Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-12



"Oh ya? Masak sih, kenapa saya gak sadar?" Tanya Nico.


"Udahlah gak usah kaku gitu pakai bahasa saya, kamu juga minta aku jangan panggil kamu Dokter saat kita sedang berada di luar rumah sakit kan, jadi anggap aja deh kita di luar temen," kata Alexa.


"Siapa juga yang juga mau temenan sama kamu," ucap Nico.


"Ya udah kalau gak mau," kata Alexa dengan tegas lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu mau kemana...?" Tanya Nico.


"Mau buatin bubur buat kamu sarapan, terus minum obat Kak," jawab Alexa.


"Memangnya kamu gak kerja?" Tanya Nico lagi.


"Kerja Kak, tapi ini kan baru jam setengah enam, jadi masih sempat," jawab Alexa.


"Oh.. Ya udah," ucap Nico tanpa menolaknya.


Prang.... Nico yang mendengar suara pecahan kaca dari dapur itu segara berlari menghampiri Alexa. Dilihatnya Alexa yang sedang memungut pecahan kaca yang berserakan di lantai bersama bubur yang baru saja dimasak untuk Nico.


"Aw," rintih Alexa kesakitan karena jarinya tertusuk kaca.


"Alexa," ucap Nico dan langsung saja menghisap darah yang keluar dari jari Alexa.


Deg.... Lagi-lagi Alexa merasakan jantungnya berdetak tidak normal seperti biasanya, ia menatap Nico yang tanpa jijik menghisap darah di jarinya itu. Terlihat juga bahwa Nico sangat khawatir terhadap dirinya.


"Kamu gak papa kan Lex..?" Tanya Nico.


"Aku gak papa Kak," jawab Alexa. "Maaf ya jadi berantakin rumah kamu, aku bersihin dulu ya Kak," ucapnya.


"Udah Lex gak perlu, duduk sini dulu," kata Nico sembari membawa Alexa duduk di sofa. Ia mengambil kotak P3K lalu mengoleskan betadine pada luka di jari Alexa dan terakhir menutupnya dengan hansaplast.


"Makasih ya Kak, Maaf tadi kerasa panas banget karena gak aku kasih alas mangkoknya, jadi gak sengaja aku jatuhin. Tapi bubur di panci masih ada kok, aku ambilin dulu ya," kata Alexa.


"Kita sarapan bareng ya, masih cukup kan untuk makan berdua...?" Tanya Nico.


"Masih kok Kak," jawab Alexa.


"Ya udah kamu ambil buburnya, tapi hati-hati ya, jangan lupa kasih alas. Biar aku aja yang bersihin pecahan kaca ini," kata Nico.


"Tapi Kak, biar aku aja yang bersihin, kan aku yang udah pecahin," kata Alexa.


"Gak papa, anggap aja gantian karena semalam kamu yang bersihin pecahan gelas yang aku pecahin," kata Nico.


"Ya udah Kak, hati-hati ya takut kena pecahan kaca," pesan Alexa.


"Kamu pikir aku bodoh kayak kamu apa, aku gak akan mungut kaca ini pakai tangan," gumam Nico dan di dengar oleh Alexa, tetapi Alexa hanya diam saja.


Setelah selesai sarapan bersama dan memastikan Nico sudah meminum obatnya, Alexa kembali ke apartemennya untuk bersiap-siap dan pergi bekerja.


Semenjak mobilnya di jual untuk menambah biaya tebusan ayahnya, Alexa selalu berdiri di jalan untuk menunggu angkot lewat, menurutnya menggunakan angkot lebih murah dari pada harus memesan taksi online.


Din.. Din.. Suara klakson mobil yang berhenti tepat di depan Alexa.


"Alexa, masuk!" Perintah Nico yang membuka kaca jendela mobilnya.


"Loh Kak Nico mau kemana..?" Tanya Alexa.


"Kerja lah, cepetan masuk sebelum aku berubah pikiran," kata Nico.


Lalu Alexa pun masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Nico.


"Kakak yakin mau kerja, kamu kan masih sakit Kak...?" Tanya Alexa.


