Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-47



"Memang benar kan Dok, memangnya masih ada harapan buat saya hidup? Gak kan Dok ...?" Tanya Bian.


"Mas, gak boleh pasrah kayak gitu lah, harus tetap semangat," ucap Arya.


"Ya, saya harus gimana lagi Dok, cuma bisa menunggu takdir aja," ucap Bian yang begitu pasrah.


"Ya udah Mas Bian, saya periksa dulu ya," ucap Alexa.


"Iya Dok," jawab Bian.


Setelah memeriksa keadaan pasien dan mencatat laporannya, Alexa dan Arya pun segera keluar dari ruang rawat inap pasien berjalan menuju ke ruangan Dokter Nico.


Akan tetapi tiba-tiba bu Tuti datang bersama beberapa keluarga pasien yang lain dan langsung saja menghampiri Alexa.


"Nah ini dia Ibu-Ibu, Dokter Magang yang tidak tahu diri, jangan pernah terpengaruh kalau kalian dipujuk-pujuk untuk melakukan operasi, setelah terjadi sesuatu dia lepas tangan gitu aja," ucap Tuti dengan suara meninggi.


"Ih gak nyangka banget ya, Dokter yang keliatannya baik dan ramah ternyata sifatnya buruk," celetuk Ratna.


"Iya, jadi ragu mau operasi anak saya," sambung Tantri.


"Ibu-Ibu maaf ini ada apa ya ...?" Tanya Alexa yang tetap bersikap untuk tenang.


"Ada apa kamu bilang? Kamu lupa ya sama apa yang udah kamu lakukan sampai Ibu saya meninggal," bentak Tuti.


"Wih … Ibu mulai lagi ya, gak kasian ya sama almarhumah Ibu-nya Ibu. Beliau udah tenang di Surga, tapi Ibu masih aja sibuk menyalahkan orang lain, itu semua udah takdir Bu," ucap Arya.


"Ar, udah Ar, aku gak papa kok," ucap Alexa.


"Alah sok-sokan ngalah, kalian bisa liat sendiri kan bagaimana pintarnya Dokter Magang ini akting mencari perhatian orang lain," hardik Tuti yang masih saja menghasut ibu-ibu yang lain.


"Bu, jadi Ibu mau saya ngapain supaya Ibu mau maafin saya dan gak nyalahin saya lagi?" Tanya Alexa.


"Kamu ikut saya, saya akan laporkan kamu ke pemilik rumah sakit ini dan meminta supaya kamu di pecat," jawab Tuti.


"Apa Ibu udah buat janji? Ibu tau kan betapa susahnya bertemu dengan beliau?" Tanya Arya.


"Belum, tapi yang saya tau beliau ada di rumah sakit ini sekarang," jawab Tuti.


"Oh ya ...? Siapa yang kasih tau Ibu?" Tanya Arya lagi.


"Dokter tidak perlu tahu, yang jelas ada yang membantu saya menghubunginya," jawab Tuti.


"Ada apa ini ribut-ribut, saya dengar ada yang mau bertemu pemilik rumah sakit?" Tanya Nico yang baru keluar dari ruangannya, karena memang kebetulan keributan terjadi tidak jauh dari ruangan Dokter Nico.


"Kak Nico," gumam Alexa.


"Iya Dok, Ibu ini mau ketemu sama pemilik rumah sakit katanya," jawab Arya.


"Oh begitu, tapi ada apa ya Ibu mau ketemu dengan pemilik rumah sakit?" Tanya Nico.


Suasana saat ini menjadi sangat tegang, sementara bu Ratna dan bu Tantri hanya bisa terdiam. Memang kalau sudah Nico yang berbicara dengan wajah dinginnya, maka semua akan terdiam.


"Bukan urusan Dokter," jawab Tuti. "Ayo ibu-ibu kita pergi sekarang, saya sudah gak sabar melihat Dokter magang ini dipecat," ucap Tuti sembari menunjuk Alexa yang terdiam dan tidak merasa takut sedikitpun.


Lalu para ibu-ibu itu pun segera melangkahkan kaki meninggalkan para Dokter yang ada di situ.


