Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 38 Apa Kita Pernah Saling Mengenal



Kaki Shanaya melangkah lebar menuju private room yang Drake tunjukkan sebagai kamar Shawn. Bahkan Shanaya langsung masuk tanpa mengetuk apalagi meminta izin terlebih dahulu pada pemilik kamar sekaligus pemilik pesawat pribadi itu.


Shawn yang berbalut kemeja casual berwarna putih dan terbaring lemah seraya bersandar pada dua buah bantal yang ditumpuk, adalah pemandangan pertama yang Shanaya lihat ketika masuk ke ruangan itu.


"Ternyata kamu sudah bangun Sayang." Ucap Shawn dengan senyum terulas manis di wajah pucatnya.


"Berani-beraninya kamu menculikku Shawn, pengecut kamu..!!! Kembalikan aku pada keluargaku Shawn." Teriak Shanaya begitu emosi.


"Aku memang akan mengembalikanmu pada keluargamu Sayang." Mendengar jawaban Shawn, Shanaya semakin emosi.


Shanaya mendekat seraya menghunuskan tatapan tajamnya, sebelum akhirnya melayangkan sebuah tamparan di pipi kiri Shawn.


Plaakk..


"Aku benar-benar membencimu Shawn.." Ujar Shanaya disertai tatapan penuh kebencian. Namun bukannya marah, Shawn justru kembali tersenyum lembut, meskipun sudut bibirnya sedikit perih dan berdarah karena tamparan Shanaya yang sangat keras.


"Tapi aku benar-benar mencintaimu Sayang. Karena itulah aku membawamu pergi bersamaku." Lirih Shawn yang semakin memancing amarah Shanaya.


"Berhentilah memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu, aku muak mendengarnya." Shanaya berteriak kencang meluapkan kemarahannya, karena sikap Shawn yang dianggap meremehkannya.


"Lalu kamu mau dipanggil apa?" Tanya Shawn masih dengan sikap tenangnya.


"Panggil namaku.." Jawab Shanaya tegas.


"Baiklah.. Sesampainya di Birmingham nanti, aku akan memanggilmu dengan nama aslimu. Untuk sekarang aku akan tetap memanggilmu dengan panggilan Sayang. Mungkin panggilan itu akan berubah saat kita sudah menikah nanti." Jawaban dan raut santai di wajah Shawn lagi-lagi memantik kemarahan Shanaya, hingga Shanaya kembali melayangkan tangan kanannya di pipi kiri Shawn. Namun kali ini tidak sesukses tamparan sebelumnya, karena Shawn justru menegakkan tubuhnya dan menangkap tangan Shanaya, lalu mencium punggung tangan Shanaya dengan sangat lembut.


Mendapat perlakuan manis dari Shawn, Shanaya justru merasa tidak terima. Shanaya langsung mendorong keras tubuh Shawn hingga meringis kesakitan.


Shanaya yang baru mengingat kalau Shawn mengalami dua luka tembak karena Sheran pun, sedikit menyesal karena perbuatannya. Tapi sesaat kemudian, Shanaya berusaha menepis rasa bersalahnya.


"Jangan pikir aku akan merasa kasihan, kamu pun menembak Sheran dan membuatnya terluka. Apa kalian juga melukai Papaku?" Raut wajah Shanaya tampak begitu khawatir, memancing senyum miris di wajah Shawn.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan mereka, mereka baik-baik saja.." Shawn tersenyum kecut, merasa kecewa pada sikap Shanaya yang bahkan tidak peduli sedikitpun padanya.


Shawn memegangi dada dan perutnya yang semakin terasa sakit, Shawn mengalihkan pandangannya ke arah lain, meskipun Shanaya tahu kalau saat ini Shawn sedang berusaha keras menahan rasa sakitnya.


Tiba-tiba beberapa potong ingatan, berkelebatan dalam pikiran Shanaya. Perlahan Shanaya mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur Shawn karena rasa pusing di kepalanya. Shawn yang menyadari hal ini, kembali menegakkan tubuh dan mendekatkan dirinya pada Shanaya.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?"


Shanaya tidak menjawab pertanyaan Shawn, karena rasa sakit di kepalanya yang semakin menjadi.


"Aneh sekali, Shawn yang menembakku, tapi kamu malah menyelamatkanku. Shawn pasti sangat kecewa padamu."


