Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 56 Potongan Kenangan



Hembusan angin laut yang bertiup kencang, mengusik tidur Shawn yang lelap dini hari ini. Dieratkannya selimut tebal yang menutupi tubuhnya, demi mengusir hawa dingin yang menyerang tubuhnya. Namun matanya seketika dipaksa terbuka, saat menyadari Shanaya yang dipeluknya semalaman tidak ada disampingnya.


Sedikit panik, Shawn bangkit dari tempat tidurnya dan mencari keberadaan Shanaya, tanpa peduli dengan tubuh bagian atasnya yang terasa lebih dingin karena tidak berbalut apapun. Langkah kakinya mengarah ke balkon kamar yang terlihat terbuka pintunya. Benar saja, istrinya terlihat menekuk kakinya di atas sofa, dengan kedua tangan memegangi kepalanya yang sedikit menunduk.


Tentu saja keadaan Shanaya yang seperti menahan rasa sakit dikepalanya, membuat Shawn Panik. Tanpa pikir panjang dan bertanya apapun, Shawn segera menggendong Shanaya ke dalam kamar, dan merebahkan tubuh Shanaya di atas tempat tidur. Tidak lupa menutup pintu balkon, agar angin dingin tidak lagi masuk ke dalam kamar mereka.


Shawn segera menarik laci pada nakas di sebelah tempat tidurnya, dan mengambil tas berisi botol pil penghilang rasa sakit. Dengan hati-hati, Shawn memberikan pil penghilang rasa sakit dan segelas air pada Shanaya. Shanaya pun segera mendudukkan dirinya dengan dibantu Shawn, lalu meminum pil dan segelas air itu dengan sedikit terburu-buru.


"Berbaringlah Sweetheart.. Rasa sakitnya sebentar lagi akan hilang." Shanaya mengangguk pelan, menuruti perkataan Shawn, lalu memejamkan matanya perlahan. Tangan Shawn mengusap lembut puncak kepala Shanaya seraya memandang wajah pucat istrinya itu. Beberapa detik kemudian, Shanaya membuka matanya dan menatap Shawn dengan sendu.


"Ternyata benar apa yang dikatakan Kak Drake, dengan datang kesini, aku bisa mengingat beberapa potongan ingatan saat kita berlibur di Bali, dari kita kecil sampai remaja. Aku mengingat kenanganku bersama Mommy, Daddy dan juga kamu Honey." Perkataan Shanaya yang lirih ternyata berhasil membuat Shawn membelalakan matanya, tidak menyangka kalau keputusan mereka datang ke Bali, benar-benar membuahkan hasil.


"Benarkah Sweetheart?" Shanaya mengangguk dengan mengulas senyum tipis, menanggapi pertanyaan Shawn yang bersemangat.


"Hmm, Kak Shawn.. Itulah panggilanku padamu dulu. Kamu adalah Kakak terbaik yang selalu ada dalam suka dukaku. Kamu juga pelindung terbaik yang tidak pernah lelah menjaga dan menyayangiku. Dan kini, kamu menjadi suamiku.. Suami terbaik yang sangat aku cintai dan mencintaiku." Tanpa terasa, netra biru Shawn mulai dipenuhi genangan air karena rasa haru yang tiba-tiba menyeruak. Sungguh dirinya tidak menyangka, kalau Shanaya akhirnya mulai mengingat sebagian kenangan mereka dalam waktu yang lebih cepat dari yang Shawn perkirakan.


"Aku akan berusaha mengingat lebih banyak lagi kenangan tentang kita Honey.." Tekad kuat Shanaya, sukses merobohkan pertahanan Shawn. Hingga akhirnya meneteslah air mata yang sudah sekuat tenaga ditahannya. Shanaya mengusap lembut air mata yang menetes dari kedua sudut mata suaminya.


"Apa kamu bahagia Honey?" Pertanyaan Shanaya langsung diangguki Shawn. Sungguh Shawn tidak bisa berkata apa-apa saat ini, hatinya begitu bahagia karena akhirnya Shanaya bisa mengingat kenangan indah bersama dengannya.


Shawn mendekap erat tubuh Shanaya, mendaratkan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala Shanaya, lalu beralih menciumi seluruh bagian wajah Shanaya.


"Terima kasih My Love, karena sudah mengingat semua kenangan indah kita. Juga mengingat betapa  aku begitu menyayangimu.. Aku benar-benar bersyukur Sweetheart." Shawn kembali mengeratkan pelukannya dan menciumi puncak kepala Shanaya. Membuat hati Shanaya semakin menghangat dan bahagia.


