
Alrico alias Mr. Ali terlihat meneguk secangkir black tea di ruang kerja mansionnya, sambil menatap lurus pada sebuah photo di atas meja kerjanya. Seorang perempuan cantik yang masih sangat dicintainya hingga saat ini.
'Chia, maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud membuatmu tertidur begitu lama. Anak buahku yang begitu bodoh telah membuatmu terluka parah. Tapi sepertinya hal itu lebih baik, karena sesuai tujuanku, akhirnya si brengsk Sall bisa merasakan penderitaan seperti yang aku rasakan. Tujuanku hampir terwujud Chia, bangunlah nanti saat kamu sudah kubawa bersamaku.' Lirihnya dalam hati.
'Aku pun minta maaf, karena sudah membawa Shanaya pergi dan menjadikannya anakku. Tidak apa-apa kan? Kalau kita bersama nanti, tentu dia akan menjadi anakku juga.' Tiba-tiba Alrico tertawa lepas diikuti seringai menyeramkan di wajahnya.
(Nah sekarang sudah jelas kan Alrico memang sengaja menculik Shanaya. Mulai saat kita panggil nama asli mereka saja ya)
Semua hal yang terjadi pada keluarga Knight memang sudah direncanakan Alrico. Target utamanya tentu saja adalah Sall, musuh besar yang paling dibencinya seumur hidup. Alrico sangat menyadari, kalau Sall adalah laki-laki kuat yang tidak terkalahkan, karena memiliki kekayaan dan kekuasaan yang tidak akan membuatnya jatuh. Namun Alrico paham, satu-satunya sumber kelemahan Sall adalah keluarga yang begitu disayanginya. Hingga akhirnya Alrico memanfaatkan anggota keluarga Sall, untuk membuat Sall menderita.
Tentu kehilangan putri kesayangan, bersamaan dengan komanya sang istri, begitu sangat menghancurkan hati Sall. Bahkan saat nanti Sall mengetahui putrinya masih hidup, keadaan tidak akan berubah baik, karena Alrico sudah berencana membuat Shawn dan Shanaya saling menyerang, bahkan saling membunuh. Hal itu tentu saja akan lebih menyakitkan bagi Sall.
Terlalu larut dalam pikirannya, hingga Alrico tidak menyadari kehadiran Shanaya yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, karena pintu yang sedikit terbuka.
"Papa.." Lirih Shanaya, namun berhasil mengejutkan Alrico dari lamunannya.
"Sehrish, kenapa tidak mengetuk pintu? Kamu membuat Papa terkejut." Protes Alrico.
"Maaf Pa.. Tadi pintunya sedikit terbuka, jadi aku langsung masuk." Jawab Shanaya jujur, lalu mendudukkan dirinya di atas sofa yang terletak di seberang meja Alrico.
"Hmm.. Ada apa Sehrish?" Tanya Alrico ingin tahu.
"Apa Papa sedang merindukan Mama saat ini?" Bukannya menjawab pertanyaan Alrico, Shanaya malah balik bertanya pada laki-laki yang dia kira Papanya itu.
"Papa tidak pernah berhenti merindukan Mamamu, walau sedetikpun.." Tatapan nanar dari Alrico pada photo Sanchia, membuat Shanaya yakin kalau Alrico begitu mencintai Sanchia sampai saat ini.
"Papa.. Izinkan aku membalaskan sakit hati kita. Aku ingin membalas dendam pada keluarga Knight." Alrico sempat terkejut dengan perkataan Shanaya, namun sesaat kemudian, senyumnya mengembang seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jadi kamu sudah siap menghancurkan keluarga Knight?" Alrico sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, mempertanyakan kembali niat Shanaya.
"Aku siap Papa." Jawaban Shanaya kembali memicu senyuman di wajah Alrico.
"Baiklah, Papa akan menyiapkan strategi dan pasukan terbaik kita, agar kita bisa segera menyerang mereka dan juga klannya tanpa ampun." Alrico kini mengulas seringainya, nampak senang dengan keputusan Shanaya. Namun ternyata rasa senangnya tersebut tidak bertahan lama, karena beberapa detik kemudian, perkataan Shanaya justru membuat Alrico membelalakan matanya.
"Papa, aku akan memakai cara yang lebih halus untuk menghancurkan mereka dari dalam.. Izinkan aku untuk menikah dengan Shawn Salazar Knight, maka aku akan bisa membalas mereka semua dan membawa Mama pulang, Pa."
"Apaa? Tidak Sehrish.. Papa tidak akan pernah mengizinkanmu menikah dengan laki-laki itu, apalagi mengizinkanmu masuk ke dalam keluarga Knight." Tolak Alrico dengan keras.
