
Kesedihan tidak dapat disembunyikan dari wajah Shanaya di sepanjang penerbangan dari Birmingham, Inggris menuju Indonesia. Bagaimana tidak, perjalanan dengan private jet keluarga Knight yang seharusnya menyenangkan, terasa begitu tidak mengenakkan bagi Shanaya. Karena sang suami, Shawn tidak ikut berangkat bersamanya hari ini, karena masih ada urusan yang belum selesai. Sehingga akan menyusul ke Indonesia keesokan harinya bersama Drake dan beberapa orang kepercayaannya.
Sebenarnya Shanaya bukan hanya kecewa karena Shawn yang tidak bisa berangkat ke Indonesia bersama dengannya, tapi juga karena kabar tidak menyenangkan itu, tidak diberitahukan langsung padanya. Shawn memilih menghubungi Daddy dan Mommy-nya dan meminta mereka memberitahu Shanaya, dibanding menghubungi Shanaya secara langsung.
'Shawn memang sengaja mengabaikan aku. Dia masih sangat marah karena masalah Sheran. Tapi kan bukan mauku, kalau tiba-tiba aku mengingat Sheran. Kenapa dia harus semarah itu sih?' Keluh Shanaya dalam hati.
Setelah menempuh penerbangan selama hampir 18 jam, akhirnya keluarga Knight tiba juga di International Airport Soekarno-Hatta. Tanpa beristirahat dulu untuk makan siang, mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju Bandung, dengan dijemput oleh beberapa anggota klan Ble Asteri.
Sesampainya di mansion milik keluarga Knight di Bandung, pasangan Sall dan Sanchia, Shanaya juga seluruh rombongan disambut oleh kedua orangtua Sanchia yaitu Papa Leonard dan Mama Annesya, adik Sanchia yang bernama Nieva dan suaminya Kevin, juga putri mereka Keiva. Mereka sangat bahagia melihat keadaan Sanchia yang sudah terlihat sehat dan segar. Sall yang mereka ketahui sangat sedih selama berbulan-bulan pun, kini terlihat bahagia bersama istri kesayangannya.
Namun beberapa saat kemudian, Keiva terlihat meneteskan air mata saat melihat Shanaya, sepupunya yang telah lama menghilang.
"Shanaya.. Bagaimana kabarmu? Aku benar-benar khawatir saat kamu diculik. Apa benar saat ini kamu kehilangan ingatanmu Shanaya?" Pertanyaan Keiva yang terdengar emosional, mengejutkan semua orang. Pasalnya mereka sudah sepakat untuk menyembunyikan fakta tersebut dari Sanchia.
Menyadari tatapan aneh dari kedua orangtua juga Grandma dan Grandpa-nya, Keiva langsung membungkam mulut dengan kedua tangannya.
"Apa maksud perkataan Keiva barusan Honey? Apa benar Shanaya kehilangan ingatannya? Tapi kenapa? Sejak kapan Honey?" Seperti yang Sall takutkan, Sanchia langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Tenang dulu Sweetheart, aku akan menjawab semua pertanyaanmu. Sebaiknya sekarang kita beristirahat dulu ya." Sall mencoba menenangkan istrinya yang terlihat khawatir dan gemetar menatap Shanaya. Shanaya pun ikut cemas melihat kondisi Mommy-nya yang jelas tidak baik-baik saja. Tapi tubuhnya seolah kaku untuk mendekat ke arah Mommy-nya.
Sall segera memapah Sanchia menuju kamar pribadi mereka, sedangkan Keiva mengajak Shanaya menuju ruang keluarga ditemani oleh Kevin, Nieva, Papa Leonard dan Mama Annesya.
Shanaya menatap satu persatu orang-orang yang duduk dihadapannya. Memang Shanaya tidak bisa mengingat satu pun kenangan bersama mereka, tapi entah kenapa hati Shanaya begitu merasa dekat dengan mereka. Apalagi wajah mereka cukup familiar bagi Shanaya, karena photo-photo mereka memang terpampang begitu besar di mansion keluarga Knight di Birmingham. Karena mereka adalah orang-orang paling berharga dalam kehidupan Mommy dan Daddy-nya.
