Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 33 Penyesalan



Suasana sepi di mansion dengan interior mewah bernuansa emas itu, dipecah teriakan kencang Mr. Ali yang menatap nyalang ke arah seorang gadis cantik dihadapannya.


"Sehrish, beraninya kamu pergi dengan laki-laki brengs*k itu."


Plaaakk..


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sehrish, menyisakan jejak merah yang membuat Sehrish meringis kesakitan. Dengan sebelah tangan, Sehrish memegangi pipinya seraya melayangkan tatapan tajam dan tidak percaya pada Papanya. Papa yang biasanya selalu bersikap lembut dan penuh kasih sayang, tampak murka seperti dirasuki setan.


"Kamu seperti jal*ng, berpakaian terbuka dan pergi bersama laki-laki yang baru kamu kenal. Dimana harga dirimu Sehrish?!!" Sehrish membelalakan matanya mendengar perkataan Papanya yang sangat menohok hatinya itu.


Sehrish menarik turun gaunnya yang pendek di atas lutut, namun tentu saja gaun itu tidak akan berubah panjang. Beruntung bagian atas gaunnya yang menampakkan leher, dada dan punggung mulusnya, tertutup rapat oleh blazer milik Shawn.


"Sehrish.. Kamu tidak boleh bertemu lagi dengan Ketua Klan Toddestern itu." Kata-kata Mr. Ali yang terdengar sangat tegas, langsung ditanggapi Sehrish dengan ekspresi memelas.


"Pa.. Steve sudah melamarku, bahkan melamarku langsung dihadapan Papa. Aku sudah menerima lamarannya Pa.. Aku ingin menikah dengannya." Mata Mr. Ali menghunus tajam mendengar perkataan Sehrish yang begitu serius.


"Sehrish, apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Papa tidak akan pernah mengizinkanmu dekat dengan laki-laki itu, apalagi menikah dengannya." Sehrish mendekati Mr. Ali, tidak terima dengan keputusan sepihak Papanya.


"Tapi kenapa Pa?" Sehrish menatap sendu netra Papanya, meminta penjelasan.


"Dia adalah anak dari pria yang menghancurkan kehidupan Papa dan Mamamu. Dia adalah anak dari pria yang membuat Mamamu meninggalkan Papa dan juga kamu."


Duaaarr..


Bagaikan disambar petir, tubuh Sehrish bergeming, matanya membulat dengan mulut terbuka mendengar perkataan Papanya. Sesaat kemudian Sehrish menggelengkan kepalanya pelan, seolah tidak ingin percaya dengan apa yang didengarnya.


"Papa pasti bohong kan?" Tuntut Sehrish.


"Papa tidak berbohong Sehrish. Laki-laki yang bersamamu itu bukan bernama Steve, melainkan Shawn Salazar Knight. Putra dari Sall Sherwyn Knight, laki-laki yang paling Papa benci di dalam hidup Papa. Karena dialah, Mamamu pergi dari hidup Papa. Dan sekarang, kamu malah jatuh cinta pada Putra laki-laki itu. Apa kamu sudah gila Sehrish?" Pandangan Sehrish mendadak buram, air mata yang memenuhi kelopak matanya tampak siap meluncur turun. Sungguh hatinya yang begitu berbunga-bunga beberapa jam terakhir ini, mendadak terasa perih karena kenyataan yang sama sekali tidak diduganya.


"Sehrish, buka matamu. Laki-laki bernama Shawn itu sudah membohongi dan memperdayamu. Jangan sampai kamu terjebak oleh perangkapnya. Seharusnya kamu membencinya, bukan justru jatuh cinta padanya. Dasar perempuan bodoh." Umpatan Mr. Ali menorehkan luka yang semakin dalam di hati Sehrish. Dengan air mata yang mulai mengalir deras di pipinya, Sehrish berlari menuju kamarnya, meninggalkan Papanya yang belum selesai meluapkan amarahnya.


Di dalam kamar, Sehrish mendudukkan dirinya di depan meja rias, setelah memastikan pintu kamarnya terkunci rapat. Netra cantiknya menatap pantulan cermin dihadapannya, lalu perlahan dibukanya blazer Shawn yang menutupi tubuhnya.


Seketika tangisnya pecah, melihat banyak bercak kemerahan di dadanya. Jejak kebuasan Shawn beberapa jam yang lalu itu begitu terasa menyayat hati Sehrish. Beribu penyesalan kini memenuhi hatinya yang sempat berbunga-bunga.


