
Matahari yang bersinar terik sepertinya masih enggan pulang ke peraduannya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah 9. Memang musim panas di Birmingham bukan hanya membuat udara malam terasa hangat seperti siang hari, namun juga waktu siang yang menjadi lebih lama dari biasanya.
Detik berganti menit, dan menit berganti jam, namun Shanaya masih enggan mengizinkan siapapun untuk masuk ke dalam kamarnya yang dia kunci dari dalam. Yang dilakukannya hanya sibuk membuka satu persatu album photo yang sengaja Sall simpan di kamarnya itu.
Pikirannya berkecamuk, masih menimbang mana yang bisa diterima akalnya dan mana yang tidak. Tapi yang jelas hatinya begitu goyah sejak pertemuannya pagi tadi dengan Sall yang mengaku Ayah kandungnya.
Tentu saja saat itu Shanaya langsung menolak pengakuan Sall itu, Shanaya justru mengusir Sall keluar dari kamarnya. Meskipun sangat sedih dan kecewa, tapi Sall berusaha paham dengan sikap Shanaya, dan menuruti keinginan putrinya itu. Namun sebelumnya, Sall meminta dua orang pelayan untuk membawakan Shanaya beberapa makanan favoritnya, dan hal itu membuat hati Shanaya lagi-lagi menjadi goyah. Karena Sall pun ternyata mengetahui makanan-makanan yang disukainya selama ini.
Shanaya menutup halaman terakhir album photo yang dilihatnya, air bening yang sudah berhenti beberapa menit yang lalu, kini kembali menetes di pipinya. Hatinya sesak, pikirannya bingung, otaknya tidak berhenti memilah apa yang sebenarnya harus dia yakini.
'Ya Tuhan.. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana? Tolong kembalikan ingatanku Ya Tuhan..' Doa Shanaya dalam hati.
Di ruang kerja Shawn, tampak Shawn dan Sall melihat rekaman dari camera micro yang mereka sembunyikan di kamar Shanaya. Sungguh hati mereka merasa begitu tersayat melihat keadaan Shanaya saat ini. Mereka paham apa yang Shanaya rasakan, tapi mereka pun tidak bisa memaksa Shanaya untuk secepatnya percaya pada bukti-bukti yang mereka sodorkan. Sall dan Shawn akan lebih bersabar untuk meyakinkan Shanaya, hingga akhirnya percaya pada fakta yang sesungguhnya.
Selang beberapa menit kemudian, Shawn mengetuk pintu kamar Shanaya untuk mengajak Shanaya makan malam. Karena sejak 2 jam yang lalu, Shanaya menolak hidangan makan malam yang dibawa pelayan, dengan alasan perutnya masih kenyang.
"Sayang.. Buka pintunya. Aku bawakan menu makan malam favoritmu nih." Mendengar perkataan Shawn, Shanaya memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Sayang.. Setelah makan, kita jenguk Mommy ya, agar segera sadar." Kalimat kedua Shawn berhasil mengubah pikiran Shanaya, hingga akhirnya Shanaya turun dari tempat tidurnya dan membukakan pintu untuk Shawn.
Senyum sumringah Shawn langsung terpampang saat Shanaya membuka pintu kamarnya. Tanpa menunggu dipersilahkan, Shawn segera menerobos masuk sambil membawa nampan berisi hidangan makan malam di tangannya.
"Makan malam untukmu Sayang. Kali ini makanan Korea ya.." Shawn meletakkan nampan yang dipegangnya di atas meja, lalu menarik pelan tangan Shanaya agar duduk disebelahnya.
'Kenapa Shawn dan laki-laki itu selalu tahu menu makanan favoritku? Entah itu makanan Indonesia, Inggris, Perancis, Korea, Jepang atau negara manapun, tidak pernah ada yang salah.' Tanya Shanaya dalam hati.
"Aaaa.." Shawn menyodorkan satu sendok bibimbap tepat di depan mulut Shanaya, namun Shanaya hanya menatapnya dengan enggan.