Tentu saja Alrico menolak keras ide Shanaya itu, karena mengizinkan Shanaya menikah dengan Shawn, sama saja dengan mengembalikan Sehrish pada keluarga dan jati dirinya sebagai putri keluarga Knight.
"Tapi Pa, itu adalah cara termudah dan kemungkinan berhasilnya akan semakin besar. Aku bisa mengetahui kekuatan mereka, aku juga bisa melaporkannya pada Papa untuk mengambil langkah yang tepat." Bujuk Shanaya berusaha meyakinkan Alrico.
"Tidak akan pernah Sehrish. Aku tidak mau mengorbankan kamu untuk masuk ke dalam keluarga Knight. Kita bisa menyerang mereka dengan cara terang-terangan. Lagipula kamu tidak bisa menikah dengan orang lain Sehrish, karena kamu sudah memiliki tunangan." Mendengar perkataan Alrico, Shanaya terlihat tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Tunangan? Benarkah aku sudah bertunangan Papa? Kenapa Papa baru mengatakannya sekarang." Ujar Shanaya tidak terima.
"Maaf, karena selama ini dia berada di luar negeri untuk membantu Papa melakukan misi penting. Tunanganmu adalah seorang Ketua Klan besar di Perancis. Namanya adalah Sheran M. Laurent."
"Sheran M. Laurent?" Tanya Shanaya, namun merasa nama itu tidak asing di telinganya.
*************************
Di sebuah penthouse mewah, Shawn sedang melakukan meeting penting dengan beberapa puluh anggota klannya yang ikut dalam perjalannya ke Dubai. Shawn begitu serius memberikan instruksi pada Drake dan anak buahnya yang lain untuk menjalankan misi mereka menyelamatkan Shanaya dari mansion Mr. Ali. Bahkan Shawn sudah meminta banyak anggota klannya dari Inggris untuk ikut dalam misi ini.
Meskipun Shawn dan Drake sempat kesulitan menemukan posisi mansion Mr. Ali dan membobol sistem keamanan mansion yang super ketat, namun akhirnya mereka bisa melakukannya tanpa diketahui Mr. Ali dan anak buahnya.
Shawn sudah bisa memantau semua rekaman camera CCTV yang ada di dalam mansion Mr. Ali, bahkan Shawn sudah bisa meretas dan menyadap ponsel yang dipakai oleh Shanaya. Tentu saja apa yang dilakukan Shawn ini, justru memberinya banyak kejutan. Semua dugaan Shawn sebelumnya, akhirnya terbukti.
Tidak sia-sia Shawn fokus mencari informasi dan menugaskan banyak orang kepercayaannya untuk mencari tahu lebih dalam tentang Alrico, bahkan semua bukti-bukti yang didapatnya dari Perancis benar-benar tidak bisa terbantahkan. Apalagi didukung rekaman CCTV yang baru saja didapatnya dari mansion Mr. Ali.
*************************
Shanaya merebahkan dirinya di atas tempat tidur, sesekali netra indahnya menatap wajah yang terpampang di layar ponselnya. Sebuah photo yang dikirimkan Alrico beberapa belas menit yang lalu, laki-laki yang disebut sebagai tunangan Shanaya sebelumnya.
'Sheran M. Laurent.. Laki-laki yang gagah dan tampan, wajahnya pun tampak familiar. Tapi kenapa aku tidak merasakan debaran sedikitpun saat melihat wajahnya? Berbeda dengan saat aku melihat photo Shawn Salazar Knight. Ah ada apa dengan diriku? Kenapa saat aku menatap photo tunanganku pun, aku malah kembali membayangkan Shawn.' Rutuk Shanaya seraya menghentakkan kedua kakinya karena kesal.
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..
Panggilan video dari Shawn seketika membuat jantung Shanaya berdegup kencang. Entah kenapa baru membaca nama "Shawn" saja, yang sudah dia ganti dari Steve itu, sudah membuat hatinya berdebar dan seakan dihinggapi banyak kupu-kupu.
"Ah kenapa hatiku selalu seperti ini setiap kali dia muncul? Aku sungguh tidak tahu bagaimana cara menghilangkan perasaan ini." Keluh Shanaya, sebelum akhirnya mengangkat panggilan video Shawn.
"Hai Sayang.. Kamu kemana saja? Aku menunggu video call dari kamu seharian ini. Apa kamu sibuk Sayang, sampai lupa mengabari aku? Aku benar-benar merindukan kamu. Bisakah kita bertemu hari ini?" Wajah Shawn terlihat penuh harap.
