Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-23



"Kamu serius mau ke Jakarta ...?" Tanya Dion.


"Serius lah Kak," jawab Thalita.


"Emang mau ngapain..?" Tanya Dion lagi.


"Mau berkunjung ke rumah Tante aku terus ketemu sahabat tersayang aku dong," jawab Thalita dengan bangganya.


"Terus, kamu mau ninggalin aku gitu ...?" Tanya Dion.


"Kak, aku cuma ke Jakarta doang dua hari, hari ketiganya udah pulang kok," kata Thalita.


"Iya sih, tapi kamu kan tahu sendiri, buat kita ketemu di luar itu susah banget. Kesempatan kita buat ketemu ya di rumah sakit ini," kata Dion.


"Iya aku tau Kak, tapi aku mau ketemu sama Bude aku, sama sepupu aku, udah lama banget kita gak ketemu," kata Thalita.


"Kenapa kamu gak ngomong sih ke aku? Kamu niat banget ya mau ninggalin aku tiba-tiba biar aku nyariin kamu?" Tanya Dion dengan mode kesal.


"Tadinya emang iya, tapi kenapa juga kita pakai ketemu tadi," jawab Thalita.


"Kamu kok jahat banget sih, kalau tiba-tiba kamu ngilang gitu aja, aku bakalan cari kamu kemana-kemana, kerja juga gak fokus, kamu tega liat aku kayak gitu ...?" protes Dion.


"Biarin aja, siapa suruh Kakak nyebelin," kata Thalita.


"Maafkan Kakak ya Sayang, sebagai gantinya nanti malam kita jalan yuk," ajak Dion.


"Yakin Kak? Gak usah deh kalau ujung-ujungnya batal," hardik Thalita.


"Beneran, aku bentar lagi pulang kok bareng kamu," jawab Dion.


"Tumben, biasanya Kakak selalu pulang telat," hardik Thalita.


"Lagi gak banyak kerjaan, yang penting kalau ada panggilan dari rumah sakit, aku harus standby aja," jelas Dion.


"Oh ... gitu, ya deh Kak," jawab Thalita.


"Kamu gak marah lagi kan sama aku ...?" Tanya Dion.


"Gak tau," jawab Thalita yang mengerucutkan bibirnya.


Cup ... Dion yang sedari tadi menahan kerinduannya langsung saja menempelkan bibirnya di atas bibir sang kekasih.


"Ups ... maaf gak sengaja liat," kata Raka yang tiba-tiba saja ada di ruangan tersebut.


Belum lagi hilang rasa terkejutnya karena ulah Dion, kini Thalita juga dikejutkan oleh suara Raka yang membuatnya dengan reflek mendorong dengan keras tubuh kekasihnya itu.


"Kamu bisa gak sih jangan masuk ke ruangan orang sembarang, ketuk pintu dulu kan bisa," kata Dion dengan kesalnya.


"Maaf deh, gak tau kalau kalian lagi ...," Raka tidak melanjutkan ucapannya karena melihat ekspresi Thalita yang malu, terlihat juga dari wajahnya yang sangat memerah seperti orang yang habis makan indomie pedas level 10.


"Kak Dion, Dokter Raka, aku keluar dulu ya? Kalian ngobrol aja dulu," kata Thalita yang menghindar.


"Iya Sayang, maaf ya ada pengganggu," ucap Dion.


"Ta, jangan pernah percaya lagi sama janji Dion ya," kata Raka.


"Diam kamu!" Bentak Dion kepada Raka, memang Raka itu sahabat tidak ada akhlak, baru saja Dion itu berbaikan dengan kekasihnya, malah langsung dikomporin seperti itu.


Sementara Thalita hanya mengulas senyum tipisnya dan pergi meninggalkan dua pria yang sedang berdebat itu.


*****


"Kamu memang selalu masak sendiri ya Kak ...?" Tanya Alexa kepada Nico yang sedang sibuk memasak. Saat ini mereka sedang berada di apartemen Nico.


"Iya dong," jawab Nico.


"Rajin banget sih pacar aku, kalau aku mending pesan online aja atau makanan yang instan juga banyak, lebih simpel Kak," Kata Alexa.