Vina tersenyum karena melihat akan hal itu dari kejauhan, ia merasa sangat puas, akhirnya apa yang direncanakannya berhasil, pikirnya. Vina juga lah yang menghubungi pemilik rumah sakit tanpa ia ketahui siapa orang tersebut.


"Bu mau kemana? Ruang pemilik perusahaan ada di sebelah sini," ucap Nico sembari menunjuk ke arah ruangannya.


Bukan hanya langkah ibu-ibu biang rusuh itu yang terhenti, Alexa dan Vina juga dibuat bingung dengan ucapan Nico tersebut. Berbeda dengan Arya, dia merasa biasa saja karena sudah mengetahui semuanya.


"Ya benar, dan saya ada pemilik Rumah Sakit Hospital Hutama, Nicholas Fredick Hutama," jawab Nico.


Alexa dan Vina dibuat terkejut oleh ucapan Nico, mereka berdua sama-sama tidak menyadari nama Hutama yang ada pada nama Nico.


"Apakah Kak Nico benar-benar pemilik Hospital Hutama? Kenapa aku tidak pernah menyadarinya?" gumam Alexa yang bermonolog dengan hatinya.


"Apa ...? Jadi Nico itu pemilik rumah sakit ini? Udah hampir dua taun aku bekerja di rumah sakit ini, tapi kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya. Bagaimana kalau Nico tau ini semua adalah ulah aku? Udah pasti aku bakalan dipecat secara tidak hormat," Gumam Vina dalam hati. Wajahnya tampak ketakutan sehingga dia memilih untuk pergi.


*****


Alexa tampak termenung duduk di atas balkon, Arya dan Nico yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya itu pun datang menghampiri Alexa.


"Sayang," panggil Nico.


"Lex kamu ngapain ada di sini?" Tanya Arya.


"Kalian yang ngapain datang ke sini?" Tanya Alexa.


"Sayang, kamu kok ngomongnya gitu. Kita berdua cariin kamu yang tiba-tiba ngilang," kata Nico.


"Kalau bukan karena masalah tadi, mau sampai kapan Kakak sembunyiin tentang ini semua dari aku? Dan kamu Arya, sejak kapan kamu tau dan merahasiakannya juga dari aku?" Tanya Alexa gusar.


"Lex, aku sama sekali gak ada maksud buat merahasiakannya dari kamu," ucap Arya mencoba menjelaskan.


"Arya, kamu bisa gak tinggalin kami berdua dulu," pinta Nico.


"Tapi Dok, Alexa marah sama saya," kata Arya.


"Kamu tenang aja ya, saya yang akan membereskan ini semua," ucap Nico.


Dengan berat hati, Arya pun segera pergi meninggalkan Nico dan Alexa.


Setelah Arya berlalu, Nico pun segera mendekati Alexa yang tidak mau melihat ke arah Nico.


"Alexa, aku bisa jelasin sama kamu," kata Nico.


"Kamu mau jelasin apa Kak? Apa penting kalau Kakak kasih tau ke aku sekarang," kata Alexa.


"Sayang, liat aku dulu dong," pinta Nico. Akan tetapi Alexa tetap tidak mau menatap kekasihnya itu.


"Huft …," Nico menghembus nafas kasar. "Sayang, aku tau kok aku salah udah merahasiakan ini dari kamu, tapi ini semua bukan tanpa alasan, aku cuma gak mau nantinya kamu ngerasa gak enak atau segan setelah kamu tau kalau aku pemilik rumah sakit ini. Lagian tadinya aku pikir gak penting juga kan kalau kamu tau, bahkan gak banyak yang tau soal ini, bahkan mereka yang bekerja di sini, Vina juga gak tau," ucap Nico.


"Ini adalah yang kedua kalinya Kak, dan Kakak selalu bilang gak penting kasih tau aku. Tapi buktinya Arya tau tuh," kata Alexa yang kini telah menatap Nico.


"Ya karena kemarin kamu belum jadi pacar aku, tapi kalau sekarang penting. Aku udah niat kok kasih tau kamu," kata Nico sembari menatap tajam mata Alexa.


.


.


.


.


.


Bersambung....