
Kekecewaan yang mendalam tidak akan ada, jika memang tidak ada cinta yang begitu dalam. Hati Drake yang perih bagaikan dicabik-cabik tanpa jeda, sehingga dirinya kini bukan hanya butuh penghiburan, melainkan juga obat dari segala rasa sakit yang ditorehkan oleh Keiva.
Drake enggan meratapi nasib dan menyendiri dalam keterpurukannya. Sehingga Drake memilih masuk ke dalam suasana ramai yang setidaknya mengalihkan perhatiannya dari perasaan yang sedang dipenuhi luka.
Pandangan Drake mengedar ke semua arah, begitu kakinya melangkah masuk ke dalam salah satu mall terbesar di Kota Bandung.
'Pantas saja begitu ramai, sekarang kan jumat malam. Banyak orang menikmati waktu dengan berjalan-jalan di mall, karena besok mereka libur..' Batin Drake.
Drake memilih masuk ke dalam salah satu restaurant khas anak muda yang terlihat sangat penuh oleh pengunjung. Berkali-kali pelayannya mengajak pengunjung untuk menikmati menu terbaru mereka yang sedang promo. Tentunya banyak anak muda yang kebanyakan adalah mahasiswa memilih untuk masuk, karena tergiur oleh perkataan sang pelayan.
Setelah memesan dan menerima makanannya, Drake mencari tempat untuk duduk, namun ternyata semua meja sudah penuh. Drake hendak menyesali keputusannya karena memilih masuk ke dalam cafe ini, hingga netranya menangkap seorang gadis yang duduk sendirian di salah satu pojok cafe.
'Sepertinya gadis itu duduk sendirian, kursi dihadapannya kosong..' Ucap Drake dalam hati.
"Permisi, apa boleh saya duduk disini? Tidak ada meja yang kosong lagi." Drake berusaha bertanya dengan sopan pada gadis berkacamata dan berambut ikal bergelombang itu. Menurut Drake, gadis berwajah asli Indonesia dihadapannya sangatlah cantik, meskipun wajahnya tidak dihiasi make-up sedikitpun.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, sebelum akhirnya mengangguk dan mengizinkan Drake untuk duduk dihadapannya.
"Terima kasih ya.." Drake tersenyum tipis lalu meletakan nampan berisi makanan pesanannya di atas meja.
Selama beberapa saat, Drake dan gadis itu menikmati makanan mereka tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hingga Drake sedikit terkejut, saat tiba-tiba gadis itu mengumpat pelan tanpa sebab.
"Ah shiiiitt.."
Drake mengikuti arah pandang sang gadis yang ternyata memandang sekumpulan laki-laki berbadan besar yang berada di luar cafe. Gadis itu segera berdiri dan melangkah pergi menuju pintu yang berlawanan arah dengan pintu terdekat dari sekumpulan laki-laki yang dilihatnya.
Entah kenapa, Drake pun memilih keluar dari cafe dan mengikuti gadis yang mulai berlari-lari kecil itu. Ada sedikit rasa penasaran tentang alasan gadis itu menghindar dari sekumpulan pria tadi, dan Drake pun cukup khawatir akan keselamatan gadis yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
"Itu dia.. Cepat kejar.." Bukan hanya gadis itu yang terkejut, Drake pun ikut terkejut saat sekumpulan pria tadi mulai mengejar sang gadis yang hanya berjarak kurang dari 20 meter didepannya.
Drake segera menarik tangan gadis itu untuk berlari menuju area parkir, dan mendorongnya masuk ke dalam mobil sportnya. Gadis yang terlihat tidak punya pilihan itu, menurut pasrah dan memilih diam saat Drake mulai melajukan mobilnya keluar dari area mall.
Gadis itu bernafas lega, saat dilihatnya tidak ada satupun dari laki-laki tadi yang melihatnya masuk ke dalam mobil Drake apalagi sampai mengejarnya.
"Hah, syukurlah.." Lirih gadis itu seraya mengusap dadanya. Drake menatapnya sekilas, sebelum kembali fokus dengan jalanan dihadapannya.
"Jadi kamu mau aku antar kemana?" Tanya Drake sedikit mengejutkan gadis yang masih sibuk dengan pikirannya itu.
"Oh iya.. Turunkan saja aku persimpangan jalan itu, biar aku naik angkot saja untuk pulang." Jawab gadis itu.
"Hmm, aku bisa mengantarmu pulang. Aku khawatir pria-pria tadi masih mengejar dan mencari keberadaanmu." Mendengar perkataan Drake, seketika raut khawatir kembali terulas di wajahnya yang cantik.
"Pasti mereka akan mencariku ke kost-an, malam ini sepertinya aku tidak usah pulang." Lirih gadis itu, namun perkataannya masih tertangkap jelas di telinga Drake.
"Kalau kamu takut pulang, aku akan mengantarmu ke hotel. Mungkin untuk sementara kamu bisa menginap disana." Usul Drake yang langsung ditolak gadis itu.
"Tidak..Tidak.. Aku tidak punya uang untuk membayar hotel. Aku saja menunggak uang kost-an, bagaimana bisa menyewa hotel." Ucapan gadis itu menarik kernyitan di kening Drake. Sejujurnya Drake ingin bertanya lebih banyak tentang masalah gadis itu, tapi Drake sedikit segan dan takut kalau gadis itu menganggapnya terlalu ikut campur.
"Jadi siapa namamu? Namaku Drake.." Tanya Drake.
"Oh iya namaku Letta, terima kasih ya Kak Drake sudah menyelamatkanku dari kejaran orang-orang tadi." Ucap gadis bernama Letta itu tulus.
