Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-22



Alexa terkejut karena melihat Nico dan Arya tiba-tiba saja ada di depan matanya.


"Dokter Nico, Arya, sejak kapan kalian ada di situ ...?" Tanya Alexa.


"Hm ... sejak kapan ya? Yang jelas kita dengarlah saat kamu tadi bikin Dokter Vina gak berkutik sama ucapan kamu," jawab Arya. "Iya kan Dok?" Tanyanya kepada Nico.


"Heum ..." Jawab Nico mengangguk dan mengulas senyum tipisnya.


"Tapi aku keterlaluan banget gak sih tadi sama Dokter Vina ...?" Tanya Alexa.


"Enggak, justru kamu luar biasa. Selama ini gak ada yang berani ngomong kayak gitu ke Vina, cuma kamu aja, only one," jawab Nico memuji.


Alexa sangat senang mendengar pujian yang dilontarkan dari mulut Nico, hingga tidak disadari ia dan Nico saling berpandangan dan tersenyum tanpa menyadari ada hati yang terluka, cemburu melihat keakraban mereka berdua.


"Ehem ..." Arya sedikit berdehem yang membuat Alexa dan Nico tersadar lalu mengalihkan pandangan mereka.


"Alexa, kamu dari mana ...?" Tanya Arya.


"Aku ... aku ... abis cari kalian," jawab Alexa asal.


"Oh ya, kita juga cariin kamu loh tadi," kata Arya.


"Kita? Perasaan kamu aja, saya enggak," kata Nico.


"Iya, Saya. Kamu dari mana aja Lex?" Tanya Arya.


"Aku dari toilet tadi," jawab Alexa dengan mantap. "Kalian abis dari mana?" Tanyanya pula.


"Habis periksa pasien, kamu menghilang gitu aja jadi kita tadi hanya memeriksanya berdua," jawab Nico dengan ketus, tapi dalam hatinya terasa geli menahan tawa, terlebih lagi melihat wajah cemberut dari Alexa yang membuatnya selalu merasa gemas. Seandainya mereka berdua ada di ruangan tertutup, pastinya Nico sudah menerkam wanita yang telah menjadi kekasihnya itu.


"Ikh ... nyebelin banget sih Kak Nico, liat aja nanti bakalan aku balas," batin Alexa.


"Arya, kamu udah makan ...? Kalau belum ke kantin bareng yuk," ajak Alexa yang sengaja memanas-manasi Nico untuk membalas dendam.


"Oh mau balas dendam ya," batin Nico.


"Arya, tadi kamu bilang mau makan bareng saya kan? Ya udah yuk saya lapar," ajak Nico.


Arya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sepertinya saat ini ia sedang menjadi rebutan. "Hm ... Dokter Nico, kita makannya bertiga ya sama Alexa, kayak biasa," hardik Arya.


"Iya, terserah dia aja mau ikut apa gak," ucap Nico lalu melangkahkan kakinya terlebih dahulu sambil mengulas senyum tipisnya.


"Ikh ... awas ya Nico nyebelin," gerutu Alexa sembari menggertakkan giginya menahan emosi.


"Lex, yuk," ajak Arya.


"iya Ar, yuk," jawab Alexa.


*****


"Dion, kayak bocah aja sih kamu. Udah dong, mau sampai kapan kamu diamin aku gini ...?" Tanya Raka saat mereka sedang berada di laboratorium.


"Apaan sih kamu, ganggu orang aja," hardik Dion.


"Udah dua hari Yon kamu diamin aku, hati ini terluka," ucap Raka penuh drama.


"Sensitif banget kayak cewek," gerutu Dion yang sedang fokus meneliti.


"Hei Bro, gak salah ngomong tuh? Bukannya kamu yang kayak cewek, cuma liat sahabat sama kekasihnya ngobrol berdua langsung ngambek. Harusnya itu kamu sadar lah kenapa Thalita bisa marah kayak gitu," kata Raka.


Dion segera menghentikan aktivitasnya, lalu mendekatkan wajahnya dan berkata, "Sahabat seperti apa yang bukannya mendukung sahabatnya tapi malah memojokkan sahabatnya sendiri. Kamu suka ya liat hubungan aku sama Thalita ada konflik terus kayak gini?"


