
WARNING..!!!
Ada sedikit adegan dewasa, mohon bijak memilih bacaan. Bocil harap menyingkir..
*************************
BALLROOM HOTEL KNIGHT, BANDUNG
Shawn dan Shanaya duduk di singgasananya layaknya Raja dan Ratu sehari. Kadar ketampanan Shawn semakin bertambah berkat penampilannya yang gagah dan rapih saat mengenakan tuxedo berwarna putih. Begitupun dengan Shanaya yang terlihat lebih cantik dengan gaun panjang berwarna putih, dipadukan ornamen lace yang sedikit menerawang di bagian dadanya. Membuat Shanaya terlihat begitu anggun dan mempesona, bukan hanya bagi Shawn yang tidak dapat menyembunyikan rasa takjubnya, tapi juga bagi seluruh tamu undangan yang hadir di acara Resepsi Pernikahan Shawn dan Shanaya.
'Cantik sekali.. Istriku ini memang selalu berhasil membuatku semakin jatuh cinta.' Sayangnya semua pujian Shawn itu hanya dia ungkapkan dalam hatinya.
Pagi tadi Shawn bangun lebih dulu dengan senyum dan binar bahagia menghiasi wajahnya yang tampan. Wajah cantik Shanaya yang terlelap dengan tangan memeluk erat tubuh Shawn, berhasil menjadi mood booster Shawn di hari bahagianya itu. Namun setelah melihat jam di ponselnya yang sudah lewat dari waktu subuh, Shawn segera turun dari tempat tidur dan bergegas mandi.
Shawn tidak ingin Shanaya merasa tidak nyaman, jika tahu kalau Shawn datang bahkan tidur saling memeluk dengan Shanaya. Padahal Shanaya sudah tahu akan kedatangan Shawn, bahkan sengaja mencari kehangatan dalam dekapan tubuh Shawn, hingga akhirnya dia bisa tidur lebih nyenyak.
Shanaya terbangun begitu Shawn selesai mandi dan berpakaian. Namun belum sempat mereka berinteraksi, Keiva terlanjur datang bersama Tim WO dan MUA yang bertugas mendandani Shanaya dan Shawn. Tentu saja hal itu membuat suasana yang canggung diantara Shanaya dan Shawn belum sempat mencair. Meskipun saat Shanaya didandani oleh MUA, berkali-kali Shawn dipergoki Shanaya karena memandang dirinya dengan tatapan kagum disertai senyum tipisnya. Tentu saja hal itu membuat Shanaya sangat bahagia dan bersemangat menjelang acara resepsinya.
Resepsi pernikahan Shanaya dan Shawn berlangsung sangat lancar dan meriah karena dihadiri seluruh keluarga, sahabat serta rekan bisnis keluarga Knight yang ada di Indonesia. Tampak beberapa Pemimpin klan mafia besar sekaligus sahabat keluarga Knight yang hadir dalam acara resepsi itu. Ada Bryllian Alden Harrison dan Zivara Narendra Harrison beserta kedua anak kembar mereka Bradley dan Briley dari klan Chrysos Dragon. Brandon Wang, Sharon Wang dan putra mereka Zeroun Wang dari Klan Wang Eagle pun sengaja datang dari Korea Selatan. Hadir pula Kendrick A. Harrison dan Batari Katresnalana Harrison beserta putri mereka Kyna A. Harrison dari Klan Dragon Salvaje, Spanyol. Tidak mau ketinggalan, Larry yang merupakan Pemimpin klan DS Scorpion Inggris pun tampak hadir, meskipun tidak didampingi istri dan anaknya yang kebetulan sedang berada di Perancis.
Shawn yang terbiasa memasang wajah datar, kini berusaha mengulas senyum tipisnya di sepanjang acara. Meskipun dia harus menahan rasa cemburunya, setiap kali ada tamu undangan yang menyalami Shanaya disertai pujian akan kecantikan Shanaya yang paripurna. Seperti saat ini, Shawn sudah mulai menekuk wajahnya, sejak Bradley berjalan menghampirinya dan Shanaya.
Kedua orangtua Bradley, dan juga Briley saudara kembar Bradley, sudah menyalami Shawn dan Shanaya lebih dulu. Namun Bradley seolah sengaja mencari moment disaat para tamu sudah selesai bersalaman dan kedua pengantin pun sudah lebih santai.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian bahagia selamanya." Ucap Bradley saat menyalami Shawn yang terlihat dingin. Mereka memang bersahabat, namun Bradley tahu kalau Shawn merasa terganggu dengan kehadirannya saat ini. Biar bagaimanapun Shawn pasti tahu dengan sangat jelas, kalau Bradley masih sangat mencintai Shanaya, bahkan hingga saat ini.
