
Angin dini hari bertiup kencang, cukup kuat untuk menjatuhkan daun dan bunga-bunga kecil yang merekah di taman bunga mansion. Para penghuni mansion pun memilih bergelung di bawah selimut karena cuaca dini hari ini, lebih mendukung mereka untuk berada di atas tempat tidur lebih lama lagi. Namun berbeda dengan Marisha yang masih berkutat dengan buku-buku yang tebal di hadapannya.
Sekilas diliriknya gelas di atas nakas yang sudah kosong sejak beberapa jam yang lalu. Untuk kembali menemaninya belajar, Marisha berniat membuat secangkir jasmine tea hangat.
Marisha yang baru saja keluar dari kamarnya untuk menuju pantry lantai 1, merasa terkejut karena kedatangan Shawn yang dipapah oleh Drake dan seorang pengawal. Keadaan Shawn terlihat begitu lemah, meskipun terlihat masih sadar.
"Shawn kenapa?" Drake tidak menjawab pertanyaan Marisha, dan hanya mengangkat sebelah tangannya agar Marisha tidak membuat kegaduhan dan membangunkan banyak orang. Akhirnya Marisha memilih mengikuti mereka ke kamar Shawn.
Setelah merebahkan Shawn di atas tempat tidur, Drake kembali menghubungi beberapa Dokter pribadi keluarga Knight yang sejak tadi sulit sekali dihubungi.
"Dokter Robert, Dokter Anna, Dokter Bill, Dokter James kemana mereka semua? Sungguh tidak bisa diandalkan saat dibutuhkan. Shiiiiiit.." Drake mengumpat karena kesal. Memang Drake selalu mengeluarkan umpatan setiap kali merasa kesal dan marah.
"Kak Drake, apa Shawn mengalami luka tembak di punggungnya? Izinkan aku mengeluarkan peluru dan menjahit lukanya." Ujar Marisha menawarkan diri.
Mendengar perkataan Marisha, Drake sempat terkejut dan diam sesaat, namun Drake baru menyadari kalau Marisha adalah mahasiswi Fakultas Kedokterkan yang sangat pintar. Bukan hanya Drake, Shawn yang samar-samar mendengar perkataan Marisha pun, baru menyadari kalau Marisha memanglah seorang calon dokter. Tapi Shawn tidak mampu mengatakan apapun, karena rasa sakit yang dirasakannya, membuatnya hanya bisa meringis kesakitan.
Setelah menimbang apa yang terbaik bagi Shawn, Drake memutuskan untuk mengizinkan Marisha untuk mengoperasi Shawn di ruang medis yang berada di lantai 1 mansion. Sall memang melengkapi mansion-nya dengan alat-alat medis yang cukup lengkap. Mengingat seringkali dirinya dan orang-orang kepercayaannya bersinggungan dengan bahaya yang mengancam keselamatan dan nyawa mereka.
Operasi pengeluaran dua peluru yang bersarang di punggung Shawn memerlukan waktu hampir 3 jam. Drake yang tidak mengerti tentang medis, memilih melihat jalannya operasi, karena sejujurnya dia sangat takut Marisha melakukan kesalahan saat operasi. Tapi melihat kecekatan dan kelihaian Marisha saat menangani Shawn, Drake bisa bernafas sedikit lega. Meskipun saat ini Shawn yang tertidur dengan posisi menelungkup, masih belum sadarkan diri dari pengaruh anestesi. Sampai akhirnya Drake tertidur di atas sofa yang berada di ruangan itu karena kelelahan.
Selang beberapa jam, Shawn sadar dan membuka matanya yang terlelap cukup lama. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Marisha yang saat ini terlihat duduk memandangnya dengan ekspresi khawatir.
"Shawn, apa kamu sudah benar-benar sadar?" Shawn hanya mengedipkan matanya, memberi tanda sebagai jawaban atas pertanyaan Marisha. Tubuhnya masih terlalu lemah, bahkan hanya sekedar untuk memberikan sebuah jawaban singkat.
"Syukurlah.. Kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak. Aku akan memperbaiki posisi tidurmu, agar tidak pegal dan tetap nyaman." Shawn hanya diam, mengikuti gerakan Marisha yang kini sedikit memiringkan tubuh Shawn.
