
Vina termenung, ia masih tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya, sampai-sampai tidak menyadari ada Sipir yang menghampirinya.
"Maaf Anda siapa? Kalau tidak ada keperluan, sebaiknya Anda pergi dari sini," kata Sipir tersebut
Bagas dan Andreas pun menoleh ke arah pintu karena mendengar suara Sipir yang cukup keras.
Vina tampak ketakutan, lalu ia berbisik kepada sipir, "Maaf Pak, saya salah ruangan. Saya permisi dulu ya," ucapnya lalu pergi meninggalkan ruang besuk.
Ia berjalan tergesa-gesa keluar dari sel tahanan, saat tiba di luar, langsung saja Vina menghentikan taksi yang kebetulan lewat dan masuk ke dalam taksi tersebut.
"Jadi yang selama ini dijenguk oleh Bagas itu Papanya Alexa, Papa Alexa dipenjara? Wah … ini sih berita yang heboh," gumam Vina dalam hati sambil tersenyum smirk.
Setibanya di apartemen, Vina langsung meraih ponsel yang ada di dalam tas-nya, lalu menekan nomor seseorang pada WhatsApp dan segera menghubunginya.
"Halo Kak Vina," ucap Renata dari seberang telepon.
"Halo dek, kamu lagi di mana? Lagi ngapain? kakak ganggu nggak?" Tanya Vina.
"Ya di rumah sakit lah Kak, emangnya lagi liburan kayak kakak," jawab Renata.
"He … he … he… basa-basi doang Dek, tapi nggak ganggu kan?" Tanya Vina lagi.
"Enggak kok, ada apa Kak?" Jawab Renata dan bertanya balik.
"Kakak ada berita heboh nih yang mau kakak sampein ke kamu," ucap Vina.
"Berita heboh? Berita heboh apaan Kak?" Tanya Renata penasaran.
"Kakak ada info mengenai Alexa," kata Vina.
"Alexa …? Berita heboh apaan sih, cepetan dong Kak kasih tau aku," Tanya Renata yang begitu sangat penasaran dan ingin Vina segera memberitahunya, apalagi ini mengenai soal Alexa, musuhnya.
"Jadi, kakak tuh tadi sengaja ngikutin Bagas, karena semalam dia bilang pergi ke sel tahanan tapi nggak mau kasih tahu Kakak siapa yang ada di sel tahanan itu," Kata Vina.
"Terus …? Tanya Renata.
"Ya jadi Kakak ikutin deh, ternyata yang dibesuk sama Bagas itu adalah Bos-nya yang saat ini masuk penjara, dan kamu tau siapa Bos-nya itu? Adalah Pak Andreas Papanya Alexa," terang Vina.
"Apa ...?! Ini berita heboh banget Kak, heboh seheboh hebohnya, gimana ya kalau seluruh masyarakat di rumah sakit tau kalau Papanya Alexa itu hanya seorang napi. Huh ... nggak tau deh gimana dan aku rasa Kak Nico juga belum tau deh kak soal ini," kata Renata. Ia sangat senang sekali mendengar berita tentang Alexa ini. Bagaimana tidak ...? Dia sangat membenci Alexa dari dulu, tentunya berita seperti ini akan menjadi kebahagiaan tersendiri buat dirinya.
"Kalau soal itu kakak nggak tau deh, tapi nggak penting lah, yang penting Kakak sekarang udah tau latar belakangnya kehidupan Alexa. Gimana ya reaksinya kalau sampai dia tau kalau kakak udah tau semuanya, pasti dia ngiranya kakak tahu dari Bagas deh dan dia bakalan benci sama Bagas," kata Vina.
"Bisa jadi kayak gitu sih Kak, makanya Kakak jangan lama-lama bertindak, buat Alexa hancur," hasut Renata.
"Kamu tenang aja Dek, Kakak juga udah nggak sabar mau buat dia malu dan hancur seperti apa yang kakak rasakan. Siapa suruh dia berani-beraninya melawan Kakak," kata Vina dengan penuh ambisi.
"Ya Kak, lanjutkan perjuanganmu," kata Renata.
"Iya Dek, makasih ya karena kamu selalu dukung Kakak," ucap Vina.
