
Setelah kejadian canggung tiga hari yang lalu, Keiva memutuskan untuk menghindar dari Drake. Dirinya sungguh merasa tidak punya muka untuk bertemu Drake, karena kejadian di restaurant dan hotel itu sangat memalukan baginya. Jika Drake datang ke Hotel Knight, maka Keiva akan menghindar atau mencari banyak alasan untuk bisa pergi dari hadapan Drake.
Tentu saja sikap Keiva ini terbaca sangat jelas oleh Drake. Seperti petang ini, Drake yang berada di ruang keluarga mansion keluarga Knight, terlihat menghela nafas panjang begitu mengetahui kalau Keiva berangkat ke Bali siang tadi, untuk meninjau cabang Resort dan Hotel Knight yang berada di Bali.
"Hmm, dia bisa saja mengutus orang lain untuk meninjau Resort dan Hotel disana. Tapi dia memilih berangkat sendiri untuk menghindariku." Lirih Drake dengan netra memandang photo Keiva saat di Airport, yang dikirim oleh orang kepercayaannya.
"Eheeem.." Deheman Shawn yang tampak merangkul mesra pinggang Shanaya, seketika membuyarkan lamunan Drake.
"Drake, tolong aturkan keberangkatanku dan Shanaya ke Raja Ampat besok lusa. Aturkan juga untuk Resort dan semua persiapannya ya." Drake sedikit mengerutkan kening mendengar permintaan Shawn.
"Lho, bukannya Uncle Sall dan Aunty Sanchia belum mengizinkan kalian untuk berbulan madu keluar kota ataupun ke luar negeri? Mungkin saja Alrico, Sheran dan Seira masih mengawasi kalian dan membuat rencana untuk mencelakakan kalian." Ucap Drake penuh tanya.
"Daddy dan Mommy sudah memberi izin, asalkan membawa banyak pengawal dengan pengamanan ketat. Akupun tidak mau kehilangan moment bahagia bersama istriku, hanya karena keberadaan mereka. Aku yakin bisa melindungi Shanaya dari mereka semua." Penjelasan Shawn segera diangguki Drake tanda mengerti.
"Hmm, apa tidak sebaiknya kalian berbulan madu ke Bali saja? Mungkin saja Shanaya bisa mengingat kenangan kalian dulu saat berlibur disana." Mendengar perkataan Drake, Shawn dan Shanaya saling berpandangan. Dalam hati, mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Drake. Tanpa tahu maksud terselubung Drake yang sesungguhnya.
"Iya kamu benar Kak Drake, mungkin disana aku bisa mengingat sesuatu." Ujar Shanaya, yang langsung dibalas senyum tipis Drake.
"Sayang, jadi kita berbulan madu ke Bali saja?" Tanya Shawn menatap dalam netra istrinya yang indah. Shanaya segera menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Ya Sayang, aku mau ke Bali saja." Jawab Shanaya begitu yakin. Tentu saja Shawn pun tidak ada alasan menolak permintaan istrinya itu. Apalagi Shawn pun berharap keberangkatan mereka ke Bali akan memberi hasil yang mereka harapkan.
"Baiklah Sayang, besok lusa kita berangkat ke Bali ya." Ucap Shawn seraya mengecup lembut puncak kepala Shanaya.
"Kalau perlu, aku akan mengaturkan keberangkatan kalian ke Bali besok sore, agar kalian bisa segera menikmati waktu romantis kalian di Bali." Perkataan yang terdengar sangat semangat disertai senyum sumringah di wajah Drake, memicu rasa heran Shawn dan Shanaya.
"Drake, kenapa kamu semangat sekali?" Tanya Shawn begitu penasaran.
"Tentu saja aku semangat, karena aku ingin kalian berdua bisa berbulan madu sepuasnya di Bali. Aku pun bisa segera mempunyai keponakan yang lucu-lucu dari kalian berdua." Meskipun masih merasa tidak yakin dengan jawaban Drake, Shawn dan Shanaya hanya mengulas senyum tipis mereka. Tanpa mereka tahu, kalau hati Drake sedang berbunga-bunga saat ini.
