Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-99



"Memang Dokter Nico sama sekali belum kasih tau ya ke Bu Anggi?" Tanya Arya dan ditanggapi gelengan kepala oleh Alexa.


"Harusnya sih Dokter Nico udah bilang ya, jadi bisa segera ditangani," ujar Arya.


"Itu juga yang ada dalam pikiran aku Ar, Thalita juga bilang gitu. Tapi Kak Nico keras kepala banget, tetap kekeh sama pendiriannya. Dia bilang belum siap kalau bundanya harus tau dan melihat bundanya itu terpuruk," kata Alexa.


"Oh gitu, ya mau gimana lagi kalau Dokter Nico udah bilang kayak gitu Lex. Gimana pun juga yang berhak kasih tau ke Bu Anggi ya Dokter Nico. Tapi kalau dia sendiri aja udah bilang nggak sanggup, kita bisa berbuat apa lagi," kata Arya.


"Iya Ar, tapi kata Kak Nico dia lagi memikirkan gimana caranya supaya Bu Anggi tetap bisa melakukan pengobatan tanpa tau apa penyakitnya," kata Alexa yang membuat Arya ikut merasakan bingung.


"Itu maksudnya gimana ya Lex?" Tanya Arya. "Kalau Bu Anggi disuruh menjalani pengobatan, pastinya dia bakalan nanya sakit apa, gak mungkin kalau gak sakit berobat."


"Nah kamu bingung kan? Apalagi aku. Aku juga nggak ngerti deh apa yang ada di dalam pikirannya Kak Nico, entah mau sampai kapan dia memikirkan hal itu. Padahal dia itu Dokter loh, dia tau betul kalau penyakit kanker itu kan sangat berbahaya, harusnya Kak Nico bisa cepat ambil keputusan dong," kata Alexa yang terlihat sangat emosi.


"Sabar Lex, mungkin memang kak Nico mau melakukan yang terbaik untuk ibunya," ucap Arya.


"Terus maksud kamu kita semua di sini nggak pengen yang terbaik untuk ibunya gitu? Aku sendiri memikirkan kondisi ibunya gimana, aku ngerasa khawatir banget sama Bu Anggi. Tapi kayaknya saran dari aku sama sekali nggak didengar sama Kak Nico. Aku Masih menghargai Kak Nico, kalau enggak aku pasti udah kasih tau langsung tuh ke Bu Anggi," kata Alexa geram.


"Sabar Lex sabar," ucap Arya.


Tanpa mereka ketahui, ternyata saat itu Nico sedang berada di dekat mereka dan mendengar apa yang baru saja mereka katakan. Nico saat ini memang sangat bingung, apa yang harus ia lakukan? Apa harus memberitahu kepada bundanya tentang penyakitnya itu? Tapi bagaimana kalau bundanya tidak bisa terima? Itu yang selalu ada di dalam pikiran Nico sekarang.


Karena segala pekerjaan telah selesai, Alexa dan Arya bersama-sama berjalan menuju ke ruangan Anggi untuk melihat kondisinya saat ini. Saat di dalam ruangan tersebut, Alexa bertemu dengan kedua orang Thalita yang saat ini sedang menemani Anggi. Akan tetapi matanya tertuju pada keseleruh penjuru ruangan karena ia tidak melihat keberadaan Nico saat ini.


"Dimana ya Kak Nico? Apa lagi ada di dalam ruangannya?" Alexa bertanya di dalam hati.


"Alexa … !" Panggil Siska karena melihat Alexa yang tampak linglung seperti orang kebingungan.


"Ibu, Om, baru sampai ya?" Tanya Alexa kepada kedua orang Thalita itu.


Karena kedekatannya dengan Thalita serta keluarganya, membuat Alexa memanggil ibunya Thalita dengan sebutan ibu. Terlebih lagi Alexa sudah tidak memiliki ibu. Alexa segera menghampiri kedua orang tua Thalita itu dan menyalami tangannya serta mencium punggung telapak tangan keduanya. Sama halnya juga yang dilakukan oleh Arya.


