Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 52 Sweet Moment



Suasana pagi di restaurant Hotel Knight sedikit terasa ramai oleh orang-orang yang berniat mengisi perut mereka, sekaligus menikmati suasana hotel yang nyaman dan memanjakan. Drake yang sedang menikmati menu sarapannya, sedikit terkejut dengan kedatangan Keiva yang tiba-tiba duduk dihadapannya.


"Drake, kemana Shawn membawa Shanaya? Aunty Sanchia dan Om Sall mencari keberadaan mereka sejak kemarin sore." Mendengar perkataan Keiva, Drake bukannya menjawab, tapi malah menyuapkan sepotong sandwich ke dalam mulutnya.


"Drake, bisa tidak kamu menjawab pertanyaanku? Kenapa kamu selalu menyebalkan sih? Kalau bukan karena ingin tahu Shanaya ada dimana, aku malas bertanya sama kamu. Sejak kecil kamu selalu mengabaikanku, setiap kali aku berbicara denganmu." Omelan Keiva sesaat menjeda kunyahan Drake. Namun beberapa detik kemudian, Drake kembali menyuapkan sandwich ke dalam mulutnya.


"Shanaya dibawa oleh suaminya sendiri, kenapa kamu pusing? Aku juga sudah memberitahu Aunty Sanchia dan Om Sall tentang keberadaan Shawn dan Shanaya malam tadi. Mereka baik-baik saja dan berada di tempat yang aman." Keiva menghela nafas lega mendengar penjelasan Drake.


"Baguslah.. Ok, aku pergi.." Keiva yang berdiri dari duduknya, tiba-tiba kembali terduduk karena Drake menahan tangannya.


"Aduh.. Apa-apaan sih Drake?" Raut jutek Keiva sudah tergambar nyata di wajahnya, tapi Drake masih bersikap tenang malah cenderung datar.


"Sarapan dulu.. Aku tahu kamu belum makan sejak semalam." Netra sipit Keiva membola mendengar kata-kata Drake yang menyiratkan perhatian. Sementara Drake menyodorkan sepiring waffle yang belum disentuhnya sama sekali.


"Hah bagaimana kamu tahu kalau aku belum makan sejak semalam? Apa sekarang kamu juga seorang cenayang? Hehe.." Drake hanya diam mendengar ledekan dan kekehan Keiva. Mereka memang sudah tidak akur sejak kecil.


Keiva yang memang sudah sangat lapar, akhirnya memilih melahap waffle milik Drake yang terlihat menggoda itu. Sebenarnya Keiva tinggal memesan menu apapun yang dia inginkan di restaurant hotel itu, apalagi Keiva adalah Manager Hotel Knight. Tapi entah kenapa, menerima tawaran makanan dari Drake terlihat lebih baik saat ini. Karena jarang-jarang juga, si pria mahal senyum itu menawarinya makanan, bahkan sekedar mengobrol pun jarang.


'Aku lebih baik mendengar ocehan dan omelanmu, dibanding melihatmu menangis. Berhentilah menyiksa diri dan meratapi laki-laki yang tidak mencintaimu Keiva... Aku tidak suka dengan sikap cengengmu itu.' Ucap Drake dalam hati seraya memperhatikan Keiva yang sedang mengunyah waffle-nya dengan semangat.


Drake adalah anak yatim piatu yang dipertemukan takdir dengan keluarga Knight di Bali. Mendiang orangtuanya bernama Davey Alexander asal Irlandia dan Nilam Andita asal Jakarta-Indonesia. Drake yang saat itu berusia 10 tahun, menyelamatkan Shawn dari upaya penculikan saat keluarga Knight berlibur di Bali. Setelah itu, keluarga Knight memutuskan untuk menjadikan Drake sebagai bagian dari keluarga mereka.


Drake pun dibawa ke mansion milik Kevin dan Nieva di Bandung, sebelum memproses kepindahan Drake ke Inggris bersama keluarga Knight. Disanalah untuk pertama kalinya Drake bertemu Keiva yang usianya terpaut 4 tahun darinya. Gadis kecil yang ceria dan cerewet, selalu berusaha berbicara dengannya. Namun Drake yang pembawaannya dingin dan ketus, selalu saja mengabaikan Keiva yang menurutnya sangat berisik, hingga Keiva merasa sebal dan kesal pada Drake.


(Kisah pertemuan Drake dan Shawn ada di Novel The Killer Knight VS The Mafia Queen Eps. 142-143)


*************************


Shawn tampak membantu Shanaya mengeringkan rambutnya yang basah sehabis mandi. Posisi Shanaya yang duduk di depan meja rias, memudahkan Shawn untuk sesekali mendaratkan ciumannya di puncak kepala, kening ataupun pipi Shanaya yang merona. Mendapat perlakuan manis dari Shawn, Shanaya hanya mengulas senyum manisnya.


Sesuai dugaan Shanaya, ritual mandi yang Shawn maksud tentu bukan hanya sekedar membersihkan diri, tapi juga melakukan kegiatan yang sudah menjadi favorit Shawn sejak malam tadi. Tapi Shanaya sama sekali tidak keberatan, karena Shawn pun melakukannya dengan sangat lembut.


Menjelang sore hari, Shawn hendak mengajak Shanaya berjalan-jalan disekitar perkebunan teh miliknya. Namun panggilan telepon dari Sanchia membuat Shawn dan Shanaya harus secepatnya kembali ke mansion mereka. Padahal tadinya Shawn dan Shanaya berencana menginap 2 malam lagi di villa itu.