"Aku menembak punggung Shawn lebih dulu."


"Aku yakin dia tidak mengalami luka parah, setidaknya tidak lebih parah dari aku."


'Sheran.. Aku yakin itu suaranya.. Apa dia dan Shawn adalah musuh besar? Kenapa dia bilang, Shawn pasti akan sangat kecewa padaku? Bukankah Sheran adalah tunanganku? Sudah sewajarnya aku menyelamatkan dia, jika dia dalam bahaya? Lalu apa hubunganku dengan Shawn? Bukankah aku dan dia belum lama bertemu.' Isi kepala Shanaya dipenuhi banyak pertanyaan, hingga membuat kepalanya semakin sakit.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu membuatku khawatir.. Apa kepalamu sakit?" Shawn memegang kedua tangan Shanaya yang memijat keras pelipisnya, seraya memandang Shanaya dengan tatapan cemas.


Dengan gerakan cepat, Shawn mengambil obat pereda sakit miliknya dari atas nakas di sebelah tempat tidurnya.


"Minumlah Sayang, ini obat pereda sakit."


Shanaya menerima suapan obat dan air mineral dari Shawn, karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit di kepalanya.


Hingga beberapa belas detik kemudian, Shanaya terlihat lebih tenang. Tanpa Shawn duga, Shanaya tiba-tiba memandangnya dengan tatapan tidak terbaca.


'Siapa kamu sebenarnya Shawn? Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?' Tanya Shanaya dalam hati.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu Sayang? Apa kamu.. mengingat.. sesuatu?" Tanya Shawn ragu.


Shanaya bergeming, berusaha mencari potongan-potongan ingatan lain yang mungkin muncul. Namun sayangnya tidak ada lagi yang datang ke dalam pikirannya.


"Shawn.. Aku ingin pulang.." Lirih Shanaya berusaha meluluhkan hati Shawn. Sedangkan Shawn hanya menghela nafas mendengar permintaan Shanaya.


"Aku memang akan membawamu pulang Sayang." Tatapan penuh cinta dan suara lembut Shawn menggetarkan hati Shanaya, meskipun jawaban Shawn tidak sesuai harapan Shanaya.


"Aku ingin kembali ke Dubai, aku tidak mau pergi ke Birmingham Shawn." Shanaya masih berusaha membuat Shawn berubah pikiran.


"Sayang, apa kamu tidak ingin bertemu dengan Mommy-mu.. Mommy yang sudah melahirkan kamu?" Ucapan Shawn seketika menyentak pikiran Shanaya. Sungguh hatinya sangat ingin bertemu dengan ibu kandungnya, tapi di sisi lain dia tidak bisa mempercayai Shawn.


"Mommy membutuhkanmu Sayang, saat ini dia sedang sakit. Mungkin dengan kedatanganmu, Mommy bisa segera sembuh." Ucap Shawn penuh harap, membuat Shanaya merasa terenyuh.


"Kamu mau kan bertemu Mommy?" Shanaya masih diam, seolah ragu harus memberikan jawaban seperti apa.


"Mommy sangat mencintaimu.. Mommy menunggu kedatanganmu Sayang." Lirih Shawn, membuat pertahanan Shanaya akhirnya runtuh juga. Air matanya mengalir, bahunya bergetar, sudah lama rasanya Shanaya merasakan rindu setiap kali memandang wajah perempuan yang melahirkannya itu. Sekalipun tidak mengingat kenangan apapun tentangnya, Shanaya jelas mengenali hatinya yang sangat mencintai ibu kandungnya itu.


Shawn menarik tubuh Shanaya ke dalam pelukannya, tidak peduli lukanya semakin sakit karena tertekan oleh tubuh Shanaya. Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah memberikan kenyamanan bagi perempuan yang paling dikasihi dan dicintainya itu.


"Hanya tinggal beberapa jam lagi, kita akan tiba di Birmingham. Dan kamu bisa bertemu dengan Mommy, Sayang.." Ucap Shawn seraya mengecup lembut puncak kepala Shanaya yang masih menangis sesenggukan.


Tangis Shanaya bukannya berhenti, tapi malah semakin keras. Membuat Shawn lebih mengeratkan pelukannya disertai usapan lembut di punggung Shanaya.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️