Matahari sudah bersinar terik, namun udara Kota Bandung masih terasa sejuk menyapu kulit. Suasana damai dan menenangkan yang sudah lama tidak dirasakan Sall dan Sanchia, begitu mereka nikmati dan syukuri. Mereka menghabiskan waktu santai mereka di gazebo taman belakang yang nyaman dan asri, sambil menikmati secangkir jasmine tea dan beberapa piring kue basah khas Bandung.


"Untung saja persiapan resepsi Shawn dan Shanaya sudah di handle WO dengan pengawasan Keiva. Semuanya lancar.." Ujar Sanchia dengan menunjukkan pada Sall, photo-photo ballroom hotel yang dikirim oleh Keiva padanya.


Bukan tanpa alasan kenapa Keiva-lah yang bertanggung jawab mengawasi acara resepsi pernikahan Shawn dan Shanaya yang akan dilaksanakan besok pagi di Hotel Knight, Bandung. Karena Keiva adalah Manager Hotel Knight yang resmi ditunjuk Sanchia sejak dua tahun yang lalu.


Di ruang keluarga mansion keluarga Knight, Shanaya terlihat mondar-mandir tidak jelas membuat kedua orangtuanya yang baru naik ke lantai 2 menjadi ikut khawatir. Sang mempelai pengantin pria masih belum datang, membuat sang mempelai wanita merasa was-was. Shanaya benar-benar khawatir, kalau sampai Shawn tidak muncul sebelum acara resepsi pernikahan mereka.


"Sayang, Shawn sudah pastikan akan sampai Bandung hari ini. Berhentilah khawatir seperti itu." Ucap Sanchia mencoba menenangkan Shanaya.


"Sekarang sudah lewat jam makan siang Mom, tapi Shawn belum juga sampai. Ponselnya masih saja tidak bisa dihubungi. Padahal malam ini kita semua akan menginap di Hotel kan." Keluh Shanaya.


Sanchia dan Sall saling berpandangan penuh arti, mereka mencium ada yang tidak beres dengan hubungan kedua putra dan putri mereka, tapi mereka memilih untuk tidak bertanya dan ikut campur. Sall dan Sanchia yakin kalau Shawn dan Shanaya sudah dewasa, dan bisa menyelesaikan permasalahan diantara mereka dengan baik.


"Sayang, lebih baik kamu makan siang dulu sana. Sejak pagi, kamu baru makan fruit salad saja kan? Jangan menyiksa dirimu seperti itu, Shawn juga pasti tidak suka." Ucapan lembut Sanchia ditanggapi Shanaya dengan anggukan.


"Baiklah Mom, Dad.. Aku makan siang dulu ya." Ujar Shanaya lalu beranjak turun menuju ruang makan.


Sementara Sall dan Sanchia mulai membahas putra dan putri mereka setelah memastikan Shanaya sudah turun ke lantai 1.


"Honey.. Sebenarnya masalah apa yang terjadi dengan Shawn dan Shanaya? Kenapa Shawn terus saja mengabaikan Shanaya? Shawn menghubungi kita, tapi dia seperti enggan menghubungi Shanaya." Tanya Sanchia penuh rasa ingin tahu.


"Aku pun tidak tahu masalah utamanya, tapi Shawn begitu bersikeras menyelesaikan pembuatan obat untuk penyembuhan Shanaya. Sepertinya memang ada masalah yang menyulut emosinya, sehingga dia ingin ingatan Shanaya cepat kembali." Sanchia mengangguk mengerti dengan penjelasan Sall.


"Shawn dan kita semua sudah sangat berharap, kalau ingatan Shanaya bisa kembali secepatnya. Semoga saja obat itu segera selesai ya Honey." Harap Sanchia yang juga diangguki Sall seraya merangkul bahu istrinya.


*************************


HOTEL KNIGHT, BANDUNG


Di salah satu kamar VVIP Hotel Knight, Shanaya tampak membaringkan tubuhnya yang kurang bersemangat. Sejak tiba di hotel, yang dilakukannya hanyalah memeriksa ponsel untuk mengetahui apakah Shawn menghubunginya atau tidak. Namun Shanaya terpaksa harus menelan kekecewaan, karena jangankan video call atau telepon, bahkan sebaris pesan pun tidak Shanaya terima.


Shanaya menghentak-hentakkan kakinya di atas tempat tidur, hingga membuat spreinya kusut.


"Menyebalkan.. Dasar kekanak-kanakan, dia memang sengaja mengabaikanku. Baiklah, kalau itu maunya, aku akan mengikuti kemauannya itu. Dia bisa mengabaikanku, aku pun bisa mengabaikannya."


Tanpa Shanaya sadari, kalau semua tingkahnya tidak lepas dari pengamatan sepasang netra sendu penuh kerinduan, yang memandang layar tab-nya sejak beberapa jam yang lalu.


"Shawn.. Berhentilah memandanginya melalui layar tab-mu. Kamu bisa memandangi dan meluapkan kerinduanmu secara langsung. Masuklah ke kamarmu, aku sudah ingin beristirahat." Ujar Drake yang terdengar seperti kalimat usiran bagi Shawn.


