
Matahari senja mulai bergerak menuju peraduannya, saat mobil sport yang dikendarai Shawn melaju kencang meninggalkan area Hotel Knight. Shanaya yang duduk tepat di sebelah Shawn, hanya diam tidak berani bertanya kemana tujuan mereka saat ini.
Sesekali Shanaya melirik wajah Shawn yang masih terlihat marah seraya menatap lurus jalan dihadapannya. Rasa bersalah memenuhi hati Shanaya saat ini, setelah kebohongannya tentang kejadian di mall sebelumnya, ternyata diketahui Shawn.
Pikiran Shanaya sudah dipenuhi banyak pertanyaan, saat mobil mereka bukan lagi melintasi jalanan kota Bandung yang ramai, melainkan melewati dataran tinggi dengan hamparan kebun teh yang indah dan hijau.
"Sayang, kita sebenarnya mau kemana?" Nada suara Shanaya yang lembut, tidak juga meluluhkan hati Shawn, mulutnya terkunci enggan memberi jawaban untuk Shanaya. Sementara Shanaya hanya bisa menghela nafas menerima perlakuan suaminya yang masih terlihat kesal padanya.
Kembali terbayang kemarahan Shawn beberapa jam yang lalu, yang berhasil membuat Shanaya merasakan penyesalan atas keputusan yang diambilnya.
"Shanaya.. Aku sudah memberi kamu waktu untuk jujur dan mengatakan yang sebenarnya. Namun semakin banyak aku bertanya, kamu semakin banyak mengarang kebohongan. Apa kamu memang sedang melindungi tunangan gadunganmu itu?" Perkataan sarkas Shawn membuat tubuh Shanaya lemas. Shanaya merutuki kebodohannya karena memilih menyembunyikan kejadian tidak menyenangkan itu dari Shawn, padahal Shawn sangat mengharapkan kejujurannya.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud berbohong padamu, aku hanya tidak ingin merusak suasana dengan mengatakan kabar yang tidak menyenangkan padamu. Sejujurnya aku takut membuatmu salah paham.." Penjelasan Shanaya yang disertai raut memelas, langsung dipotong Shawn dengan bentakan.
"Takut membuatku salah paham? Kamu membuatku berpikir macam-macam karena kebohonganmu. Kamu berada dalam ruangan sempit dengan seorang pria yang jelas-jelas mengejarmu, dan kamu malah menutupinya dariku. Kamu sengaja mengarang banyak kebohongan untuk membodohiku Shanaya.." Tatapan tajam Shawn membuat bibir Shanaya bergetar, terlebih tuduhan Shawn terasa begitu menusuk hatinya.
"Bukan seperti itu Sayang.. Aku benar-benar tidak ingin merusak suasana bahagia diantara kita, hanya karena kedatangan manusia tidak penting itu." Ujar Shanaya berusaha membela dirinya.
"Tapi kamu membohongiku, membodohiku Shanaya.. Jika aku tidak menerima laporan dari pengawal perempuan yang diam-diam mengikutimu sampai ke toilet, aku pasti tidak akan tahu kalau istriku bersama laki-laki lain. Bahkan Sheran sengaja tidak menutupi wajahnya, agar aku tahu kalau dia menemuimu. " Ucapan Shawn sukses membelalakan mata Shanaya. Shanaya sangat sadar kalau Shawn selalu menempatkan banyak pengawal untuk menjaganya, tapi Shanaya sungguh tidak tahu ada pengawal perempuan yang bisa mengawasinya sampai ke toilet. Shanaya pun baru menyadari kenapa Sheran terlihat membuka jati dirinya, tanpa takut keberadaannya diketahui Shawn dan klannya.
'Jadi Sheran sengaja menunjukkan kemunculannya, agar Shawn tahu kalau dia menemuiku. Sekarang dia berhasil membuat Shawn salah paham, aku tidak mau hubungan yang baru membaik ini kembali memburuk.' Ucap Shanaya dalam hati.
Shanaya masih sibuk memilih kata untuk meyakinkan Shawn, saat tiba-tiba Shawn menarik kasar tangan Shanaya, dan membawanya keluar dari kamar VVIP itu. Tidak ingin membuat Shawn semakin marah, Shanaya memilih pasrah meskipun tangannya terasa sakit dan meninggalkan bekas kemerahan.
Untuk pertama kalinya, Shanaya merasakan kemarahan yang begitu besar dari seorang Shawn. Bahkan sejak kecil, Shawn tidak pernah bersikap kasar pada Shanaya, semarah atau sekesal apapun dia pada Shanaya.