"Maaf Steve, hari ini aku tidak bisa bertemu denganmu. Aku ada acara bersama Papa hari ini." Jawaban Shanaya langsung membuat Shawn menunjukkan raut kecewanya. Shawn benar-benar merindukan gadis yang dicintainya itu.
"Hmm, sebentar saja. Berikan aku waktu untuk bertemu dengan kamu. Aku sungguh merindukanmu." Raut memelas Shawn hampir saja membuat Shanaya luluh. Namun Shanaya kembali meyakinkan hatinya, kalau sikap Shawn hanyalah sebuah kepura-puraan semata.
"Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa bertemu denganmu hari ini." Ekspresi wajah Shawn berubah semakin suram. Shawn tahu kalau Shanaya hanya memberi alasan untuk menghindarinya.
"Baiklah.. Jika memang kamu ada acara bersama Papamu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi jika kamu memiliki waktu luang, tolong hubungi aku ya." Pinta Shawn dengan ekspresi memelas, membuat Shanaya sedikit tidak tega melihatnya.
"Okay.. Aku pergi dulu ya Steve. Bye.." Ujar Shanaya mengakhiri obrolan.
"Sampai jumpa Sayang." Balas Shawn tidak lupa mengulas senyum manisnya, sebelum akhirnya Shanaya menutup panggilan videonya.
Selang setengah jam kemudian, Shanaya masih berguling-guling di atas tempat tidur. Merasa kesal pada dirinya sendiri, karena sejak menerima panggilan video call dari Shawn tadi, dirinya tidak bisa berhenti memikirkan Shawn. Wajah Shawn terus saja terbayang di otaknya, tidak bisa dipungkiri, Shanaya pun begitu merindukan Shawn. Hatinya seolah mengharapkan kehadiran Shawn saat ini, karena itulah Shanaya tidak berhenti merutuki harapannya itu sejak tadi.
Tok..Tok..Tok..
Sebuah ketukan mengejutkan Shanaya yang sedang larut dalam pikiran tidak jelasnya. Karena pintu kamarnya dikunci, Shanaya dengan terpaksa beranjak untuk membukakan pintu.
"Sebentar.."
Begitu pintu terbuka, raut wajah Shanaya berubah pucat dengan kedua netranya membola, tidak percaya melihat pemandangan dihadapannya. Wajah laki-laki yang dia pikirkan sejak tadi, kini benar-benar nyata didepan matanya.
"Gila.. Apa yang kamu lakukan disini?" Suara Shanaya sedikit berbisik, tapi ekspresinya menyiratkan kemarahan karena kehadiran Shawn yang sangat tidak diduganya.
"Iya Sayang, aku benar-benar sudah gila karena merindukan kamu." Shawn mengelus lembut pipi Shanaya yang langsung memerah.
Shanaya refleks menarik tangan Shawn agar masuk ke dalam kamarnya, saat terdengar suara beberapa pengawal yang berjalan mendekat. Tidak lupa Shanaya kembali mengunci pintu kamarnya, karena takut sewaktu-waktu ada yang masuk ke dalam kamarnya begitu saja.
"Apa kamu sudah gila Steve? Bagaimana kamu bisa masuk kesini tanpa diketahui para pengawal? Apa yang kamu lakukan disini?" Shanaya terlihat begitu marah, tapi Shawn justru mengulas senyum tampannya.
"Demi bertemu denganmu, aku rela melakukan apapun. Aku bisa gila jika sehari saja tidak melihat senyummu." Ungkapan perasaan Shawn justru ditanggapi Shanaya dengan dengusan.
"Ada yang ingin aku katakan Sayang.." Shanaya memandang tajam, menunggu kalimat berikutnya dari mulut Shawn yang menghela nafasnya sejenak.
"Saat aku lahir, aku diberi nama Steve Salazar Smith oleh orangtua kandungku. Namun kedua orangtua kandungku meninggal saat usiaku baru menginjak 1 bulan. Lalu aku yang saat itu berada di panti asuhan, diadopsi oleh kedua orangtuaku yang sekarang. Mereka memberiku nama Shawn Salazar Knight. Maafkan aku, aku sama sekali tidak bermaksud membohongimu di awal perkenalan kita. Kamu pasti tahu, orang sepertiku harus selalu berhati-hati dalam bertindak. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku benar-benar mencintaimu dengan tulus, dan sekarang aku tidak ragu mengungkapkan jati diriku yang sebenarnya. I love you.. I love you so much.." Ungkap Shawn mendekatkan wajahnya ke wajah Shanaya, yang tampak masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️