"Terima kasih Brad.. Semoga kamu pun segera menemukan belahan jiwamu." Ucap Shawn tulus, namun hanya ditanggapi senyum tipis Bradley. Karena tentu saja tidak mudah bagi Bradley untuk menemukan seseorang yang bisa menjadi belahan jiwanya, terlebih sosok dan nama Shanaya masih kuat bertahta di dalam hatinya.
Saat Shanaya dikabarkan menghilang dan juga meninggal, Bradley merasa stres bahkan hampir depresi. Tapi Bradley berusaha mengikhlaskan Shanaya untuk kesekian kalinya, karena memang Shanaya tidak pernah membuka hatinya untuk Bradley, yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.
Bradley akhirnya memahami alasan dari sikap posesif Shawn selama ini terhadap Shanaya, karena ternyata Shawn mencintai Shanaya tanpa dia sadari. Saat Bradley mengetahui dari orangtuanya, kalau Shawn bukanlah anak kandung Sall dan Sanchia, dan sudah diberitahu secara terbuka oleh kedua orangtua angkatnya itu, hati Bradley sudah merasa tidak enak.
Hingga akhirnya Bradley mendengar kabar kalau Shanaya sudah ditemukan, lengkap dengan kabar kalau Shawn dan Shanaya sudah melangsungkan pernikahan di Birmingham, Inggris. Hatinya hancur berkeping-keping, namun tidak ada yang bisa Bradley lakukan, dia harus mengikhlaskan Shanaya untuk bahagia bersama Shawn. Karena menyadari kalau laki-laki yang bisa membuat Shanaya bahagia bukanlah dirinya.
Sorot mata Bradley berubah sendu saat tiba giliran menyalami Shanaya, namun Shanaya yang tidak mengingat Bradley hanya memandang laki-laki dihadapannya dengan mengulas senyum cantik di wajah cerianya.
"Aku dengar kamu kehilangan ingatanmu, dan pastinya kenangan bersamaku pun tidak ada lagi dalam ingatanmu. Tapi tidak apa, aku hanyalah bagian kecil dari kisah hidupmu. Saat ini kamu sudah membuka lembaran baru bersama Shawn, aku doakan semoga kamu dan Shawn bisa bahagia hingga maut memisahkan." Menyadari tatapan sedih dan suara Bradley yang sedikit bergetar, Shanaya terpaku dengan tubuh membeku. Ada perasaan sesak melihat laki-laki dihadapannya begitu terluka saat mengatakan perasaannya, tapi apa daya dirinya memang tidak bisa mengingat apapun tentang laki-laki itu.
Hingga Bradley berlalu dari hadapan Shawn dan Shanaya, pikiran Shanaya masih saja begitu tidak nyaman dan sesak.
"Are you okay?" Kalimat pertama Shawn sejak acara resepsi, akhirnya keluar, saat menyadari kalau Shanaya terlihat tidak baik-baik saja.
"Hmm, i'm okay.." Jawab Shanaya seraya mengulas senyum tipisnya.
"Dia sahabat kita, Bradley.. Tapi dia mencintaimu sejak kecil." Penjelasan Shawn sedikit memberi Shanaya pencerahan akan sikap Bradley yang tidak dipahaminya. Shanaya hanya mengangguk menanggapi kalimat suaminya itu, tidak ingin membuat Shawn mengira kalau Shanaya masih memikirkan Bradley.
'Aku tidak boleh memikirkan laki-laki tadi, sudah cukup masalahku dengan Shawn karena nama Sheran. Aku tidak mau menambahnya lagi dengan nama Bradley. Aku harus memperbaiki hubunganku dengan Shawn, aku tidak ingin Shawn terus menerus menjaga jarak dariku.' Tekad Shanaya dalam hati.
Hingga akhirnya acara resepsi penuh sukacita itu selesai di sore hari, Shawn dan Shanaya segera kembali ke kamar mereka untuk beristirahat sebelum waktu makan malam tiba. Karena Shawn sudah menyiapkan dinner special & romantis di rooftop Hotel Knight, hanya untuk mereka berdua.
*************************
"Mau aku bantu bukakan gaunnya?" Tawar Shawn, yang langsung dijawab anggukan kepala Shanaya. Shawn segera memposisikan dirinya di belakang Shanaya.
Hanya dengan sekali tarikan, bagian belakang gaun Shanaya berhasil Shawn buka. Karena yang Shawn buka bukanlah kancing mutiara yang banyak jumlahnya seperti saat akad nikah. Melainkan zipper panjang, yang langsung menampakkan punggung indah Shanaya saat Shawn tarik ke bawah.
