
"Tha, makasih banget ya. Aku kira kalian semua tadi lupa, aku nggak ada nyangka banget bakalan ada surprise birthday party dari kalian seperti ini," ucap Alexa saat mereka sudah ada di kamar dan bersiap untuk tidur.
"Iya Lex sama-sama, aku senang karena rencana ini berjalan dengan lancar dan berhasil membuat kamu terharu." jawab Thalita.
"Kesal juga," celetuk Alexa.
"He … he … he …," cengir Thalita. "Tapi Lex ide buat ngerjain kamu dan kasih surprise ini sebenarnya bukan ide aku sih. Gini maksudnya, memang aku yang ngajakin Kak Dion sama Kak Raka buat ngasih kamu surprise buat datang ke Jakarta, bahkan Kak Nico juga udah ngomong ke aku sebelumnya mau bikin acara buat kamu, tapi kalau soal kejutan yang terjadi hari ini apalagi ide cuekin kamu, itu sebenarnya bukan dari aku," kata Thalita.
"Hah? Terus ide siapa?" Tanya Alexa.
"Idenya Kak Raka, ups-" jawab Thalita lalu menutup mulutnya karena keceplosan menjawab yang membuat Alexa terkejut.
"Tha kamu serius ini semua idenya Kak Raka?" Tanya Alexa yang kini menatap Thalita dengan tajam.
"Lex, nggak usah kayak gitu juga kali ngeliatin akunya, aku jadi merinding nih," kata Thalita.
"Ya udah cepat jelasin, apa bener ini idenya Kak Raka? Jawab dong pertanyaan aku," pinta Alexa.
"Iya ini idenya Kak Raka. Tapi Please jangan kasih tau ya kalau kamu tau dari aku, kamu pura-pura nggak tau aja, apalagi kalau sampai Kak Nico tau. Kamu nggak mau juga kan itu jadi salah paham Lex," kata Thalita.
"Iya aku ngerti kok, tapi kenapa Kak Raka ngelakuin ini semua?" Tanya Alexa.
"Mungkin karena Kak Raka masih sayang sama kamu dan ingin melihat kamu bahagia. Ya meskipun dia nggak bisa sama-sama dengan kamu," ujar Thalita.
"Kalau memang kayak gitu, aku jadi kasihan deh sama Kak Raka. Tapi gimana lagi dong, aku kan sekarang udah sama Kak Nico dan aku sayang banget sama Kak Nico, kamu tau sendiri kan Tha," kata Alexa.
"Iya Lex, aku tau kok. Apalagi kamu itu kan pacarannya sama kakak sepupu aku, jadi aku dukung banget kamu sama Kak Nico. Kamu sama Kak Nico itu cocok, Kak Nico juga baik, pantes banget buat kamu. Tapi bukan berarti Kak Raka itu nggak baik ya? Kak Raka juga baik. Kita doain aja deh semoga kak Raka bisa cepat move on dari kamu dan ngedapetin pacar yang baiknya sama kayak kamu," kata Thalita.
"Memang nggak ada yang lebih baik apa dari aku? Kenapa harus sama baiknya?" Tanya Alexa.
"Ya nggak ada lah, kamu itu kan sahabat terbaik aku," jawab Thalita lalu memeluk Alexa.
"Euhm … gemasnya, udah lama banget ya kita nggak bareng-bareng kayak gini," kata Alexa.
"Iya, ya udah yuk tidur. Besok kamu mau kerja kan? Ntar dimarahin Kak Nico loh kalau telat," kata Thalita.
"Ih tau aja. Ya udah yuk tidur," kata Alexa lalu mereka berdua pun mulai memejamkan mata dan bermimpi indah.
*****
"Jadi setiap pagi kalian sarapan bareng kayak gini terus ya?" Tanya Dion.
"Iya, memang kenapa? Pasti Kak Dion iri kan nggak bisa sarapan bareng Lita kayak aku sama Kak Nico?" jawab Alexa dan meledek.
"Ih sok tau, kami berdua juga sarapan bareng setiap hari di rumah sakit. Iya kan Kak Dion?" kata Thalita membela diri.