"Sama-sama Kak, kalau gitu aku mau lanjutin kerja dulu ya Kak. Kakak lanjutin deh liburannya tuh sama Bagas," ucap Renata.
"Iya Dek, selamat kerja adikku sayang," ucapnya.
"Makasih Kakakku sayang," ucap Renata pula.
Lalu panggilan telepon terputus.
"Kak Dion gimana sih, ultahnya Alexa itu tinggal tiga hari lagi Kak. Masa iya Kakak belum ada keputusan apa-apa," protes Thalita.
Saat ini, Thalita dan Raka sedang berada di ruangan Dion.
"Maaf Sayang, mau gimana lagi dong. Kamu kan liat sendiri kalau Kakak lagi banyak kerjaan," ucap Dion meminta pengertian dari sang kekasih.
"Tapi kan aku udah nyampein masalah ini dari jauh hari sebelumnya Kak, ini udah tiga hari lagi loh, kalau Kakak emang nggak bisa bantuin aku, ya udah deh biar aku aja yang sendirian pergi ke Jakarta," ucap Thalita dengan mode ngambeknya.
"Aku ikut, biar aku yang temenin kamu Ta," celetuk Raka.
"Kakak serius?" Tanya Thalita yang kini beralih menatap Raka.
"Iyalah aku serius, apalagi ini buat Alexa. Ya Meskipun Alexa udah punya pacar, itu sama sekali nggak pengaruh sih buat aku, yang penting aku cuma pengen liat Alexa senang, itu aja," jawab Raka.
Padahal di dalam hati Raka, ia juga merasa sedih karena Alexa menjadi milik orang lain, bukan bersama dengan dirinya. Namun itulah namanya pengorbanan, dia harus rela dan ikhlas melihat orang yang yang disayanginya berbahagia dengan orang pilihannya sendiri. Tetapi, jika suatu saat nanti Alexa disakiti oleh kekasihnya, maka Raka akan maju ke depan untuk merebut Alexa dari sisi Nico, begitulah yang ada di dalam pikiran Raka saat ini.
"Ya udah Kak, kalau gitu sekarang kita langsung izin aja ke Dokter Sabrina. Aku yakin kok pasti bakalan diizinin Kalau cuma satu hari doang," ajak Thalita dan segera ingin pergi, akan tetapi Dion dengan cepat mencekal tangan Thalita hingga langkahnya terhenti.
"Sayang, kamu apa-apaan sih. Ini kan masih tiga hari lagi dan Kakak belum kasih keputusan loh kalau Kakak bisa atau enggak," kata Dion. "kamu juga Raka, kamu ngapain sih malah ikut-ikutan," ucapnya geram.
"Lah emang kenapa? Aku cuma mau bantuin Thalita demi Alexa. Emang itu salah?" Tanya Raka.
"Ya nggak salah sih, tapi kamu mau pergi sama Thalita, terus kalian mau ninggalin aku gitu aja?" Tanya Dion.
"Kak Dion lepasin tangan aku," pinta Thalita sambil menarik tangannya, akan tetapi tenaga Thalita tidak bisa melawan kuatnya tenaga Dion.
"Kakak mau apa lagi sih? Terus kakak mau ngambil keputusannya kapan, pas hari H-nya gitu …?" Tanya Thalita.
"Hari ini juga, hari ini juga aku akan kasih keputusannya sama kalian berdua. Awas aja kalau sampai kalian berdua nyusun rencana tanpa sepengetahuan aku," ancam Dion.
Hati Thalita melembut, ia yang tadinya mencoba melepaskan tangannya dari Dion, kini hanya pasrah dan membiarkan Dion memegang tangannya itu.
"Gitu kek dari tadi, digertak dulu baru mau bertindak," gerutu Raka.
"Diam kamu, sana keluar dari ruangan aku! Aku mau ngomong berdua sama pacar aku," usir Dion.
"Iya-iya, tau kok yang punya pacar," kata Raka.
"Jomblo diem aja, makanya cari pacar sana," ledek Dion.
"Belum saatnya, nanti kalau aku udah punya pacar, kamu nggak bakalan bisa ngeledekkin aku lagi kayak gini," kata Raka.
"Ya udah buktiin aja," tantang Dion. Lalu Raka pun keluar dari ruangan Dion.
.
.
.
.
.
Bersambung.....