"Iya Alexa, Ibu sama Om baru aja sampai tadi siang. Kata Nico kamu lagi sibuk, banyak kerjaan, jadi kamu belum bisa ke sini tadi," kata Siska.


"Iya Bu benar, Alexa tadi memang lagi banyak kerjaan. Ini aja baru siap dan udah selesai juga jam kerjanya, tapi tetap standby sih kalau nanti ada panggilan darurat," terang Alexa.


"Ya, ya, memang seperti itulah dokter. Sama aja dengan Thalita, kadang udah di rumah pun ditelepon langsung tuh buru-buru ke rumah sakit," kata Pak Handoko.


"Iya memang seperti itu ya. Anak kita sama-sama dokter, bahkan calon menantu aku juga Dokter," kata Anggi


"Bukan calon menantu Mbak aja kali yang dokter, calon menantu aku juga Dokter," kata Siska.


"Oh iya ya, Mbak lupa kalau Thalita itu pacarnya dokter senior, sama kayak Alexa," kata Anggi yang membuat kekasih anaknya itu menjadi tersipu malu.


Melihat kebahagiaan yang saat ini terpancar dari wajah Anggi, membuat Alexa semakin tidak tega untuk memberitahu tentang kondisinya. Alexa dapat melihat jika Anggi memang sama sekali belum tahu meskipun saat ini keluarganya sedang berada di sini dan semuanya telah mengetahui penyakit apa yang diderita oleh Anggi.


"Oh ya Bunda, Kak Nico mana ya?" Tanya Alexa.


"Loh Nico kan udah keluar dari setengah jam yang lalu, katanya mau lihat kerjaan kalian berdua," jawab Anggi.


"Iya Bun, mungkin Kak Nico lagi ada di ruangannya," kata Alexa.


"Oh iya, mungkin juga," kata Anggi.


*****


"Halo, ada apa? Kalau nggak ada yang penting, kamu nggak usah deh telepon-telepon saya. Saya ini lagi kerja," ucap Vina dari sebrang telepon saat Maya menelponnya.


"Nggak usah galak-galak kali Dok. Eh tapi ngomong-ngomong Dokter Vina sekarang udah kerja ya? Di rumah sakit mana?" kata Maya dan bertanya.


"Iyalah saya udah kerja. Emangnya saya harus jadi pengangguran terus? Kamu pikir cuma Rumah Sakit Hospital Hutama yang bisa memperkerjakan saya? Asal kamu tau ya, rumah sakit lain itu pada berebut mau memperkerjakan saya," kata Vina dengan angkuhnya.


"Iya, iya, saya tahu kok kalau Dokter Vina itu memang yang paling terbaik dan yang paling hebat," ucap Maya.


"Nggak usah sok muji-muji saya kamu, terus kamu ada apa nelpon saya?" Tanya Vina lagi karena memang belum mendapat jawaban apapun dari Maya tadi.


"Dokter, saya ini telepon Dokter karena ada info penting yang mau saya sampaikan," kata Maya.


"Info penting apaan?" Tanya Vina.


"Pasti Dokter nggak tau kan kalau saat ini ibunya dari dokter Nico, Bu Anggi sedang dirawat di rumah sakit ini," ungkap Maya.


"Hah? Kamu serius?" Tanya Vina yang tampak terkejut.


"Ya serius lah Dok, untuk apa juga saya bohong sama Dokter. Dan Dokter mau tau nggak apa penyakitnya?" kata Maya.


"Ya iyalah saya mau tau, lagian kamu ngasih tau saya setengah-setengah. Cepat kasih tau saya apa penyakitnya," cecar Vina dengan sedikit membentak.


"Iya, iya, tapi kalau mau minta kasih tau mintanya baik-baik dong Dok, nggak usah bentak-bentak kayak gitu," kata Maya.


"Iya, iya, sekarang kasih tau saya Bu Anggi sakit apa Suster Maya yang cantik?" Tanya Vina dengan suara lemah lembut yang sangat dipaksa.


"Gitu dong, Bu Anggi terkena penyakit kanker hati stadium akhir," ungkap Maya yang membuat Vina begitu terkejut mendengarnya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....