"Itu gak sehat, kamu itu harus hilangin kebiasaan buruk makan makanan cepat saji. Ingat, kamu ada penyakit asam lambung," kata Nico.


"Sekali-sekali aja kok Kak," hardik Alexa.


"Makanan yang kita beli di luar juga belum tentu sehat. Lebih sehat kalau kita masak sendiri. Atau jangan-jangan kamu gak bisa masak ya?" Kata Nico menasehati kekasihnya itu.


"Tuh kan bener, kalau aku memang udah biasa masak sendiri, apalagi aku gak bisa makan sembarangan di luar," kata Nico.


Alexa manggut-manggut seraya memikirkan sesuatu.


"Kak sebenarnya kenapa waktu itu kamu mau makan hotpot sih? Padahal kamu kan gak bisa makan makanan sembarangan, atau Kakak cuma ikutin selera aku aja ya jadi ikutan makan, secara itu kan makanan favorit aku," Tanya Alexa penasaran.


Nico tampak gugup, bagaimana Alexa bisa berbicara seperti itu? Apa dia tahu sesuatu?


"Ke GR-an banget sih kamu, aku cuma lagi pengen makan hotpot aja. Sekali-kali pengen juga lah makan-makanan kayak gitu, mana aku tau kalau itu makanan favorit kamu," kata Nico dengan nada sedikit gugup.


"Ya santai aja dong Kak, jangan gugup gitu. Benar juga sih, emang dari mana Kak Nico tau," Kata Alexa.


Drt ... drt ... drt, Nico segera meraih ponselnya yang ada di atas meja makan, ada panggilan masuk dari ibunya.


"Halo Bun," ucap Nico menjawab telepon tersebut.


"Halo Nico, kapan kamu pulang ke rumah? Bunda kangen sama kamu," Tanya Salma ibunya Nico.


"Belum tau Bun, tapi Nico janji secepatnya, Nico juga kangen banget sama Bunda," jawab Nico.


"Ya udah, Bunda tunggu ya. Kamu udah makan belum ...?" Tanya Salma lagi.


"Ini aku lagi masak Bun sama ...," ucapan Nico terputus karena melihat ekspresi wajah Alexa yang meminta untuk tidak diberitahu tentang keberadaannya.


"Sama ...? Sama apa Sayang?" Tanya Salma penasaran.


"Sama mau makan maksud Nico Bun," jawab Nico asal dan tersenyum menatap Alexa. Sementara Alexa tampak menghembuskan nafas lega.


"Oh ... Ya udah, kamu makan aja dulu, jaga kesehatan ya Sayang, bye ..." ucap Salma.


"Iya Bunda, Bunda juga ya, bye ..." balas Nico.


Lalu panggilan telepon terputus.


"Maaf ya itu tadi Bunda aku yang telpon," ucap Nico.


"Kenapa juga harus minta maaf, aku tau kok Kak itu tadi yang nelpon ibu kamu," kata Alexa dan tampak bersedih.


"Sayang, kamu kenapa jadi sedih ...? Kamu jadi teringat sama ibu kamu ya?" Tanya Nico dan dijawab anggukan oleh Alexa.


"Kamu jangan sedih ya, ibu kamu sekarang udah bahagia di sana," ucap Nico lalu memeluk Alexa serta mengelus pundak Alexa dengan lembut, memberikan ketenangan untuknya.


"Kak, aku lapar," ucap Alexa.


"Ya udah bentar ya aku siapin dulu makanannya di meja," kata Nico dan melepas pelukannya.


"Mau aku bantuin gak Kak ...?" Tanya Alexa.


"Gak usah, kamu duduk manis aja ya tunggu di sini," jawab Nico.


"Iya Kak, jawab Alexa.


Beberapa saat kemudian menu makan malam yang Nico masak telah tersaji di atas meja. Ada udang saos dan sup ayam yang wanginya sangat menggugah selera. Segera saja Alexa dan Nico menyendok nasi juga lauknya untuk disantap.


"Kak, aku makan ya," kata Alexa.


"Silahkan!" jawab Nico.


Segera saja Alexa menyantap makanan itu, "Heum, enak banget Kak," puji Alexa.


.


.


.


.


.


Bersambung.....