"Aku akan memberitahu Shanaya, pasti sekarang dia sedang sarapan." Namun mendengar perkataan Marisha, Shawn tiba-tiba menggeleng lemah seraya menutup matanya, membuat Marisha yang sudah berdiri, kembali mengurungkan niatnya.
"Kamu tidak ingin aku memberitahu Shanaya? Apa kamu tidak mau membuatnya khawatir?" Marisha paham saat melihat anggukan lemah dari Shawn, sehingga dia memilih untuk duduk kembali.
"Baiklah.. Aku akan memberitahunya setelah kamu cukup kuat ya." Senyum Marisha terulas manis di wajahnya yang terlihat lelah.
"Thank..you.." Ungkap Shawn terbata dengan suara yang sangat lirih.
Jam sudah lewat waktu makan siang, Marisha terus menjaga dan merawat Shawn tanpa lelah. Marisha menyuapi Shawn bubur cair dan segelas air hangat untuk memulihkan tenaganya pasca operasi. Drake yang sudah terbangun pun hanya keluar untuk mengisi perutnya, lalu kembali lagi untuk memantau keadaan sahabat sekaligus Boss-nya itu.
"Pagi tadi Shanaya menanyakan keberadaanmu. Aku bilang kamu sedang melakukan virtual meeting di ruang kerja dan tidak bisa diganggu. Dia bilang sepulang sekolah, ada kegiatan ekskul sampai sore. Dia juga menanyakan kamu Marisha, aku bilang kamu sudah berangkat kuliah." Marisha mengangguk mendengar perkataan Drake.
"Oh iya, kamu belum makan siang, makanlah dulu. Aku akan menjaga Shawn disini." Ujar Drake lalu mendudukkan dirinya di kursi tepat di sebelah Marisha. Awalnya Marisha ragu meninggalkan Shawn, tapi cacing-cacing di perutnya sudah protes minta diisi, sehingga akhirnya Marisha memutuskan untuk makan sebelum kembali menjaga pasien VVIP-nya.
Selama 3 hari ini, Drake dan Marisha menutupi keadaan dan keberadaan Shawn dari Shanaya, atas permintaan Shawn. Camera CCTV yang mengarah ke ruang medis mansion sengaja dimatikan, karena khawatir Shanaya akan memeriksa rekaman CCTV itu sewaktu-waktu.
Kondisi Shawn pun sudah mulai membaik, Shawn sudah bisa mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, sesekali lengan dan bahunya disangga tumpukan bantal agar tidak pegal. Shawn meminta Drake untuk tidak memanggil dokter pribadinya, karena merasa keberadaan Marisha sudah cukup untuk merawat dirinya.
"Shanaya mencarimu Shawn. Dia terlihat tidak bersemangat, saat hendak berangkat sekolah tadi. Shawn, kenapa kamu tidak mau memberitahu Shanaya tentang keadaanmu? Shanaya adikmu, dia tentu berhak tahu kondisimu saat ini. Apa kamu tidak ingin membuatnya khawatir dan.."
"Aku tidak suka melihat Shanaya menangis.." Marisha terpaku mendengar perkataan Shawn yang cukup dalam namun terdengar sangat tulus.
'Laki-laki ini sangat mencintai adiknya, mata tajamnya akan berubah sendu saat membicarakan adiknya. Terkadang aku iri, karena aku hanya sendiri di dunia ini.' Ujar Marisha dalam hati.
"Shanaya beruntung memiliki Kakak sebaik kamu. Bahkan disaat kamu sakit pun, kamu lebih memikirkan perasaan adikmu dibanding kondisimu sendiri." Shawn hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan Marisha.
Shawn mendadak meringis kesakitan, karena merasakan lukanya sedikit nyeri dan perih. Hal itu membuat Marisha sedikit panik dan mendekat ke arah Shawn.
"Shawn, kamu kenapa? Apa lukanya sakit?" Shawn menjawab pertanyaan Marisha dengan anggukan.
Marisha mencondongkan tubunya hendak memeriksa punggung Shawn, namun karena kurang fokus dan hilang keseimbangan, Marisha malah hampir terjatuh dengan tangan menyentuh bahu Shawn. Keduanya saling bertatapan, sesaat Marisha terhanyut pada mata birunya Shawn yang indah, begitupun Shawn sempat terpaku pada netra jernih Marisha yang berwarna hazel.
