Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 61 Dia Mencintaimu...



Raut cemas masih menghiasi wajah-wajah yang berada di salah satu kamar klinik Resort Knight, karena Seira masih belum sadar dari pengaruh anestesi, meskipun dua peluru yang bersarang di perut Seira sudah berhasil dikeluarkan. Untung saja, Resort itu memiliki fasilitas medis yang sangat lengkap, bahkan Shanaya dibantu beberapa dokter di klinik bisa langsung melakukan operasi pengangkatan peluru terhadap Seira tanpa hambatan.


Sheran tampak duduk menunduk dengan posisi tangan saling menggenggam di sofa kamar perawatan Seira. Disebelah dan sebrang sofa juga terlihat Sanchia, Sall, Shanaya, dan Shawn yang ikut menunggu sadarnya Seira setelah beberapa jam operasi. Sesekali ada percakapan diantara keempat anggota keluarga itu, namun mereka sengaja membiarkan Sheran larut dalam pikirannya sendiri tanpa berniat mengusiknya. Hingga akhirnya sebuah kalimat meluncur dari mulut Sheran.


"Terima kasih.. Karena sudah menyelamatkan nyawa Seira." Ungkap Sheran memandang Shanaya, lalu beralih pada Shawn, Sanchia dan Sall. Hal ini sedikit mengejutkan orang-orang yang mendengarnya.


"Iya.. Aku tidak mungkin membiarkannya kehilangan nyawa setelah menyelamatkan Mommy, meskipun Papa kalian juga yang sudah mengancam nyawa Mommy." Jawab Shanaya dengan raut datarnya.


"Iya.. Tolong maafkan Papaku.. Dan maafkan aku karena sudah melakukan banyak kesalahan terhadap kamu dan juga semua keluarga Knight.. Aku menyesal.." Pernyataan Sheran yang terdengar tulus dan penuh penyesalan, membuat Shanaya tidak menyangka. Tubuhnya yang dirangkul Shawn tampak membeku. Sanchia yang dirangkul Sall pun mulai berkaca-kaca karena haru.


"Mungkin kalian tidak bisa percaya pada ungkapan maaf dan penyesalanku ini, tapi aku benar-benar menyesal atas semua yang aku lakukan. Sungguh aku tidak ingin semuanya berakhir seperti ini." Sheran menghapus kasar tetesan air mata yang menerobos keluar dari kedua sudut matanya, lalu memalingkan wajah ke arah lain.


"Kami percaya.. Dan kami memaafkanmu." Ucap Sanchia seraya mendekat dan menepuk lembut bahu Sheran. Sesaat Sheran tampak terpaku memandang sorot teduh dari mata indah Sanchia. Sungguh perasaannya mendadak menghangat saat mendapat perlakuan lembut dari seseorang yang dicintai Papanya itu. Hingga akhirnya Sanchia menarik pelan tubuh Sheran dan memeluknya.


"Menangislah, dan lepaskan seluruh bebanmu. Agar perasaanmu lega." Lirih Sanchia dengan tangan mengelus lembut punggung dan puncak kepala Sheran.


Seperti tersihir, Sheran tiba-tiba menangis tanpa suara, meluapkan perasaan sedihnya yang dia tahan sejak beberapa jam yang lalu. Pemandangan ini tiba-tiba membuat Shanaya, Shawn dan Sall merasa haru. Sungguh mereka tidak menyangka, seorang Sheran bisa menumpahkan perasaannya yang tersembunyi di bahu orang yang mereka kasihi.


Tangis itu baru berhenti setelah beberapa belas menit berlalu. Sheran yang merasa malu setelah menyadari apa yang dilakukannya, menarik mundur tubuhnya lalu meraup kasar wajahnya untuk menghapus jejak air mata di wajahnya yang basah.


"Maaf.. Maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan perasaanku." Sheran menghindari kontak mata dengan Sanchia karena rasa malunya, namun Sanchia justru memandangnya dengan senyuman lembut dan tangan masih mengelus punggungnya.


"Tidak apa-apa, Aunty senang karena kamu bisa meluapkan perasaanmu yang tertahan. Tenanglah, sebentar lagi Seira akan sadar, dia adalah perempuan yang sangat kuat." Ucapan Sanchia membuat Sheran kembali memandangnya, kali ini sebuah senyuman tipis nyaris tidak terlihat menghiasi wajah Sheran.


"Iya, Seira perempuan yang sangat kuat.." Lirih Sheran.


"Pa..pa.." Sebuah suara mengalihkan atensi semua orang yang ada di kamar itu.