"Kenapa Sayang? Apa kamu sedang tidak mau makan nasi?" Shanaya merasa takjub, karena Shawn seolah bisa menebak apa yang dipikirkan Shanaya saat ini.
"Iya, aku sedang tidak ingin makan makanan berat." Jawab Shanaya pelan.
"Baiklah.. Ini saja, aaaa.." Lagi-lagi seolah tahu makanan yang sedang diinginkan Shanaya saat ini, Shawn langsung mencomot mandu dan menyodorkannya pada Shanaya. Tanpa ragu, Shanaya segera melahap makanan sejenis pangsit itu dan mengunyahnya pelan.
Sebenarnya Shanaya sedikit tidak nyaman dengan perlakuan Shawn itu, terlebih detak jantungnya seolah tidak bisa diajak kompromi setiap kali Shawn menyuapinya. Tapi Shanaya berusaha bersikap biasa, karena keinginannya bertemu dengan Mommy-nya begitu kuat. Hingga dia menepis rasa canggungnya dengan menghabiskan makan malamnya secepat yang dia bisa.
Sesuai janjinya pada Shanaya, Shawn segera mengajak Shanaya menemui Sanchia begitu Shanaya selesai makan malam. Shanaya tampak begitu bersemangat bertemu dengan Mommy-nya, meskipun raut wajahnya sempat berubah saat melihat Sall yang sedang membersihkan tangan Mommy-nya dengan selembar kain.
"Daddy sudah selesai, kemarilah temani Mommy-mu.. Jika ada kalian, Daddy tenang meninggalkan Mommy sebentar. Daddy akan ke ruang kerja Daddy dulu ya." Sall yang paham dengan perasaan Shanaya, memilih keluar dan memberi Shanaya kesempatan untuk bersama Mommy-nya. Bagaimanapun juga Sall paham, Shanaya masih belum bisa percaya kalau Sall adalah ayah kandungnya.
Begitu Sall keluar, Shanaya segera duduk di kursi yang berada tepat di sebelah tempat tidur Sanchia. Kembali digenggamnya tangan perempuan yang disayanginya itu, dan sesekali diciuminya dengan penuh kasih sayang. Sementara Shawn memilih memberi ruang dengan duduk di sofa yang terletak tidak jauh dari sana.
"Mommy.. Kenapa Mommy begitu betah tertidur seperti ini? Apa memang tertidur lebih nyaman dibanding memeluk dan menciumku Mom?" Ucap Shanaya lirih yang diakhiri ciuman di pipi Sanchia.
"Aku sungguh-sungguh menyayangi Mommy.. Aku merindukan Mommy.. Tolong bangunlah demi aku." Kali ini air mata sudah kembali menetes di pipi Shanaya, bahkan hingga menetes ke tangan Sanchia yang digenggam oleh Shanaya.
Tiba-tiba kedua tangan Sanchia bergerak, membuat Shanaya tersentak kaget karenanya. Bahkan Shawn pun sampai bangkit dari duduknya dan menghampiri Mommy-nya.
"Sha..Shawn.. Tangan Momny bergerak lagi." Ucap Shanaya masih dengan raut terkejutnya.
"Iya.. Aku pun melihatnya.. Ajak Mommy bicara lagi Sayang.." Pinta Shawn antusias.
"Mommy.. Tolong bangunlah, kami semua mencintaimu Mom.."
Sebuah mukjizat tiba-tiba terjadi, saat perlahan Sanchia membuka matanya. Bahkan matanya langsung mengarah pada Shanaya yang sedang memandangnya tidak percaya. Sesaat kemudian Sanchia menggerakan bibirnya yang terhalang ventilator.
Di sela-sela keterkejutannya, Shawn perlahan melepas ventilator yang dipakai sang Mommy. Hingga suara yang sangat lirih itu terdengar begitu merdu di telinga Shanaya dan Shawn.
"Sha..na..ya.."
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️