Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 43 Sah..!!



Udara sejuk dengan  sinar matahari hangat yang menyinari hamparan taman bunga yang indah, begitu memanjakan mata Shanaya pagi ini. Namun keindahan yang tersaji tidak selaras dengan isi hatinya yang masih sangat kalut sejak tadi malam. Bagaimana tidak, rencana pernikahannya dengan Shawn yang semula akan digelar 2 minggu setelah permintaan Sanchia terakhir kali, mendadak dipercepat hanya dalam waktu 5 hari saja menjadi esok hari.


Hanya akan ada prosesi akad nikah yang akan disaksikan oleh pemuka agama, keluarga inti dan para penghuni mansion saja, dilanjutkan dengan pencatatan pernikahan secara resmi. Namun untuk resepsinya akan digelar di Indonesia untuk dihadiri oleh seluruh keluarga besar dan sahabat-sahabat keluarga Knight.


Masih terekam jelas di benak Shanaya, saat tiba-tiba Daddy-nya mendatanginya ke kamar malam tadi. Perasaan asing itu masih begitu terasa di hati Shanaya, tapi setiap kali memandang wajah Daddy-nya, pikirannya seolah tidak bisa memungkiri, ada begitu banyak kemiripan fisik diantara mereka yang tidak mungkin dia tepis.


"Shanaya Putriku.. Daddy paham, masih begitu banyak keraguan di dalam hati kamu saat ini. Terutama untuk memulai ikatan pernikahan dengan Shawn yang masih terasa asing untukmu. Tapi percayalah, apa yang diminta oleh Mommy-mu adalah yang terbaik bagi hidupmu. Kamu boleh tidak percaya pada Daddy dan Shawn, tapi jangan ragukan kasih sayang Mommy-mu Nak."


Pertama kalinya Shanaya merasa terenyuh dengan perkataan Sall, terlebih saat netra hazel Daddy-nya itu mulai berkaca-kaca. Ingin rasanya Shanaya memeluk dan menenangkan Daddy-nya, namun seperti ada kekuatan yang menahannya untuk melakukan itu.


"Daddy tidak perlu khawatir, aku akan tetap menikah dengan Shawn. Bagiku kebahagiaan Mommy adalah yang utama.." Jawaban Shanaya memang tidak cukup memuaskan Sall, namun senyuman lega mulai terulas jelas di wajahnya.


Pikiran Shanaya masih menerawang saat tiba-tiba sebuah tangan kokoh menggenggam erat sebelah tangannya. Diliriknya siapa pemilik tangan yang sudah begitu lancang menggenggamnya, namun sebuah senyuman tampan terulas disana, membuat Shanaya ikut mengulas senyum canggungnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan Sayang? Apa kamu sedang berusaha menghilangkan kegugupan karena besok kita akan menikah?" Tanya Shawn penasaran.


"Hmm.. Maybe.." Mendengar jawaban singkat Shanaya, Shawn memandang lekat wajah calon istrinya.


"Sayang, maafkan aku. Aku bukannya tidak peka dengan perasaanmu, aku paham kamu begitu terpaksa menerima pernikahan ini. Tapi kamu tenang saja Sayang, aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku dan menerima perasaan cintaku ini. Aku akan menunggu kamu untuk mengingat semuanya dan membalas cintaku pelan-pelan." Ucapan tulus Shawn membuat rasa haru di hati Shanaya. Sesungguhnya rasa cinta Shanaya masih ada untuk Shawn, hanya saja Shanaya begitu berusaha untuk menahannya. Hingga Shanaya hanya bisa menganggukkan kepalanya, menanggapi perkataan Shawn itu.


'Maaf Shanaya Sayang.. Kali ini aku harus egois. Kalaupun kamu terpaksa menerima pernikahan ini, aku akan tetap menikahimu. Karena inilah salah satu cara agar Sheran tidak merebutmu dariku. Aku harus bisa meluluhkan hatimu dan memilikimu seutuhnya. Sekalipun ingatanmu belum bisa kembali dalam waktu cepat.' Tekad Shawn dalam hati.


