
Sebuah sapaan manis membuat netra indah Shanaya sepenuhnya terbuka dari tidur lelapnya, setelah sebelumnya trrusik sentuhan-sentuhan lembut di hampir seluruh bagian wajahnya.
"Good morning My Love.." Sapa Shawn seraya mengelus pelipis Shanaya.
"Good morning My Everything.." Jawab Shanaya lembut.
Senyuman terindah seketika memenuhi ruang pandang Shawn yang tidak jemu memandangi wajah istrinya sejak beberapa jam yang lalu. Shawn memang hanya tertidur sebentar, yang dilakukannya semalaman adalah mengawasi keadaan istrinya yang baru saja mendapat obat pemulih ingatan darinya. Shawn khawatir ada efek samping yang timbul dari obat tersebut, namun keadaan Shanaya baik-baik saja, bahkan Shanaya tidur begitu nyenyak dengan memeluk tubuh Shawn yang nyaman dan hangat.
"Mandi yuk Sayang.. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu.. Aku membuatnya sendiri lho Sayang." Mendengar perkataan Shawn, Shanaya melirik ke arah nakas dimana terdapat sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan segelas susu hangat.
"Wah, kamu sendiri yang membuatnya Sayang?"" Netra Shanaya melebar, sedikit tidak yakin dengan perkataan suaminya. Karena menurut kedua orangtuanya pun, Shawn benar-benar tidak menyukai kegiatan memasak.
"Aku benar-benar memasak nasi goreng itu Sayang.. Tapi dipandu Chef sih, hehe.." Senyum Shanaya melebar mendengar kejujuran suaminya.
Cup..
Penuh cinta, Shanaya mengecup lembut bibir suaminya, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya karena apa yang sudah dilakukan suaminya.
"You're so sweet Honey.. Terima kasih karena selalu membuatku bahagia dan menjadikanku istri paling beruntung di dunia." Pujian Shanaya yang memang terkesan berlebihan itu sukses mengukir lengkungan indah di kedua sudut bibir Shawn.
"Justru kamu yang membuatku jadi suami paling beruntung di dunia." Lirih Shawn mengunci pandangnya di netra hazel Shanaya.
"Setelah semalaman membuatku menahan diri, sepertinya pagi ini aku akan meminta jatahku Sayang."
"Aaaaa.." Pekik Shanaya tiba-tiba.
Sebelum bisa mencerna perkataan Shawn sebelumnya, tubuh Shanaya sudah melayang karena digendong Shawn turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Shanaya menurut saja dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Shawn, seraya membalas pandangan suaminya yang penuh cinta.
*************************
Di sebuah kamar VIP Hotel mewah, sepasang manusia tampak masih tertidur pulas. Namun mereka tidak tidur di atas tempat tidur yang sama, hanya sang perempuan yang tertidur lelap di atas ranjang nyaman hotel tersebut. Sementara sang pria harus rela tubuh tinggi gagahnya, meringkuk di atas sofa yang sebenarnya kurang nyaman digunakan untuk tidur.
Sepasang netra berwarna abu kehijauan milik Drake, perlahan terbuka setelah mengusir rasa kantuknya. Pandangannya mengarah pada Keiva yang terlihat masih lelap dalam tidurnya.
Terbayang kembali moment malam tadi, yang tiba-tiba saja memancing senyuman di wajah Drake beserta perasaan bahagia di hatinya.
Setelah moment romantis dirinya dan Keiva yang berpelukan di tengah hujan, Drake segera mengajak Keiva ke hotel terdekat yang tidak jauh dari restaurant. Drake mengendarai mobil Keiva dan meninggalkan mobilnya di restaurant.
Setibanya di kamar hotel yang Drake pesan, keduanya begitu canggung dan salah tingkah, apalagi tubuh mereka basah kuyup tanpa ada bagian yang kering sedikitpun.
"Mandilah dengan air hangat, supaya kamu tidak sakit. Lalu ganti bajumu dengan bathrobe. Aku akan memesan baju ganti di butik untuk kita berdua." Drake berusaha menutupi kecanggunggannya dengan berkata sebiasa mungkin, meskipun jantungnya berdegup kencang saat membayangkan Keiva mengganti baju basahnya dengan bathrobe.
'Ah kacau, kenapa aku malah membayangkan yang tidak-tidak.' Rutuk Drake dalam hati.
"Hmm.. Okay.." Keiva membalas ucapan Drake dengan singkat. Sesungguhnya Keiva pun sedang menutupi rasa canggungnya dari Drake.
Dengan langkah terburu-buru, Keiva melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sementara Drake mulai menghubungi butik kepercayaan keluarga Knight yang ada di pusat Kota Bandung untuk memesan pakaian yang dia butuhkan.
Selama menunggu Keiva selesai mandi air hangat dan menunggu pihak butik mengantarkan pakaian, Drake harus menahan rasa dingin dari tubuhnya yang basah. Sesekali kedua tangannya menggosok lengannya agar lebih hangat. Hingga akhirnya pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Keiva yang sudah segar dengan hanya mengenakan bathrobe.
Sesaat Drake bergeming menatap pemandangan indah dihadapannya, kesulitan menelan saliva dengan nafas yang sedikit tercekat. Setelah kesadarannya kembali, Drake memilih memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghentikan pikirannya yang mulai menerawang kemana-mana.