"Sama-sama Letta.. Hmm, jadi sekarang aku harus mengantarmu kemana?" Letta masih tampak kebingungan menanggapi pertanyaan Drake.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke hotel. Tapi kamu tidak perlu memikirkan biayanya, aku yang akan membayarnya." Ucapan Drake langsung dibalas Letta dengan memicingkan matanya.
"Tenanglah, aku hanya akan mengantarmu dan membayar biayanya saja. Aku tidak akan menemanimu disana." Penjelasan Drake seketika membuat Letta lega.
"Hmm, tapi tidak usah hotel mahal.. Cukup penginapan murah saja. Sepertinya ada beberapa penginapan murah di sekitar sini." Drake mengangguk samar, mengiyakan permintaan Letta.
"Nah penginapan itu saja, sepertinya tidak terlalu mahal."
Drake mengarahkan mobil sportnya ke area parkir hotel yang terlihat sangat sederhana itu. Namun baru saja Drake menghentikan mobilnya, beberapa pemandangan seketika membuat Drake dan Letta saling memandang dengan tatapan bingung.
Terlihat beberapa pasangan memasuki hotel itu, dan kebanyakan diantara perempuan-perempuan itu berpakaian seksi dan sangat terbuka. Laki-laki yang bersama mereka pun tampak sudah banyak yang berumur, dan seolah tanpa ragu melakukan kontak fisik dengan menyentuh beberapa bagian tubuh perempuan yang mereka rangkul.
Isi pikiran Drake dan Letta kini dipenuhi berbagai pikiran negatif. Letta terlihat takut dan khawatir, tentu saja hal ini sangat disadari oleh Drake.
"Sepertinya hotel ini tidak aman untukmu.." Ucap Drake yang langsung diangguki Letta.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke hotel yang aman.. Percayalah padaku, aku bukan orang jahat.." Letta kembali menganggukkan kepalanya, kali ini dia memilih menuruti perkataan Drake, karena menyadari itulah pilihan terbaik saat ini.
*************************
Shawn dan Shanaya memutuskan untuk menginap di sebuah resort yang terletak di dataran tinggi Kota Bandung, setelah perut mereka penuh terisi makanan di cafe sebelumnya. Sebenarnya acara menginap di resort itu memang tanpa rencana. Shanaya tiba-tiba saja mengatakan malas menginap di mansion dan ingin menikmati matahari terbit di pegunungan esok hari. Hingga akhirnya Shawn membawa Shanaya ke resort yang juga sedang viral di Kota Bandung.
Shawn memang berusaha sekali menyenangkan istrinya yang sedang hamil itu, apapun akan dilakukan Shawn, selama hal itu memungkinkan untuk dipenuhi. Sikap Shawn ini tentu saja sangat disyukuri oleh Shanaya, mempunyai suami yang begitu mencintainya dan selalu berusaha membahagiakannya adalah anugerah yang tidak ternilai harganya.
Di balkon kamar VVIP resort, Shawn tampak memeluk erat tubuh istrinya dari belakang, sama-sama menatap ke arah langit yang berhias kerlap-kerlip bintang.
"Sweetheart.. Kita tidur yuk, sudah malam. Kamu dan bayi kita harus beristirahat. Tidak baik terlalu lama kena angin malam." Ajak Shawn.
"Sebentar lagi ya Honey, aku masih suka disini." Shanaya sedikit keberatan dengan ajakan Shawn.
"Hmm, okay.." Jawab Shawn tidak ingin memaksa istrinya, meskipun sedikit khawatir karena angin pegunungan bertiup cukup kencang.
"Oh iya, apa Kak Drake sudah menghubungimu dan mengatakan kemana dia pergi? Sepertinya Kak Drake pergi setelah melihat Keiva dan Briley tadi. Aku tidak habis pikir, kenapa Keiva melakukan hal itu, padahal dia sudah berpacaran dengan Kak Drake." Shawn menganggukkan kepalanya, sepakat dengan kalimat terakhir istrinya itu.
"Drake sudah menghubungiku, dan mengatakan kalau dia perlu waktu menenangkan diri. Aku sangat mengerti dengan perasaannya, jadi biarkan saja dia menghibur dirinya dengan tidak kita ganggu untuk saat ini."
"Tapi aku cukup khawatir pada Kak Drake. Aku takut Kak Drake akan melakukan hal bodoh karena dikecewakan oleh Keiva. Tadi Keiva terlihat sangat terkejut saat melihat kita. Kalau tidak ingat kita di tempat umum, sudah aku nasehati panjang lebar tuh Keiva." Omel Shanaya saat mengingat kejadian di cafe tadi.
"Drake tidaklah bodoh Sweetheart, dia bisa menjaga dirinya sendiri. Aku yakin dia bisa melaluinya dengan baik. Jadi berhentilah mengkhawatirkannya, karena aku cemburu." Perkataan Shawn membuat Shanaya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aduh Honey, aku hanya khawatir akan keadaan Kak Drake yang sedang sedih karena Keiva. Bisa-bisanya kamu cemburu." Protes Shanaya seraya memiringkan kepalanya untuk menatap netra suaminya.
"Pokoknya berhentilah membahas laki-laki lain, meskipun itu Drake. Karena aku tidak suka." Ucap Shawn tegas.
"Baiklah suamiku yang posesif." Jawab Shanaya lalu mengukir senyum jahilnya.
"Tidak apa-apa kamu menyebutku posesif. Yang jelas aku bersikap seperti ini karena terlalu mencintaimu, Sweetheart." Shawn memegang lembut dagu Shanaya, lalu mendaratkan ciuman di bibir ranum Shanaya yang sangat menggoda.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️