"Grandma, Grandpa, Aunty Nieva, Om Kevin dan Keiva.. Maaf, karena Shanaya tidak bisa mengingat kalian semua. Doakan Shanaya, agar ingatan Shanaya bisa segera kembali ya." Tanpa dikomando, Mama Annesya, Nieva dan Keiva langsung memeluk haru tubuh Shanaya. Keempat perempuan itu kemudian meluapkan kesedihan mereka dengan menangis bersama-sama. Papa Leonard dan Kevin pun menatap sendu, ikut merasakan kesedihan orang-orang yang mereka kasihi.
*************************
Shanaya sedang bersiap merebahkan dirinya di atas tempat tidur, saat terdengar ketukan di pintu kamarnya. Shanaya gegas membukakan pintu, tidak ingin membiarkan siapapun di luar sana, menunggunya terlalu lama.
"Mommy?" Shanaya cukup terkejut saat melihat keberadaan Sanchia, terlebih mata Mommy-nya yang sembab tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.
"Tentu saja, masuklah Mom.." Shanaya menggenggam tangan Mommy-nya, lalu mengajaknya duduk di atas tempat tidurnya.
"Bagaimana keadaan Mommy sekarang? Apa Mommy sudah baik-baik saja?" Sanchia tersenyum mendengar pertanyaan Shanaya yang terdengar ragu juga khawatir.
"Tadi Mommy begitu shock, saat Daddy menceritakan semuanya. Mommy minta maaf, karena terlambat mengetahui keadaanmu, Mommy begitu kecewa dan marah pada Daddy karena tidak langsung menceritakan keadaanmu pada Mommy." Ucap Sanchia dengan bibir mulai gemetar menahan tangis. Shanaya semakin menggenggam erat kedua tangan Mommy-nya, berusaha memberikan ketenangan.
"Mom.. Daddy hanya khawatir sama keadaan Mommy. Kami takut kesehatan Mommy akan memburuk, jika langsung mendengar kabar buruk tentangku sesaat setelah Mommy sadar. Aku, Daddy dan Shawn pasti tidak akan bisa memaafkan diri kami sendiri, jika sampai hal itu terjadi Mom.. Maafkan kami ya. Bukan maksud kami untuk membohongi Mommy.." Mendengar ucapan Shanaya, air mata Sanchia akhirnya luruh.
"Iya, Mommy paham maksud kalian.. Sekarang giliran Mommy untuk meluruskan semua yang ingin kamu ketahui Sayang.." Shanaya sedikit terkejut mendengar perkataan Sanchia, namun akhirnya Shanaya hanya mengangguk dan menunggu apa yang akan dikatakan Mommy-nya.
"Kamu adalah Shanaya Zarine Knight, anak kandung dari Sall Sherwyn Knight dan Sanchia Arelia Knight. Mommy tidak pernah menikah dengan orang lain selain Daddy Sall, hanya Daddy Sall suami Mommy. Orang yang kamu panggil Papa Ali, bernama asli Alrico. Dulu dia sahabat Mommy sejak kecil, namun perasaannya terhadap Mommy, membuatnya buta dan melakukan segala cara untuk merebut Mommy dari Daddy-mu. Jangan pernah meragukan Mommy dan Daddy, Sayang. Karena kami benar-benar orangtua kandungmu." Ucapan Sanchia seketika membuat air mata Shanaya luruh. Sanchia memeluk erat tubuh putrinya yang bergetar karena tangis.
Shanaya dan Sanchia saling meluapkan rasa haru, hingga dua lengan kekar dan kokoh memeluk tubuh keduanya dengan lembut.
"Daddy?" Lirih Shanaya yang disambut senyum hangat milik Sall.
"Maafkan Shanaya.. Karena sempat meragukan Daddy.." Ucap Shanaya disela-sela isaknya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Sayang, kamu tidak salah. Yang terpenting sekarang, kamu sudah yakin dan percaya, kalau kamu memang putri kandung kami." Perkataan Sall langsung diangguki Shanaya.
Hingga beberapa saat kemudian, Shanaya mencium lembut pipi Mommy dan Daddy-nya bergantian.
"Mom.. Dad.. Meskipun aku belum mengingat apapun, tapi aku sungguh mencintai kalian." Ungkap Shanaya tulus, yang langsung dibalas pelukan hangat dan ciuman lembut kedua orangtuanya.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️