*************************


Tangan kokoh Sall menggenggam erat tangan gagah Shawn saat prosesi akad nikah. Suara berwibawa Sall berisi kalimat sakral ijab, langsung dijawab lantang dalam sekali tarikan nafas oleh Shawn yang mengucapkan kalimat qabul.


Kata "Sah" menggema dari Drake dan Arthur yang bertindak sebagai saksi, begitupun seluruh penghuni mansion, diikuti doa yang dipanjatkan oleh sang penghulu.


Shawn yang mengenakan tuxedo serba putih terlihat begitu khusyu berdoa sekaligus mengucap syukur yang begitu banyak di dalam hatinya. Setelah begitu banyak rintangan, akhirnya perempuan berbalut gaun putih yang duduk disebelahnya, kini sudah resmi menjadi pendamping hidupnya.


Senyum bahagia dan raut lega tampak menghiasi wajah Sall dan Sanchia. Hati mereka dipenuhi rasa syukur karena Putra dan Putri mereka sudah terikat dalam sebuah ikatan yang sah, apalagi saat melihat binar bahagia di wajah Shawn yang menatap Shanaya penuh cinta.


Ciuman lembut bibir Shawn mendarat di kening Shanaya, diikuti Shanaya yang kemudian mencium punggung tangan Shawn untuk pertama kalinya.


"Terima kasih Sayang, sudah bersedia menjadi istriku.." Ucap Shawn yang dibalas anggukkan pelan dari Shanaya.


*************************


Setelah pesta yang cukup melelahkan tadi siang hingga menjelang sore hari, Shawn akhirnya mengajak Shanaya untuk beristirahat di kamarnya yang sudah disulap menjadi kamar pengantin yang indah. Shanaya merasakan kecanggungan yang luar biasa saat berada dalam kamar yang sama dengan Shawn, karena kini status mereka sudah sah sebagai suami istri.


Shanaya yang duduk di atas sofa, membiarkan Shawn untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu di kamar mandi. Shanaya merasa pikirannya buntu dan tidak tahu harus melakukan apa, sementara menunggu Shawn keluar dari kamar mandi.


Entah karena tubuhnya yang terlalu lelah atau karena pikirannya yang terlalu keras berpikir, akhirnya Shanaya tidak sengaja tertidur dengan posisi duduk bersandar di atas sofa. Shawn yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan sudah mengenakan kaos santai dan celana pendeknya, terlihat tersenyum memandang istrinya yang damai tertidur.


Shawn menggendong tubuh Shanaya dan merebahkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur. Ditatapnya wajah Shanaya dengan gurat lelah dibalik make-up flawless-nya. Dibelainya wajah yang selalu membuatnya tergila-gila itu seraya merebahkan tubuhnya disamping Shanaya. Sesekali bibirnya mendarat lembut di puncak kepala Shanaya.


'Tidur dengan mengenakan gaun pengantin, pasti rasanya sangat tidak nyaman. Tapi kalau aku mengganti gaunnya dengan pakaian tidur, apakah Shanaya akan marah ya? Tapi aku sungguh tidak tega untuk membangunkannya.'


Sementara Shawn masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba Shanaya tanpa sadar memeluk tubuh Shawn dan merangsek masuk ke dalam dekapan tubuh hangat Shawn. Tangan Shanaya pun masuk ke dalam kaos Shawn dan mengelus punggung hangat Shawn, yang dikiranya guling itu. Tidak cukup itu saja, gaun pengantin Shanaya yang panjang kini sudah naik ke atas pahanya. Karena Shanaya mengangkatnya sebelum melilitkan kakinya di kaki Shawn, yang kini berusaha menahan desakan sesuatu di balik celananya.


'Oh God.. Shanaya, apa yang kamu lakukan? Kalau begini, bagaimana aku bisa menahannya.' Rutuk Shawn dalam hati.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️