'Keiva.. Kamu tidak bisa seterusnya menghindariku. Kali ini aku tidak mau menyerah dan menyia-nyiakan kesempatan untuk memilikimu. I love you Keiva..' Tekad Drake dalam hati.
*************************
Menjelang malam hari, Shawn dan Shanaya yang baru saja menjejakkan kaki mereka di Bali, langsung dibawa Drake ke Resort Knight dengan pengawalan anggota klan Toddestern yang super ketat. Resort yang dinobatkan sebagai Resort terbesar dan termewah itu begitu memanjakan mata Shanaya, yang dalam ingatannya baru sekali menginjakkan kakinya disana. Padahal sejak remaja, dirinya, Shawn dan kedua orangtua mereka sudah seringkali meninjau dan berlibur ke Resort mereka itu.
Shawn tentu saja begitu bahagia, melihat istrinya selalu menampakkan senyum manisnya sejak mereka memasuki Resort dan menuju kamar VVIP yang akan mereka tempati. Sesekali Shawn mendaratkan kecupan mesra di hampir semua sudut wajah Shanaya yang sangat menggemaskan. Shanaya pun tidak masalah dengan perlakuan suaminya itu, dirinya justru sangat bersyukur, karena Shawn sama sekali tidak terlihat risih dengan pandangan orang-orang terhadapnya.
Kamar luas dan mewah yang dihias dengan dekorasi super romantis, menyambut Shawn dan Shanaya yang masuk dengan saling berpegangan tangan.
"Bagaimana Sweetheart? Apa kamu suka?" Tanya Shawn menatap dalam mata indah Shanaya yang terlihat berbinar bahagia. Terlebih Shawn memanggilnya dengan panggilan baru yang terdengar sangat manis.
"Tentu saja Honey, aku begitu bahagia." Jawab Shanaya jujur & bersemangat, menatap penuh cinta pada suaminya. Juga dengan menyelipkan panggilan yang membuat hati Shawn berdesir senang.
"Syukurlah.. Aku senang kalau kamu menyukainya. Sebentar lagi menu makan malam kita akan diantar ke kamar. Kamu mau makan dulu atau mandi dulu Sweetheart?"
"Hmm, aku mau mandi dulu Honey. Nanti kita baru makan ya." Jawab Shanaya, lalu membuka cardigan tipis yang membungkus tubuhnya yang berbalut tanktop berwarna biru.
Shanaya hendak melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tapi Shawn menahan tangan Shanaya dan menariknya perlahan, hingga tubuh Shanaya menabrak dada bidang Shawn.
"Baiklah.. Ayo kita mandi berdua, Honey." Lirih Shanaya dengan nada suara dan tatapan menggoda, seraya menarik pelan tangan Shawn menuju kamar mandi.
*************************
Drake baru saja menerima laporan dari anak buahnya mengenai keberadaan Keiva, yang saat ini sedang berjalan-jalan di tepi pantai, tepat di depan Resort yang mereka tempati. Drake seolah tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, dengan segera mencari keberadaan Keiva. Sesungguhnya hatinya sudah begitu rindu pada gadis yang berhasil mengacaukan hatinya itu. Meskipun sikapnya seringkali terlihat jutek dan ketus pada Drake, yang juga selalu terkesan dingin dan acuh tak acuh.
Senyum Drake perlahan merekah, saat netra kehijauannya menangkap sosok yang dia cari sejak tadi. Meskipun gelengan kepala dan helaan nafas panjang sempat keluar, melihat si gadis yang hanya membalut tubuh mungilnya dengan gaun pantai berbahan tipis, yang pastinya tidak bisa mengalahkan dinginnya angin laut yang bertiup kencang malam ini.