Shanaya segera berbalik menghadap Shawn sambil memasang senyumnya, menghentikan tatapan kagum Shawn pada punggungnya yang terbuka.
"Terima kasih Sayang.." Ucap Shanaya lembut, membuat netra Shawn membelalak. Masih ragu dengan indera pendengarannya yang baru saja menangkap panggilan Sayang dari Shanaya.
"Tolong katakan sekali lagi." Lirih Shawn seraya memegang kedua lengan Shanaya dengan kedua tangannya.
"Terima kasih.. Sayang.." Ulang Shanaya lebih lembut dari sebelumnya, memancing senyum lebar di wajah Shawn yang tampak berbinar.
"Bolehkah aku menciummu?" Pertanyaan Shawn justru ditanggapi Shanaya dengan kerutan di keningnya karena heran.
"Sejak kapan kamu meminta izin untuk menciumku? Kamu selalu saja menciumku tiba-tiba." Jawab Shanaya disambut tawa kecil Shawn.
"Entahlah.. Kali ini aku merasa perlu meminta izinmu. Aku takut ditolak." Perkataan Shawn sedikit menyindir Shanaya, hingga Shanaya mengerucutkan bibirnya. Anehnya Shawn justru merasa gemas dengan tingkah istrinya yang terlihat lucu menurutnya.
Karena beberapa detik kemudian masih belum ada jawaban dari mulut Shanaya, Shawn memutuskan untuk melakukan aksinya, sudah tidak tahan dengan godaan bibir ranum Shanaya yang selalu menjadi candu baginya. Dipeluknya tubuh Shanaya dengan erat, dengan kedua sebelah tangan mengelus punggung Shanaya yang terbuka.
Cup...
Bibir Shawn yang menyambar bibir Shanaya, segera Shanaya balas dengan pagutan yang sedikit agresif. Seolah Shanaya sudah menunggu bibir kissable Shawn memanjakan bibirnya. Bahkan tangan Shanaya pun ikut memeluk dan mengelus-elus punggung Shawn, meskipun masih terhalang kemeja putih yang dikenakan Shawn.
Apa yang dilakukan Shanaya mengukir senyum di wajah Shawn, kini bukan hanya bibirnya yang menyesap dan melummmat bibir Shanaya, lidah Shawn pun mulai menerobos masuk dan mengabsen rongga mulut Shanaya. Lidah mereka saling membelit disertai pelukan yang kian mengerat.
Tangan Shawn mulai bergerak menurunkan gaun Shanaya, namun belum belum sempat lepas dari tubuh Shanaya, dengan sebelah tangannya Shanaya menahan gaunnya agar tidak turun melewati pinggangnya. Bahkan Shanaya melepas pagutannya dari bibir Shawn.
'Ada apa lagi kali ini?' Rutuk Shawn dalam hati.
"Maaf, aku masih datang bulan." Lirih Shanaya hampir tidak terdengar, namun berhasil mengejutkan Shawn yang kemudian melepaskan pelukannya.
"Oh okay.." Shawn masih terlihat bingung harus menanggapi perkataan Shanaya seperti apa. Sejujurnya gairahnya sudah sampai di ubun-ubun, apalagi saat ini netra birunya tidak bisa lepas dari bagian tubuh Shanaya, yang sedikit mengintip dari balik bra berwarna pink. Tapi lagi-lagi Shanaya menghentikan aksi Shawn karena alasan yang berbeda.
'Apa ini hanya alasan Shanaya, agar aku tidak terlalu jauh menyentuhnya?' Pikiran Shawn sudah dipenuhi dugaan buruk tentang Shanaya. Melihat reaksi Shawn yang terlihat kecewa, Shanaya segera menggenggam tangan Shawn dengan lembut.
"Sabar ya, tunggu dua hari lagi. Setelah itu kamu boleh menyentuhku.." Perkataan Shanaya seketika mengukir senyum di kedua sudut bibir Shawn. Pikiran buruk Shawn pun seketika menghilang, tergantikan rasa lega dan bahagia, karena Shanaya sudah mengizinkan Shawn untuk menyentuhnya sebagai seorang suami.
"Terima kasih ya My Lovely Wife.." Ungkap Shawn.
"Sama-sama My Lovely Husband.." Balas Shanaya, lalu mengecup sekilas bibir Shawn. Tapi seperti biasa, Shawn tidak akan membiarkan kecupan itu berlalu begitu saja. Shawn langsung menyambar bibir Shanaya seraya menahan tengkuk Shanaya untuk memperdalam ciuman mereka. Shanaya pun kembali menikmati perlakuan Shawn dan membalas dengan sama liarnya.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️