"Iya benar, kita setiap hari sarapan di kantin ya sayang," kata Dion.
"Iya yang sarapan di rumah sakit doang. Kalau kami berdua bisa sarapan di apartemen, di rumah sakit, dimana-mana aja bisa. Ya kan Kak Nico?" Kata Alexa pula yang tidak mau kalah dengan Thalita, sahabatnya itu.
Tanpa mereka sadari perbincangan mereka telah membuat satu hati terluka yaitu Raka. Raka hanya bisa, menampakkan senyum di bibirnya namun menahan sakit di hati. Biarlah semua itu aku tahan yang penting aku bisa melihat senyum bahagia yang terpancar dari wajah Alexa, pikirnya. Sedangkan Bagas hanya mendengar saja sembari mengotak-atik ponselnya.
Setelah selesai sarapan bersama, Alexa dan Nico hendak pergi ke rumah sakit seperti biasa, Sedangkan Dion, Thalita dan Raka akan kembali ke Jakarta dengan satu mobil, sementara Bagas hari ini masih tetap stay di Jakarta.
"Makasih ya semuanya, kalian hati-hati," ucap Alexa saat sahabat dan temannya itu mengantar ke rumah sakit.
"Iya Kak," ucap Alexa.
"Alexa, Nico kita pulang dulu ya," ucap Dion.
"Hati-hati Dion, Thalita, Raka," kata Nico.
"Iya Kak," jawab Thalita mengangguk.
Sekali lagi Thalita dan Alexa berpelukan lalu mereka pun berpisah.
*****
"Dokter Vina, kebetulan banget kita ketemu di sini. Bisa kita bicara sebentar? ada yang mau saya omongin sama Dokter," kata Alexa saat bertemu dengan Vina di depan ruang ICU.
"Ada apa?" Tanya Vina.
"Bisa kita cari tempat untuk mengobrol dulu?" Tanya Alexa.
"Ya udah, kita ke ruangan saya," ajak Vina.
"Oke," jawab Alexa lalu mengikuti Vina ke ruangannya.
Setelah tiba di ruangan Vina, mereka berdua pun masuk dan duduk berseberangan.
"Jadi kamu mau ngomongin apa sama saya?" Tanya Vina.
"Ini soal Mas Bagas," jawab Alexa.
"Bagas? Duh nih orang mau ngomongin apa sih soal Bagas," gumam Vina dalam hati. "Kenapa kamu mau bahas soal Bagas ke saya, memang saya siapanya Bagas?" Tanya Vina ketus.
"Kok responnya Dokter Vina kayak gitu ya, bukannya dia deket sama Mas Bagas? Bahkan Mas Bagas sendiri yang bilang, kalau dia bisa liat Dokter Vina itu bahagia banget kalau lagi sama dia. Atau Mas Bagas-nya aja kali ya yang ke gr-an," batin Alexa.
"Kenapa bengong? Katanya kamu mau ngomong, mau ngomong apa?" Tanya Vina.
"Dokter maaf, bukan saya mau ikut campur, tapi saya tau kalau Dokter Vina lagi dekat kan sama Mas Bagas?" Tanya Alexa.
"Siapa bilang saya dekat sama Bagas? Saya cuma temenan aja kok sama dia. Lagian kalau saya dekat sama Bagas, apa urusannya sama kamu?" Lagi-lagi Vina berbicara ketus kepada Alexa.
"Memang bukan urusan saya Dokter Vina mau dekat sama siapapun, termasuk Mas Bagas. Tapi saya minta tolong sama Dokter Vina, kalau sampai Dokter Vina sakitin Mas Bagas, saya nggak akan pernah tinggal diam," ucap Alexa.
"Apa maksud kamu ngomong kayak gitu sama saya? Saya mau dekat sama Bagas kek, saya mau apain dia kek, itu bukan urusan kamu. Kalau kamu takut Bagas tersakiti, harusnya kamu ngomong sama Bagas untuk nggak dekat-dekat sama saya, dia kok yang dekatin saya," kata Vina dengan begitu angkuhnya.
.
.
.
.
.
Bersambung.....