
Pagi yang cerah dengan sinar matahari hangat yang menerobos melalui jendela kamar, nampak tidak selaras dengan raut wajah Sehrish yang begitu suram dan penuh kebencian.
Nafas Sehrish terdengar naik turun dengan mata mendadak panas, saat matanya terpaku pada sosok pria tampan dan gagah yang dikenalnya, setelah dia mengetikkan nama Shawn Salazar Knight di sebuah aplikasi pencarian di laptopnya. Sehrish membaca semua artikel yang dia dapatkan dari internet tentang sosok yang sudah dianggap telah menipunya itu.
Bukan hanya itu, Sehrish juga mencari semua informasi tentang kedua orangtua Shawn. Alangkah terkejutnya Sehrish, saat melihat wajah yang dia ketahui sebagai Mamanya, tertulis jelas sebagai Ibu dari Shawn Salazar Knight, yaitu Sanchia Arelia Knight. Sehrish pun tiba-tiba merasakan kebencian pada laki-laki yang dikenal sebagai suami baru dari Mamanya, yaitu Sall Sherwyn Knight.
*'Jadi benar yang Papa katakan, kalau laki-laki brengs*k ini adalah anak dari laki-laki yang sudah menghancurkan pernikahan Papa dan Mama. Karena dialah Mama meninggalkan Papa dan aku.' Sesal Sehrish dalam hati.
Sehrish membaca semua profil keluarga Knight yang dia dapatkan, tanpa dia ketahui, kalau ada begitu banyak informasi dan artikel lain yang sudah Mr. Ali blokir agar Sehrish tidak bisa membacanya. Tentu saja artikel yang Mr. Ali blokir adalah semua informasi yang berkaitan dengan Shanaya Zarine Knight, sehingga Sehrish mengira kalau Shawn adalah anak tunggal, pewaris satu-satunya dari kerajaan bisnis keluarga Knight.
Tatapan tajam Sehrish tertuju pada photo Shawn saat dinobatkan sebagai CEO Knight Group Company beberapa tahun lalu.
'Aku akui, kalau aku memang sempat jatuh dalam pesonamu. Tapi aku bukan orang bodoh yang akan membiarkan diriku terperdaya setelah tahu kebusukanmu. Aku akan mengikuti permainanmu brengsk.. Aku akan terus berpura-pura masuk dalam perangkapmu, agar aku bisa menghancurkanmu dan Ayahmu di saat yang tepat.' Tekad Sehrish dalam hati.
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..
Sebuah pesan masuk menarik perhatian Sehrish, terlebih munculnya nama Steve membuat Sehrish begitu semangat untuk membukanya. Mungkin sebelum tahu kenyataan yang sebenarnya tentang Shawn, Sehrish akan membuka pesan Shawn dengan hati berbunga-bunga. Namun kali ini rasa semangatnya bukan karena dia bahagia, melainkan karena rasa benci yang sudah tidak sabar untuk diluapkan.
Sudah ada banyak rencana buruk di kepala Sehrish untuk bisa membalas Shawn dan keluarganya, tanpa tahu kalau dia sudah melakukan langkah yang salah dan juga membidik target yang salah.
Steve :
Morning My sunshine, bagaimana tidurmu? Aku begitu khawatir membiarkanmu pulang bersama para pengawalmu. Aku takut Papamu memarahimu, coba kamu izinkan aku mengantarmu juga, pasti aku bisa menjelaskan semuanya pada Papamu. Katakan pada Papamu, kalau kamu sudah menerima lamaranku. Agar aku bisa segera datang bersama keluargaku untuk melamarmu secara resmi.
Seringai Sehrish terbit begitu selesai membaca pesan dari Shawn. Dilemparnya ponsel yang tidak bersalah itu dengan kasar, tanpa berniat membalas pesan dari Shawn yang sedang menunggu dengan perasaan tidak sabar.
Drrtt.. Drtt.. Drtt..
Kali ini sebuah panggilan video dari Shawn, kembali menarik atensi Sehrish. Ekspresi yang semula dipenuhi perasaan benci, seketika diubahnya dengan raut penuh senyuman, sesaat sebelum Sehrish menerima panggilan video dari Shawn.