Bel pintu kamar berbunyi, tanpa membuang waktu Drake segera membuka pintu kamar yang sesuai dugaan menampakkan pegawai butik yang mengantarkan beberapa paper bag berisi pakaian pesanannya. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan tip yang besar pada pegawai butik itu, Drake segera membawa barang-barang itu masuk.
Setelah meletakkan semua paper bag di atas meja, Drake sedikit melongok isi paper bag itu agar tidak salah memberikan pakaian pada Keiva.
"Ini baju gantimu Keiva.."
"Terima kasih Drake.." Keiva segera menerima empat paper bag yang diulurkan Drake padanya, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Di dalam kamar mandi, tiba-tiba mata sipit Keiva mendadak membola saat melihat salah satu isi paper bag yang diberikan Drake padanya. Tiga paper bag yang berisi kemeja casual berwarna biru, rok jeans pendek, dan juga piyama tidur tentunya tidak membuat Keiva merasa terkejut. Tapi paper bag berisi dua pasang bra beserta panties berenda berwarna hitam dan navy, sukses membuat Keiva merasa terkejut.
"Kenapa Drake bisa tahu ukuranku? Bahkan dia tahu warna favoritku. Apa dia hanya menebak-nebak saja?" Lirih Keiva terlihat malu, meskipun Drake tidak bisa melihat wajahnya saat ini.
Setelah mengganti bajunya, Keiva segera keluar dari kamar mandi tanpa berani menatap Drake. Justru pandangannya kini mengarah pada deretan makanan yang tersaji di atas meja.
"Makan saja duluan.. Aku mandi dulu ya." Ujar Drake seraya menjinjing dua buah paper bag menuju kamar mandi.
Setelah memastikan Drake sudah masuk ke dalam kamar mandi, Keiva segera mengisi perutnya dengan terburu-buru. Rasa canggungnya sama sekali belum berkurang, sehingga dirinya ingin segera tertidur, demi menghindari interaksinya bersama Drake.
Selesai makan, Keiva segera naik ke atas tempat tidur, tidak peduli perutnya masih begitu penuh dengan 3 menu makan malam yang sudah dilahapnya. Drake yang baru keluar dari kamar mandi, terlihat mengerutkan kening melihat Keiva yang sudah berbaring di atas tempat tidur. Terlebih Keiva membungkus tubuhnya dengan selimut sampai ke bagian leher. Tapi senyum Drake mengembang saat melihat beberapa piring untuk Keiva terlihat kosong.
'Setidaknya kamu sudah mengisi perutmu yang kosong.. Kamu pasti sekarang sedang sama canggungnya sepertiku. Aku tidak akan membuatmu merasa tidak nyaman, aku akan menahan diriku sebisa mungkin. Jadi bekerjasamalah denganku, jangan melakukan tindakan yang bisa memancingku.' Ucap Drake dalam hati seraya menatap Keiva yang berpura-pura tertidur.
Drake segera duduk, lalu menyantap menu makan malamnya dengan santai. Sesekali pandangannya tertuju pada Keiva yang masih berusaha membuat dirinya terlelap. Keiva merasa mata elang milik Drake masih mengawasinya, hingga dirinya justru semakin tidak bisa masuk ke alam mimpi.
Drake yang baru saja memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya, mendadak terkejut karena Keiva yang tiba-tiba mendudukkan dirinya seraya menatap kesal ke arah Drake.
"Berhenti memandangiku seperti itu, aku tidak bisa tidur." Mendengar perkataan Keiva, Drake justru tertawa kecil. Apalagi wajah kesal Keiva dengan pipi yang sedikit menggembung, membuat Drake merasa bertambah gemas.
Setelah meneguk setengah gelas air putih, Drake menghampiri Keiva dan mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur. Tentu saja hal ini membuat jantung Keiva berdebar kencang, apalagi pandangan teduh Drake berhasil membuat perasaan Keiva terlena selama beberapa saat.
'Apa yang akan dilakukan pria ini? Kenapa dia menatapku seperti itu? Kenapa wajahnya yang biasanya datar dan dingin itu mendadak begitu hangat dan tampan?' Tanpa sadar Keiva menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir isi pikirannya yang tidak biasa. Drake hanya tersenyum kecil melihat kelakuan Keiva, lalu mengacak-acak rambut Keiva dengan gemas.
"Tidurlah.. Aku tidak akan mengganggumu." Ucap Drake lalu kembali menuju sofa, dan merebahkan dirinya di atas sofa seraya memejamkan matanya.
Sebenarnya Keiva masih sedikit tercengang dengan tindakan manis yang dilakukan Drake, namun Keiva berusaha menenangkan hatinya dengan kembali merebahkan diri dan menutup matanya.
'Duh kenapa pria itu membuat jantungku semakin berdetak kencang. Apa jantungku yang bermasalah?' Keluh Keiva dalam hati.
Tanpa Keiva sadari, Drake kembali membuka mata dan memandang tak jemu ke arahnya. Menunggui Keiva hingga benar-benar terlelap ke alam mimpi. Bahkan Drake baru tertidur menjelang dini hari, setelah sebelumnya hanya sibuk memandangi wajah gadis pujaannya yang terlihat damai dan polos.
*************************
Maaf ya 2 episode ini lebih banyak part Drake dan Keiva. Tapi episode selanjutnya, bakalan aku banyakin lagi kok part Shawn dan Shanaya yang lagi bucin2nya.. 🤭😆
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️