Raka mengerutkan keningnya, ia semakin tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh sahabatnya itu.


"Maksud kamu tuh apa sih, kamu nuduh aku memprovokasi Thalita supaya hubungan kalian makin konflik gitu?" Tanya Raka.


"Terus apa lagi kalau bukan itu...?" Tanya Dion.


"Yon, kita bersahabat udah lama banget, dari jaman bocil. Masak iya aku tega menjerumuskan sahabat aku sendiri dalam masalah. Come on lah Bro, gak mungkin banget aku melakukan hal itu," kata Raka.


"Kita cuma bahas soal Alexa aja kok," jawab Raka.


"Jadi gimana kamu sama Alexa ...?" Tanya Dion.


"Gak gimana-gimana, aku belum hubungin dia Yon," jawab Raka.


"Ya ampun Bro, lama banget gerak kamu. Udah dapat nomornya bukan langsung dihubungin malah dianggurin gitu aja tuh nomor telpon," kata Dion.


"Hm ... masih belum ada keberanian setelah bertahun-tahun Yon," ucapnya. "Kok jadi bahas aku sih. Kamu sama Thalita tuh gimana sekarang, belum ada titik terang juga?" Tanyanya.


"Belum, Thalita masih gak mau ngomong sama aku. Bahkan di saat kita lagi kerja bareng, ngomongnya ya sekedar masalah kerjaan aja," jawab Dion.


"Sungguh kisah yang mengharukan, makanya Yon jangan suka lupa sama janji. Kalau gak yakin mending gak usah buat janji yang ujung-ujungnya cuma buat Thalita sakit hati," kata Raka sok dewasa.


"Namanya juga kerjaan, lagian tau apa sih kamu. Jomblo juga," ledek Dion.


"Yeh ... meskipun jomblo tapi aku juga tau Yon soal itu," hardik Raka.


"Tau ah, aku mau cari Thalita dulu," kata Dion lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Raka.


"Semoga berhasil ya Bro!" Teriak Raka.


Dion bertemu dengan Thalita di depan ruangan Dokter kepala.


"Ta, kamu abis ngapain ...?" Tanya Dion.


Thalita menatap datar wajah Dion, lalu membuang wajahnya dan segera berjalan hendak meninggalkan Dion, akan tetapi dengan cepat Dion menarik tangan kekasihnya itu lalu meraih tubuhnya kedalam dekapannya.


"Kak Dion apa-apain sih," ucap Thalita sembari memberontak minta untuk dilepaskan.


"Please jangan dilepas," pinta Dion dan akhirnya Thalita pun terdiam.


"Malu Kak, ini kita diliatin orang-orang loh," kata Thalita. Memang benar saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian siapapun yang lewat.


Akan tetapi Dion seakan menulikan telinganya, ia tidak peduli. Yang terpenting bisa mendapatkan maaf dari sang pujaan hati.


"Kak, gak usah kayak gini, mendingan kita ngobrol aja di ruangan Kakak," ajak Thalita.


Dion mengangguk lalu melepaskan pelukannya, setelah itu ia segera menggandeng tangan Thalita dan membawanya ke ruang kerjanya.


"Sayang, maafin aku ya. Aku tau ini bukan yang pertama kalinya, tapi aku juga gak dengan sengaja melakukan hal yang membuat kamu marah. Tolong jangan cuekin aku kayak gini terus ya, aku gak bisa Sayang," ucap Dion.


"Hm ... aku memang kesal banget sama Kak Dion, tapi aku juga gak bisa lama-lama jauhin atau cuekin Kakak, aku kangen," rengek Thalita.


Dion tersenyum lalu kembali meraih tubuh Thalita kedalam pelukan hangatnya serta mencium keningnya.


"Oh ya kamu ngapain tadi Sayang dari ruangan Dokter Sabrina?" Tanya Dion.


"Aku minta izin libur 3 hari sama Dokter Sabrina," jawab Thalita.


"Hah? Memang kamu mau kemana?" Tanya Dion.


"Mau ke Jakarta," jawab Thalita.


"Apa ...? Ke Jakarta ...?" Tanya Nico membelalakkan matanya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....