Lamunan Keiva mendadak buyar, saat sebuah jaket tebal menutupi bagian tubuh atasnya. Terlebih dua tangan kekar yang semula memegang jaket itu, kini beralih memeluk tubuhnya dari belakang.
Keiva yang terkejut, refleks berniat melepas pelukan tanpa izin itu. Namun kedua tangan itu begitu kokoh dan kuat memeluknya. Sehingga Keiva hanya bisa memiringkan kepalanya untuk melihat siapakah orang yang sudah begitu lancang melingkarkan kedua tangannya dari belakang itu.
"Drake..??" Mata Keiva membulat sempurna melihat pria yang beberapa hari ini dia hindari.
"Bagaimana bisa kamu ada disini?" Ucap Keiva penuh tanya, dengan tangan masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Drake yang sangat kuat.
"Aku tidak mau kamu terus menerus menghindariku, Keiva." Suara Drake terdengar lirih namun begitu dalam. Hingga Keiva begitu terhipnotis dan menghentikan pergerakannya untuk melepaskan diri dari pelukan Drake. Apalagi pelukan Drake terasa menghangatkan tubuhnya yang dingin.
"A.. Aku.. tidak menghindarimu." Elak Keiva yang langsung menghadapkan wajahnya kedepan, menghindari tatapan Drake yang mulai terasa mengintimidasi.
Perlahan Drake melonggarkan pelukannya lalu membalik badan Keiva agar menghadap ke arahnya. Kedua tangannya kini memegang lembut lengan Keiva.
"Tatap mataku Keiva, apa benar kamu tidak menghindariku?" Keiva mendongak, memberanikan diri menatap mata elang Drake yang masih intens memandangnya.
"Aku.. Aku.."
"Apa kamu tidak nyaman dengan kejadian saat kita di hotel sebelumnya?" Pertanyaan Drake diangguki ragu oleh Keiva. Kini Keiva memilih menundukkan kepalanya, tidak ingin Drake menyadari raut malu di wajahnya.
"Tapi aku sangat menyukainya Keiva.." Ucap Drake lirih, namun berhasil membuat Keiva kembali mendongakkan kepalanya, mencari kejujuran di wajah Drake.
"Apa maksudmu Drake?" Tanya Keiva sangat penasaran.
"Aku menyukai setiap moment kebersamaanku bersamamu Keiva. Karena aku.." Keiva terlihat begitu penasaran dengan kalimat Drake yang menggantung. Namun Drake terlihat ragu untuk meneruskan perkataannya.
"Karena kamu apa Drake?" Keiva terdengar sangat tidak sabar menunggu kalimat Drake selanjutnya. Tapi Drake malah tersenyum dan memilih menarik lembut sebelah tangan Keiva untuk berjalan mengikutinya.
"Lebih baik kita kembali ke Resort. Kamu butuh makanan dan minuman hangat saat ini." Keiva hanya terdiam mendengar perkataan Drake. Matanya tidak lepas memandangi tangannya yang digenggam erat oleh Drake.
Sebenarnya Keiva masih begitu penasaran pada apa yang akan dikatakan Drake tadi, tapi Keiva menyadari kalau pria disebelahnya ini tidak akan membuka mulutnya, jika dirinya memang enggan. Sehingga Keiva memilih menurut saja dengan berjalan mengikuti Drake menuju Resort.
*'Hah.. Pria dingin ini memang selalu seenaknya, tapi kenapa dia bilang menyukai setiap kebersamaannya denganku? Apa dia menyukaiku? Hmm, sepertinya hal itu sangatlah tidak mungkin.. Dia bahkan selalu acuh tak acuh dan dingin padaku. Sikap manisnya saat di restaurant dan hotel sebelumnya, pasti hanyalah sebuah sebuah kepedulian saja*. Dia tidak mungkin memiliki perasaan istimewa terhadapku.' Ucap Keiva dalam hati.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️