"Kamu benar-benar bodoh Sehrish. Laki-laki brengs*k itu memang sengaja menipumu untuk mendapatkan apa yang dia inginkan." Lirih Sehrish dengan suara yang bergetar menahan tangis.


Pikirannya melayang pada kejadian yang ingin dia lupakan. Saat dirinya dan Shawn berada di dalam mobil Shawn beberapa jam yang lalu.


Shawn menciumi leher dan dada Sehrish, memberikan sengatan-sengatan yang berhasil meloloskan des*hhan dari mulut Sehrish. Shawn pun semakin bersemangat meninggalkan banyak jejak kepemilikan di dada Sehrish, hingga hampir menyentuh area bukit kembar Sehrish. Bahkan sebelah tangan Shawn mulai berani menelusup diantara dua paha Sehrish yang menggoda pandangannya, sementara tangan lainnya menyibak pelan bagian atas gaun Sehrish, sehingga hampir menampakkan setengah bukit kembar gadis itu.


"Tidak Steve, ini salah.. Aku tidak mau melakukannya sebelum kita menikah." Mendengar perkataan Sehrish, Shawn pun ikut tersadar. Dia langsung menarik kedua tangannya, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


'Oh My God.. Apa yang sudah aku lakukan? Aku hampir saja merusak Shanaya. Jika sampai aku kebablasan, maka Shanaya pasti akan membenciku dan membenci dirinya sendiri. Daddy dan Mommy pun akan membunuhku.' Sesal Shawn dalam hati.


"Sehrish, maafkan aku. Aku benar-benar hilang kendali." Ucap Shawn penuh sesal, dengan kedua tangan menggenggam dua tangan Sehrish.


"Aku pun terbawa suasana Steve, tapi aku benar-benar tidak ingin melakukan sesuatu yang akan aku sesali nantinya." Ungkap Sehrish seraya menatap sendu netra biru Shawn.


"Iya, akupun begitu Sehrish. Kita akan melakukannya setelah sah nanti. Hmm, jadi maukah kamu menikah denganku?" Tanya Shawn penuh harap.


"Iya, aku mau menikah denganmu Steve." Jawaban Sehrish dibalas Shawn dengan senyuman yang lebar.


"Terima kasih Sehrish.. I love you.." Shawn menciumi kedua tangan Sehrish dengan gemas, sebelum kembali mendaratkan bibirnya di bibir ranum Sehrish yang sudah menjadi candu baginya.


*************************


Sementara itu di kamar lain, Mr. Ali tampak mengepalkan tangannya menahan marah yang sebenarnya masih ingin dia luapkan.


"Bukan ini yang aku inginkan. Bagaimana bisa Shanaya malah jatuh cinta pada si berandal itu. Harusnya mereka saling bertempur dalam kebencian. Aku ingin melihat si brengs*k Sall merasa terpuruk, karena kedua anaknya saling menyerang, bahkan saling membunuh." Seringai tampak terulas di wajah Mr. Ali.


Mr. Ali duduk di depan meja rias yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya. Perlahan tangannya meraba bagian bawah wajahnya seolah hendak menarik lapisan kulit wajahnya yang tipis. Sebuah topeng wajah yang menempel di wajah Mr. Ali, kini terlepas dengan sempurna, menampakkan wajah aslinya yang selama ini selalu dia sembunyikan.


*************************


TAIPEI - TAIWAN


Sepasang kakak beradik tampak menikmati pagi yang cerah di ruang keluarga villa mereka. Keduanya sesekali menyesap secangkir jasmine tea yang berada di tangan mereka.


"Sheran.. Aku sungguh masih tidak percaya dengan apa yang sudah Papa lakukan. Selama bertahun-tahun dia membohongi kita, seolah terbaring koma karena perasaannya yang terlalu dalam pada Aunty Sanchia. Tapi ternyata Papa malah berada di Dubai untuk membangun kekuatan dan mematangkan rencana balas dendamnya pada keluarga Aunty Sanchia. Selama bertahun-tahun aku berbicara dan menangisi orang koma, yang ternyata hanya orang asing yang dipasangi topeng wajah semirip mungkin dengan Papa." Ujar Seira dengan nada penuh kekecewaan.


"Papa memang sudah tidak waras. Pikiran yang dibalut sikap diamnya, ternyata menyimpan segudang rencana gila dan diluar nalar. Kita lihat saja apa yang akan Papa lakukan selanjutnya." Ucap Sheran lalu menyeruput jasmine tea-nya hingga tandas.


************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️