
Flashback on...
"Berarti sekarang kamu adalah pacar aku dan aku adalah pacar kamu," kata Nico.
"Iya dong, tapi Kak boleh gak aku minta sesuatu sama kamu?" Jawab Alexa dan bertanya.
"Apapun itu akan aku kasih buat kamu," ucap Nico.
"Bisa gak Kakak rahasiakan dulu hubungan kita saat di rumah sakit ...?" Tanya Alexa.
"Kenapa? Aku gak mau, justru aku mau segera umumkan kalau kamu itu sekarang adalah kekasih aku, Alexa milik Nico. Aku gak setuju," tolak Nico.
"Kak, please dong. Aku cuma belum siap aja, aku gak mau nanti para Dokter dan Suster wanita menghujat aku, fans kamu di rumah sakit itu banyak Kak. Pasti mereka gak terima kalau tau aku pacaran sama Dokter favorit mereka," kata Alexa.
"Kamu tenang aja, kalau kamu di hujat ada aku yang akan belain kamu. Aku pastikan gak akan ada satu orangpun yang berani nyakitin kamu, aku akan selalu menjaga kamu," kata Nico sembari menatap lekat wajah sang kekasih dengan penuh keyakinan, agar Alexa bisa melihat bahwa Nico tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Kak, aku belum siap, ada saatnya kita akan kasih tau mereka," rengek Alexa.
"Termasuk merahasiakannya dari Arya ...?" Tanya Nico.
"Iya Kak, termasuk," jawab Alexa.
Rasanya sangat enggan sekali bagi Nico untuk menyembunyikan hubungannya dengan Alexa, terutama dari Arya, ia ingin saingannya itu segera tahu agar berhenti berjuang untuk mendapatkan hati Alexa yang kini telah menjadi kekasihnya. Akan tetapi Nico terpaksa menuruti keinginan Alexa, toh ini semua juga hanya sementara, pikirnya.
Flasback off.
"Aku ingat kok, tapi ini kan cuma kita berdua di sini," jawab Nico.
"Tapi kalau tiba-tiba ada yang masuk ke ruangan Kakak, terus mereka liat kita gimana Kak ...?" Tanya Alexa.
Nico tampak berpikir lalu melepaskan pelukannya, sedangkan Alexa dapat bernafas lega karena dipikirnya Nico tidak akan berbuat macam-macam saat berada di rumah sakit.
Namun siapa sangka jika dugaan Alexa itu salah, ternyata Nico mengunci ruangannya agar bisa melanjutkan aksinya dan tidak akan di ganggu oleh orang lain.
"Sekarang udah aman, gak akan ada yang bisa masuk ke ruangan ini," kata Nico dan mendekati Alexa lalu membawa tubuh Alexa menyentuh dinding.
Alexa yang sudah tahu apa yang hendak dilakukan oleh kekasihnya hanya bisa pasrah, ia memejamkan matanya saat kekasihnya itu mulai menyatukan bibir mereka. Tidak hanya sampai di situ, Nico beralih menyapu dan menyesap leher Alexa hingga meninggalkan bekas kepemilikan di sana. Sesekali terdengar suara de**han yang keluar dari mulut Alexa.
Hingga ...
Tok ... tok ... tok ... seseorang mengetuk pintu ruangan Nico.
"Permisi Dokter, apa Dokter ada di dalam!" Teriak Arya. Ya, orang yang mengetuk pintu tersebut adalah Arya.
"Kak, itu kayaknya Arya deh. Mending Kak Nico temuin aja dulu," kata Alexa.
"Cih, ganggu aja sih," gerutu Nico karena aktivitasnya berakhir begitu saja.
"Sayang, kamu gak boleh ngomong gitu dong," kata Alexa sembari memberi senyum manisnya.
"Sayang ...?" Nico mengulanginya untuk memastikan apa yang didengarnya tidak salah.
"Ehem, Sayang," Alexa mengulangi ucapannya.
Nico tersenyum lebar, ia sangat senang mendengar panggilan yang dilontarkan Alexa untuknya.
"Ya udah yuk kita temuin Arya," ajak Nico seraya menarik lembut tangan Alexa.
