Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-51



Nico yang tadinya tertunduk kini beralih menatap tajam mata Alexa yang membuat Alexa bergidik.


"Kak Nico, untuk saat ini yang disakiti oleh Dokter Vina itu aku, aku baik-baik aja kan Kak? Jadi menurut aku gak usah sampai memecat atau melaporkan Dokter Vina ke Polisi Kak. Setidaknya dengan menskors Dokter Vina akan sedikit membuatnya jera dan Kakak juga gak akan dibilang tidak tegas dalam masalah ini, karena Kak Nico udah memberikan hukuman untuk Dokter yang bersalah," kata Alexa.


"Gimana kalau dia mengulangi perbuatannya lagi?" Tanya Nico.


"Terserah Kakak, apa pun yang mau Kak Nico lakukan aku tidak akan melarangnya lagi, yang penting aku mohon Kakak kasih dulu kesempatan sekali lagi untuk Dokter Vina," pinta Alexa.


Nico menatap bola mata indah Alexa itu dengan sangat dalam, terlihat jelas dari matanya jika Alexa sangat berharap keinginannya itu akan dikabulkan oleh Nico.


"Ya udah aku akan ikutin apa mau kamu," ucap Nico. Ia sangat tidak tega jika harus menolak permintaan Alexa, biarlah kali ini mengalah demi senyuman yang mengambang dari wanita yang dicintainya, tapi jika Vina berbuat hal yang tidak-tidak lagi, maka Nico tidak akan pernah melepaskan Vina.


"Kak Nico, Kakak serius kan?" Tanya Alexa yang tidak percaya jika Nico akan menyetujui permintaannya.


"Iya serius, semua ini demi kamu," jawab Nico.


Alexa tersenyum, ia beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Nico.


"Kak, makasih banyak ya, aku sayang banget sama Kakak," ucap Alexa.


Cup, sebuah kecupan hangat sekilas Alexa berikan di atas bibir Nico yang membuat kekasihnya itu merasakan jantungnya berdebar tidak karuan karena begitu senangnya.


"Aku keluar dulu ya Sayang mau periksa pasien, bye …," ucap Alexa tersenyum lalu keluar dari ruangan Nico.


"Alexa, kamu liat aja ya nanti malam, aku gak akan melepaskan kamu Sayang," gumam Nico dengan senyuman tipis di bibirnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, yang jelas menyangkut soal Alexa.


*****


Tok ... tok … tok … Vina mengetuk pintu ruangan Dokter Kepala sesuai perintah Nico untuk menemuinya saat pekerjaan telah selesai.


"Masuk!" Ucap Nico.


Vina masuk ke dalam, lalu duduk di seberang Nico. Wajahnya tampak pucat karena takut Nico akan langsung memecatnya hari ini juga atau membawanya ke kantor polisi.


"Langsung saja saya katakan kalau kamu tidak jadi saya pecat atau saya laporkan ke Polisi," ucap Nico.


"Apa? Kamu serius?" Tanya Vina dengan senyum sumringah, ia sangat senang karena akhirnya Nico berusaha pikiran.


"Iya saya serius, semua ini udah jelas karena kemurahan hati Alexa, dia yang membujuk saya untuk tidak melakukan itu sama kamu," jawab Nico.


"Hm … untunglah gak sia-sia juga pura-pura minta maaf, ternyata wanita itu berhasil membujuk Nico, bagus lah," gumam Vina dalam hati.


"Terimakasih banyak Dok, saya juga akan ucapkan terimakasih ini kepada Alexa nanti," ucap Vina.


"Kamu jangan senang dulu, gak mungkin juga saya biarin kamu gitu aja atas apa yang udah kamu lakukan tanpa hukuman apapun," kata Nico.


"Maksud kamu?" Tanya Vina yang tidak mengerti.


"Ini surat peringatan yang pertama buat kamu, kamu saya skors selama satu Minggu," jawab Nico sembari memberikan surat di dalam amplop putih.


"Skors satu Minggu?" Tanya Vina yang tampak syok.