"Hai My sunshine.. Bahagianya melihat senyumanmu pagi ini. Apa semalam Papamu memarahimu Sayang?"
"Tidak Steve.. Papa hanya menegurku saja. Tapi semalam aku belum mengatakan soal lamaranmu yang sudah aku terima. Karena semalam, aku sudah terlalu lelah dan mengantuk. Mungkin aku akan mengatakannya setelah sarapan nanti." Ucap Sehrish, memancing sedikit gurat kecewa di wajah Shawn.
"Baiklah.. Apa perlu aku datang ke mansion, agar kita berdua bisa mengatakannya pada Papamu?" Tawar Shawn.
"Tidak Steve.. Aku akan membicarakannya terlebih dahulu pada Papa."
"Okay.. Aku percayakan pada kamu ya Sayang."
"Hmm, aku masih merindukanmu, bisakah kamu sarapan sambil melakukan video call?" Pinta Shawn sedikit memelas.
"Maaf Steve.. Aku akan sarapan dibawah bersama Papa."
"Hmm, baiklah.. Jangan lupa hubungi aku lagi ya Sayang. I love you, My sunshine.." Ungkap Shawn seraya mengulas senyum tampannya.
"Iya Steve..Bye." Sehrish segera menutup panggilan video dari Shawn, lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Mencoba menenangkan jantungnya yang masih saja berdegup kencang setiap kali memandang wajah tampan Shawn.
'Aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Bagaimana caraku untuk bisa menghapus perasaan yang sudah terlanjur ada ini? Bagaimanapun cintaku padanya adalah sesuatu yang terlarang. Aku tidak boleh memiliki perasaan sedikitpun pada putra dari pria yang sudah menghancurkan keluargaku.' Tekad Sehrish dalam hati.
Tok..Tok.. Tok..
"Nona, saya membawakan sarapan untuk anda."
Suara seorang pelayan perempuan, mengganggu lamunan Sehrish. Tidak mau membiarkan pelayan itu menunggu lama, Sehrish segera menegakkan tubuhnya, lalu beranjak menuju pintu untuk membukanya.
"Masuklah.. Simpan saja di atas nakas Estella."
Pelayan perempuan bernama Estella itu mengangguk sopan, sebelum menyimpan nampan berisi menu sarapan dan beberapa botol obat di atas nakas.
"Nona, Tuan Ali mengingatkan anda untuk selalu meminum obat anda dengan teratur." Sehrish memberengut kesal mendengar perkataan pelayan itu, meskipun yang dikatakannya adalah permintaan Papanya.
"Aku sudah sehat Estella. Aku sama sekali tidak pernah merasa badanku tidak enak karena efek kecelakaan yang bahkan tidak aku ingat." Protes Sehrish.
"Maafkan saya Nona, tapi ini permintaan Tuan Ali. Saya harus memastikan Nona meminum obat anda sesuai waktunya."
Sehrish hanya mendengus dan menghela nafas panjang mendengar perkataan Estella yang terkesan memaksa. Menyadari kalau dirinya tidak akan bisa menolak permintaan Papanya yang selalu mengkhawatirkannya itu.
Sementara di tempat lain, Shawn tampak menatap wajah Shanaya yang menghiasi layar ponselnya. Tatapannya yang beberapa saat yang lalu tampak berbinar dan bersemangat, kini berubah sendu penuh kerinduan.
"Aku merindukanmu Shanaya. Kapan ingatanmu akan kembali? Aku yakin sekali Papa palsumu itu sudah memberikanmu sesuatu, sampai kamu benar-benar melupakan semuanya. Aku tahu, ada sesuatu yang kamu sembunyikan, mungkin si Ali brengs*k itu sudah mencuci otakmu semalam. Aku tidak mudah dibohongi dengan ekspresi palsu dan dibuat-buat seperti tadi. Jika aku tidak bisa membawamu pergi dengan cara baik-baik, maka aku akan membawamu pergi dengan cara apapun Shanaya." Ujar Shawn dengan tekad yang bulat.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️