"Aku gak selemah yang kamu pikirkan Lex, aku udah baik-baik aja," kata Nico, sedangkan Alexa hanya diam dan membuat suasana dalam perjalanan ke rumah sakit menjadi sunyi.


*****


Lima belas menit kemudian mereka telah tiba di rumah sakit. Bersamaan dengan itu, Vina dan Arya juga baru tiba di rumah sakit dan melihat Alexa dengan Nico keluar dari mobil yang sama.


Tidak mau berpikir yang bukan-bukan, Arya langsung saja menghampiri Alexa dan Nico.


"Makasih ya Dok tumpangannya," ucap Alexa.


"Ehm," jawab Nico singkat.


"Pagi Alexa, pagi Dokter Nico," sapa Arya.


"Pagi Ar, kamu baru nyampe juga...?" Tanya Alexa.


"Iya Lex, kok kamu bisa barengan sama Dokter Nico..?" Tanya Arya.


"Ehm, kebetulan tadi Dokter Nico lewat, jadi aku nebeng," jawab Alexa.


Memang selama ini belum ada yang tau jika Alexa dan Nico ada lah tetangga. Meskipun Arya tahu dimana Alexa tinggal, akan tetapi ia sama sekali belum sempat menginjakkan kakinya di apartemen Alexa.


Alexa, Nico dan Arya bersama-sama memasuki rumah sakit. Saat di lift Nico mendengar pembicaraan Alexa dan Arya.


"Lex, kamu jadi mau pindah ke kontrakan...?" Tanya Arya.


"Jadi Ar, buat menghemat hidup aku," jawab Alexa.


"Sebenarnya ada apa sih Lex...?" Tanya Arya.


"Maaf ya aku belum bisa cerita," ucap Alexa.


Pintu lift terbuka, segera mereka bertiga keluar, Nico tampak tersenyum smirk lalu meninggalkan Alexa dan Arya menuju ke ruangannya.


Alexa dan Arya juga berpisah menuju ke loker masing-masing untuk mengganti pakaian dinas mereka di rumah sakit.


*****


"Ta, kabar Alexa gimana...? Tanya Raka, ia merupakan Dokter bedah senior di Rumah Sakit Bunda kasih sekaligus sahabat baik dari Dion.


"Baik kok Dok," jawab Thalita. Ia merasa tidak suka kepada Raka jika menanyai soal Alexa, alasannya karena saat co-*** dulu, Raka pernah memberikan harapan palsu untuk sahabatnya, Alexa.


"Boleh gak kalau aku minta kontak wathsap Alexa yang sekarang..?" Tanya Raka.


"Enggak boleh," jawab thalita.


"Kenapa..?" Tanya Raka.


"Buat apa Dok? Gak takut apa calon istri Dokter yang namanya Renata itu marah," kata Thalita.


"Tunggu! Kenapa kamu bawa-bawa Renata, ini pasti ada kesalahpahaman," kata Raka.


"Kesalahpahaman gimana maksud Dokter...?" Tanya Thalita.


"Aku sama sekali gak ada hubungan apa-apa sama Renata, aku cuma Dokter senior yang bimbing dia aja kok, gak lebih," jelas Raka.


"Dokter serius...? Tapi waktu itu Renata melabrak Alexa," kata Thalita.


Flashback on...


"Eh Alexa, kamu jangan pernah ya deketin Dokter Raka lagi," bentak Renata.


"Ada apa nih, datang-datang main bentak-bentak aja," tanya Thalita.


"Sebaiknya kamu gak usah ikut campur deh, ini urusan aku sama perempuan ini," kata Renata sembari menunjuk Alexa.


"Alexa ini sahabat aku," kata Thalita.


"Hust... Udah Ta, ngapain juga sih ribut-ribut di kantin, kalau kamu ladenin orang gak waras sama aja kamu juga gak waras Ta," kata Alexa. Ia diam bukan berarti takut, hanya saja tidak mau mencari keributan.


"Kamu yang gak waras, awas aja ya kalau sampai berani deketin calon suami aku lagi," ancam Renata.


Flashback off.


"Jadi gara-gara itu Alexa menjauh dari aku, nomor aku di blok bahkan sampai ganti nomor...?" Tanya Raka.


.


.


.


.


.


Bersambung.....