Namun Shanaya tidak ingin orang-orang yang berpapasan dengan mereka, menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya dan suaminya. Hingga akhirnya Shanaya memilih memeluk lengan kokoh Shawn, sehingga mereka tetap terlihat seperti pasangan yang romantis dihadapan banyak orang.
Shawn menyadari sikap Shanaya yang ingin terlihat baik-baik saja di depan banyak orang, hingga akhirnya dia mengubah posisinya dengan memeluk pinggang Shanaya sampai mereka masuk ke dalam mobil sport milik Shawn yang terparkir di depan lobby Hotel Knight.
Lamunan Shanaya terhenti saat mobil sport Shawn memasuki gerbang sebuah villa mewah yang dijaga oleh beberapa orang penjaga. Shanaya menelisik villa bercat putih itu dengan tatapan takjub karena design-nya yang begitu indah dan megah.
Shawn meminta Shanaya turun dari mobilnya, tanpa membukakan pintu untuk Shanaya. Lagi-lagi Shanaya hanya menghela nafas panjang menerima sikap dingin Shawn padanya.
Dua orang pelayan paruh baya yang merupakan sepasang suami istri, menyambut kedatangan Shawn dan Shanaya di pintu utama villa. Keduanya tampak tersenyum ramah mempersilahkan Shawn dan Shanaya masuk.
"Bu Ratih, tolong siapkan makan makan malam untuk kami berdua. Setelah selesai nanti, Bu Ratih dan Pak Soleh bisa tinggalkan kami berdua."
"Iya baik Tuan Shawn."
Kedua suami istri itu beserta beberapa orang penjaga rumah memang ditugaskan Shawn untuk menjaga villa pribadinya. Setiap kali Shawn berlibur ke Indonesia, bukan hanya mansion orangtuanya yang akan dia jadikan tempat peristirahatan, melainkan juga villa yang dia design khusus sebagai tempat favoritnya untuk menenangkan diri.
Villa itu terdiri dari dua bangunan megah, dimana salah satunya memang sengaja diperuntukkan bagi para pelayan dan penjaga tinggal, karena Shawn seringkali memerlukan privacy dan tidak ingin diganggu oleh siapapun. Seperti saat ini, Shawn tidak ingin perang dinginnya dengan Shanaya diketahui oleh orang lain. Sehingga Bi Ratih dan Pak Soleh diminta untuk kembali ke villa tempat tinggal mereka, setelah makan malam siap.
Shawn dan Shanaya menikmati hidangan makan malam berupa masakan sunda, dalam suasana yang hening. Sama sekali tidak ada obrolan diantara mereka, meskipun Shanaya sempat melayani suaminya mengambilkan sepiring nasi beserta lauknya di awal makan malam mereka.
Selesai makan malam, Shawn dan Shanaya tampak menghangatkan diri mereka di depan sebuah perapian yang ada di ruang keluarga di lantai 1. Cuaca memang berubah dingin, terlebih diluar mulai turun hujan deras lengkap dengan angin yang bertiup sangat kencang.
"Sayang, apa yang akan kita lakukan setelah ini? Apa kita menonton film saja?" Shanaya berusaha mencairkan suasana.
"Aku mau tidur. Nanti kamu tidurlah di lantai 2, aku akan tidur di lantai 1." Mendengar perkataan dingin Shawn, mata indah Shanaya mulai berkaca-kaca.
"Sayang, tolong jangan marah lagi. Aku sudah meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Tidak bisakah kamu memaafkan kesalahanku? Sheran sengaja membuat kita bertengkar, apa kamu akan kembali mengabaikanku sekarang?" Perkataan Shanaya terdengar sedikit putus asa, membuat Shawn tidak tega.
"Beri aku waktu untuk menenangkan diri, sejujurnya begitu menyakitkan mendengarmu berbohong, padahal aku berharap kamu akan menceritakan semuanya secara detail. Agar tidak ada sedikitpun keraguan di dalam hatiku. Masuklah ke kamarmu, kamu bisa menonton film disana." Shawn beranjak menuju kamar yang akan ditempatinya, namun Shanaya mengekor dibelakangnya.
"Ada apa lagi?" Tanya Shawn sedikit kesal.
"Aku tidak membawa baju ganti. Aku juga takut kalau harus tidur sendirian di villa sebesar ini. Apalagi hujannya begitu deras." Ucap Shanaya jujur.