Sesampainya di mansion keluarga Knight di pusat Kota Bandung, Shawn dan Shanaya segera menemui kedua orangtuanya yang sedang berada di ruang keluarga.


"Mom.. Dad.. Sebenarnya ada apa? Kenapa Mommy meminta kami untuk segera pulang ke mansion?" Tanya Shawn penasaran. Sesungguhnya Shawn cukup kecewa karena dirinya dan Shanaya tidak bisa menikmati moment bulan madu lebih lama, karena masalah yang belum Shawn ketahui.


"Alrico, Sheran dan Seira sedang ada di kota ini, mereka bersembunyi di suatu tempat. Mommy dan Daddy tidak mau kalian berada jauh dari pantauan kami dan penjagaan klan. Apalagi saat kalian ke villa, kalian bahkan tidak mengizinkan Drake dan para pengawal untuk ikut. Sementara villa hanya dijaga beberapa orang saja. Bagaimana kami tidak khawatir Sayang.." Penjelasan panjang lebar dari Sanchia, diangguki Shawn dan Shanaya yang duduk bersebelahan.


"Iya Mom, maafkan Shawn karena membawa Shanaya pergi tanpa penjagaan yang banyak. Kemarin kami berangkat tanpa rencana. Padahal aku berencana mengajak Shanaya kesana beberapa hari lagi." Sanchia dan Sall tersenyum mendengar ucapan Shawn.


"Kami paham Son, kamu memerlukan privacy untuk berbulan madu. Tapi untuk saat ini, tunda dulu bulan madu kalian, apalagi keluar kota atau keluar negeri. Kalian tetap bisa menikmati moment berdua di mansion, yang penting selalu bersama kan. Dimanapun dan kapanpun, tetap hot.." Ucap Sall, lalu menaik turunkan alisnya sambil menatap Shawn yang seketika melepas tawa kecilnya. Berbeda dengan Shanaya yang tampak merona karena malu. Apalagi Mommy-nya tidak henti tersenyum kearahnya, dengan pandangan menelisik lehernya yang penuh dengan hasil karya Shawn.


"Iya Dad.. Dimanapun tidak masalah, yang penting aku selalu bersama Shanaya.." Ucap Shawn lalu memandang Shanaya yang tersenyum manis padanya.


"Ok Mom, Dad.. Shanaya sama Shawn ke kamar dulu ya." Izin Shanaya pada kedua orangtuanya.


"See you Mom, Dad.. Kita ke kamar dulu ya." Timpal Shawn lalu menggenggam tangan Shanaya, tidak sabar mengajak istrinya naik ke kamar mereka di lantai 2.


Sesampainya di kamar, Shawn segera mengunci pintu kamarnya, menghindari gangguan yang mungkin akan menggagalkan rencana besar di kepalanya.


Shanaya yang hendak mengambil pakaian di ruang walk in closet, mengurungkan niatnya dan menatap Shawn yang sedang memandang liar kearahnya.


"Kamu kenapa Sayang?"


"Kita mandi sore bersama ya Sayang." Ajakan Shawn langsung mendapat gelengan kepala dari Shanaya.


"Aaaah.. Kenapa Sayang?" Protes Shawn menampakkan wajah memelasnya.


"Pasti bukan hanya sekedar mandi saja." Netra Shanaya mendelik ke arah suaminya yang mengulas senyum nakal.


"Tidak Sayang, aku janji hanya mengajakmu merileks-kan badan sambil berendam air hangat saja. Tadi pagi kan kita tidak jadi berendam, dan langsung mandi setelah pertempuran kita. Aku tahu milikmu masih sakit karena ulahku, kamu juga pasti lelah." Sesal Shawn tulus.


'Bagaimana tidak sakit dan lelah, entah berapa ronde kita melakukannya dari semalam. Tapi akupun menyukainya.' Ucap Shanaya dalam hati.


"Baiklah.. Janji ya, kali ini kita hanya berendam dan mandi saja, tidak ada kegiatan selanjutnya." Tuntut Shanaya disertai tatapan seriusnya.


"Iya Sayang.. Aku janji." Jawab Shawn yakin.


(WARNING.. Bocil dilarang mengintip kegiatan orang dewasa)


Shawn menepati janjinya, dirinya dan Shanaya benar-benar hanya berendam dengan posisi memeluk tubuh Shanaya dari belakang, dan tubuh Shanaya bersandar di dadanya. Mata mereka terpejam seraya merileks-kan tubuh dan menikmati wangi aromatherapy yang menenangkan.


'Nyaman sekali.. Sebahagia inikah menikah dengan orang yang kita cintai?' Batin Shanaya.


"Sayang, apa kamu bahagia?" Untuk kesekian kalinya pertanyaan itu meluncur dari mulut Shawn, tapi Shanaya pun tidak pernah bosan menjawabnya.


"Tentu saja aku bahagia Sayang." Senyuman tampan Shawn terulas mendengar jawaban meyakinkan dari Shanaya.


"Rasanya aku semakin mencintaimu Sayang." Ungkap Shawn, kemudian mendaratkan ciuman di bahu polos Shanaya.


"Aku juga semakin mencintaimu Sayang." Shanaya memiringkan kepalanya kebelakang, lalu mencium bibir Shawn yang langsung membalas ciumannya dengan sangat agresif.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️