"Kamu mengusirku Drake?" Drake hanya tertawa kecil menanggapi Shawn yang terlihat kesal.


"Boleh dibilang begitu.. Kamu hanya menyiksa dirimu dengan memandanginya melalui tab-mu. Selesaikan masalahmu dengan Shanaya, kasihan dia terus menerus kamu abaikan selama beberapa hari ini. Bukan salahnya kan, kalau tiba-tiba dia mengingat sesuatu tentang Sheran." Perkataan bijak Drake hanya ditanggapi Shawn dengan diam, meskipun dalam hati Shawn membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya itu.


'Tapi aku begitu cemburu mengetahui kenangannya bersama Sheran. Bagaimana bisa Shanaya mengobati luka Sheran, padahal dia adalah musuh? Darahku lebih mendidih lagi, saat Shanaya katakan, kalau Sheran memeluknya saat dia demam.. Apa yang sudah aku lewatkan? Apa memang ada sesuatu yang terjadi saat Shanaya diculik oleh Sheran?' Rutuk Shawn semakin menambah kekesalannya.


"Shawn.. Sekarang kamu-lah suami Shanaya. Kamu berhak atas segala yang ada pada diri Shanaya. Sheran bukanlah siapa-siapa, lalu kenapa kamu merasa begitu khawatir dengan hubungan Shanaya dan Sheran yang bahkan tidak ada ikatan apa-apa?" Ucapan Drake lagi-lagi hanya ditanggapi diam oleh Shawn.


"Shawn.. Bersikap dewasalah.." Suara Drake sedikit meninggi, merasa kesal dengan sikap Shawn yang sama sekali tidak merespon perkataannya.


"Drake, bisakah kamu bayangkan.. Jika istrimu terlihat selalu ragu dan menjaga jarak darimu. Membentengi dirinya darimu yang seolah tidak ada ikatan.. Sama sekali tidak ada kenangan bersamamu dalam ingatannya. Tapi dia memiliki kenangan indah bersama laki-laki lain." Suara Shawn terdengar datar, tapi Drake jelas merasakan emosi yang sangat besar didalamnya.


'Pantas saja Shawn begitu berusaha keras untuk menyelesaikan pembuatan obat untuk Shanaya. Rupanya rasa cemburu dan kecewa yang mendorongnya begitu kuat, agar ingatan Shanaya bisa cepat kembali..' Ujar Drake dalam hati.


Shawn masih saja memandangi Shanaya melalui layar tab-nya, hingga istrinya itu tertidur karena kelelahan. Rasa rindu segera menuntunnya untuk segera beranjak menuju kamar yang ditempati Shanaya. Shawn masuk dengan mudah, karena dia pun memiliki Access card untuk masuk ke dalam kamar yang memang diperuntukkan baginya dan Shanaya.


Wajah damai Shanaya dengan tubuh meringkuk seperti janin yang dibungkus dengan selimut putih, langsung memenuhi ruang pandang Shawn. Seulas senyum sendu penuh kerinduan menghiasi wajah tampan Shawn. Shawn sudah tidak sabar untuk merebahkan tubuhnya disamping sang istri yang begitu dia rindukan selama beberapa hari ini, namun tidak lupa Shawn mematikan semua camera yang sudah dipasangnya di kamar itu.


Perlahan dan hati-hati, Shawn naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya tepat disebelah Shanaya. Dipandanginya wajah cantik yang begitu dicintainya itu, dengan jemari yang mulai terulur merapihkan anak-anak rambut Shanaya yang jatuh menghalangi dahinya.


'Aku merindukanmu.. Benar-benar merindukanmu..' Lirih Shawn dalam hati.


Menjelang dini hari, tidur Shanaya sedikit terusik karena kakinya yang merasa terhimpit sesuatu, meskipun tubuhnya merasa sangat nyaman dan hangat. Perlahan matanya terbuka, meskipun rasa kantuk masih sangat kuat menyerangnya.


Alangkah terkejutnya Shanaya, saat netranya menangkap wajah Shawn yang terlelap seraya mendekapnya dalam pelukan. Ada perasaan lega dan bahagia yang seketika memenuhi ruang hatinya, bahkan tidak terasa air matanya jatuh melalui sudut matanya tanpa bisa ditahan.


'Akhirnya kamu datang Shawn.. Aku benar-benar merindukanmu..' Batin Shanaya lalu melabuhkan sebuah kecupan singkat di hidung mancung Shawn. Namun sayang, Shawn sama sekali tidak terusik apalagi terbangun dengan apa yang dilakukan Shanaya. Shanaya pun tidak berniat membangunkan Shawn, apalagi saat melihat gurat lelah di wajah Shawn yang beberapa hari ini tidak dilihatnya. Hingga akhirnya Shanaya kembali terlelap, setelah tubuhnya semakin merangsek masuk ke dalam dekapan tubuh tegap milik Shawn.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️