"Di kamarmu sudah tersedia baju-baju untukmu, kamu bisa memakainya. Aku akan mengantarmu ke kamar dan menemanimu sampai tertidur." Jawab Shawn memancing lengkungan di kedua sudut bibir Shanaya.
'Aku tidak akan tertidur malam ini, agar Shawn terus menemaniku di kamar.' Ucap Shanaya dalam hati.
Shanaya memandang deretan pakaian yang tersedia di ruangan walk in closet kamar yang ditempatinya. Begitu lengkap dan sesuai dengan selera fashion-nya. Netranya juga membola saat melihat deretan lingerie berbagai model, motif dan warna. Bahkan terlihat lebih bagus dari 10 lingerie yang dibelinya siang tadi.
'Hmm, sayang sekali malam ini sepertinya tidak akan ada moment romantis seperti yang sebelumnya aku bayangkan.' Shanaya menutup kembali lemari kaca berisi deretan lingerie itu, dan memilih sebuah piyama berbahan satin berwarna navy untuk segera dipakainya.
"Tidurlah.. Aku akan menemanimu sampai tertidur." Shanaya hanya mengangguk menanggapi perkataan Shawn, lalu bergegas merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Shawn yang melihat Shanaya merebahkan diri tanpa memakai selimut, segera mengambil selimut berwarna putih yang berada di dekat kaki Shanaya, lalu menyelimuti Shanaya sampai sebatas perut.
"Terima kasih Sayang.. Bisakah kamu menemaniku disini?" Ujar Shanaya seraya menepuk bagian tempat tidur disebelahnya. Jika dalam suasana hati yang baik, tawaran Shanaya bagaikan angin surga bagi Shawn. Tapi kali ini, Shawn berusaha menahan dirinya, karena kemarahan dan rasa cemburu masih menguasai dirinya.
"Aku di sofa saja." Jawaban tegas Shawn membuat Shanaya memberengut kecewa. Namun Shawn berusaha tidak peduli, dan memilih kembali duduk di atas sofa.
"Sayang gantilah bajumu dengan piyama, biar kamu lebih nyaman." Membenarkan ucapan Shanaya, Shawn segera berganti baju di ruang walk in closet kamar itu, karena pakaian-pakaiannya juga berada disana.
Netra Shanaya berbinar saat melihat Shawn mengganti bajunya dengan piyama berwarna sama dengan yang dikenakannya.
"Piyamanya bagus sekali, ternyata kamu sengaja membeli piyama couple untuk kita. Aku benar-benar menyukainya." Shanaya turun dari tempat tidur dan menghampiri Shawn yang berdiri dihadapannya.
Cup..
Sedikit berjinjit, dikecupnya bibir Shawn hingga Shawn tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Tapi tidak seperti biasanya, dimana Shawn akan membalas dengan ciuman yang lebih liar. Tapi justru pertanyaan menyakitkan yang keluar dari mulut Shawn.
"Apa yang kamu lakukan bersama Sheran tadi siang, apa kalian berciuman sambil berpelukan?" Shanaya menghunus tatapan tajam pada Shawn, sungguh harga dirinya terasa diinjak-injak saat ini.
"Apa kamu pikir, aku perempuan murahan?" Netra Shanaya mulai berkaca-kaca karena menahan marah dan kecewa.
"Cukup jawab pertanyaanku, dan yakinkan aku, kalau tidak ada yang terjadi diantara kalian berdua." Lirih Shawn, sungguh hatinya butuh diyakinkan saat ini. Tapi Shanaya tidak paham, justru dirinya merasa kecewa pada sikap Shawn yang terus memojokannya.
"Kamu tidak benar-benar mengenalku. Kamu meragukanku dan menganggapku perempuan murahan." Emosi Shanaya semakin naik.
"Tidak bisakah kamu menjawab pertanyaanku dan menjelaskan semuanya?" Tuntut Shawn dengan nada suara yang kembali naik, masih mengharapkan jawaban yang bisa memuaskan rasa penasarannya.
"Tidak.. Untuk apa menjelaskan sesuatu hal yang harusnya kamu tahu jawabannya. Aku benar-benar kecewa padamu Shawn. Seharusnya kita tidak menikah, kalau kamu masih selalu tidak yakin padaku." Ujar Shanaya dengan air mata di pipinya.
Perkataan Shanaya berhasil membuat Shawn membeku. Kalimat terakhir Shanaya membuat hati Shawn teriris.
