
Pagi ini Shawn dan Shanaya memutuskan untuk sarapan di restaurant Resort Knight, karena Drake mengatakan ada seseorang yang ingin bertemu dengan Shanaya.
Shawn dan Shanaya sudah datang lebih dulu, bahkan keduanya sudah lahap menikmati menu sarapan mereka yang memang menggugah selera. Sesekali mereka saling menyuapi membuat pengunjung restaurant yang melihat interaksi manis diantara mereka, ikut tersenyum seperti pasangan itu.
Baru beberapa saat menghabiskan sarapannya, netra Shanaya membola saat melihat gadis yang berjalan bersama Drake menuju ke arahnya.
"Oh My God.. Ivone." Ujar Shanaya sambil berdiri dari duduknya dan menyambut kedatangan gadis yang sudah merentangkan tangan dan kemudian memeluknya.
Ternyata gadis yang datang bersama Drake itu adalah Ivone, sahabat sekaligus orang kepercayaan Shanaya di Engelschatten, organisasi rahasia yang Shanaya dirikan. Ivone juga gadis yang sudah menolong Drake semalam di club dari sasaran perempuan gatal.
"Apa kamu mengingatku Shanaya?" Tanya Ivone dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah, aku sudah bisa mengingat semuanya. Jangan menangis Ivone." Jawab Shanaya seraya mengulas senyumnya.
"Benarkah kamu sudah mengingat semuanya Sweetheart?" Kali ini pertanyaan itu berasal dari mulut Shawn. Sungguh dirinya pun penasaran, apakah memang istrinya itu sudah mengingat semuanya.
"Iya Honey.. Aku sudah mengingat semua keluarga dan sahabat-sahabat kita, tapi aku tidak yakin kalau semua kenangan bersama mereka sudah masuk ke otakku atau belum." Jawaban Shanaya mengukir senyum bahagia di wajah Shawn.
"Syukurlah, yang terpenting kamu sudah mengingat semua orang yang kamu kenal." Shanaya mengangguk mengiyakan ucapan Shawn.
"Oh iya, Ivone, Drake duduklah.." Ucap Shanaya, lalu Ivone dan Drake duduk berhadapan dengan Shanaya dan Shawn.
"Aku sungguh tidak percaya kamu ada disini Ivone. Ada apa kamu datang ke Indonesia? Apa kamu datang bersama Kakakmu Delon?" Shanaya terlihat sangat penasaran.
"Aku datang bersama Delon dan beberapa anggota Engelsch.." Mendengar perkataan Ivone, Shanaya yang terkejut langsung mengedipkan matanya beberapa kali agar Ivone tidak meneruskan ucapannya.
"Sweetheart.. Untuk apa kamu memberi kode pada Ivone seperti itu? Aku sudah tahu kalau kamu adalah Ketua Engelschatten. Aku sudah tahu tentang semua kegiatan rahasiamu bersama mereka dari sejak kamu hilang dulu. Jangan lagi ada rahasia diantara kita ya." Ucap Shawn santai. Namun Shanaya yang tidak menyangka rahasianya sudah diketahui suaminya, hanya bisa mengulas senyum canggungnya.
"Ternyata kamu sudah tahu Honey.."
Shawn mencolek hidung Shanaya yang mancung, lalu menariknya dengan sedikit gemas.
"Aku sudah tahu semua kelakuan nakal dan nekadmu Sweetheart. Aku sengaja meminta semua sahabat-sahabatmu dari Engelschatten untuk datang ke Indonesia dan membantumu disini. Orangtua mereka semua sudah mengetahui rahasia anak-anaknya, dan pada akhirnya mereka semua mendukung keputusan anak-anak mereka untuk aktif dalam Engelschatten." Shanaya sungguh tidak menyangka dengan perkataan Shawn. Akhirnya cita-cita dia dan sahabat-sahabatnya yang kebanyakan merupakan putri dari anggota Klan Toddestern untuk aktif dalam klan, bisa direstui orangtua mereka masing-masing.
"Tentu saja Sweetheart. Kalau aku keberatan, aku tidak mungkin meminta mereka datang." Senyum dan ekspresi lega terpancar di wajah Shanaya, begitupun dengan Ivone dan Drake yang ikut tersenyum melihat interaksi pasangan suami istri itu.
Di pintu masuk restaurant, Keiva yang hendak menghampiri Shanaya, Shawn dan juga Drake, mengurungkan niatnya. Saat sepasang netranya menangkap sosok gadis yang semalam masuk ke dalam kamar Drake.
Semalaman Keiva tidak bisa tidur tenang di kamarnya, pikirannya terus saja dipenuhi dengan pikiran buruk tentang Drake dan gadis itu. Keiva tahu pasti keadaan Drake yang sedang dalam pengaruh alkohol, bisa saja membuatnya khilaf dan melakukan perbuatan terlarang dengan gadis itu. Ada perasaan cemburu, khawatir bahkan sakit saat Keiva memikirkan hal itu. Tapi Keiva tidak bisa berbuat apa-apa, meskipun hal itu benar-benar terjadi. Karena Keiva sadar, kalau dia bukanlah siapa-siapa bagi Drake.
'Bahkan Drake sudah mengenalkan perempuan itu pada Shanaya dan Shawn. Sepertinya hubungan Drake dan perempuan itu bukan hanya kisah satu malam saja.' Ucap Keiva dalam hati.
Dengan langkah gontai, Keiva memilih meninggalkan restaurant menuju ruang kerjanya. Karena ternyata hatinya tidak cukup kuat untuk melihat pemandangan menyesakkan itu lebih lama lagi.
*************************
Menjelang sore hari, tiba-tiba Shanaya dan beberapa sahabatnya dari Engelschatten yang sedang mengobrol dan melepas rindu di kamar Ivone, dikejutkan dengan kedatangan dan instruksi mendadak dari Shawn.
"Tolong bawa istriku pergi dengan aman dari sini. Sudah aku kirimkan alamat untuk kalian bersembunyi. Alrico dan Sheran sudah mengepung tempat ini dengan kekuatan yang cukup besar, jumlah mereka lebih banyak dari kita. Aku akan memancing mereka ke arah berlawanan dari kalian, karena aku juga tidak ingin membuat tamu resort panik." Shanaya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Shawn.
"Aku tidak akan kemana-mana, aku akan menghadapi mereka bersamamu." Ucap Shanaya tegas tanpa ragu.
"Tapi Sweetheart, aku tidak bisa mengambil resiko jika kekuatan mereka lebih banyak dari kita saat ini. Aku sudah meminta bantuan Daddy dan Om Kevin di Bandung, tapi mereka tidak bisa datang dalam waktu cepat. Aku khawatir jika tujuan utama mereka adalah membawamu pergi dariku Sweetheart." Ucap Shawn dengan raut penuh kekhawatiran.
Drake, Ivone dan beberapa anggota Engelschatten tidak berani menginterupsi, namun mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Shawn. Mereka tahu pasti, selama ini Alrico dan Sheran mengincar Shanaya untuk mereka bawa. Tapi mereka juga paham, kalau Shanaya ingin membantu suaminya melawan musuh-musuhnya.
"Honey, percayalah padaku.. Percayalah pada kekuatan kita. Kita pasti bisa menghadapi mereka bersama-sama. Jika sasaran utama mereka adalah aku, maka izinkan aku menghadapi mereka secara langsung." Shawn masih terlihat ragu, tapi melihat kegigihan Shanaya, akhirnya Shawn menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah, kita akan menghadapi mereka bersama-sama." Ujar Shawn sedikit berat hati.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️