"Maaf Shawn.. Aku tidak sengaja." Marisha segera menarik mundur tubuhnya, Shawn pun memilih menyandarkan bahunya di tumpukan bantal, berusaha menetralkan degup jantungnya yang mendadak berdetak lebih cepat.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang cukup cepat dari arah luar, sebelum beberapa wajah yang sangat dikenal Shawn muncul mengejutkan dirinya. Marisha berdiri dari duduknya, memberikan ruang bagi dua orang yang sudah familiar dilihatnya, dari photo-photo yang terpajang di mansion yang ditinggalinya itu.
'Mommy-nya Shawn memang benar-benar cantik.' Puji Marisha dalam hati.
"Shawn.. Kamu baik-baik saja Nak? Bagaimana lukamu? Mommy benar-benar khawatir padamu." Sanchia, Mommy Shawn duduk tergesa di tepi tempat tidur, lalu memeluk Shawn dengan menempelkan kedua tangannya di lengan Shawn, berusaha tidak menyentuh luka di punggung Shawn.
"Dari mana Mommy tahu?" Shawn bukannya menjawab, tapi malah melemparkan kalimat tanya seraya memandang Daddy-nya yang berdiri di sebelah Mommy-nya.
"Tentu kami tahu semua yang terjadi padamu Son, maafkan kami yang baru datang menjengukmu." Sall mengelus pelan kepala Shawn.
"I am okay Mom, Dad.. Hanya tinggal pemulihan saja. Marisha merawatku dengan baik." Ujar Shawn, membuat Marisha yang namanya disebut menjadi terkejut dan salah tingkah. Terlebih pandangan kedua orangtua Shawn, kini beralih padanya.
"Nak, terima kasih karena sudah menyelamatkan dan merawat anak Aunty dan Uncle ya.." Mata Marisha berbinar bahagia mendengar perkataan Sanchia yang terdengar sangat tulus.
"Iya Marisha, terima kasih ya.." Timpal Sall, meskipun ekspresi dinginnya masih membuat Marisha sedikit takut.
"Iya sama-sama Aunty, Uncle.." Jawab Marisha tersipu dan sedikit canggung.
Sall dan Sanchia sedang bertanya lebih detail tentang keadaan Shawn pada Marisha, saat tiba-tiba Shanaya menerobos masuk dari penjagaan Drake dan beberapa pengawal di luar pintu.
"Mommy..Daddy.." Shanaya memeluk Sall dan Sanchia dengan berurai air mata. Namun sesaat kemudian pandangan sendunya mengarah pada Shawn yang diam tanpa kata.
"Kenapa Kak Shawn tidak memberitahuku, kalau Kak Shawn terluka? Apa Kak Shawn ingin membuatku jadi orang terakhir di mansion ini yang mengetahui keadaanmu? Kamu juga Marisha, kenapa menutupinya dariku? Kalau aku tidak mendengar obrolan dari para pelayan, aku tidak akan pernah tahu keadaan Kak Shawn." Shanaya meluapkan kekesalan di sela-sela tangisnya, membuat Shawn, Marisha, Sall juga Sanchia terpaku.
Maaf Shanaya.. Kakakmu menyuruhku untuk tidak mengatakannya padamu." Marisha memilih jujur, daripada sahabatnya itu marah dan membencinya.
"Kak Shawn menyebalkan. Biarpun aku tidak pandai merawat orang sakit, tapi aku akan berusaha Kak." Shanaya memeluk Shawn dengan erat, membuat Shawn sedikit meringis kesakitan karena lukanya yang tertekan tangan Shanaya.
"Eh maaf.. Aku tidak tahu Kak.." Shawn tersenyum melihat wajah Shanaya yang terlihat merasa bersalah.
"Aku sudah baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir Shanaya." Shawn menggenggam tangan Shanaya, yang membalas mengelus tangan Shawn dengan tangan lainnya.
"Iya Kak, cepatlah sembuh.. Aku sangat khawatir padamu." Shawn menganggukkan kepalanya mantap, tidak ingin membuat Shanaya khawatir lagi.
'Kenapa aku merasa ingin Shawn menatapku, seperti cara dia menatap Shanaya penuh kasih sayang? Ah apa yang aku pikirkan? Apa aku mulai gila setelah beberapa hari merawatnya..' Rutuk Marisha dalam hati.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️