"Jadi itu yang kamu inginkan, kita tidak seharusnya menikah.. Akhirnya aku tahu isi hatimu yang sesungguhnya. Aku pikir, perlahan kamu sudah menerima pernikahan ini. Tapi ternyata tidak." Lirih Shawn, lalu berbalik keluar dari kamar itu. Meninggalkan Shanaya yang bergeming, menyadari kesalahannya karena sudah mengatakan sesuatu yang salah.
Shawn terlihat merebahkan tubuhnya di atas permadani yang terletak tepat di depan perapian. Sebelah tangannya menutupi kedua matanya yang basah. Sesungguhnya Shawn tidak ingin terlihat lemah dengan meneteskan air mata, tapi hati yang terlalu sakit mendengar perkataan Shanaya, ternyata tidak cukup kuat untuk menahannya.
'Ternyata dia masih belum menerima pernikahan ini. Mungkin selamanya aku tidak akan memiliki hati dan juga raganya. Aku bersalah karena memaksakan pernikahan ini, mungkin memang bukan aku yang ada di dalam hatinya saat ini.' Ratap Shawn dalam hati, dengan aliran air kembali keluar dari kedua sudut matanya.
"Sayang.." Seketika Shawn mengusap seluruh wajahnya dengan lengan bajunya, menghapus sisa air mata, agar Shanaya tidak mengetahui dirinya yang menangis karena terluka. Namun Shanaya tahu, kalau perkataannya memang sudah benar-benar menyakiti hati suaminya.
Dengan mengesampingkan rasa malu, Shanaya berusaha memperbaiki keadaan dengan satu-satunya cara yang terpikirkan di otaknya. Berbalut selimut putih yang menutupi seluruh tubuhnya, Shanaya tampak mendekati Shawn yang kini mendudukkan dirinya di atas sofa. Masih dalam posisi berdiri, Shanaya mulai membuka mulutnya.
"Sayang, tolong maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud menyakiti hatimu. Aku hanya terlalu marah mendengar tuduhanmu. Tidak ada yang terjadi diantara aku dan Sheran. Dia memang memelukku, tapi aku berusaha melepaskan diri darinya. Bahkan aku sampai menendang senjata miliknya, hingga aku bisa melarikan diri darinya." Mata Shawn membelalak mendengar penjelasan Shanaya.
"Apa benar itu yang terjadi?" Tanya Shawn ingin memastikan.
"Jika kamu masih belum percaya, tanya saja pengawal perempuan yang kamu tugaskan, dia pasti mendengar teriakan Sheran saat aku menendangnya." Jawab Shanaya sedikit kesal.
Tiba-tiba senyuman tipis terbit di wajah Shawn, membuat Shanaya mengernyitkan keningnya karena heran.
"Tidak bisakah kamu menjelaskannya sejak tadi siang, pasti hatiku tidak akan terus bertanya-tanya dengan berbagai dugaan buruk di dalam otak dan hatiku." Lirih Shawn, membuat Shanaya merasa bersalah.
"Maaf Sayang.. Aku bodoh karena berpikir kalau keputusanku untuk menutupi semuanya darimu, adalah keputusan yang tepat. Padahal sebagai suami istri, kita seharusnya bisa saling terbuka dan tidak saling menutupi masalah apapun." Shawn kembali tersenyum mendengar ungkapan hati Shanaya.
"Terima kasih karena sudah mau menjelaskan semuanya, sekarang aku bisa tenang. Meskipun kamu masih belum bisa menerima pernikahan ini, tapi aku berharap, kamu dan aku bisa sama-sama belajar untuk mewujudkan pernikahan yang damai dan bahagia." Ucap Shawn tulus.
"Tapi aku sudah benar-benar menerima pernikahan ini, karena aku benar-benar mencintaimu.." Netra Shawn seketika membulat sempurna, bukan hanya karena ungkapan cinta Shanaya, tapi juga adegan didepannya yang sukses mengejutkan dirinya. Shanaya tampak menurunkan selimut putih yang membungkus tubuhnya. Menampakkan tubuh indah Shanaya yang hanya berbalut lingerie berwarna hitam, menampakkan kaki jenjang, dan belahan dada Shanaya yang sangat menggoda. Juga perut ramping Shanaya yang terlihat menerawang dari balik lingerie berbahan tipis itu, membuat Shawn seolah kesulitan bernafas dan menelan salivanya.
"Aku milikmu Sayang.. Hanya milikmu.." Lirih Shanaya seraya mendudukkan dirinya di atas pangkuan Shawn dan melingkarkan kedua tangannya di leher Shawn.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️