"Jangan Kak, entar Arya bisa curiga kalau ngeliat aku ada di ruangan Kakak, apa lagi ruangannya terkunci dan Kak Nico lama buka pintunya," kata Alexa.
"Benar juga yang kamu bilang, ya udah sebaiknya kamu sembunyi aja dulu ya di kamar aku, sekalian benerin rambut kamu dan liat tuh ada bekas kepemilikan yang aku tinggalin di leher kamu," kata Nico sembari mengerlingkan sebelah matanya.
"Aku tinggal dulu ya Sayang," ucap Nico dan mencium sekilas bibir Alexa yang sudah membuatnya candu itu, lalu segera melangkahkan kaki menuju pintu. Sedangkan Alexa masuk ke dalam kamar Nico.
"Ada apa Arya ...?" Tanya Nico saat membuka pintu.
"Maaf Dokter saya ganggu, saya kira Dokter gak ada di ruangan," ucap Arya.
"Oh, saya lagi di kamar mandi tadi," jawab Nico yang tampak gugup. "Jadi ada apa kamu ke ruangan saya?" Tanyanya.
"Ini Dok, laporan yang Dokter minta," kata Arya sembari memberikan berkas di tangannya dan langsung diterima oleh Nico.
"Iya, terimakasih. Oh iya Arya ayo ikut saya periksa pasien di ruang 10," ajak Nico. Ia sengaja mengajak Arya meninggalkan ruangannya agar Alexa bisa segera keluar.
"Baik Dok," jawab Arya, lalu ia mengikuti langkah kaki Nico yang mendahuluinya.
"Dok, saya mau tanya, apa Dokter ada melihat Alexa?" Tanya Arya.
"Mana saya tau, lagi di toilet mungkin," jawab Nico asal.
"Tapi tadi katanya dia mau antar berkas ke ruangan Dokter Nico," kata Arya.
"I-iya memang benar, tapi setelah itu dia langsung pergi, ya mana tahu dia kemana, dia gak bilang sama saya. Lagian bukan biasanya dia sama kamu, kan kalian satu ruang," celetuk Nico, untungnya Arya percaya begitu saja dengan ucapan Nico yang tampak menyembunyikan sesuatu.
"Iya Dok," jawab Arya.
Sementara itu Alexa baru saja merapikan rambut dan pakaiannya yang sedikit acak-acakan dan menutup tanda merah di lehernya dengan plester karena ulah Dokter bucin-nya. Ia segera melangkah perlahan hendak keluar dari ruangan tersebut.
"Alexa, kamu ngapain ...?" Tanya Vina yang secara kebetulan melihat Alexa baru saja keluar dari ruang Dokter kepala.
Alexa terkejut, akan tetapi ia mencoba tenang dan tidak bersikap gugup untuk menghadapi Vina.
"Saya abis antar berkas, ada apa ya Dok ...?" Jawab Alexa dan bertanya pula.
"Yakin cuma antar berkas aja ...?" Terus Dokter Nico ada di dalam?" Tanya Vina yang tampak curiga, maklum saja sebagai wanita yang sudah lama mengejar Nico pastinya ia sangat tidak suka jika ada wanita lain yang jelas-jelas telah menghalangi rencananya.
"Dokter Vina yang terhormat, Dokter Nico itu kan Dokter senior saya ya, jadi wajar aja dong kalau saya selalu ada urusan dengan beliau. Dan saya rasa itu juga gak harus saya kasih tau kan ke Dokter? Apa iya saya harus melaporkan apapun yang saya lakukan sama Dokter Nico?" Kata Alexa. Ia tidak menyangka jika kata-kata itu akan keluar dari mulutnya.
"Kamu?" Gumam Vina, ia mengepalkan tangannya karena menahan amarah.
"Kenapa Dok? Apa ada yang salah sama ucapan saya?" Tante Alexa.
"Awas ya kamu, liat aja nanti," gumam Vina dalam hati lalu pergi begitu saja meninggalkan Alexa.
Ternyata dari arah lain ada Nico dan Arya yang menatap kagum ke arah wanita yang mereka sukai itu.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Hai guys jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah ke aku ya biar author makin semangat up nya. 🥰😙