"Apa-apaan ini? Tapi ya sudah lah, bukannya ini lebih baik dari pada di pecat? Toh cuma satu Minggu aja, anggap aja liburan," batin Vina.


"Baik Dok, kalau gitu saya permisi dulu ya. Terimakasih sekali lagi Dok," ucap Vina.


"Ya silahkan!" Jawab Nico. Lalu Vina pun keluar dari ruangan Dokter Nico dengan membawa surat di dalam amplop putih tadi.


"Apa lebih baik aku Jogja aja ya, biar ketemu sama Bagas. Gimana ya perasaan Alexa kalau aku mainin perasaan Kakak angkatnya itu," gumam Vina sembari tersenyum smirk.


Saat itu juga, dari jauh Alexa melihat Vina yang berjalan sambil senyum-senyum sendiri menebak jika Vina pasti merasa senang karena dia tidak di pecat melainkan hanya di skors.


"Syukurlah," gumam Alexa yang tersenyum manis.


*****


Seperti biasa, Nico selalu memasak untuk makan malamnya bersama Alexa jika ada waktu. Tapi kali ini bukan di apartemen Alexa, melainkan di apartemen Nico sendiri.


Beberapa saat kemudian makanan telah tersaji di atas meja, saat Nico hendak memanggil Alexa dan mengajaknya makan, Nico melihat Alexa yang tadi sedang menonton televisi kini sudah tertidur pulas.


Nico mendekati kekasihnya itu, lalu mengelus lembut pipi dan mencium lembut kening dan bibir Alexa sekilas. Seperti sedang bermimpi, Alexa tiba-tiba menarik tengkuk Nico hingga bibir mereka kini kembali bersentuhan. Dalam keadaan mata yang masih terpejam, Alexa melu*** bibir bawah Nico dengan penuh gairah. Nico yang sempat terkejut dan membelalakkan matanya, kini telah menikmatinya dan ikut memejamkan mata sembari membalas melu*** bibir Alexa. Keduanya saling memainkan lidah sembari sesekali bertukar saliva.


Alexa tersadar jika mimpi indahnya tadi adalah kenyataan, Alexa pun melanjutkannya lagi ciuman di dunia nyatanya itu dengan memberikan gigitan-gigitan kecil pada bibir Nico, semakin lama ciuman itu terasa semakin panas, Kini Nico beralih menyapu leher Alexa dengan lidahnya sembari sesekali menyesapnya dan meninggalkan jejak. Suara desa*** terdengar dari mulut Alexa yang membuat sesuatu dibalik celana Nico berdiri tegak sempurna.


Karena tidak ingin terjadi hal yang lebih lagi, akhirnya mereka pun menyudahinya. Nico pernah berjanji jika dia akan menjaga kesucian kekasihnya itu untuk malam pertama mereka nanti.


Setelah mencuci wajahnya, kini Alexa menghampiri Nico yang sudah menunggunya di meja makan.


"Sayang, nih nasinya udah aku ambilin," kata Nico.


"Makasih Kak, Kakak masak udang saos, ayam goreng bawang, sama sayur baby kaylan? Ah … berasa makan di restauran seafood deh, aku jadi gak sabar mau makan Kak," kata Alexa.


"Ya udah di makan langsung dong, abisin ya," kata Nico.


"Iya Kak,." jawab Alexa yang begitu antusias.


Satu jam kemudian, makanan di atas meja telah lenyap masuk ke dalam perut Alexa dan Nico. Nico yang biasanya tidak terlalu banyak makan, kini ia merasa sangat kekenyangan karena dipaksa Alexa untuk sama-sama menghabiskan makanan di atas meja. Alasannya mubazir jika makanan di buang.


"Kak, lain kali gak usah masak terlalu banyak kalau cuma untuk kita berdua Kak, aku suka khilaf. Tapi aku juga gak mau kalau timbangan terus geser ke kanan Kak, aku gak mau nanti kalau aku gendut, Kakak bakalan tinggalin aku dan cari yang lebih seksi," ucap Alexa yang membuat Nico terkekeh mendengarnya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....