
Pemandangan malam kota Kembang yang berkerlap-kerlip, tampak tersaji indah dari sebuah balkon kamar hotel. Dua pasang netra berwarna hazel dan cokelat itu menatap ke arah yang sama, namun dengan isi pikiran yang berbeda. Drake sesekali menyesap espresso-nya, sementara Letta menyesap cokelat hangatnya.
Drake akhirnya mengajak Letta ke hotel lain, meskipun Letta sempat terkejut dan merasa heran, kenapa Drake tiba-tiba berubah pikiran.
"Letta.. Apa kamu pernah jatuh cinta?" Pandangan Drake beralih memandang Letta yang baru meletakkan cangkirnya di atas meja.
"Hmm, pernah.. Tapi aku tidak pernah berpacaran?" Drake mengerutkan kening saat mendengar jawaban Letta.
"Benarkah?" Letta mengangguk menanggapi pertanyaan Drake yang terkesan tidak percaya.
"Kalau Kak Drake pasti sudah sering berpacaran ya." Bukannya menjawab, Drake hanya tertawa kecil mendengar perkataan Letta.
'Sejak kecil, aku hanya mencintai satu orang saja. Tapi ternyata, aku sudah membuang-buang waktuku. Dia sama sekali tidak bisa aku miliki..' Drake membatin, tersenyum miris seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kenapa Kak Drake menanyakan pertanyaan itu? Apa Kak Drake punya seseorang yang sangat Kak Drake cintai?" Kali ini Drake mengangguk mantap, namun raut sendu terpahat jelas di wajah tampannya.
"Iya, ada seseorang yang sangat aku cintai. Tapi dia mencintai orang lain." Jawaban Drake memantik rasa simpati Letta. Tanpa sadar, Letta mengelus lembut bahu Drake berusaha memberikan ketenangan pada laki-laki yang baru dikenalnya itu. Entah kenapa raut sedih Drake benar-benar membuat Letta ikut merasakan kesedihan Drake.
"Kata orang, jika kita berbagi cerita dengan orang lain, maka perasaan kita akan sedikit lega. Jika Kak Drake percaya padaku, Kak Drake bisa menceritakannya padaku." Ucap Letta dengan sorot mata tulus.
Setelah beberapa detik memandang Letta yang masih setia menunggu jawaban Drake, akhirnya Drake memutuskan untuk bercerita pada Letta tentang kisah cintanya yang tidak beruntung itu. Drake merasakan ketulusan seorang Letta, yang membuatnya percaya.
Helaan nafas panjang keluar dari mulut Letta, setelah Drake menyelesaikan ceritanya. Ditatapnya wajah tampan dihadapannya, yang terlihat sedang menahan perasaan sesaknya sekuat tenaga.
"Bukan aku mematahkan harapan Kak Drake, tapi sepertinya gadis yang Kak Drake cintai tidak akan pernah bisa melupakan pria yang sudah dia cintai sejak kecil. Sekalipun dia memutuskan untuk tetap bersama Kak Drake.." Ucap Letta hati-hati.
"Aku pun berpikir seperti itu Letta.." Lirih Drake.
"Jadi apa yang akan Kak Drake lakukan?"
"Mungkin aku akan menunggu keputusannya. Aku yakin dia akan mengakhiri hubungan kami." Drake menunduk seraya menautkan jari-jari tangannya.
"Jika dia memutuskan memilihmu bagaimana?" Drake seketika menatap Letta yang memandangnya penuh tanya.
"Itu tidak mungkin.." Jawab Drake yakin, lalu menyesap espresso-nya hingga tandas.
'Rasanya ingin sekali aku memeluknya dan memberinya kekuatan. Aku tahu dia sedang berusaha menahan rasa perih di hatinya. Tapi aku hanyalah orang asing, aku juga tidak ingin membuatnya salah paham, karena bersikap lancang.' Batin Letta.
*************************
Lewat tengah malam, Shawn dan Shanaya berpelukan di bawah selimut tebal setelah melakukan ritual favorit mereka di resort yang super romantis. Shanaya yang terlihat sudah mengantuk itu, merangsek masuk ke dalam dekapan sang suami tercinta yang melabuhkan ciuman bertubi-tubi di puncak kepalanya.
"Apa kamu sudah mengantuk Sweetheart?" Shanaya yang sudah menutup matanya itu, kembali membuka netra indahnya disertai senyuman manis.
"Iya Honey, apa aku boleh tidur? Atau kamu masih mau tambah?" Pertanyaan Shanaya membuat Shawn tertawa kecil. Tentu Shanaya tahu jawabannya, kalau Shawn selalu merasa candu dengan istri tercinta dan kegiatan favorit mereka itu.
"Kamu jelas tahu apa yang aku mau, Sweetheart. Tapi karena ada bayi kita dalam kandunganmu, aku tidak mau membuatmu lelah dan membahayakan bayi kita. Jadi beristirahatlah. Terima kasih Sweetheart.." Ucap Shawn diikuti sebuah kecupan lembut di kening Shanaya.
"Sama-sama Honey, terima kasih. I love you.." Jawab Shanaya, lalu mengecup singkat bibir suaminya.
"I love you more.." Timpal Shawn tidak mau kalah dengan melabuhkan ciuman di kening, kedua pipi, hidung dan bibir istri tercintanya.
Hingga beberapa belas menit kemudian, nafas Shanaya terdengar teratur, setelah kembali masuk ke dalam dekapan dada Shawn yang hangat. Shawn pun berniat menyusul istrinya ke alam mimpi, namun bunyi pesan masuk ke ponsel Shanaya yang tersimpan di atas nakas, mengurungkan niat Shawn.
Perlahan Shawn melonggarkan pelukan Shanaya untuk melihat layar ponsel milik istrinya itu. Mood Shawn langsung memburuk, saat dilihatnya nama Bradley tampak menghiasi layar ponsel Shanaya. Shawn langsung membuka pesan dari salah satu rivalnya itu.
Bradley
Shanaya, apa benar kamu sedang berada di Bandung? Mampirlah ke mansion bersama Shawn. Aku akan menjamu kalian.
'Alah modus, pasti dia ingin bertemu istriku. Kenapa juga dia mengirim pesan lewat tengah malam begini? Lebih baik aku hapus saja pesannya. Maafkan suamimu yang sangat posesif ini, Sweetheart. Aku sungguh tidak mau kamu bertemu dengan Bradley. Apalagi sekarang kamu sudah mengingat Bradley dan juga banyak kenanganmu bersamanya.' Batin Shawn lalu menuntun jarinya untuk menghapus pesan dari Bradley di ponsel istrinya.
'Amaaaan...'
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️