"Seira.. Kamu sudah sadar?" Sheran langsung berlari menghampiri tempat tidur Seira. Diikuti oleh Sanchia, Shanaya, Shawn juga Sall.


Tangan Sheran menggenggam tangan Seira yang saat ini masih memejamkan matanya, meskipun sudah sadar.


"She..ran.." Ucap Seira nyaris tidak terdengar.


"Iya aku ada disini Seira.."Jawab Sheran mengeratkan genggaman tangannya, seolah takut kehilangan saudara kembarnya itu.


"Dimana Papa?" Kali ini mata sendu Seira sudah mulai terbuka.


"Entahlah.." Jujur Sheran, karena memang dirinya tidak tahu dimana Alrico berada setelah apa yang dilakukannya pada Seira.


"Papamu baik-baik saja Sayang, dia sedang menenangkan dirinya. Dia sangat menyesal karena tidak sengaja melukai kamu. Terima kasih ya Seira, karena kamu sudah menyelamatkan Aunty." Mendengar ucapan Sanchia, membuat Seira meneteskan air matanya. Terlebih saat Sanchia kemudian memeluknya dengan sangat hati-hati, tumpahlah sudah air matanya.


"Maafkan Papa, Aunty Sanchia.. Dia sudah terlalu banyak melakukan kesalahan terhadap Aunty dan keluarga Knight. Aku sungguh merasa malu." Isak Seira terdengar semakin keras, Sanchia menarik mundur wajahnya lalu mengelus lembut puncak kepala Seira.


"Sudah Sayang, jangan memikirkan apapun. Saat ini kamu cukup fokus pada kesembuhanmu, izinkan Aunty merawatmu ya." Tentu saja perkataan Sanchia ini mengejutkan Seira begitu juga semua orang yang mendengarnya. Tapi binar bahagia jelas tertangkap di wajah Seira beberapa detik kemudian.


"Terima kasih Aunty Sanchia, sungguh aku bahagia mendengarnya. Tapi aku tidak layak menerimanya. Aku akan langsung pulang ke Perancis bersama Sheran." Jawab Seira seraya menatap saudara kembarnya yang langsung menganggukkan kepalanya.


"Tapi.. Apakah aku bisa mengajak Papa pulang juga?" Tanya Seira sedikit ragu, karena berpikir keluarga Knight pasti sudah menahan Papanya saat ini.


"Tidak.. Papamu sudah melakukan kesalahan yang teramat besar, kami tentu tidak akan melepaskannya begitu saja. Seharusnya Sheran pun menerima balasan atas apa yang dia lakukan, tapi karena dia sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya, maka kami tidak akan menahannya disini."  Jawab Shawn yang diangguki Sall. Sheran yang turut menjadi topik bahasan, hanya bisa menunduk malu.


"Tapi Papa tidak berhasil melukai Aunty, dan keadaan Aunty pun baik-baik saja. Tolong lepaskan Papa. Aku berjanji, kami tidak akan membuat masalah lagi." Seira berusaha meyakinkan Shawn dan Sall, raut wajahnya begitu penuh harap.


"Alrico sudah beberapa kali diberi kesempatan berubah, tapi dia terus saja berulah. Kali ini aku tidak bisa mempertaruhkan keselamatan keluargaku dengan melepaskannya." Perkataan Sall yang tegas menciutkan nyali Seira. Lidahnya kelu tidak mampu lagi berkata apa-apa.


Sanchia pun merasa tidak mungkin mengubah pikiran suami dan putranya yang tegas saat memutuskan sesuatu hal, kali ini Sanchia memilih diam. Sementara Shanaya mendukung penuh keputusan Daddy dan suaminya, karena khawatir Alrico akan kembali membuat rencana untuk menghancurkan keluarga Knight.


*************************


Kevin, Drake, Ivone bersama anggota Klan Toddestern, Ble Asteri dan Engelschatten memang diberikan tugas oleh Sall untuk mengamankan ratusan anak buah Alrico dan Sheran. Mereka semua saat ini dikumpulkan di markas Toddestern yang ada di Bali. Tidak ada penahanan atau penyiksaan, mereka diperlakukan dengan baik layaknya tamu. Mereka pun menyadari kalau tidak ada gunanya melakukan perlawanan, karena dua boss besar mereka saja sudah menyerah.


Kembali ke kamar pasangan halal yang ada di Resort Knight, Shanaya terlihat baru saja mandi dengan mengenakan bathrobe-nya. Wajahnya segar namun raut lelah terlihat begitu jelas, apalagi Shawn melihat istrinya itu tampak melamun di depan meja riasnya. Membuat Shawn yang hendak mandi, memilih mengurungkan niatnya untuk melangkah ke kamar mandi.