"Terima kasih Honey, karena kamu sudah sabar menungguku mengingat semuanya. Bahkan kamu berusaha keras membuat obat yang ternyata memberikan efek yang sangat besar untuk pemulihan ingatanku. Terima kasih My Lovely Hubby.." Ucap Shanaya tulus disertai kecupan lembut di bibir suaminya, yang langsung dibalas ciuman penuh cinta dari Shawn.


*************************


Pagi ini Keiva menerima ajakan sarapan bersama dari Drake di restaurant Resort Knight. Mereka berdua tampak santai ditemani matahari yang bersinar cerah dan hangat, menembus kaca jendela restaurant yang menghadap langsung ke arah pantai yang indah dan memanjakan mata. Lidah mereka pun dimanjakan dengan menu sarapan legendaris khas Bali, yang sengaja mereka pesan.


Netra Drake tidak henti mengawasi sang pujaan hati yang tampak lahap menyantap makanan dihadapannya. Sesekali senyumnya terulas, melihat betapa menggemaskannya Keiva, saat mulutnya dipenuhi makanan hingga kedua pipinya sedikit menggembung. Sikap apa adanya Keiva memang selalu membuat Drake terpesona, berbeda dengan gadis-gadis lain yang biasanya akan menjaga penampilan dan sikapnya saat bersama dengan lawan jenisnya.


"Kenyang?" Tanya Drake, saat melihat piring di depan Keiva sudah kosong tidak bersisa. Keiva hanya menganggukkan kepala, lalu menyeruput secangkir teh jahe hingga habis setengahnya.


"Apa kegiatanmu hari ini Va? Apa kamu sibuk hari ini?" Drake terlihat penasaran, karena dirinya berniat mengajak Keiva jalan-jalan hari ini.


"Hmm, aku sudah selesai meninjau perkembangan resort ini, tapi aku masih harus melihat beberapa renovasi Hotel Knight. Mungkin aku akan berada di hotel sampai sore." Jawab Keiva lalu kembali menyeruput teh jahenya. Sementara Drake yang sudah menyelesaikan sarapannya, memilih menyeruput kopi bali dihadapannya.


"Kamu kan harus selalu menemani Shawn dan Shanaya selama di Bali. Aku pun tidak mau keselamatan mereka terancam selama disini. Jika kamu menemaniku, aku khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka." Ucap Keiva jujur.


"Tenang saja, Shawn bilang kalau seharian ini dia dan Shanaya akan menghabiskan waktu di resort saja. Karena Shanaya sedikit tidak enak badan."


"Apa Shanaya sakit?" Drake menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Keiva yang terdengar sangat khawatir.


"Tidak, Shawn bilang mungkin hanya karena terlalu sering berolahraga malam." Jawaban Drake yang terkesan datar itu, justru membuat Keiva tersedak. Drake segera mengulurkan segelas air putih yang segera disambut dan diminum oleh Keiva.


"Thank you Drake.." Ucap Keiva sedikit salah tingkah.


"You're welcome Va.." Balas Drake dengan mengulas senyum tampannya, membuat Keiva semakin salah tingkah.


"Nanti sore, bisakah kamu menemaniku ke suatu tempat Va?" Raut Keiva tampak penuh tanya.


"Kemana?"


"Ke tempat dimana pertama kalinya mendiang Papa dan Mamaku bertemu di Bali." Raut sendu terlihat jelas di wajah Drake, tentu saja hal itu membuat Keiva tidak tega untuk menolak permintaan Drake padanya.


"Kamu mau kan Va?" Drake kembali bertanya, karena Keiva tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Baiklah aku mau menemanimu.." Jawaban Keiva memancing lengkungan indah di kedua sudut bibir Drake. Bahkan kini sebelah tangan Drake tampak terulur menggenggam tangan Keiva yang ada di atas meja.


"Terima kasih Va.." Lirih Drake, yang dibalas anggukan canggung dari Keiva.


'Tapi kenapa Drake memintaku menemaninya ke tempat itu ya? Pasti tempat itu begitu bersejarah dan menyimpan banyak memory indah untuknya. Tapi kenapa harus denganku?' Tanya Keiva dalam hati.


'Aku ingin mengungkapkan perasaanku pada Keiva di tempat yang sama seperti saat Papa mengungkapkan perasaannya pada Mama. Meskipun aku tidak yakin, kalau Keiva akan menerima perasaan cintaku. Mungkin saja saat ini hatinya masih terisi oleh nama pria lain. Tapi aku tidak mau lagi mencintainya dalam diam, aku akan berusaha membuatnya mencintaiku.' Tekad Drake dalam hati.


**************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️