"Sweetheart, pasti kamu lelah ya." Shawn kemudian memijat bahu Shanaya dengan kedua tangannya. Shanaya tersenyum mendapat perlakuan manis dari suaminya. Kemudian tangannya melepas perlahan kedua tangan Shawn dari bahunya, dan malah melingkarkannya di depan dadanya. Membuat Shawn sedikit menunduk, dan melabuhkan kecupan-kecupan di puncak kepala Shanaya.


"Kamu pun lelah, lebih baik sekarang kamu mandi." Ucap Shanaya yang diangguki Shawn seraya mengulas senyum tampannya.


"Baiklah.. Aku mandi dulu ya Sweetheart." Shawn berlalu menuju kamar mandi. Sementara Shanaya berganti pakaian dengan piyama tidur lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


Matanya mulai terpejam, tapi pikirannya justru kembali menerawang pada kejadian beberapa jam yang lalu, saat dirinya berada di kamar rawat Seira.


Saat itu, Shanaya dan Shawn juga kedua orangtuanya hendak meninggalkan ruang rawat Seira, tapi Seira meminta waktu untuk berbicara berdua saja dengan Shanaya. Bahkan Seira juga meminta Sheran untuk menunggu diluar bersama Shawn, Sall dan Sanchia.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Seira?" Tanya Shanaya tanpa basa-basi.


"Aku minta maaf, karena begitu iri padamu.." Jawaban yang keluar dari mulut Seira, membuat Shanaya mengerutkan keningnya.


"Iri? Maksudmu iri karena apa?"


"Karena kamu memiliki segalanya.. Tapi tenang, cukup Papa dan Sheran saja yang menjadi orang bodoh karena mencintai milik orang lain. Aku tidak mau seperti itu, meskipun hatiku ingin." Mendengar penjelasan Seira yang masih belum jelas, Shanaya menghela nafas kasar.


"Jangan membuatku menduga-duga, jadi apa maksud dari perkataanmu itu Seira?" Shanaya terlihat tidak sabar menunggu kalimat Seira selanjutnya.


"Kamu beruntung memiliki Mommy yang perhatian dan lembut, juga Daddy yang kuat dan sangat melindungimu. Dan kamu juga memiliki Shawn, seseorang yang sangat mencintaimu sepenuh jiwanya. Dia bahkan rela melakukan apapun demi kamu. Aku iri.. Tapi sudah ku bilang, kalau aku tidak mau menjadi orang bodoh seperti Papa dan Sheran. Aku akan pergi dari kehidupan kalian, dengan membawa perasaanku." Ucap Seira disertai senyuman tipisnya.


"Seira, apa kamu.. mencintai Shawn?" Pertanyaan Shanaya sempat membuat Seira terkejut. Namun lidahnya seolah tidak bisa menutupi perasaannya saat ini, hingga sebuah jawaban meluncur keluar dari mulutnya.


"Ya.. Aku mencintai Shawn." Jawab Seira begitu tenang.


Cup...


Sebuah kecupan mendarat di kening Shanaya, menyadarkan Shanaya dari lamunannya tentang Seira dan perkataannya yang berhasil mengusik perasaan Shanaya.


Wajah Shawn memenuhi ruang pandang Shanaya, hingga mengukir senyum di wajah Shanaya yang cantik meskipun terlihat sangat lelah.


"Aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu. Katakan padaku, apa yang kamu pikirkan Sweetheart?" Shawn mengelus pelipis Shanaya yang terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan Shawn. Entah kenapa, dirinya sungguh tidak ingin Shawn tahu tentang perasaan Seira pada suaminya itu.


"Apa sebenarnya yang dibicarakan Seira padamu, Sweetheart? Aku melihatmu beberapa kali melamun setelah berbicara dengannya." Lagi-lagi Shanaya masih terdiam, membuat Shawn semakin merasa penasaran.


"Sweetheart.. Apa kamu tidak ingin berbagi cerita denganku? Aku sungguh khawatir melihatmu seperti ini." Tatapan Shawn berubah sendu, khawatir karena Shanaya masih enggan membuka mulutnya.


"Baiklah jika kamu masih belum mau bercerita, lebih baik sekarang kita tidur ya." Shawn mendekap tubuh Shanaya di dadanya yang bidang, lalu mulai menutup matanya perlahan. Namun perkataan Shanaya yang tiba-tiba, berhasil membuat netra Shawn kembali terbuka.


"Seira mencintaimu.."


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️